
Julian berkali-kali membanting gelas walau tak sampai pecah, dengan kaki menghentak kesana-kemari. Sementara kedua tangannya terus mengacak surai secara kasar, "Leura, aku bukan pembohong. Selama ini aku tidak pernah menguntitmu karena alasan keberadaan mesin waktunya. Kau harus percaya!"
Leura hanya duduk diam memandangnya, tanpa ada ekspresi. Hal itu membuat Juan beranjak, lantas memukul kepala yang lebih muda, "Dia tak mengatakan apapun sejak tadi, mengapa kau repot menjelaskannya. Kalau memang tidak menguntitnya, maka tak perlu dijelaskan."
Ia menepisnya kasar, sambil memandang sendu ke arah Leura, "Aku hanya.. ah! Yang jelas aku bukan orang jahat."
Sejenak, Urgre memandangi kedua muda-mudi tersebut. Lantas ikut angkat bicara, menatap putrinya, lau beralih pada si remaja asing yang tiba-tiba datang, "Kalian saling mengenal?"
Leura tampak menghela napas, "Dia temanku, ayah."
Julian terbelalak, suaranya menyela namun ayah gadis itu sudah lebih dulu berucap, "Paca--"
Urgre menatap tajam keduanya, terutama pada Julian. Ia sebenarnya sudah tahu apa yang akan lelaki itu katakan, tapi sang anak terlihat lebih memilih menyembunyikan fakta, "Leura, kita akan bicarakan ini nanti. Meski aku tak melarangmu berteman dengan lawan jenis, tetap tidak boleh ada hubungan khusus. Apalagi dengan anak tidak sopan seperti dia."
Julian hampir membalas, namun Juan segra membekap mulutnya.
Julian melepas paksa, pandangannya beralih pada Juan sepenuhnya, lalu kembali pada Urgre sambil menuding Cassandrea yang duduk di sudut ruangan, "Apa paman tidak tahu, Leura ini salah satu korban pembulian Ereluz, paling parah, dia yang paling sering ditindas," ia tiba-tiba mengingat curhatan Leura tentang bagaimana keadaan gadis itu saat dirinya belum datang, dan Ereluz masih berada di sini, menjadi teman sekelas Leura yang paling tidak beradap, "Atau mungkin, ibu kandungnya sendiri pun tak tahu akan hal itu."
"Benar Leura?" Casandre terbelalak, ia segera mendekati gadis itu sambil memegangi telapak tangannya. Leura hanya diam dengan tatapan sedih, jelas ia tak ingin mengingat momen-momen di mana dirinya serasa direndahkan, "Aku minta maaf, atas nama Ereluz dan juga diriku sendiri. Kenapa kau tak mengatakannya dari awal? Selama ini aku memang tak begitu tahu kelakuannya di sekolah."
"Sepertinya kau perlu banyak lebih tahu," ujar Julian santai, ia menatap ibu kandung Ereluz itu dengan penuh kelicikan disertai seringai, "Aku penasaran, mengapa anak seperti itu harus diselamatkan, nyawanya bahkan bisa digandakan. Sekarang, orang asing pun rela menukar keselamatannya demi gadis itu."
Juan menukikkan alis, terlihat sekali ia tak suka dengan arah pembicaraan yang menjelek-jelekkan Ereluz, "Jika Ereluz memang buruk selama di sini, sekarang dia sudah tak seperti itu."
Mendengarnya, Julian sontak berbalik dan memukul kepala yang lebih tua, "Kau bodoh! Dia menipumu, kau sendiri yang bilang Ereluz datang dang mengaku sebagai calon istrimu, dia memanfaatkan keadaan, yang mana mereka punya wajah serupa."
"Lupakan, sebaikanya kita lanjut jalani sesuai rencana awal. Aku tak ingin menunda lagi," kata Juan sambil menampik serangan remaja labil tersebut, "Tuan Urgre, tolong segera lakukan. Aku sudah siap."
"Juan," panggil Cassandrea, "Terima kasih, ini tidak akan bisa membayar segalanya, terutama kebaikanmu. Maaf."
"Terima kasih kembali," ia menyambung dalam hati, 'Untuk melahirkan seorang yang mampu membuatku nyaman.'
"Mereka sama-sama bodoh, hanya Ereluz, orang jahat yang beruntung," Julian mendelik sinis melihat interaksi keduanya, tak lama kemudian senyum miring menghiasi sudut bibirnya, 'Tinggal tunggu sebentar lagi, mereka akan segera datang.'
