
Lonceng kafe berbunyi, ketika dua orang memasuki ruangan utama. Cassandre tersenyum lebar menyadari kedatangannya, "Julian kenapa kau kemari, ini bukan shiftmu--ohh, apa ini? Aku tak pernah tahu kau punya saudara kembar."
Julian melihat sekeliling, lantas berbisik, "Manager Rivera, bisa kita bicara sebentar."
"Oh, tentu," Wanita itu tanpa ragu mengiyakan permintaannya, bahkan mengajak mereka menuju ruangan di belakang.
Tanpa basa-basi, atau sekedra pembicaraan halus. Julian memulai dengan cara intimidasi, membuag Juan tersulut tak senang atas prilakunya, "Jelaskan apa yang terjadi dengan Ereluz? Kemana dia yang sebenarnya?"
"Apa maksudmu tiba-tiba menanyakan tentang putriku? Dan, siapa dia? Kalian terlihat aneh,"balas Cassadre tak kalah sengit, sambil menatap Juan yang terlihat sulit beradaptasi di sini, bahkan dalam menginjak lantai marmer ruangannya.
Yamg lebih muda berdecak, sikapnya sangat berbeda dari Julian yang ia kenali sebagai pekerja paruh waktu di kafetaria miliknya, "Benar, Ereluz yang melakukan perjalanan waktu? Dia menjadi penjelajah waktu sekaligus pemilik mesin waktu sekarang?"
"Da-dari mana kau tahu?"
"Tidak penting sekarang, Ereluz sedang dalam bahaya di sana, kita harus membawanya kembali ke era ini," potong Juan cepat. Membuat wanita itu menatapnya bingung.
Padahal dalam hati, Cassandre panik, terlebih mendengar kata bahaya yang merujuk pada Luz, 'Urgre bilang, aku harus merahasiakannya. Bagaimana kalau Luz dalam bahaya begini? Harusnya dia mengerti kan? Aku boleh mengatakannya.'
Julian menyahut menimpali, "Tidak ada waktu, Manager Rivera. Tunjukkan pada kami di mana rumah pemegang sebelum Ereluz?"
"A-aku tak bisa--"
"Aku tak tahu apa tujuan Ereluz berada di sana, tapi yang jelas apa kau merelakan anakmu mati?" Kembali Julian meyakinkan, membuat Cassandre semakin gusar.
'Aku tak mau, tak akan rela melihat Luz mati untuk kedua kalinya,' batinnya sambil meringis merasakan luka tak kasat, "Baiklah, kita pergi sekarang."
'Inilah kesempatan terbaik.'
...---...
Urgre berkeliling frustasi atas kedatangan tiga orang ke rumahnya secara dadakan dengan tujuan memberi berita jika Luz dalam bahaya. Kini ia bersama ibu kandung Ereluz tengah berbucara penuh perdebatan di ruang belakang, "Nyonya Cass, tak ada bahaya apapun yang terdeteksi, mengapa kau percaya begitu saja pada mereka?"
"Tapi aneh, mereka mengenali Luz, tahu di era mana putriku berada. Itu bukan kebetulan kan?"sangkal Cassandre meyakinkan. Bukannya percaya begitu saja kalau sang putri dalam bahaya, melainkan masakah ini menyangkut nyawa Luz, ia harus meyakinkan kebenarannya untuk membuat Luz baik-baik saja di sana.
"Bagaimana kalau mereka anggota peneliti yang berambisi mendapatkan mesin waktu? Semuanya akan terbongkar. Yang sudah ku pertahankan selama ini akan hangus, Ereluz juga terancam di sana, karena sampai sekarang belum menjadi pemegang resmi mesin waktunya."
"Tolong! Jangan pikirkan itu, putriku dalam bahaya di sana."
"Lalu aku bisa berbuat apa? Sudah dari awal ku katakan kalau itulah kehidupan baru untuk Ereluz, kehiduapan kedua yang menjadi kesempatannya," ujarnya frustasi, dengan kepala dituntukkan seolah menyesal, "Ereluz tidak akan bisa kita selamatkan, malah mesin waktu ini yang terancam. Mereka bisa tahu, karena pastinya bukan orang-orang biasa."
Urgre akhirnya menuju ruang tamu, menemui dua orang mirip yang hampir tak memiliki perbedaan apapun, terkecuali busana yang dipakai.
