
Luz mengacak surainya secara kasar, tiara dan pita yang ia pakai jadi berantakan sampai terjatuh. Matanya menatap takut sekaligus sedih pada sang pangeran muda yang mendudukkan diri di hadapannya. Ia tak bisa berkata-kata apalagi membayangkan, bagaimana sikap Juan setelah ini, "Begini, mungkin sangat sulit diterjemahkan bagi orang di zaman ini, tapi apakah kau percaya adanya perjalanan waktu?"
"Maksudmu meloncati waktu?" Tanyanya, masih dengan raut biasa. Seolah tak terkejut akan semua kebohongan Luz yang perlahan terbongkar.
Kini malah Luz yang menjadi gugup, "Ya-yah, sekiranya seperti itu. Kita pergi ke waktu lain di mana sebenarnya kita tidak hidup. Akh! Bagaimana ya?! Aku sendiri juga bingung."
"Aku mengerti, pelaku perjalanan waktu adalah orang yang melewati batas takdir. Kedengarannya kurang lebih seperti itu, karena mereka bisa saja pergi ke masa lalu untuk menemui mereka yang dalam usia lain. Tapi... kakau seandainya benar, yang terjadi padamu ini lain kan? Kau pergi ke masa lalu yang sangat jauh dari tahun kelahiranmu. 2020 itu... terdengar tidak bisa dipercaya, tapi benar-benar ada ya?"
"Iya, seharusnya aku baru lahir kurang lebih 600 tahun dari sekarang," Luz berucap sendu, padahal niatnya tak begitu. Ia hanya sedih kalau teringat tidak lagi berada di masanya. Tapi lebih sedih lagi mengingat Juan akan kebohingannya, lelaki itu pasti sangat terpukul lagi dan lagi.
"Aku mengerti, kalau begitu istirahatlah, akan ku ambilkan makanan dan minuman. Ingat, jangan kemana-mana. Keadaan di luar sepertinya akan kacau, tetap di sini," ketika sang pangeran termuda itu hendak melangkahkan kaki meninggalkan ruang kamarnya, Luz menahan dengan cara menggenggam pergelangannya dengan dua tangan.
"Juan, kau tidak marah?" Tanya Luz, hanya saja kepalanya terus menunduk. Tak enak hati menatap secara langsung manik gelap milik lelaki itu.
Juan tersenyum tipis tanpa Luz ketahui, ia melepas perlahan cekalan tangan gadis itu seraya berbisik pelan, "Aku marah, tapi aku bisa apa? Selama ini perjuanganku mencari Sierra tidaklah sia-sia karena kau datang. Tapi mau bagaimanapun, kau akan pulang kan? Kau harus tetap kembali ke zaman asalmu."
"Tidak..., aku tidak akan pernah bisa kembali. Ka-kalau semuanya akan diadili, aku siap seandainya harus dihukum mati. Bagaimanapun, aku sudah menbuat kesalah besar," Luz sungguh tak bisa berpikir panjang, ia akan mengatakan atau melakukan hal apapun jika sedang gegabah. Bahkan tiba-tiba ia menyerahkan diri, seolah menjadi penjahat yang tertangkap basah dan hanya bisa pasrah.
Juan cukup terkejut mendengarnya, semerasa bersalah kah gadis itu sampai-sampai dia rela dijatuhi hukuman mati.
"Dulu, di masa-ku, aku bukanlah orang baik, dia pemberontak, pembohong, dan tukang pukul. Sebelum benar-benar berada di sini, peristiwa kecelakaan mobil menimpaku, semuanya hancur dan kacau, bahkan aku berpikir sudah mati. Tapi selang beberapa menit, aku merasa hidup lagi, dan ternyata sudah berada di era ini. Tempat pertama kali yang ku lihat adalah hutan, tempat di mana Puteri Sierra yang asli dikabarkan hilang. Ah, yang jelas aku tidak sedang meminta belas kasihanmu, hanya menunjukkan kalau aku salah dan rela mendapat sangsi apapun."