...---...
"Reagel! Akh! Kasar sekali," Ereluz mengerang kesakita ketika tubuhnya terpelanting keras menubruk lantai sekaligus dinding, "Di-di mana ini?"
Lelaki itu segera menuju pintu, ia menguncinya rapat, namun sebelum itu, tatapan kesal, sebal, bercpur amarah dia layangkan, "Ini perintah Juan, kau harus menurut. Selama dia belum kembali, kau harus tetap berada di sini," pintu tertutup seketika, Reagel menyempatkan diri untuk mengancam Luz, "Jangan berulah jika mau kalian sama-sama selamat."
Sementara itu di tengah peperangan brutal, seseorang berseru keras, yang membuat perhatian sontak tertuju padanya, "Gadis itu menghilang!"
Ares mendekati peti mati kayu tersebut, lantas menendang penutupnya. Dan benar saja, Ereluz sudah tidak ada di tempat, meninggalkan bekas ikatan yang terpotong pisau kecil. Bola matanya seketika bergulir ke arah sang raja Catalonia, "Hh, Dariel, jadi itu tujuanmu? Mengalihkan kami untuk melepaskan perempuan sialan itu?" Tanyanya sambil mendekat, kemudian mengacungkan pedang ke leher lawannya, "Pencar semua! Cari dia sampai dapat!"
Perintah itu segera disanggupi pasukannya.
Dariel tanpa takut ikut mengacungkan pedang miliknya, hal itu membuat Ares mundur, tapi senyuman jahat tak juga segera luntur, "Karena hukum membunuh seorang raja akan menjadi hal besar jika dilakukan, dan aku malas menanggapinya. Kau lolos, tapi jangan senang dulu. Setelah urusanku dengan Juan selesai, giliranmu."
"Ares, lihat saja nanti. Siapa yang akan... kalah?" Ejek Dariel, sejenak kemudian ia beralih pada putra tertua Aragon, "Oh, ya Jevin. Ternyata kau begitu licik, ah aku tak bisa menyebutmu begitu, mungkin lebih tepatnya gila takhta."
Dariel kemudian pergi begitu saja, diikuti pasukannya.
Jevin menggigit bibirnya panik, "Ares, kita tak punya banyak waktu. Gadis itu pasti sudah lari jauh."
"Adikmu pasti menunggunya di suatu tempat. Karena itu Dariel yang menggantikannya di sini, untuk mengulur waktu," ujar Ares penuh prediksi. Ia sudah cukup bisa menyembunyikan kabar tentang kematian Sierra yang belum bisa diketahui sampai sekarang, Ares khawatir masalahnya akan semakin besar sehingga mengancam takhtanya, "Aku tak tanggung banyak. Puncak masalahnya ada padamu, Jevin. Jika terjadi sesuatu, kau yang bertanggung jawab."
Jevin terbelalak, "Hey, apa maksudmu mengatakannya? Kita sudah sepakat kerja sama. Jangan membuatku murka!"
"Urusannya sudah semakin panjang, Dariel si raja Catalonia ikut turun tangan di pihak Juan. Kau tahu sendiri kekuasaan Catalonia di wilayah ini, kita jelas akan disalahkan," ungkapnya.
Jevin mendekat, menarik kerahnya hingga mereka hampir kembali bergelimpungan penuh kebencian, "Lalu apa maumu?!"
Namun Ares mencoba tenang untuk kali ini, ia tak melawan, menangkis segala serangan brutal Jevin. Hingga saat yang tepat, ia berkata, "Menghentikan kegigihanmu menarik takhta Juan. Aku sudah tidak ikut campur lagi urusan gadis itu."
Jevin kembali tersulut emosi, "Kau cari masalah denganku?!" Tangannya meraih pedang bermata dua dan terus mengancam Ares, bahkan berniat melukainya, mau tak mau Ares membalas, "Mayat perempuan itu, aku mengetahui kebenarannya, jadi jangan macam-macam."
...---...
"Ini akan jadi masalah besar, tapi jika tidak dihalangi maka aku akan dieksekusi mati."
"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?"
"Bunuh Jevin, palsukan kematiannya untuk menghindari kecurigaan Dariel. Dia orang yang mengetahui jejak terkahir kami."
TBC