
Luz terus berlari sesuai yang Dariel arahkan. Ia mencoba tak berbalik sama sekali, menghindari peperangan dua kubu bersitegang tersebut. Agak menyesal sebenarnya, Raja Dariel dari Catalonia sampai okut turun tangan membantu hanya karena dirinya yang berbuat ulah, Luz menyesal sudah mengaku sebagai Sierra dan menikmati harta kerajaan selagi sang puteri hilang entah kemana.
Sampai di perbatasan, bayangan bertubuh besar membuat lututnya lemas seketika, tiba-tiba saja lelkai yang tak asing muncul, "Reagel!" Serunya terkejut, "Jadi kau yang dimaksud orang kepercayaan Dariel? Apa yang terjadi, apa ini karena nama baik Aragon terkait denganku yang mengaku sebagai Sierra?"
"Yang jelas, ini semua mengankut keselamatanmu. Beruntunglah pumya wajah serupa dengan puteri mahkota itu. Jangan berulah, kau tidak pernah melirik perjuangan orang-orang yang menyayangimu," Reagel menatapnya malas, seraya melilitkan tali bersimpul rumit ke tangan dan kaki Luz, "Dan jangan banyak bicara, kau mau tertangkap lagi?" Ia menambahkan kain untuk mengikat mulutnya.
...---...
"Sudah siap. Semuanya bisa dilakukan... sekarang juga," ujar Julian sambil berdiri, pergi dari hadapan meja komouter tersebut, menuju sudut ruangan di mana terdapat minuman dan makanan ringan.
Cassandrea mendekati Juan, si pria masa lalu. Wanita yang menjadi ibu kandung Ereluz itu sudah jelas tak bisa bertatap wajah dengan baik terhadap Juan. Bagaimanapun pria itu sudah berani menyelamatkan putrinya, bertahan untuk kehidupan Ereluz, "Ku harap tak terjadi apapun padamu, dan... terima kasih sudah mau melakukan ini semua. Konsekuensimu sungguh besar."
Juan tersenyum, melihat wanita itu, ia teringat akan ibunya sendiri. Perempuan yang sibuk dengan urusan pekerjaan hingga kerap kali melupakan keberadaan anak-anaknya, "Aku akan baik-baik saja, efek meloncati ruang waktu yang lalu tak begitu berpengaruh bagi tubuhku."
Sementara Julian mendesis sinis menatapnya, "Yang kali ini berbeda, wormhole yang akan kau lewati punya radiasi 10 kali lipat lebih tinggi," sahutnya dingin, "Kalau Ereluz masih hidup, dia akan kembali. Eh... tidak juga, mati ataupun hidup, tubuhnya akan dikembalikan kemari."
Urgre seketika menengokkan kepala, membuat Julian mengangkat bahu. Pria yang lebih tua memberikan pelototan tajam, meski hal itu tak sama sekali menggulirkan nyali Julian, "Sebenarnya siapa kau? Orang biasa tak akan mengerti hal seperti ini."
"Kalau aku mengaku, apa yang akan kau lakukan?" Ia membalas dengan nada lebih meninggi, Cassandrea segera menahan tangannya untuk tak bertindak sesuatu, "Perkenalkan, Julian, anggota penelitian perjalanan waktu. Sepertinya kau sudah tahu keberadaan kami, dan sangat mewaspadai."
Urgre semakin menajamkan pandangan, 'Semua berkahir! Sudah selsai!' Jerit batinnya penuh penyesalan.
Julian berdiri, menengahi saling lempar tatapan kebencian itu, "Bukan waktunya berkelahi, selesaikan urusanku, baru urusan kalian," ujarnya yang langsung mendapat pukulan dari yang lebih muda, "Apa? Setelah semua ini selesai, pergilah ke rumah keluarga Arison, ada hartaku terkubur di sana."
"Aku orang kaya, tak butuh itu semua!" Julian tak mau direndahkan. Padahal yang sebenarnya, ia sendiri tak mau mengakui kalau pria kaya itu adalah ayahnya. Jadi posisinya di sini sebagai anak miskin.
Juan berdecak pelan, ia menyeret Julian keluar setelah mengatakan akan mengobrol sedikit sebelum pergi dari era yang dianggapnya masa depan.
