
Usia menutup pintu kamar dan mematikan lampu utama, Nathalia bergegas ke kasur dan menyalakan lampu tidur. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, suara ketukan membuatnya beranjak duduk lagi.
Tampaknya suara itu berasal dari pintu kamar. Gadis itu merapatkan selimut, jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, berdo'a semoga Julian segera pulang.
Semakin lama, bukannya berhenti, ketukan itu malah menjadi-jadi. Nathalia terpaksa memberanikan diri mengecek keadaan di luar kamarnya, 'Tidak mungkin hantu, aku sudah lama tinggal di sini. Pasti bukan hantu!'
Pintu ia buka perlahan, terlihat cahaya terang berwarna hijau menyambut indra penglihatannya, ia sampai memejamkan mata karena cahayanya terlalu menyilaukan.
Kemudian cahaya meredup, nisan yang Julian temukan di pemakaman tampak tergeletak di bawah kakinya. Nathalia mendengus, "Sudah ku duga, benda ini pasti membawa masalah. Ku pikir hanya halusinasi efek penyakitku kambuh."
Nathalia berjongkok untuk mengambil nisannya dan kembali meletakkan pada tempat semula. Namun sebelum itu terjadi, cahaya hijau legi-lagi memancar, kembali membuat matanya sakit.
Apartemen moderen yang ia tingggali berubah menjadi bangunan beratap tinggi, pilar ukiran sulur berjajar, segala perabotan serba alami menghiasi kemewahan ruangan ini, apalagi ditambahi ornamen keemasan bagai istana, di hadapannya terlihat beberapa pria tengah membicarakan sesuatu, raut mereka tampak serius.
"Perempuan itu benar-benar Sierra?! Tidak mungkin ada orang semirip itu, kalaupun kembar, pasti ada sedikit perbedaan. Tapi dia... benar-benar sama..." Seorang raja muda tampak memijat keningnya sembari menatap tajam para bawahan.
"Bisa saja dia belum mati saat itu, dia kabur dengan mudah karena kita tidak membuat penjagaan di sekitar sumur bawah tanah."
"Hei! Kita menjatuhkan gadis itu ke sumur setelah memastikan dia sekarat. Dan bagaimana mungkin dia keluar dari sumur sedalam dua puluh empat meter, mustahil!"
Pria tua berpakaian rapi khas bangsawan, tiba-tiba muncul membuka pintu, "Logam inti persediaan bahan baku termahal kita dicuri, penjaga memperkirakan pelakunya dari Aragon. Datanglah ke sana, pastikan kebenarannya dan carilah Sierra."
"Sial!"
Nathalia menggeleng kaku, apa yang barusan ia lihat terasa sangat nyata. Seorang raja muda yang tampak kejam sedang mengintai wanita dari kerajaan lain, dari arah pembicaraannya, dia terlihat mengincar perempuan itu untuk dibunuh, "A-apa penyakitku kambuh lagi ya? Tentu saja, ini pasti gejala halusinasi lagi. Tenang Nath, semua akan baik-baik saja, aku pasti bisa cepat sembuh."
Usai mengembalikan nisan ke laci, Nathalia beranjak ke dapur dan mengambil obat tidur yang ia simpan di bawah toples gula. Demi menghindari kecurigaan Julian, sebab kakak lelakinya itu selalu memeriksa kamarnya, membuat Nathalia takut menyembunyikan benda tidak baik di sana.
Menelan tiga butir pil sekaligus, lantas meneguk air mineral sebanyak-banyaknya, kembali membuat Nathalia lega, kalau sudah seperti ini keadaan tidurnya akan nyaman dan tenang. Tidak ada gangguan gejala dari sesuatu yang ia anggap penyakit kini muncul pada dirinya.
Sering berhalusinasi, kesulitan membedakan halusinasi dan kehidupan nyata, suasana hati berubah-ubah drastis, pola tidur acak, dan kesulitan untuk konsentrasi terutama dalam hal belajar. Bagaimanapun, ada saat di mana Nathalia masih sadar untuk menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya. Semua gejala yang ia alami masuk pada pengelompokan gejala orang-orang penderita skizofrenia.
