
Dariel mengunjungi rumah Feuji yang berada di Kastillia, lelaki bergelar raja muda Catalonia itu dagang secara diam-diam untuk tidak menimbulkan kecurigaan ataupun masalah baru nantinya. Dariel sanhat senang, saat datang langsung disuguhi benda-benda 'luar biasa'
"Ini bukan masalah paradok, tapi tentang multisemesta. Setiap sekon atau bahkan satuan lebih rendahnya, akan tercipta alur bumi baru berdasarkan waktu yang berjalan. Sementara dunia yang ditempati Luz adalah dunia ke 619 setelah kita, sering disebut sekitar 600 tahunan lagi," jelas Feuji seraya membuka pintu menuju ruangan dengan banyak perlatan terlalu canggih untuk masa abad pertengahan, "Jika kita berniat meloncati waktu ke semesta asal Luz, butuh perjuangan sedikit berat untuk si pelaku penjelajah waktu. Tubuhmu akan terurai sampai atom terkecil, manusia masa depan sering menyebutnya busa kuantum, itu... kiranya sesuatu yang berada di dalam atom tubuh ini."
Dariel tak henti bergumam 'woah' atau sekedar membuka mulut dan mata selebar mungkin. Raja muda Catalonia itu memang suka berbaur dengan buku berceloteh ilmu pengetahuan, yang jelas pengetahuan dalam hal-hal baik yang bisa meningkatkan kinerja otak, "Aku tak menyangka kau mengerti hal seperti ini. Jika ada waktu lagi, mengobrolah denganku tuan Feuji. Aku juga akan mengantarkanmu menemui mereka yang disebut 'cerdas' dalam bidang ini. Aku punya banyak kenalan."
Yang lebih tua hanya bisa membalas dengan tawa canggung, "Sebenarnya, aku masih tidak ingin menyebarluaskan hal ini. Jika tidak keberatan, kalian jangan memberitahu jika benda penjelajah waktu itu memang ada. Manusia itu tidak semua baik."
"O-oh, maaf. Aku tidak bermaksud," ujar Dariel sambil menundukkan kepala, ia sebenarnya juga paham alasan mesin waktu tersebut tidak dipublikasi, jelasnya untuk menghindari keributan, "Wajar kau menyembunyikannya tuan, benda ini tidak biasa dan kemungkinan bisa menimbulkan perpecahan."
Mesin waktu bisa dibilang perwujudan harapan manusia. Mungkin orang berpikir, jika perjalanan waktu memang memungkinkan, kita bisa kembali ke masa lalu untuk membenahi kesalahan dan menghindari hal buruk yang akan datang.
Juan datang disertai bantingan pintu, tampaknya dia sedang kesal, "Hhh, lain kali saja membahas ilmu pengetahuan ini. Kau harus mengantarku ke masa depan untuk menemui penerus mesin waktu ini, supaya Ereluz bisa segera dikembalikan," ujarnya langsung pada inti. Ia lantas menatap kawan karib dengan penuh keseriusan, "Dan selama aku pergi, Dariel, tolong usahakan Ereluz sudah kembali. Pasukan pihakku sudah ada di tanganmu, kau pasti akan menemukannya di Galicia. Lagi, jika Jevin ada di sana, katakan padanya kalau aku akan memberikan takhtaku, asal mau bekerja sama dengan kita."
Feuji merasa gentar, melihat ke arah benda penjelajab waktu, lalu beralih pada sang pangeran muda hingga beberapa kali karena kebimbangan yang melanda, "Aku tak ingin ini beresiko besar, perjalananmu ke sana pasti akan membutuhkan waktu yang tak singkat. Bagaimana dengan Aragon?"
"Sudah diselesaikan, itu semua akan menjadi tanggung jawab ayahku. Dia tidak tahu aku akan menuju masa depan, melainkan pergi mencari Ereluz. Aku sudah memperkirakan waktu kepergian ini, jadi jangan khawatir, aku akan kembali tepat waktu."
"Manusia itu banyak, yakin? Bagaimana jika waktunya lebih dari yang kau perkirakan?" Tanya Dariel seolah kembali membuat Juan berpikir atas kepergiannya.
"Yang jelas, aku harus mengembalikan Ereluz, sebelum identitas aslinya diketahui umum. Pastikan rahasia itu juga Dariel."
