Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Penentu Waktu



"Bagaimana? Kau sudah dapat besi potongan yang aku maksud?" Feuji menghampiri cucunya yang baru datang sambil menenteng kantung kecil yang terbuat dari anyaman rotan. Pria tua itu tampaknya sama sekali tidak menyadari raut Reagel yang begitu kusut, bagai wanita yang baru kehilangan perhiasan mewah.


Keduanya memang sudah satu minggu berada di kawasan dekat istana Kastillia hanya untuk mencari suatu barang yang memang berpusat di Kastillia. Maka tak heran Reagel bisa menemui Ereluz yang mengaku sebagai Puteri Sierra, gadis itu benar-benar jahat.


"Kenapa? Kelihatannya lelah sekali. Atau kau lapar?" Setelah beberapa menit, barulah sang kakek sadar.


Namun Reagel memilih menggeleng, memberi kepastian bahwa dia baik-baik saja. Padahal hatinya yang tidak dalam kondisi baik-baik saja.


Sang kakek menghela napas perlahan, ia tak tahu apa yang menjadi dugaannya akan benar "Aku mendengar beritanya, Puteri Kastillia yang berada di Aragon sudah dipulangkan ke Kastillia untuk beberapa waktu. Untuk berunding jika kedua negeri ini akan dipersatukan, sekaligus memastikan kedua belah pihak kerajaan memang sudah tak saling memiliki masalah lagi. Jadi, apakah kau bertemu dia?"


Reagel mengangguk, kata 'dia' yang diucapkan kakeknya sudah sangat jelas merujuk pada siapa. Mungkin sang kakek pun mulai malas dan nerasa gadis itu egois, bahkan menyebut namanya saja sudah seperti mendatangkan gatal tenggorokan.


"Aku bertemu Luz di pasar, sebagai puteri kerajaan tentunya," ungkap Reagel merasa sedih. Ia hanya ingin Luz berada di dekatnya, karena bagaimanapun mereka senasib. Dan tidak akan banyak orang memercayai keberadaan mereka, terlebih di zaman yang masih sangat minim teknologi ini.


"Aku sendiri sebenarnya membutuhkan dia, Luz adalah kunci dari mesin waktunya. Dia aalah penerus yang mengambil alih, dari masa depan. Entah bagaimana, harusnya mesin itu segera berpindah tangan padanya. Tapi bagaimana kita bisa membicarakan hal ini ketika semua orang saja menganggapnya mulia, apalagi anak itu memang snagat keras kepala, kepercayaannya terhadap mesin waktu sama sekali tidak ada. Rasanya seperti bicara dengan batu, kalau aku harus menjelaskan ini semua pada Luz."


"Ya sudah, kalau begitu biarkan saja. Kakek tak perlu mengurus tentang mesin waktu lagi," sejujurnya Reagel sendiri agak muak mendengar celoteh tentang mesin waktu, itu sungguh fiktif. Ia bisa percaya karena benda yang disebut mesin waktu itu memang ada, dan dirinya juga menjadi pembukti kalau perjalanan waktu bisa dilakukan.


Selama hidup di dunia yang sebelumnya, Reagel nyaris tak pernah mempelajari ilmu fisika, yang berkaitan dengan mesin waktu seperti fisika kuantum, teori-teori kecepatan waktu dan rentetan kasus lainnya. Reagel pun tak banyak belajar, ia lebih sering tiduran dan beristirahat di kasur sambil membaca komik, karena penyakitya, kehidupan pun berbeda total dengan orang-orang pada umumnya. Terlalu terbatas.


"Mesin waktu ini punya konsekuensi, Regy. Luz diwajibkan untuk memegangnya, mengambil alihnya, kalau tidak, maka pemilik sebelumnya lah yang akan bertanggung jawab atas konsekuensi yang akan terjadi. Sidik jari di tanganku pun mulai memudar, dan sebaliknya sidik jari Luz semakin menggelap, terlihat jelas."


"Apa konsekuensinya?" Tanya Reagel cukup penasaran.


Tapi hanya gelengan yang ia dapat dari sang kakek "Tidak ada yang tahu. Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya, kemungkinan karena 'kami' menjadi penentu waktu. Maka konsekuensinya juga masih tentang waktu."