Bola mata hitam seolah menyala itu menatapnya penuh intimidasi, tapi yang namanya Julian, tak ada ketakutan sama sekali, justru semakin menantang membuat Juan menghela napas pasrah, "Kau... aku tak tahu dan tak mengerti siapa kau, yang jelas pasti membahayakan. Orang-orang masa kini dan masa lalu ternyata masih sama, tak sulit beradaptasi dengan kalian. Aku sudah cukup mengenalmu walau hanya beberapa hari, kau keras kepala, peduli untuk tujuan sendiri, dan akan menjadi monster jika punya keinginan. Kita sama, bahkan persis mulai dari fisik sampai sikap, pun suara. Aku tahu tujuanmu tak baik, dan aku bisa merubahnya melalui diriku."
Ia menyeringai kecil, "Hei, tuan muda raja terhormat. Sekalipun aku mengatakan kita orang yang sama tetapi lahir kembali, jangan harap kau bisa menyamakan kita lebih jauh. Aku spontan mengatakan reinkarnasimu karena melihat wajah--tak lebih!"
Ketika yang lebih muda segera meninggalkan tempat, Juan tak menahan, tapi mengatakan sesuatu yang membuat langkah itu terhenti seketika, "Ereluz itu gadis dari masa ini yang pergi ke masa lalu. Aku mengiranya calon istriku karena mereka serupa, sama seperti kita."
Menapakkan kakinya, seolah sudah melekat sempurna dengan lantai, Julian tak beranjak pergi namun juga tak mendekat untuk mendengar lebih jauh cerita tersebut.
Julian akhirnya berbalik, namun dengan tatapan mata tak ramah, "Apa yang kau bicarakan, dunia ini luas, penghuninya triliyunan. Jika aku denganmu memang mirip, bukan berarti jodoh kita orang yang sama! Bukan berarti aku reinkarnasimu, Ereluz reinkarnasi istrimu--"
"Aku akan pergi, Ereluz akan kembali. Jika kau percaya padaku, tak ingin menyesali apa yang akan berlalu, jaga dia," ungkapnya penuh penekanan, "Kalian belum saling mengenal kan? Aku pastikan dia akan menyukaimu. Namun jika kau tak ingin bersamanya, pastikan dia bersama lelaki lain yang jauh lebih baik dari kita."
"Karena kau?"
Juan menyela ucapannya sambil berlalu hendak kembali kedalam ruangan, "Semoga nasibnya tak sama dengan Sierra."
Remaja lelaki iu mematung di tempat, 'Lalu bagaimana dengan Leura? Aku harus meninggalkannya, begitu?'
Sedetik kemudian yang lebih tua berbalik, "Kenapa kau diam saja. Ayo!"
Ia melirik, "Julian, Juan? Hmm, bahkan namanya hampir sama denganku."
...---...
Urgre menekan beberapa tombol, mengotak-atik semaunya membuat Julian yang sedang duduk di meja berdecak sebal, "Aku ingin berkomunikasi dengan mereka, tapi tidak memungkinkan sama sekali," Urgre mengungkap perbuatannya, membuat Julian mengambil alih tempat itu. Pria yang jauh lebih tua pun menyingkir.
Ia mendesis sebal, "Kenapa harus berkomunikasi. Ini mudah, kembalikan Juan lalu dapatkan kembali Ereluz. Sudah kan?"
Urgre memukul pantatnya, "Hey, bocah. Aku tak menyuruhmu datang kembali--"
"Tapi kau butuh aku, kan ku pastikan itu!" Balasnya, lagi-lagi dengan nada meninggi. Bahkan segera melayangkan pukulan, beruntung Juan tepat waktu menahannya, atau jika tidak dua orang dengan perbedaan usia begitu jauh tersebut akan berkelahi di tempat, "Juan, bersiaplah di tempatmu. Kau akan segera pulang. Pergi kembali ke masa lalu, tandanya mati."
Yang diperintah mengangguk menurut. Juan meringis tak suka, jika dirinya adalah reinkarnasi pria itu, mengapa dia terlihat sangat penurut sementar dirinya begitu pembangkang.
Mengabaikan pikirannya yang melayang entah kemana, ia mencoba kembali fokus dan menjalankan mesin penjelajah waktu tersebut.
Namun suara pintu terbuka mengalihkan pandangan semua orang yang berada di ruangan, "Ayah--kenapa ada banyak orang? Apa ap--Julian?!"
TBC