
Keputusan dari kerajaan Kastillia sudah tidak dapat dicegah. Mereka merelakan kepergian satu-satunya Puteri mahkota dan mendirikan benteng pembatas antara kerajaannya dengan Aragon.
Tidak ada Aragon-Kastillia yang akan menjalin persaudaraan erat, bahkan kerajaan dari pihak Puteri Sierra itu menyatakan, kalau sedikit saja Aragon membuat kesalahan terhadap kerajaannya, maka Kastillia akan terlebih dulu mengibarkan bendera perang.
Sejatinya, kerajaan yang memiliki ibu kota Zaragoza itu tidak pernah mempunyai musuh antar kubu, semua bersahabat baik dengan Aragon. Selain karena kepemimpinan yang baik secara turun-temurun, Aragon memang negeri yang paling banyak menghasilkan bahan pangan, hampir seluruh kerajaan di sekitar selalu mengimpor gandum, jagung, kakao, kopi dan lainnya.
Tidak memungkinkan kalau ada kerajaan yang memutuskan tali persaudaraannya dengan Aragon begitu saja, kemungkinan besar mereka sendiri yang akan kesusahan.
Sedangkan Pangeran Juan Azarcon, tidaklah lagi diharuskan memenuhi persyaratan kekerajaan yanh sudah turun-temurun. Di mana menjadi Raja harus sudah menikah.
Tinggal beberapa hari lagi, pelantikan dadakan raja baru Aragon akan dilaksanakan. Pangeran Juan sangat terkejut, baru saja kepulangannya dari Andalusia, kabar tentang pelantikan itu sudah menyeruak dalam telinganya.
Ia sendiri tak habis pikir, mengapa sang ayah begitu terburu-buru, terlebih masalah Aragon-Kastillia belum bisa diselesaikan, yang ada malah semakin menjadi-jadi.
Kuda yang ditungganginya segera dibawa ke kandang, seusai sosok Pangeran Juan memasuki wilayah pekarangan istana. Kepala pelayan sudah bersiap di depan pintu masuk bersama beberapa pelayan lain.
Sang ayah keluar dari istana, membuat Juan tiada bisa membendung emosi, lelaki itu berjalan cepat menuju tempat ayahnya berdiri "Ayah! Kenapa kau mempercepat pelantikannya? Sierra bahkan belum ditemukan."
"Tidak ada halangan lagi, pencarian Puteri Sierra resmi dihentikan, kerajaan kita dan kerajaan tetangga, sudah tidak memiliki hubungan persaudaraan lagi. Kastillia menutup akses masuknya dengan Aragon, kita sudah pecah."
"Tapi ayah, tidak bisa begini. Aku akan mendatangi ayah Sierra--"
"Tidak ada lagi nama Sierra, kau akan segera dilantik menjadi Raja baru Aragon. Dan ayah juga bersiap mencarikan bangsawan dari kerajaan lain untuk menjadi pengantinmu," Juan tercekat, ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Kenapa mendadak ayahnya menjadi keras kepaa dan egois seperti ini.
"Aku, tidak akan menikah dengan orang selain Puteri Sierra."
Raja Saloar menajamkan pandangannya terhadap sang putra bungsu, lantas rautnya kembali menjadi teduh ketika pangeran termuda itu menunduk lesu "Juan, putraku. Kita bicarakan masalah ini di dalam."
Juan hanya bisa mengangguk, mengikuti langkah ayahnya menuju ruang pribadinya "Ayah sudah tua, tidak bisa memimpin negeri ini lagi."
Anak bungsunya menatap tidak suka atas ucapan sang ayah.
"Kau anakku yang paling dipercayai masyarakat. Banyak orang menginginkanmu menjadi pemimpin negeri kecil ini, tidak ada alasan lebih, kenapa mereka memilihmu, kau anak baik, patuh, hebat, dan masih banyak lagi kelebihan. Jadikan omongan orang sebagai penyemangat, jangan kecewakan mereka."
Juan kembali menghela napas dalam "Tapi ayah..." Lirihnya.
"Tidak ada juga alasan untukmu menolaknya. Jalankanlah, ayah tidak akan memaksakanmu menikah dalam waktu dekat ini, tapi bukan berarti membebaskanmu untuk tidak memiliki pasangan. Dalam silsilah kerajaan, seorang raja penting untuk beristri dan memiliki keturunan, agar tidak terputus darah dagingnya."
Lagi-lagi pangeran muda tersebut tidak dapat mengelak, sebagai seorang calon pemimpin, Juan haruslah punya sikap bijaksana. Kehilangan Sierra bukan berarti dirinya juga akan meninggalkan segala kewajibannya di istana Aragon "Baiklah, aku akan menjalankan kewajibanku sebagai calon raja, tapi berjanjilah ayah, biarkan aku hidup sendiri dulu. Jangan menjodoh-jodohkan dengan para wanita bangsawan lain. Aku akan memilih jalanku sendiri."
