
"Kenapa tidak masuk sekolah lagi? Sudah dua hari kau melewatkan ujian pengambilan nilai akhir semester."
Julian mendengus, ia berbohong. Sebenarnya hari ini tidak ada shift pagi di kafe, tapi hanya malas pergi ke sekolah karena jauh. Lama tidak menggunakan uang ayahnya, ia jadi terlalu menyayangkan buang-buang uang apalagi hanya untuk naik bus, "Aku mendapat shift pagi, kan sudah ku katakan dari kemarin lusa."
Leura dengan sambungan ponsel di seberang hanya bisa menghela napas prihatin, teman dekatnya itu anak orang berada, namun hidupnya bagai penghuni atap langit dan bumi sebagai alasnya, "Iya.. tapi bagaimana kalau nilaimu anjlok? Apa tidak khawatir, kau ini pintar, bagaimana mau lanjut perguruan tinggi nanti?"
"Aku bisa negosiasi untuk mendapat ujian susulan. Sebelumnya, terima kasih atas kekhawatiranmu," Julian tersenyum berat hati saat mengucap kalimat terakhirnya.
"Mau membuat alasan bagaimana lagi? Yang kenyataannya kau memang bekerja paruh waktu saja tidak ada guru yang percaya. Mereka semua juga pasti tahu kau anak orang kaya, mana ayahmu orang terkenal pula."
"Aku akan urus itu nanti," ujarnya setelah lama terdiam. Tiba-tiba saja terlintas hal yang sedang dipikirkan sejak tadi, Julian secara tak sengaja menanyakan spontan pada Leura,."Em, Leura. Apa dulu kau mengenal Ereluz secara personal?"
Awalnya Leura kebingungan dengan topik yang diubah tiba-tiba, namun ia tetap menjawab pertanyaan tersebut sesuai yang diketahui, "Tidak juga, tak ada anak yang mengenalnya sangat dekat. Mungkin hanya nama dan sikap buruknya yang terekspos setiap hari. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan dia?"
"Eh, tidak. Tapi ibunya ternyata boss-ku di kafetaria," alibi lain tentu saja bisa ada di otak Julian, tapi memang benar kalau Cassandre adalah ibu Ereluz, dia tak berbohong juga kali ini. Hanya saja, topik utama atas keingin tahuanya adalah perihal Ereluz yang melakukan perjalanan waktu.
Tak lama, tawa Leura terdengar, di susul suara keributan yang sepertinya berasal dari anak-anak sekelas, "Huh, benarkah? Dunia sesempit itu ternyata. Sudah ya, aku tutup dulu teleponnya."
"Tunggu!" Cegaj Julian, lagi-lagi tanpa terencana.
Hampir saja Leura mengakhiri panggilan, beruntung ikon warna nerah itu belum tersentuh, ia kemudian kembali mendekatkan ponsel pada telinga, "Ada apa?"
"Besok datanglah ke rumahku, ada yang ingin ku katakan."
Sebenarnya ada perasaan tidak enak saat Julian mengucapkannya, tapi Leura tak bisa mengacaukan ajakan lelaki itu. Ia lantas 😍 megangguk pelan seraya membalas jika dirinya setuju, "Baiklah."
...---...
Julian mendekam di depan meja belajar selama dua jam lebih, salah satu tangannya terus-menerus mengetukkan pulpen ke kertas yang hanya berisi beberapa coretan ringkas, sementara otaknya terus berusaha mengingat sesuatu, "1402 masehi, tandanya 619 tahun yang lalu. Lokasinya masih sama, di kota ini, Aragon. Kalau dari buku sejarah, Aragon tahun itu sedang dipimpin pangeran terakhirnya, Juan sàn Azarcon--astaga! Nisan itu, jadi miliknya! Kenapa aku baru sadar?!"
Menyadari benda temuannya beberapa waktu lampau, ia lantas segera menghampiri di mana benda tersebut berada, dan membawa ke tempat semula.
"Kedudukannya hanya bertahan sebentar, tidak pernah tercatat artikel tentang kematiannya juga, seolah dirahasiakan. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat itu. Ereluz ada di sana, kalau teori multiverse benar, maka saat ini dia ada di semesta yang lain. Ahh, aku harus cari tahu apa jenis mesin waktu itu dan bagaimana cara kerjanya," Monolog Julian seraya terus mengusap ukiran nama yang hampir rusak di nisan tersebut, meyakinkan jika 'Juan S. Azarcon' yang tertera di sana.
Pintu kamarnya tak diketuk, Nathalia tiba-tiab saja sudah berdiri di belakangnya sambil menaruh tatapan curiga, "Kak, dari tadi ku dengar kau bicara terus."
"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu," balas Julian, ia kemudian segera menyingkirkan barang-barang pribadinya, dan berbalik menghadap sang adik dengan senyum lebar, "Kau sudah lebih baik? Bagaimana dengan membaca buku komedi, melukis, dan mendengarkan musik hiphop?"
