Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Again and Again



"Jangan mengelak penipu, kali ini aku akan membantumu lepas. Kalau kau tetap ikut ke Aragon, maka ku sebarkan siapa dirimu yang sebenarnya."


"Apa yang akan kau sebarkan? Tidak ada bukti jelas dari tuduhanmu itu," balas Luz seraya tersenyum miring. Bukan, ini bukan saatnya untuk panik. Semua akan kacau nantinya.


"Setidaknya aku punya banyak pendukung dari Kastillia. Selena mencari tahu dari beberapa orang yang juga merasa janggal padamu, dia mengatakan ini padaku untuk tetap waspada. Akhur-akhir ini memang marak penggunaan ilmu sihir, seseorang bisa saja merubah wajahnya seperti orang lain," Jevin sebenarnya tidak berniat melepaskan Sierra begitu saja, karena ia bisa saja mendapat masalah. Taktiknya untuk mengelabui gadis itu, agar tetap memaksa pergi ke Aragon, dan ia melapor pada sang raja, melalui bukti yang diberikan Puteri Selena juga orang-orang Kastillia lainnya yang bersangkutan.


Di sisi lain, Luz tampak sangat santai. Berbeda dengan keadaan sebenarnya kalau dirinya panik, sekarang tempat pelariannya hanyalah Reagel. Di sana mesin waktu itu berada, memaksa Feuji untuk membantu memulangkannya ke dunianya yang sebenarnya.


"Baiklah, penipu cantik. Kau tidak segera turun jadi aku akan membawamu langsung ke Aragon. Jalan!" Kereta kembali berjalan sesudah berhenti berjam-jam hanya untuk menunggu kereta lain di belakang. Dari Kastillia, sosok Puteri Selena akan memberikan kesaksian bersama ibunya. Mereka terpaksa pergi malam hari untuk menghindari petugas keamanan di gerbang pintu masuk Kastillia.


'Tenang Luz, kau tidak boleh panik. Juan pasti ada di pihakmu.'


...---...


...J...


ulian merogoh saku celana, mengeluarkan benda kotak yang cembung di bagian tengah. Lampu merahnya menyala saat ia menekan salah satu tombol, "Jadi benar, pancaran sinyal itu berasal dari rumah Leura."


Selepas mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya, Julian tak segera pulang. Ia menunggu sampai beberapa menit di dekat tumpukan sampah, tepatnya di samping rumah Leura. Hanya untuk memastikan, di mana sinyal time machine bisa terdeteksi.


Kemudian Julian mengambil ponsel untuk menghubungi Richard, "Halo paman, aku sudah menemukan titik utama letak pancaran sinyal dari time machine. Aku tak tahu ini benar atau salah, tapi detektor mengarah ke tempat ini. Tunggu, aku akan mengirimkan foto rumahnya nanti."


"Cari tahu pemiliknya, dekati dia, dan buat dia mempercayaimu untuk bisa membuka rahasianya."


"Rumah asal pancaran sinyal yang berhasil di deteksi adalah rumah temanku."


"Kalau begitu bagus, kau jadi lebih mudah menanganinya. Hanya tinggal membuatnya lebih terbukan padamu. Kalau dia laki-laki, sering ajak main dan traktir, tapi kalau perempuan, sering-seringlah bersikap seolah kau tertarik padanya, kalau dia suka padamu, dia akan menjadi semakin terbuka. Kebanyakan perempuan memang seperti itu."


Julian berdecak, "Masalahnya, aku yang malah menyukainya," lelaki itu mengacak kasar surainya, baru satu jam yang lalu ia bersikap terang-terangan jika memiliki ketertarikan pada Leura, tapi saat ini keadaan akan berbalik tiga ratus enam puluh derajat, 'Bagaimana kalau Leura tahu tujuanku untuk mesin waktunya. Dia akan sangat kecewa. Apalagi... aku sendiri mulai tertarik padanya.'


"Kenapa aku malah mengurusi kisah cinta monyet anak remaja, urusanmu belakangan, Julian. Ingat saja tujuan utamamu itu apa. Sudah, aku akan berikan tugas lanjutan pada Dr. Alenio, sekarang pulanglah dan temui adikmu. Tugas selanjutnya akan ku sampaikan sesudah semuanya diselesaikan."