Ia menghembuskan napas perlahan sebelum mulai bicara, "Baiklah, aku akan jujur, tahun ini, era ini, abad ini, aku salah satu pemegang mesin waktu, sekarang izinkan aku bertanya, kenapa kau bisa tahu mengenai mesin waktu?" Tatapan mata terdebut tertuju pada pemberi informan, Juan.
"Tolong pegang ucapanku," balas Juan ikut meyakinkan diri, "Aku salah satu orang dari tahun Luz berada saat ini. Aku penjelajah waktu dari 600 tahun silam."
"Lalu kau?" Kini berakih pada Julian yang masih duduk di tempatnya. Kekhawatiran Julian justru pada Leura. Bagaimana jika gadis itu tahu ia di sini, rumahnya, namun di sisi lain ia mencari keberadaan Leura.
"Reinkarnasi," baalsnya cepat alias asal ucap, "Hmm, aku dirinya di masa kini. Istilahnya pria ini terlahir kembali menjadi aku."
"Kau pemegang mesin waktu kan? Harusnya kau lebih cerdas dariku."
"Jadi kau hanya orang biasa? Aku tak bisa memercayaimu kalau begitu. Jika mulutmu seperti sampah, berita keberadaan mesin waktu pasti akan tersebar."
"Aku menjamin kalau dia tidak akan menyebarkan, sekarang lakukan bantuan untuk Ereluz, kalian harus membawanya kembali."
Julian menyela dengan alis menukik, "Tunggu, tunggu! Maksudnya kau bicara begitu apa?! Aku yang sudah membantumu!"
"Bukankah manusia masa depan suka harta? Menurutlah padaku, akan ku beri sepuasmu."
"Asal kau tahu saja, ayahku orang kaya di negara ini!"
"Oh," balas Juan singkat, ia kemudian kembali menatap Urgre dengan penuh harapan, "Tuan, segera berbuatlah sesuatu untuk membawa Ereluz kembali."
"Tidak bisa, di era ini Ereluz sebenarnya sudah mati. Karena suatu kesempatan, dia bisa dihidupkan dengan syarat berada di era lain jauh dari eranya. Kau mengerti kan? Untuk itu, jika kehidupan keduanya sudah berakhir, tak ada yang bisa dilakukan lagi."
"Sepertinya kau melewatkan sesuatu, paman. Ayo tunjukan keberadaan benda itu, biar aku yang mengurus," Julian menepuk dada bangga.
"Hey, bocah! Jangan sembarangan kau."
"Tolong biarkan dia berbuat, aku akan menjamin kalau mulutnya tidak ember."
"Dasar! Memangnya siapa dia?!"
Sesampainya di laboratorium pribadi milik Urgre, Julian menatap layar dan menyentuh dalah satu tuts keybord, "Satu nyawa bisa ditukar dengan yang lain, Ereluz bisa kembali, tapi harus ada tumbalnya. Istilahnya, ada jiwa yang menggantikannya untuk tetap hidup di era itu."
"Aku bisa melakukannya, aku memang berasal dari era itu," sahut Juan memberikan usulan.
"Tapi kau kemari menggunakan mesin waktu yang lain," timpal Urgre tak setuju
"Tidak masalah paman, aku mengerti kalau kau mengkhawatirkan radiasi wormhole. Tapi pengaruhnya tidak akan besar, palingan hanya cacat atau sakit-sakitan."
"Apa maksudnya?"
"Jika kau melewati dua wormhole yang tak sama, radaiasi yang dipancarkan akan jadi lebih besar, bisa jadi kau kembali ke eramu dalam keadaan tak normal, maksudku seperti cacat, terserang penyakit organ dalam, atau bahkan kematian... Untuk yang terakhir, itu kemungkinannya kecil, jadi jangan khawatir."
"Asalkan Ereluz selamat, aku akan melakukannya."
Julian mendengus sambil menggulirkan bola mata, namun senyuman tipis terpatri di kedua sudut bibirnya, "Hah, sepertinya kau ini pria sejati. Bagus, aku suka kau, aku suka diriku dari masa lampau."
"Baiklah, aku akan mempersiapkannya, dua hari, cukup?" Urgre tampaknya menyetujui, namun ia masih meminta pendapat Juan melalui tatapannya.
Pria itu menggeleng "Apa tak bisa dipercepat? Aku khawatir dengan Ereluz."
TBC