Nathalia merespon dengan anggukan antusias, "Itu cukup bagus, mood-ku jadi lebih sering bahagia. Jadi jangan paksa aku ke psikolog lagi ya?"
"Aku tidak akan memaksamu, asal berhenti dari kebiasaan buruk selfharm itu."
"Aku sudah lama tidak melakukannya, dan tidak ada niatan lagi untuk mengulangunya."
"Bagus, pegang terus ucapanmu. Apapun yang terjadi, carilah aku. Jangan anggap aku orang asing, kita perlu saling tahu keadaan satu sama lain, kau adikku dan aku kakakmu."
"Iya... jangan mengomel terus," balas sang adik jengah, seraya mencubit kecil tangan kakaknya. Kemudian matanya secara tak sengaja mengarah pada laptop Julian yang ternyata masih menyala, "Kau sedang apa? Kenapa membuka artikel kerajaan Aragon?"
"Bukan urusanmu."
"Tadi kau bilang harus saling tahu satu sama lain!"
Julian mendengus, "Kau tahu kenapa aku sebenarnya sangat ingin punya adik laki-laki? Mereka tidak cerewet sepertimu."
"Benarkah, lalu--" ucapannya terpotong oleh bel rumah yang berbunyi. Kedua pasang saudara kandung itu saling lirik.
"Siapa itu, bertamu malam-malam sekali," Nathalia memberi komentar sinis.
"Bukakan pintunya, aku mau ganti baju dulu."
Gadis remaja tersebut mengangguk, dan segera pergi dari kamar kakaknya untuk menemui si tamu. Nathalia hampir terjungkal melihat siapa yang datang, "A-ayah? Kenapa tiba-tiba datang kemari?"
"Julian ada di dalam kan?" Pria itu menlongokkan kepala ke dalam, lantas beralih menatap putrinya saat tidak merasakan keberadaan si anak lelaki yang akan keluar menyambutnya, "Jangan takut, Nath. Ayah hanya ingin mengunjungi anak-anak sendiri, kau tidak keberatan kan?"
Tak lama kemudian Julian keluar, "Siapa, Nath? Kenapa tidak disuruh masuk?"
Mendengar kalimat terakhir Julian, pria iru masuk dan segera menuju sofa yang tersedia, "Dia mempersilahkan, jadi ayah boleh masuk ya.."
"Siapa--oh, kenapa kau datang kemari? Baru ingat kalau punya anak?" Julian bertanya dengan nada sinis sekaligus angkuh.
"Duduklah Julian, mari bicarakan sesuatu dengan kepala dingin, lama tidak bertemu, kau jadi semakin emosional."
"Tunggu, apa kau bilang tadi? Silahkan duduk? Ini tempat tinggalku, aku yang membiayainya sendiri, enak sekali kau berucap."
"Ya sudah lupakan."
"Aku tidak mempersilahkan tamu kali ini untuk duduk atau bahkan menginjakkan kaki di ubin rumahku."
Yang lebih tua mengeraskan rahang, Julian menyunggingkan senyum remeh seketika, "Julian, jangan memancing amarah. Ayah datang dengan damai, tapi beginikah tanggapanmu?"
"Baiklah, waktuku berharga jadi jangan basa-basi, silahkan bicarakan secara langsung tujuanmu datang kemari?" Mau tak mau Julian segera duduk di hadapan sang ayah. Pria itu pasti akan pergi setelah ucapannya ditanggapi.
Tanpa basa-basi dia pun berucap, "Ayah ingin kau menggantikan posisi sebagai direktur utama."
"Bagus, aku setuju. Perusahaan itu ternyata dapat dipindah tangankan untukku."
"Itu usulan dari berbagai pihak yang bersangkutan, jadi kau akan bekerja sesuai perintahku."
Sebenarnya sudah diduga, tidak akan ayahnya menyerahkan perusahaan secara gamblang, sementara Julian selama ini sangat menampakkan sikap membenci pria itu, "Hmm, licik. Aku hanya dijadikan boneka. Sebaiknya ku tolak dari sekarang, sebelum urusannya semakin panjang. Lagi pula saat ini aku masih sekolah."
"Pikirkan baik-baik, ayah sudah memberimu jalan seleluasa mungkin. Masalah sekolah, pergantian direktur akan dilakukan empat tahun lagi, jadi masih banyak waktu senggang untukmu sebelum memasuki dunia kerja ayah."
"Tidak akan."
"Kenapa?"
"Kau pasti tidak hanya ingin satu hal, apa yang kau sembunyikan?"
Sang ayah sontak menjentikkan jari, "Peka! Nathalia tidak boleh terekspos lagi sebagai anggota keluarga Girasol. Aku ingin memindahkannya ke kota lain yang sangat jauh dan terpencil."
"Kejam!"
TBC