Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Harapan untuk kembali ke masa depan



Reagel berlari ke arah utara, firasatnya mengatakan kalau akan ada pemukiman ramai penduduk, sebab terlihat sekali jalanan setapak yang ia lewati, sering tertindas ban dari kayu juga jejak kaki orang.


Sedangkan Luz dengan malas mengikuti langkah lelaki itu, ia sudah sangat putus asa, tulang kakinya kelelahan, berjalan terus dari pagi tanpa asupan makanan sedikitpun.


Reagel menengokkan kepala ke belakang, jaraknya dengan Luz sudah sangat jauh, terlebih ia dari tadi berlari sedangkan Luz hanya menyeret paksa kakinya "Hei cepat! Nanti kalau sudah sampai, kita bisa cari makanan."


"Aku tidak kuat lagi... ayo istirahat dulu."


Lelaki itu berdecak, namun tetap mengikuti perkataan si gadis. Ia mendudukkan diri di bawah pohon tinggi, kepalanya mengadah dan tampaklah rejeki di tengah hari buta "Kemarilah Luz, ada pohon pir! Tapi buahnya sangat tinggi."


"Kita tidak akan bisa mengambilnya, lebih baik cari buah lain. Yang pohonnya tidak terlalu tinggi," ujar Luz setelah sekian lama baru sampai di dekat Reagel.


Tubuhnya ambruk begitu saja, matanya terpejam erat membuat Reagel kalang kabut sampai memukuli pipinya "Jangan, jangan mati dulu, ku mohon... Luz sadar Luz!"


Reagel panik menggendong tubuh Luz yang terlalu ringan itu, tak ada kesulitan sama sekali, jadi ia dengan mudah mencari bantuan sambil berlari.


...---...


Kota besar Zaragoza, tempat berdirinya kerajaan Aragon yang megah nan indah, terletak di bukit rendah, membuat kerajaan tersebut tampak agung dari berbagai sisi.


Ditamabah sungai ebro, yang kian membuat keindahan luar biasa. Rumah-rumah bergaya moor saling berjajar berdampingan, layaknya kota yang tenang pada umumnya. Masyarakat sekitar akan beramai-ramai di pagi hari menjualkan dagangan di pinggir sungai ebro.


Keadaan berjalan seperti biasanya, walau sudah berminggu-minggu kesedihan melingkupi wilayah tersebut, jelas tak hanya itu, tepatnya seluruh kawasan Aragon dan Kastillia. Tentunya sebab kepergian seorang Puteri Sierra, calon ratu baru Aragon.


Reagel menatap seluruh bangunan di hadapannya, setelah melirik pada gadis yang kini meringkuk lemas di punggungnya. Dahi Luz menempel bahunya, hingga tak memperlihatkan wajah gadis itu.


Hanya dengan keberadaan Reagel yang memakai pakaian pasien dari abad-21, pandangan orang-orang berubah aneh, ada yang menatapnya marah, jijik, kasihan, dan bahkan tidak bisa terbaca.


"Hei! Siapa kau?!" Tanya seorang pria bertubuh kekar dan besar, jika di era modernisasi, barangkali layaknya seorang petinju tingkat internasional.


Tidak ada tatapan bersahabat di sini, membuat Reagel ketakutan. Kenapa semua orang seperti ingin membunuhnya sekarang juga "A-aku hanya ingin meminta bantuan kalian, saudariku sedang sakit," tunjuknya pada tubuh Luz di balik punggungnya sendiri, menyebut gadis itu saudari akan membuat orang lain lebih berniat membantunya.


"Bukannya tak mau menolong, tapi tampilanmu seperti orang asing nak, dari mana kau?" Kali imi seorang pedagang barang antik yang bicara.


Reagel kebingungan, ia tak tahu harus menjawab apa, "Aku dari Trasmoz, pa-pakaian ini rancangan baru. Makanya terlihat aneh, dan... tolonglah saudariku ini, dia bisa mati sekarang juga," akhirnya Reagel menipu orang-orang yang mengerumuninya, kalau ia berasal dari desa terpencil Trasmoz. Tidak sepenuhnya berbohong, nama itu adalah tempat di mana seorang pria yang menyekapnya, sekaligus tempat pertama kali ia membuka mata di era ini.


Semoga saja orang-orang akan mempercayai ucapannya.


"Kalau begitu bawa saudarimu ke rumahku saja, supaya dia bisa istirahat di sana, rumahku tidak jauh," tawar seorang wanita lain yang datang mengendarai kereta kuda.


Semua orang menyapanya hangat "Oh, ketua pelayan istana. Senang bertemu dengan anda."


