
Kesungguhan berbuat kebaikan yang dilakukan oleh seseorang yang benar-benar baik dan ikhlas akan selalu mendapat hasil luar biasa. Bagaimanapun bentuknya, tetap saja secuil kebaikan akan menghasilkan pahala.
Walaupun hanya sebesar biji zarrah.
Sedangkan keburukan tentu saja menghasilkan hal jelek, sekecil apapun itu. Terlebih untuk orang-orang yang sudah terlalu sering berbuat buruk, mereka hanya menganggap hal tersebut sepele yang ternyata adalah tumpukan dosa.
Ereluz sejak kecil tidak didampingi sang ibu, dia tumbuh sendiri hanya berkat pengawasan para pembantu di rumah.
Ibu juga ayah selalu pergi bekerja saat Luz masih tidur, dan akan pulang ketika Luz sudah tidur. Keduanya sama sekali tidak pernah tahu perkembangan putri semata wayang mereka. Sekalinya hari libur, orang tua gadis itu tetap pergi bekerja, walaupun tidak bekerja, tapi tetap pergi berkumpul bersama orang-orang penting dari bisnis yang dijalankan masing-masing.
Luz sebenarnya kesepian, ia terlalu bodoh untuk bersosialisasi dengan teman sebaya ataupun orang lain, jadi bagaimanapun perilakunya, tentu melemceng dari norma-norma yang ada.
Suka bicara sembarangan, jadi dibenci teman-teman, kelakuannya yang buruk jadi tidak disukai guru. Karena itu ia semakin kesepian, di rumah tidak ada yang menemani selain pembantu rumah tangga yang hanya datang di siang hari.
Tapi di sini, di rumah Hareen. Luz belajar menghargai sesuatu, saling berkumpul, berbagi makanan, tolong menolong dan masih banyak lagi.
Keluarga ini memang tidak lengkap, tapi rasanya kasih sayang mereka tercurah satu sama lain, Hareen si pekerja keras yang menbantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, bibi Einne yang juga masih bekerja walau tidak selalu laku, bahkan berdagang dengan membawa anak sekecil Hefaisen.
Hefaisen memang masih begitu kecil, tapi terlihat selalu ceria, anak itu juga baik, bahkan mengalahkan Luz yang usianya jauh lebih tua.
Malam ini kedua manik matanya hanya bisa menatap bintang di angkasa yang jauhnya bisa mencapai jutaan tahun cahaya. Einne memberi Luz kesempatan sekali lagi untuk tinggal di rumahnya.
Namun besok pagi-pagi buta, Luz harus segera pergi, mengingat yang dikatakan wanita itu, jika dirinya adalah seorang Puteri dari kerajaan Kastillia.
"Aku harus bagaimana ya? Sebenarnya bisa saja berbohong kalau aku benar-benar Puteri Sierra yang hilang itu, tapi... bagaimana kalau suatu saat Puteri itu kembali secara tiba-tiba?! Bisa-bisa aku dipenjara seumur hidup, atau malah kepalaku yang dipenggal."
Tok tok. Ketukan pintu mengejutkannya, Luz segera memasukkan kepala yang sempat melongok di jendela. Ia membukakan lintu dan melihat Hefaisen tengah tersenyum manis seraya memegang buah apel "Boleh aku masuk, tuan Puteri...?" Tanya anak itu.
Luz menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Hefaisen "Jangan panggil aku tuan Puteri, kau temanku kan?"
Hefaisen menggeleng heboh "Tapi ibu menyuruhku untuk menghormatimu, kau seorang bangsawan yang tentunya dibanggakan masyarakat, dan aku bagian dari masyarakat," sungguh luar biasa, bahkan anak semuda itu sudah bisa mengatakan hal tersebut. Ia bisa menghargai orang lain, terlebih yang beda kasta.
"Masuklah, Hefaisen. Aku mau mengobrol denganmu."
"Kakak-- ups! Maksudku tuan Puteri," Hefaisen menutup mulutnya yang tak sengaja memanggil gadis di depannya dengan sebutan kakak, ia sudah terbiasa menganggap Luz sebagai kakaknya sendiri seperti Hareen.
"Panggil aku sepeti biasanya ya, aku mau jujur padamu, kau orang yang bisa ku percaya sekarang. Namaku Ereluz Rivera dari masa depan, kau ingat saat pertama kali bertemu? Aku selalu berkata dari masa depan, dan itu benar. Hefaisen, sekalipun aku berbihing, tetap percayalah padaku, kalau aku orang dari tahun 2020."
Anak laki-laki itu tampak kebingungan, dari penjelasan Luz yang sangat tidak masuk akal di era tersebut, membuat Hefaisen sama sekali tidak memahaminya. Tapi karena masih jecil, ingatan belum begitu banyak, ia bisa saja masih mengingat perkataan Luz saat ini.
"Kak, aku bawakan apel untukmu."
