Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Perjuangan Terberat



"Aku menemukan sesuatu yang luar biasa dari mesin waktu tadi. Beruntung semua datanya sudah disalin dan mungkin hampir tidak ada yang terlewati," celetuk Julian. Kini ia dan Katana sudah berada di dalam mobil, yang terparkir tak jauh dari lokasi yang dituju, yaitu rumah pemilik mesin waktu.


Prof. Katana mengernyitkan dahi kebingungan, "Sesuatu yang luar biasa?"


"Seseorang sedang melakukan perjalanan waktu. Dan dia tak bisa kembali."


"Bagaimana bisa begitu?" Tanyanya, sedetik kemudian Katana tersenyum bangga, informasi seperti inilah yang sangat dibutuhkan, "Sebaiknya kita segera kembali ke gedung. Ini informasi yang sangat penting untuk tim."


Julian pun dengan semangat segera melajukan mobilnya. Jika penelitian mereka berhasil dan bisa dihargai sekaligus diterima masyarakat luas, maka para peneliti yang ada di gedung akan mendapatkan yang mereka impikan selama ini. Dengan begitu, mereka juga bisa membantu lebih banyak keinginan Julian, untuk bertemu kembali dengan sang ibu, bagaimanapun caranya."


...---...


Luz tersentak dan spontan menghentikan laju kudanya yang cukup cepat, ketika seorang lelaki menghadang jalan, orang itu raja muda Galicia, Ares, "Permisi, mau pergi kemana tuan puteri malam-malam begini? Kenapa terburu-buru sekali?" Tanya Ares dengan nada ramah.


"Maaf aku harus pergi, ada urusan di.. luar," Luz mengucapkannya cepat, agar tak ditanyai lagi. Gadis itu tanpa pikir panjang langsung pergi begotu saja, seraya mengerutu di tengah jalan, "Orang itu terlalu ikut campur."


Luz terus melakukan perjalanan tanpa mengawasi keadaan sekitar, ia memang pergi malam-malam untuk menghindari pertanyaan dan kecurigaan orang-orang di istana, sayang sekali Ares tadi mengetahuinya.


Ia sontak berhenti setelah melewati hembatan beto yang cukup panjang, "Sungai ebro di sini, lalu harus kearah mana? Ah, aku tak ingat jalan."


Tiba-tiba suara berat kembali menyapa, "Nona muda, apakah kau perlu bantuan? Sepertinya sedang kebingungan ya?"


Pria yang bertanya tampak berantakan, membuat Luz seketika siaga, terlebih saat kawanananya yang berjumlah lima orang ikut berdatangan, beberapa dari mereka tampak memegang botol anggur, "Ah, tidak terima kasih."


"Tapi sepertinya kau memang sedang butuh bantuan. Kenapa? Bilang saja pada kami, nanti dibantu," ujar pria yang terlihat paling mabuk. Dia mendekat membuat Luz menjerit.


"Jangan macam-macam!"


"Oh! Galak sekali," gerutunya seraya menghentikan langkah.


"Kau tidak tahu siapa aku?" Luz mencoba memeprbaiki diri dan bersikap angkuh kembali, hal itu untuk membuat mereka yang berniat mengganggunya menjdi gentar, "Biar ku perkenalkan diri, namaku Sierra Rodrigo, Puteri mahkota dari Kastillia. Kalian tidak tahu Kastillia? Kerajaan tetangga yang sebentar lagi menyatu dengan Aragon. Dan aku adalah salah seorang yang berjasa menyatukan dua kerajaan ini."


Beberapa yang tidak mabuk, atau yang masih cukup sadar untuk mendengar ucapan Luz, seketika saling pandang.


"Dan ya... sekarang aku memang sedang butuh bantuan. Jadi kalian harus menolongku."


"Apa imbalannya?" Tanya yang mabuk, membuat Luz berdecak. Kenapa yang masih waras tidak peduli?


"Tak ada imbalan tapi ada hukuman, kalau kalian menolak aku akan mengatakan hal buruk pada pemerintah kerajaan untuk membuat kalian terkurung di penjara bawah tanah selamanya."


Kali ini yang masih sadar baru angkat bicara, "Apa maksudmu mengancam kami?! Tidak ada yang berbuat aneh-aneh padamu kan?"