Wanita yang dipanggil ketua pelayan itu menyapa balik dengan baik.


"Maaf, maaf, mereka anak-anakku," pria tua datang seraya mengakui Reagel juga Luz sebagai anak-anaknya.


Pria itu berdesis kecil, lantas membisikkan sesuatu "Aku bukan orang jahat, jangan khawatir."


Reagel memasang ancang-ancang hendak kabur, tapi ia urung melihat tatapan semua orang yang seolah menyalahkannya "Dijaga anaknya, pak!"


"Maaf, mereka memang senang berkeliaran seperti ini," jawabnya, kedua lengan pria itu memegang salah satu sisi bahu Reagel "Ayo pulang nak, kasihan ibu kebingungan mencari kalian."


Bohong! Bohong sekali, pria itu adalah orang yang pernah mengurung Reagel saat tiba di era ini.


...---...


"Namaku Feuji del Rosén, orang yang sudah mengurungmu itu namanya Fiji, saudara kembarku, dia menyekapmu atas suruhan ku, jangan menyalahkannya. Kalau kau mau bilang dia agak tidak waras, ya memang begitu kenyataaanya."


Reagel menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan amarah yang terbendung. Kekesalannya tidak bisa diungkap dengan kata-kata, namun saat ini adalah pria tua lawannya, tak mungkin Reagel mengenakan kekuatan fisik, yang mana dirinya sudah jelas jauh lebih unggul.


Pria tua bernama Feuju itu menunduk menyesal "Tolong jangan menatapku begitu, aku tahu kau marah. Tapi yang ku lakukan demi keselamatanmu juga, Reagel Venus."


"Keselamatan apanya?! Kau membuat aku hampir tidak punya semangat hidup lagi, pak tua jelek!" Menghindari permainan fisik, Reagel memilih mencela dengan mulutnya. Dengan begitu, emosinya tak akan sampai meluap-luap seperti lahar dingin pegunungan berapi.


"Aku adalah kakek moyangmu."


Reagel membeku di tempat, matanya sama sekali tak berkedip.


"Kau adalah keturunanku, di masa depan kau sudah mati karena penyakit kan?" Tanyanya, "Karena kau satu-satunya keturunan murni-ku, berkat kematianmu, silsilah keluarga resmi kita berhenti. Tepat di urutan terakhirnya, dirimu. Maka dari itu, aku membawa dirimu ke era ini bersamaku untuk hidup lagi, kedua kalinya."


Reagel sudah tidak bisa melakukan apapun, ia terkejut setengah mati. Pria itu mungkin saja berkata jujur, karena tak akan ada keuntungan jika dia berbohong.


Tapi tidak ada yang tahu.


Reagel masih mencoba menyangkal, ia menggelengkan kepalanya pelan "Kau berbohong kan? Untuk apa melakukan semua ini? Tidak ada keuntungannya."


Feuji mendengus "Aku hanya tidak ingin keturunanku terhenti begitu saja, makanya aku menghidupkanmu di era ini, supaya silsilah keluarga kita bisa terus berjalan, walaupun keadaanya tidak akan normal. Memang tidak ada untungnya secara spesifik. Tapi.... siapa yang bisa melihat cucunya meninggal karena penyakit huh?"


Reagel masih menyunggingkan senyum miring "Kalau kau benar kakekku, kenapa saat itu harus mengurungku di ruangan tanpa cahaya, udara, sama sekali? Harusnya kau malah menyambutku!"


"Rumahku di sini, di Zaragoza, tepat di dekat pusat pemerintahan, kerajaan Aragon. Berbahaya jika membawamu kemari, sehingga aku harus menitipkanmu pada saudara kembarku di desa Trasmoz, bersamaan dengan peralatanku yang bisa membuatmu hidup untuk kedua kalinya. Kalau membawamu kemari, di kota ini, akan sangat berbahaya bagi kita," jelas Feuji.


Setelah menimang pembicaraan kali ini, Reagel agak membuka hatinya. Mungkin untuk saat ini, ia bisa hidup untuk sementara bersama seseorang yang mengaku sebagai kakek moyangnya "Baiklah, kali ini aku masih bisa percaya. Tapi, aku mau pulang ke era-ku seharusnya."


Reagel lantas melirik Luz yang masih terbaring tak sadarkan diri di kasur, dekat dengan tempatnya duduk "Dia juga dari era yang sama denganku, kami sangat ingin kembali. Dunia ini tidak cocok untuk kehidupan kami."


*TBC


THANK'S FOR READING💘*