Juan tersenyum singkat, membuat Luz mendengus kesal, "Sebenarnya aku juga marah. Tapi kedatanganmu sempat membuatku sembuh dan tenang, jadi terima kasih un--"
"Aku membuatmu berhenti mencari Puteri Sierra!" Gadis itu berseru tanpa sadar, pikirnya hanya mengutarakan, kenapa Juan dengan mudah memaafkan orang lain padahal kondisinya seperti ini, masalah besar.
Pangeran termuda itu mendelik sebal, "Lalu apa maumu? Kalau minta dijatuhi hukuman mati sekarang pun bisa."
Ucapannya yang terkesan kejam membuat nyali Luz menciut, entah sejak kapan tapi dirinya yang sekarang terlalu sensitif, gampang sekali tertawa dan menangis, "Bukan begitu, aku hanya tidak paham dengamu. Kenapa kau tak marah? Saat ini pun masih bisa tersenyum padaku. Juan! Aku ini sudah membuat kesalahan besar, terutama padamu."
"Hm, aku kesulitan mengekspresikannya. Tapi, Ereluz, apakah kau tidak akan bisa kembali ke zamanmu?"
Luz menaikkan bahunya, "Entahlah, aku berharap ada keajaiban untuk bisa kembali."
"Ta-tapi! Kenapa kau memintaku di sini? Ingatlah siapa aku--"
"Meski begitu aku sudah terlanjur mencintaimu juga, walaupun awalnya aku ragu. Tapi ternyata pesona kalian sama... kau dan Sierra," Juan kemudian bergegas pergi meninggalkan Luz yang mematung di tempat.
Matanya meredup, dari yang awalnya memancarkan binar kebahagiaan karena ia pikir Juan tulus menolongnya karena manganggap Luz sebagai Ereluz yang sebenarnya, tapi ternyata tidak, 'Dia... hanya menjadikanku pelampiasan karena Sierra tidak kunjung kembali.'
...---...
"Julian! Ya ampun, jadi kau tidur di sini semalaman?! Tapi kenapa? Apa ada masalah di rumahmu?"
Julian terbatuk-batuk memegangi dada seraya berusaha mendudukkan diri. Ketika telapak tangannya yang telanjang menyentuh permukaan pelataran, barulah rasa dingin tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Julian bicaralah, kau diam saja begini membuatku makin khawatir, tahu!"
Bentakan Leura cukup membuatnya tersadar, Julian masih mencoba mengingat kenapa dirimya bisa berada di taman dekat rumah Leura. Bukankah semalam terjadi kecelakaan pada dirinya yang berakhir remuknya mobil taksi, kendaraan yang menjadi saksinya.
"Kau ada masalah dengan adikmu ya?" Tanya Leura lagi, karena sejak tadi merasa diacuhkan. Julian hanya menatapnya kebingungan, sama seperti dirinya yang melemparkan tatapan bingung.
"Adik? Ah--Nathalia! Dia sakit, aku harus segera ke rumah sakit," Julian panik usai menyadari sesuatu yang janggal, terpenting sekarang adalah keadaan Nathalia. Seorang wanita awal tiga puluhan memberitahunya kalau sang adik di rumah sakit.
"Tunggu! Kalau begitu aku akan ikut," Leura bergegas pulang ke rumah yang jaraknya hanya seratus lima puluh meter dari tempat sebelumya, kemudian ia kembali seraya membawa ponsel, uang, juga jaket.
Keduanya sudah pergi ke halte bus terdekat. Parahnya, Julian tak ingat di mana rumah sakit Nathalia di rawat. Jadi ia memutuskan untuk pulang sebentar ke apartemen dan menanyakan hal ini pada seseorang yang memberitahunya semalam.
Sampai di gedung apartemennya, Leura menunggu di depan lobi, sementara Julian berlari tergesa menuju unit wanita yang memberitahunya semalam tentang keadaan Nathalia, wanita itu berkata unitnya tepat di depan unit yang ditempati Julian dan Nathalia.
Selagi menunggu di depan lobi, Leura memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di depannya. Termasuk salah satu perempuan yang memakai kaos biru muda dan celana senada sedang bersenandung kecil seraya menenteng kantung plastik.
Gadis muda itu tersenyum kecil menyadari Leura memperhatikannya, "Wah, aku sering melihat fotomu dari ponsel kakakku. Kau Leura kan? Perkenalkan, aku Nathalia."
TBC