Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Love You



"Seseorang mengatakan ada kelompok penyusup melewati perbatasan yang sedang tanpa penjagaan. Aku curiga jika ada Puteri mahkota di sana, itu sangat mengkhawatirkan karena memang seperti perbuatan yang di sengaja. Harusnya kan ada pengawal di setiap perbatasan."


Juan berbalik cepat, pedang dan keranjang anak panah sudab menggantung di bagian tubuhnya, termasuk busur yang berada di sebelah kiri perut kuda tunggangannya, "Di perbatasan bagian mana? Siapa yang mengatakan padamu?"


Ketua pengawal bernama Jedd itu menyahut, "Bagian utara, wilayah kekuasaan Pangeran Jevin. Pamanku yang memberi kabar, saat dia tadi baru kembali dari sana, kebetulan memang aku bertanya pada beliau."


"Jevin sedang berada di sana. Apa mungkin dia lalai?" Gumam Juan.


Jedd membungkuk sopan seraya menuding kudanya yang juga sudah siap di kandang, sama seperti kuda Juan yang telah dipenuhi senjata di dalam karung, "Kalau ingin memastikan, sebaiknya kita ke sana sekarang juga. Pamanku juga bilang, sepertinya ada Raja Ares bersama mereka."


"Sial! Jevin berulah, dia sudah tahu," mendengar nama Ares juga disebut dalam kalimatnya, Juan seketika mengeram rendah. Ia sudah tahu kakak tertuanya memang tidak menyukai Sierra terlebih jika saat ini Sierra bukanlah dirinya yang asli. Lelaki itu akan menggunakan Ereluz sebagai umpan pengalihan takhta, Juan jelas juga tahu jika Jevin menginginkan kekuasaan yang akan diberikan padanya, tapi mrngaoa harus menggaret Ares?


"Maaf, tahu mengenai apa?" Tanya Jedd kebingungan.


Juan sontak menggeleng, ia terlalu ceroboh saat mengungkap, "Tidak ada, panggil saja Amer untuk ikut bersamaku."


Lagi-lagi Jedd menaikkan sebelah alis, "Bukankah dia sedang libur untuk sementara waktu karena sakit?"


Hal itu membuat Juan memijat pelipis, 'Hmm, aku lupa kalau dia sudah tidak berada di pihakku,' semenjak Amer tahu mengenai identitas asli Ereluz, dia tidak lagi bekerja untuk Juan, tapi juga tidak mengatakan berhenti. Kerap kali terlihat di ruangan sang raja, namun selalu beralasan sakit ketika harus berpandang mata dengan si pangeran termuda. Juan pun tahu kalau panglima itu membenci keputusannya yang kekanakan mengenai Ereluz, tapi bagaimana? Ia tak bisa membiarkan gadis itu terluka sedikitpun, sama seperti pandangannya terhadap Sierra dahulu. Jedd terus memandang penuh kekhawatiran, hingga Juan berceletuk, "Baiklah, tidak ada yang perlu ikut. Aku akan meminta bantuan dari Dariel saja."


"Apakah yakin? Mereka pasti dalam jumlah banyak dan berbahaya."


"Percaya, tidak akan ada apa-apa," sahutnya seolah membuat penjaga Aragon tersebut tidak khawatir, padahal dala hatinya sangat takut akan kehilamgan untuk kedua kalinya, 'Semua semakin rumit, apakah Ereluz akan baik-baik saja?'


Mengunjungi Catalonia seorang diri, Juan segera menunggang kudanya dan melaju dengan cepat. Hanya Dariel orang yang bisa ia percaya dan dimintai bantuan sekarang, karena Amer sudah tidak ada di sisinya lagi.


Pangeran muda tersebut melaju terlalu cepat, meninggalkan pandangan aneh Jedd, si ketua penjaga. Dia bergumam dalam hati, merasakan kejanggalan, 'Kenapa ada banyak sekali keanehan pada Puteri mahkota Sierra? Semenjak dia menghilang, lalu kembali sendiri secara tiba-tiba dengan perubahan sikap yang drastis. Dia yang awal dan sekarang, seakan dua orang yang berbeda.'


...---...


"Aku tak bisa mempercayai siapapun termasuk ayahku, hanya kau teman yang setia. Ku harap jangkauan pikiranmu tak seperti Amer."