"Terserah jika kalian menyebut ini ancaman. Tapi bantu aku menuju rumah seseorang," Luz pun menjelaskan keinginannya, "Aku seorang puteri kerajaan, kalian wajib menghargaiku. Apalagi saat butuh bantuan seperti ini."


Kini semua pria itu memandangnya tak suka.


Luz berdecak kesal, "Baiklah, kalau begitu akan ku beri kalian perhiasan. Tapi antarkan pada tempat yang ku tuju."


"Oke, kalian tahu rumah tuan Feuji?"


Pria yang paling ujung mengangkat tangan, dia mabuk tapi masih cukup sadar untuk diajak bicara, "Dia dulu tetanggaku, mau apa kau kesana?"


"Ada urusan dan kau tak perlu tahu."


"Dia sudah lama pindah ke wilayahmu, Kastillia. Sekarang rumahnya di Aragon sudah ditempati orang lain."


Mendengar ucapannya, Luz membulatkan mata, terkejut setengah mati. Jadi sekarang ia harus ke Kastillia untuk menemui mereka, "Kenapa mereka pindah?"


"Ya mana ku tahu, kau pikir saja sendiri."


Pria yang paling sadar berucap, "Jadi kami tak bisa membantu lagi, maaf. Dan kau sudah berjanji akan melupakan hal ini, jadi jangan sangkutkan kami dengan kerajaan kalau terjadi sesuatu padamu."


"Sebelumnya, aku mau mengganti permintaan tolongku," Luz kembali bicara membuat mereka mendengus, "Kau yang tetangga Tuan Feuji, kenal dekat dengannya?"


"Semua orang di sekitar rumahnya pasti kenal, tapi dia orang yang cukup tertutup. Jadi jika kau mau menanyaiku tentangnya, yang jelas aku tak tahu apapun."


...---...


"Berikan flashdisknya."


Julian mengeluarkan benda persegi panjang dar kantungnya, lantasemberikannya pada Prof, Alenio yang sudah siap di depan komputer miliknya, "Itu tadi hampir penuh, karena kapasitas yang ada di komputar kuantum sangat besar. Harusnya kau menyiapkan dua atau lebih flasdisk. Beruntung semua file masih bisa ku copy."


"Biaya pembuatannya sangat mahal. Memangnya kau mau menanggung semuanya?"


Julian mendengus, ia berbicara lebih banyak dari hari ke hari tapi kenapa semua orang jadi tidak sopan padanya.


"Segera kembali ke meja masing-masing, aku akan kirimkan data yang harus kalian teliti dari flasdisk ini. Untuk Katana dan Julian, terima kasih kalian sudah bekerja keras. Setelah ini kalian boleh pulang atau beristirahat di sini," ujar Prof. Alenio. Sekarang dia sudah mulai berkutik dengan benda elektronik tersebut, tak biaa diganggu atau sekedar ditanyai.


Ketika Katana akan segera pergi untuk pulang, Prof. Nina menghentikannya dengan pertanyaan, "Prof. Katana, apakah ada sesuatu yang luar biasa saat kau di sana?"


"Hmm, semuanya luar biasa. Kemungkinan besarnya kita akan kesulitan mengambil mesin waktu itu karena terhalang bentuknya, ada banyak benda besar penunjang kegiatan penjelajah waktu. Kabar yang paling bagusnya, sedang ada penjelajah waktu melalui mesin itu sekarang, Julian yang mengatakannya padaku."


"Benarkah begitu? Julian, Apa saja yang kau lihat," pandangan Prof. Nina beralih pada lelaki remaja yang juga hendak pergi.


Yang ditanyai hanya mengangkat tangan dan menguap kecil, ia lantas menunjuk ke arah Prof. Alenio, "Kau lihat saja sendiri pada datanya, semua sudah ku copy disitu. Aku pulang dulu."


Julian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, namun lagi-lagi seseorang memghentikan. Kali ini Prof. Richard, dia berlari dari ruangan lain dan tergesa menghampirinya, "Julian, terima kasih. Semoga setelah ini bisa selesai, giliran kami yang akan membantumu."


Sementara itu, mendengar ucapan Prof. Richard Julian hanya bisa menatap lantai dibawah kakinya.


TBC