Penyebabya tak bukan tak lain karena depresi berat yang ia alami sejak kecil, karena terlahir dengan kemampuan otak yang tak sebanding dengan sang kakak, Nathalia kerap kali menjadi sasaran kemarahan ayah. Satu hal itu saja susah membuatnya sangat depresi berat.
Ditambah tidak ada sosok ibu yang biasanya menjadi penenang, meskupun Julian berperilaku sangat baik dalam merawat juga menyayangi adiknya, tetap saja usia keduanya tidak terpaut jauh. Sosok seorang ibu sama sekali tidak ia dapatkan.
Lagi-lagi semua penderitaan itu masih memiliki jalur lain yang saling menghubungkan, yaitu pembulian dan pemalakan, teman perempuannya yang tidak suka, akan membuli lewat kekerasan fisik, sedangkan teman lelakinya selalu meminta uang, kalau tidak dituruti, perilaku mereka bahkan akan lebih buruk dari seekor anjing.
Keadaan-keadaan itu semua sudah jelas memicu depresi, terlebih untuk seorang perempuan. Nathalia sudah berusaha tetap kuat dan tegar menjalani hidup, ternyata masih bisa kebobolan, penyakit tidak waras kini perlahan tapi pasti, mendatanginya.
Yang ia khawatirkan sekarang adalah Julian, bagaimana sang kakak, satu-satunya haralan yang tersisa, malah jadi seperti ini.
"Tidak, kakak tidak boleh sampai tahu gejala-gejala yang ada pada diriku ini."
...---...
"Kau bukan Sierra, aku menyadarinya sejak awal. Sejak kau datang ke Aragon dan mengatakan kalau dirimu adalah Sierra yang sudah kembali."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
Selena memajukan tubuhnya disertai tatapan penuh intimidasi, membuat Luz memundurkan langkah, "Kau berubah. Kau lupa atau pura-pura lupa dengan janjimu?" Tatapan yang Selena berikan hanyalah untuk tipuan, yang ada dalam hatinya sebenarnya adalah kesedihan, mengapa Sierra sama sekali tidak ingat tentang janji mereka.
Sedangkan Luz tidak tahan dalam situasi seperti ini, dulu, ia yang selalu melakukan posisi Selena, menatap tajam orang yang tak dia suka, memajukan langkah sampai tubuh si korban menabrak tembok, lalu berakhirlah adu fisik. Sekarang tak mungkin Selena juga melakukan hal seperti itu, sebab dia bagian dari keluarga bangsawan, tidak ada etika jika Selena melakukan apa yang Luz sering lakukan dulu, "Sudah ku bilang, ingatanku terasa aneh setelah depresi tersesat di hutan! Kenapa kau menanyakannya? Dan janji apa yang kau maksud?" Luz balik bersikap berani.
Selena tersenyum miring, "Sudah ku duga. Jika kau Sierra, tak akan mungkin bertingkah seperti ini. Jika ingatanmu memang rusak, tak mungkin kepribadianmu ikut rusak."
"Dengar, Puteri Selena, setiap orang bisa berubah. Aku yang dulu, terlalu lugu, polos, dan lembut. Semua itu membuat derajat perempuan mudah direndahkan. Dan karena aku tak ingin mengulangi kesalahan masa lalu, aku berusaha berubah, Menjadi perempuan yang lebih tangguh," balas Luz, gadis itu lantas melengos meninggalkan Selena yang sedang di puncak amarah.
Selena benar-benar tak kuasa menahannya, "Sierra!"
"Lupakan, aku harus kembali ke Aragon."
'Dia sudah jelas bukan Sierra, dia melupakan janjinya menemui Ratu Herlinda, ibunya sendiri yang ternyata masih hidup. Bibi Herlinda, semoga kau masih baik-baik saja, kami menunda sudah sangat lama.'
TBC
Thanks for reading💘