"Huft, sebaiknya kita segera kembali ke Aragon. Aku tidak nyaman di sini," tutur Reagel dengan kepala terisi penuh gambaran wajah Ereluz, si gadis keras kepala yang egois.


...---...


Julian melakukan dribbling pada bola setelah Herald melemparkan padanya, ia lantas memantulkan bola basket tersebut agak tinghi yang kemudian bisa mematul lebih tinghi lagi, lantas dengan sukses masuk ke dalam ring. Sorak-sorai sontak memenuhi telingannya.


Herald mengacungkan jempol, di mana saat Julian tak sengaja mengarahkan padangan ke arah lelaki itu.


Siang ini memang ada pertandingan basket antar kelas, dan antar angkatan. Julian bahkan tidak tahu ada jadwal olahraga menjelang akhir pekan seperti ini, tapi guru bilang, tim yang menang akan mendapat hadiah uang.


Acara seperti ini memang sudah menjadi tradisi di sekolah tersebut, dan diadakan setiap penghujung bulan tepatnya di akhir pekan, selain untuk meningkatkan kualitas kebugaran fisik siswa-siswi, setiap personel yang turun lapangan mendapat nilai tambahan di bidang olahraga. Tak hanya basket, bidang lain seperti voli, sepak bola, tenis meja, dan badminton juga ada. Mulai dari laki-laki dan perempuan juga punya sesi tersendiri.


Julian awalnya tidak tertarik sama sekali dengan apapun yang terjadi di sekolah ini, tapi beberapa orang sudah memilih bidang lain, alhasil tim basket kekurangan personel. Herald memaksanya untuk ikut, tapi tetap penolakan yang selalu ia ajukan. Mau tak mau Herald membujuk Leura agar bisa membuat Julian berubah pikiran, karena yang terlihat paling dekat dengan lelaki itu hanyalah Leura.


Ternyata Julian luluh karena nominal uang hadiahnya.


Pertandingan jeda sesaat, tim Herald keluar dari arena lapangan indoor, termasuk Julian.


Seseorang menepuk bahunya, dia Revan teman sekelas sekaligus se-tim basketnya saat ini "Hey, kawan. Permainanmu bagus juga. Aku lihat para guru sangat suka padamu."


Julian hanya mengangguk, tidak mengucap apapun, barang terima kasih atau sekilas tersenyum pun tidak. Datar sekali..., seperti papan tulis.


"Lain kali sering-seringlah bermain dengan kami setelah pulang sekolah. Biasanya kita juga berlatih basket dengan santai di sini," timpal yang lainnya.


Herald menatap Julian dengan curiga, ia sama sekali tidak pernah nelihat raut lain dari wajah rupawan teman barunya itu. Seolah memang tidak ingin menampakkan ekspresi lain.


Melirik dari sudut matanya, Julian yang sedang menatap ke depan, merasakan kalau Herald tengah memeperhatikannya dengan tatapan aneh. Ia pun balas menengok secara tiba-tiba, membuat Herald gelagapan dan memalingkan wajah ke arah lain. 'Tertangkap basah, kau! Aku merasa sedang diawasi gadis genit!' Bantinnya, merasa tidak suka.


Tapi kini malah dirinya yang melihat wajah Herald secara intens 'Wajahnya mirip seseorang, dan sangat tidak asing.'


Jessica dan rombongannya mulai berlari-lari dari arah tribun. Mereka tepat berhenti di depan tim basket kelasnya dan membawakan banyak botol minuman ion juga air mineral.


"Teman-temanku tersayang, aku bawa minuman!" Serunya, Jessica lantas menyuruh temannya membagikan minuman tersebut. Dan ia berlari kecil menuju Julian sambil membawa minuman yang berbeda dari lainnya.


"Hey, Jul. Ini untukmu."


Julian sebenarnya malas menerima, tapi iansangat haus, jadi terpaksa untuk menerimanya. Lagipula Jessica juga tidak mungkin mencampurkan sesuatu yang berbahaya, seperti racun tikus.


Gadis itu memberikan minumannya dengan senyum manis yang tulus, tapi Julian terlihat mengacuhkannya dengan melirik tribun penonton di mana kumpulan anak-anak kelasnya berada. Barang kali ada Leura.


TBC