Feuji kembali menyela, "Aku tak bisa berbuat banyak, kita berusaha dan terus ikuti alur tuhan saja. Jika terjadi kesalahan, tolong jamin nyawa keluargaku satu-satunya."
"Kau membantuku, atas suruhanku. Anggap saja dirimu tidak terlibat. Nyawa kalian semua aman, aku yang bertenggung jawab," balas Juan sambil menepuk bahu pria itu guna meyakinkan tidak akan terjadi hal buruk pada dia ataupun Reagel.
"Bagaimana kau bisa menjanjikan hal seperti itu ketika ragamu saja tidak berada di sini. Jangan membuat harapan yang tidak jelas," sindiri Dariel.
"Percayalah..." Awalnya Juan memang agak tak yakin, tapi setelah memikirkan dengan mantap. Keputusan ini pasti benar, yang jelas ia akan menyelamatkan nyawa gadis itu sebelum menghilang layaknya ditelan bumi seperti kekasihnya, sang Puteri mahkota Sierra, "Aku sudah menghabiskan waktu untuk merencanakan ini semua."
Mereka adalah orang yang sama, namun terlahir di waktu yang berbeda.
Julian menggeleng saat Leura mengulurkan minuman dengan asap berkepul di atasnya. Gadis itu pun mengambil tempat duduk disampingnya sambil membuka pembicaraan, "Setelah lulus sekolah, apa kau akan kembali ke luar negeri lagi?"
Yang ditanya hanya menggeleng sekilas, tanpa mengalihkan pandangan dari air mancur yang terletak di tengah-tengah taman kota, "Entah, aku tak memiliki rencana setelah ini. Tapi ayahku memaksa untuk meneruskan perusahaan."
"Bagus kalau begitu, sudah ditunjukkan jalan, tinggal melewati," Balas Leura sambil menyesap kopi panas miliknya. Suasana malam yang hampir mendekati musim dingin, membuat cuaca seolah berada di ambang khilangan kehangatan, seperti dalam kulkas setiap harinya.
"Bukannya begitu, tapi aku masih akan jadi bonekanya. Digerakkan kesana kemari semaunya, semenjak sadar, aku sudah berniat untuk tidak berhubungan dengan ayahku lagi. Sekarang malah harus jadi penerusnya. Aku hanya ingin bebas dan memilih jalanku sendiri, tak ada yang mengatur," jelas Julian setelah lama terdiam. Padahal Leura pikir, lelaki itu sudah tak mau membahasnya kembali.
"Tetap saja ayahmu pasti butuh kau."
Julian tersenyum tipis seraya meremat kedua telapak tangannya, "Sayang sekali kau tak tahu sikap aslinya. Dia hanya memanfaatkanku untuk memajukan perusahaannya, dan adikku tidak sama sekali, bahkan tidak dianggap anak. Kalau aku sudah jadi pemimpin perusahaan itu, Nathalia akan disembunyikan dari publik. Lebih baik aku menolak ketimbang menyakiti hati adikku."
"Harusnya tidak perlu disembunyikan begitu."
"Nathalia itu tidak sempurna, Ayahku malu. Dia hanya menganggap aku anak, tapi aku tak akan menganggapnya orang tua kalau dia tidak menghargai adikku."
Leura tersenyum seakan menenangkan, sambil meraih telapak yang lebuh besar untuk ia genggam erat, "Kalau begitu, apapun keputusanmu aku akan mendukung. Asal jangan sampai lost contact."
"Aku akan tetap di sini saja, mengejar jalan hidup yang ku harapkan," balasnya sambil ikut memberikan senyuman setulus mungkin, "Lagi pula ada banyak alasan untukku tetap tinggal di Spanyol. Salah satunya calon teman hidupku."
Ucapan Julian barusan membuat pipi Leura terasa panas selayaknya terbakar api secara langsung, ia sontak memalingkan wajah sambil bergumam, "Tinggal beberapa bulan saja, kita sudah lulus."
Julian tertawa kecil, sesederhana ini kebahagiannya. Melihat mereka yang mau menjadi pewarna hidupnya memberikan secara gratis seulas senyuman.
Leura tiba-tiba memekik sambil menunjuk seseorang yang tengah kebingungan di seberang jalan, "Oh! Apa aku tak sakah lihat! Mengapa pria itu terlihat sepertimu?"
TBC