Raja Saloar menepuk pundaknya lembut "Anakku memang bijaksana, mulai sekarang persiapkan dirimu. Pelantikan sebagai raja tidak mudah, masih banyak waktu, berlatihlah dengan baik."
Manik mata lelaki muda calon raja baru itu berubah redup lagi, setelah sang ayah pergi keluar dari ruangan "Aku adalah seorang pria, kehilangan perempuan tidak akan membuatku roboh begitu saja kan?" Gumamnya, seraya tersenyum miris.
Di lain sisi, sang pangeran pertama, Jevin Azarcon, mengamuk dalam diam. Ia hampir saaj merobohkan meja kayu maoni ketika mendengar pembicaraan ayah dan adik bungsunya.
Selain kalau dirinya yang paling tua dan paling cerdas, beberapa kelebihan lain memang Jevin kuasai, di banding para adiknya.
Pangeran pertama itu tidak ingin diremehkan, ia merasa, kalau perpindahan tahta pada sang adik akan membuatnya dipermalukan.
Pada sistem pemilihan calon raja empat kandidat di Aragon tidaklah mungkin ada kecurangan, jadi berhaknya Juan dalam kepenerusan kerajaan tidak mungkin bersangkutan dengan hal-hal yang menjuru pada keserakahan.
Jevin tidak bisa menganggap itu hal biasa, pasti juan sudah mempermainkan rakyat. Berkat hal ini, kedua adiknya lagi, ia gunakan untuk pemancing yang lebih efektif. Jika ketuga saudaranya bisa membenci Juan, dan menganggap anak itu melakukan kecurangan, makan kemungkinan besar tahta bisa berpindah tangan lagi.
Dan Jevin pasti akan mendapatkannya.
"Adik kita, Juan, tidak mungkin mendapatkan suara sebanyak itu. Rakyat kemungkinan besar sudah dimanipulasi olehnya."
"Tapi kak, pemilihan untuk penurunan tahta kerajaan selalu menggunakan metode yang jelas. Tidak mungkin ada manipulasi di sini," sahut Johnny menganggapi ucapan kakak pertamanya. Sekaligus mengingatkan, jika pemilihan calon raja selalu memakai pendataan dari para bangsawan yang menjadi pemimpin di seluruh kota di penjuru Aragon.
Bangsawan-bangsawan itu tidak akan mungkin melakukan manipulasi, karena nyawa menjadi taruhan pekerjaan mereka.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang, tapi kalau benar terjadi, siapa yang melakukan manipulasi ini? Tidak mungkin kan, kalau Juan?" Tanya Javier.
Jevin mengusap dagunya, berlagak seolah sedang berpikir keras "Aku sendiri tidak ingin berburuk sangka dengan adik bungsu kita, tapi selisih pemilih antara kita bertiga denga Juan sangat jauh. Hanya... agak curiga saja."
"Mungkin kebanyakan rakyat lebih menyukai Juan, makanya banyak yang memilihnya dari berbagai kota dan desa."
"Iya, aku tahu itu. Tapi aoakah kalian tidak ingin mencari tahu lebih banyak? Barangkali memang ada orang yang ingin menjatuhkan kita."
Johnny menggeleng, ia tak suka jika adik bungsunya seolah menjadi musuh hanya dalam hal penurunan tahta kerajaa. Sedangkan sang kakak, terus mendorongnya untuk ikut mencurigai Juan. Meski perkataan Jevin memang hanya tersirat, tapi Johnny tidak bodoh untuk bisa menjabarkannya.
Jevin juga ingin tahta kerajaan.
...---...
Sang pangeran bungsu sudah rehat dari masa pencarian Puteri mahkota Kastillia. Sebenarnya Juan tidak ingin menghentikan pencarian ini, dia menyayangi Sierra seperti menyayangi dirinya sendiri.
"Sierra pasti sedang kedinginan sendirian, taoi semoga tidak. Semoga kau berada di tempat yang hangat dan aman, aku terus mendo'a kanmu," bibirnya bergumam, menceritakan keresahan pada sang rembulan berbentuk sabit yang kini tengah menghiasi malam bersamaan dengan para bintang.
Mengingat pembicaraannya dengan ayah pagi tadi, membuat otaknya tak henti berpikir keras.
Di hatinya tidak ada tempat selain untuk Sierra seorang, bagaimana mungkin akan menikahi gadis lain. Bisa-bisa kehidupan pengantinnya tidak akan bahagia, karena Juan tidak mungkin bisa memberikan kebahagiaan.
*TBC
THANK'S FOR READING💘*