"Wah terima kasih," balas Luz seraya menerima uluran tangan Hefaisen yang terdapat apel di genggamanya.
"Ibu bilang, kakak segera pergi besok pagi. Memangnya mau pergi kemana?"
"Itu yang aku pikirkan, aku tidak tahu mau kemana lagi, di sini terlalu asing. Apalagi kakakmu itu selalu melarangku keluar rumah, aku jadi tidak tahu tempat manapun," keluh Luz.
"Kalau begitu tetap di sini saja, aku senang ada kakak di sini. Rumah jadi semakin ramai."
"Tidak bisa, Hefaisen. Sebenarnya aku juga senang di sini bersama kalian. Tapi ibumu... percaya kalau aku Puteri Sierra yang hilang itu, dia jadi takut untuk membiarkanku tinggal di sini. Suatu saat kalau pihak kerajaan tau, kalian semua akan mendapat masalah."
"Tapi kakak Luz kan memang bukan tuan Puteri, bagaimana ibu dan kakak Arabel mengira kalian orang yang sama? Apakah wajah kalian memang mirip?" Tanya Hefaisen kebingungan.
Hefaisen terdiam, seperti memikirkan sesuatu "Kak, aku pernah mendengar sesuatu. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita berdua."
Luz mengernyitkan alisnya, pertanda kebingungan "Ada apa? Sepertinya serius sekali."
"Waktu itu aku mencuri jagung di rumah kakek Fiji, tidak ada yang tau. Tapi di dalam rumahnya, aku melihat orang yang serupa denga kakakku sedang tidur di atas kasur besaaar! Padahal waktu aku mencuri, kakak sedang pergi ke kerajaan Catalonia."
"Lalu apa hubungannya denganku? Mungkin yang kau lihat itu arwah kakakmu."
"Tapi dia hidup, bisa di sentuh! Seperti.... kak Hareen ada dua! Bisa jadi kak Luz juga seperti itu, ada dua kak Luz! Yang satu tuan Puteri, satunya lagi kakak," tudingnya.
Luz menatap wajah anak itu tanpa ekspresi yang jelas. Seseorang yang sama, serupa, tapi berbeda "Hefaisen, aku sering melihat ini di televisiku. Orang yang hidup kembali di era yang lain dengan rupa yang sama, aku orang dari masa depan sedangkan Puteri Sierra dari masa ini. Tandanya aku...."
...---...
Xiangjun dan Elimir bergidik ngeri melihat tingkah Hareen yang tiba-tiba tertawa kecil sendiri saat melamun.
Seperti orang kesurupan.
"Hey! Kau ini gila atau bagaimana?! Kenapa senyum-senyum sendiri!" Bentar Elimir.
Tampaknya Hareen sendiri tidak sadar akan kelakuannya, ia hanya bisa tertunduk malu. Padahal yang ada di otaknya hanya terlintas bagaimana ia dan Luz bertengkar, ketika melihat dua kelinci liar saling kejar-kejaran. Persis seperti mereka.
"Biasanya, yang senyum-senyum begini. Sedang dilanda asmara.." Ejek Xjangjun seraya menarikan tarian aneh, ciptaannya sendiri.
Alis Hareen sontak menukik "Asmara apanya?!"
"Apakah Arabel sudah bilang padamu? Atau malah langsung minta restu pada ibumu? Cepat kasih dia kepastian, kasihan kalau kau gantungkan terus seperti itu."
Hareen mengernyit "Arabel memangnya kenapa? Aku tidak pernah mengajaknya menikah. Ah, kalian ini ada-ada saja."
"Ya ampun, masih tidak peka juga! Dia itu suka padamu."
"Aku juga menyukainya sebagai teman baik," Xiangjun seketika melempar kepala Hareen menggunakan batok kelapa yang beralih fungsi menjadi mangkuk.
Hareen mengusapi kepalanya yang memar, lemparan anak China itu memang tidak main-main "Arabel menyukaimu sebagai seorang pria! Bodoh! Kasihan dia kalau sampai tahu, cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Hareen kebingungan, ia merasa sikap Arabel sama sekali tidak menunjukan ketertarikan antar lawan jenis. Tapi perhatian sesama teman.
"Ya... cobalah menyukainya juga," usul Elmir.
"Tapi," entah kenapa, ingatan Hareen langsung memunculkan sosok Luz. Gadis itu tengah tersenyum padanya "Aku tidak bisa."
Xiangjun melotot "Huh! Tidak bisa bagaimana? Kau pikir kalian sudah sangat dekat, jadi saling mengenal baik satu sama lain. Tentunya kau juga bisa menyukainya kan?"
"A-aku hanya tidak-- ah sudahlah! Lebih baik kita tidur! Besok pulang!" Potong Hareen seraya merebahkan dirinya dan menutup wajah dengan bantal.
'Luz! Kenapa rasanya aku rindu bertengkar denganmu?!'
*TBC
THANK'S FOR READING💘*