Julian mendengus, ia tiba-tiba memutus sambungan teleponnya dan mematikan daya. Padahal sepertinya pembicaraan Richard belum selesai. Butuh perjuangan keras berjalan kaki kurang lebih sepuluh kilo meter menuju apartemennya, akibat kejadian aneh waktu itu, Richard menyita mobil miliknya sampai Julian bisa berpikir sedikit lebih dewasa. Dan itu tandanya, entah sampai kapan.


Lama menghabiskan waktu hanya untuk berjalan, Julian dikejutkan kerumunan orang saat tiba di lobi. Seorang wanita berpiyama lengkap dengan hairband melingkari kepalanya, menyapa dengan pertanyaan, "Permisi, bukankah kau penghuni unit 28? Aku sering melihatmu."


"Saudarimu sudah dibawa ke rumah sakit. Aku menemukannya pingsan di depan pintu apartemen kalian. Sebaiknya segeralah pergi ke rumah sakit terdekat, petugas pasti membawanya ke sana."


Mendengar kabar buruk tentang sang adik, jantungnya terasa berdegup terlalu kecang.


Julian kembali berlari keluar dari area huniannya, tanpa peduli masalah biaya hidup, ia menghentikan salah satu mobil taksi yang sedang melintas tanpa tumpangan lain. Pikirannya kacau, panik, takut, gelisah, khawatir, semuanya menjadi satu, 'Harusnya aku tidak meninggalkan Nathalia tadi. Dia memang terlihat kecewa saat aku berangkat pergi. Bagaimana ini, semoga kau tidak apa-apa, Nath.'


"Akses jalur terdekat menuju rumah sakit ditutup tadi pagi karena ada kecelakaan beruntun. Kita terpaksa lewat jalur lain yang lebih jauh, bagaimana?" Tanya sang sopir saat mendapati palangan dan garis polisi berada di pinggir jalan, untuk memberi tahu bahwa salah satu jalur sedang ditutup karena suatu kejadian tidak mengenakkan.


Julian yang panik, beralih emosi, "Apa tidak bisa cari jalan pemotong?! Harusnya ada kan?"


'"Maaf, tapi memang tidak ada. Kalau kau mau, aku akan segera putar arah."


Semakin kesal, Julian akhirnya hanya bisa mengiyakan, "Kalau begitu cepatlah! Salip semua kendaraan di depan, jangan membuang waktu!"


Sopir taksi itu mengandalkan keahliannya, akibat instruksi dan protes si penumpang, ia melajukan mobil taksinya dengan kecepatan penuh. Ia pikir lajur jalan satu arah yang dilewatinya tak akan ada lampu lalu lintas karena jalurnya tak memiliki belokan. Seingatnya memang tidak ada lampu lalu lintas, tapi kali ini salah. Ternyata ada, lampu hijau di depan sana terlihat jelas.


Sopir taksi tersebut mempercepat lajunya dari pada harus berhenti, nyatanya kurang lima detik, lampunya berganti merah. Ia menginjak rem dadakan sekuat tenaga, sebab terdapat truk dua muatan sedang menyebrang dari arah lain.


Mengerti posisinya sedang dalam bahaya, Julian memajukan tubuh menyentuh setir mobil, memutar ke arah yang sama dengan yang dituju truk tersebut. Sialnya lagi, terdapat banyak kendaraan beroda empat juga dibelakang.


Hingga tak bisa dihindari, kecelakaan beruntun itu pun terjadi.


Memejamkan mata, menahan rasa sakit dari tubuhnya yang terjepit kursi dan kekhawatiran yang tertuju pada Nathalia menjadi satu. Julian menahan rasa sakitnya, "Tidak, tidak boleh mati. Nathalia menungguku di sana."


Tampaknya supir truk bermuatan dua juga kehilangan kendali, kendaraannya yang kuat membuat mobil taksi didepannya terdorong terus maju, sampai-sampai suara decitan dan gesekan ban yang dipaksa terdengar memekakan telinga. Dengan puluhan mobil lain di belakang mobil taksi yang ikut terdorong.


Kejadian ini seolah sedang terulang, dari peristiwa tertabraknya putri pembisnis sukses dan wanita karir yang berkecimpung di dunia fashion juga makanan, gadis malang yang dianggap hilang ditelan bumi oleh semua orang, Ereluz.


TBC


Thanks for reading💘