"Sebentar.. sebentar.. biarkan aku berpikir," Dariel mengetuk kepalanya sendiri sambil menaruh telunjuk di depan bibir. Beberapa menit kemudian, ia menghentikan kegiatannya, lantas menatap Juan dengan alis tertaut, "Bagaimana mungkin? Masa depan? Sierra ada di masa depan juga? Fisik yang serupa tapi beda orang?"


Sementara yang satunya hanya bisa mendesah pasrah, "Huft, Sierra yang asli menghilang saat itu dan ternyata belum ditemukan, sedangkan yang datang sekarang, yang terus berada di dekatku adalah Ereluz. Dia mengaku bukan berasal dari sini, era ini, melainkan masa depan, kurang lebih enam ratus tahun yang akan datang."


"Memangnya bisa begitu? Bagaimana orang dari enam ratus tahun lagi bisa pergi ke tahun ini. Maaf Juan, tapi ini tidak masuk akal!" Bantah si raja muda Catalonia penuh penekanan. Sekalipun Juan kawan baiknya sejak kecil, tapi jika perkataan yang keluat dari bibir tebalnya terasa asing, Dariel jelas membantah.


"Apa maksudmu?" Tanyanya lagi, masih tak memahami keadaan. Meskipun Dariel adalah pecinta sejati buku terutama mengenai ilmu pengetahuan, ia tak pernah tahu jika mesin waktu itu ada dan bisa diciptakan.


"Jevin sudah mengetahui kalau dia bukan Sierra, sepertinya Ares juga. Mereka pasti merencanakan hal buruk pada gadis itu. Jevin sudah jelas melakukannya karena ingin mengambil alih takhtaku, sikapnya terbaca sangat jelas. Kalau Ares.. entahlah apa yanv dipikirkan."


"Kau yakin mereka bersangkutan?" Dariel bersidekap dada, "Aku tak akan mau membantu kalau belum pasti."


"Untuk itu, bantu aku mencari tahu," sahut Juan ikut menirukan pose seseorang yang ada di hadapannya.


Dia balas menjentikkan jari, "Baiklah, karena Ares masih punya hutang yang terlupakan padaku dan perjalanan waktu kedengarannya menarik untik ditelusuri lebih lanjut. Aku bersedia membantumu."


"Jadi, bukan untuk pertemanan?"


"Tidak," Dariel menggeleng, sedetik kemudian nada bicaranya berubah menyebalkan, "Kalau sampai kau salah sasaran, ini berbahaya. Aku akan ikut menanggung."


"Ku pastikan kau dan siapapun yang sudah membantuku tidak akan terlihat, jejak kalian bersih. Janji," balas Juan serius.


Hal itu membuuat kawannya tertawa kecil, Dariel berdiri dan menepuk pungggung Juan secara kasar, "Iya, Juan. Kita berteman baik sejak kecil, aiu senantiasa siap sedia membantu bagaimanapun keadaanmu. Jangan khawatir."


"Dia dalam bahaya..."


"Ingat, jika dia bukan Sierra, kau tak perlu terlalu mengkhawatirkan. Misi ini hanya sebatas perlindungan kemanusiaan," peringatnya, sebenarnya Dariel mengetahui jika perasaan Juan terhadap Ereluz sama seperti Sierra, jadi seolah menganggapnya sebagai sosok yang sama, "Gadis itu membohingimu, dia tidak jujur dari awal, sehingga aku sudah menandainya buruk. Jadi jangan pandang Ereluz sebagai Sierra."


"Aku tak pernah melakukannya."


"Kita akan melanjutkan pencarian Sierra setelah masalah Ereluz selesai."


Ia menghela napas panjang, "Sierra sudah sangat lama menghilang, aku tak yakin dia masih hidup."


"Dan karena itu kau membentengi kebohongan Ereluz. Catat kalimat ini di otak dan hatimu, dia bukan Sierramu, dia hanya pembohong yang merumitkan masalah."


"Jangan seperti itu, Ereluz tak seburuk yang kau pikirkan."


"Jelas kan! Kau masih menganggap gadis itu sebagai kekasihmu," bantah Dariel kemudian, "Jika nantinya semakin kacau, sebaiknya lupakan mereka, baik Sierra ataupun Ereluz. Banyak gadis yang mau mengantri jadi permaisuri baru Aragon."


TBC