
Julian memelankan langkah saat menuju halte bus, hari ini ia bolos sekolah karena mendapat shift pagi sampai siang. Sebenarnya jam kerjanya selalu malam, tapi karena ada salah satu pegawai yang mendapat masalah, ia yang diturunkan menggantikan pegawai itu.
Setengah jam menaiki bus, ia kemudian turun, lantas menuju kafetaria tempatnya bekerja paruh waktu. Manager Cassandre sudah berdiri di depan meja kasir sambil memeriksa buku catatan. Melihat kedatangan Julian, wanuta iru tersenyum ramah, "Maaf sekali kau harus mendapat shift pagi. Kita benar-benar butuh orang pagi sampai siang nanti."
"Tidak apa-apa, lagipula sebentar lagi kenaikan kelas, sudah jarang pelajaran dimulai," balas Julian seraya tersenyum tipis. Berusaha bersikap ramah.
"Tetap saja sebaiknya itu tidak dilakukan. Walaupun sedang tidak ada kelas, yang namanya sekolah itu tetap wajib. Paling tidak kau bisa bertemu dan bermain dengan teman-teman"
Dia melambaikan tangan di depan badan, "Tidak apa-apa bibi, aku benar-benar tak masalah. Ini sudah resikonya pelajar sekaligus pekerja paruh waktu sepertiku."
Sementara Cassandre jadi ingin menangis ketika melihat perilaku Julian, seolah dia anak dari kalangan menengah kebawah yang kesulitan dalam hal ekonomi, "Hmm, Julian, harusnya hidupmu itu tidak seperti ini. Ayahmu masih bergelimang harta, tapi kau rela tidak menerima pemberiannya dan malah bekerja sendiri, hanya karena membenci perubahan sikapnya," Cassandre berujar sesuaifakta, karena dulu samoai sekarang ia memang dekat dengan orang tua Julian, "Bukan bibi bermaksud buruk, tapi lihatlah, ayahmu tidak pernah berniat mencarikan ibu baru untuk kalian, walaupun dia tak begitu peduli, tapi terus mengirimkan uang untukmu dan Nathalia. Aku berteman dekat dengan keluargamu, jadi ku harap kalian segera berbaikan. Salinglah menjaga keluarga yang tersisa, sebelum nasibmu jadi penuh penyesalan sepertiku."
Julian mengernyitkan dahi, mengapa boss-nya itu seperti sedang bersedih karena mengingat kenangan berharga. Padahal ia tahu keluarga Bibi Cassandre baik-baik saja, atau mungkin karena anaknya yang menuntut pendidikan di luar negeri, dia jadi rindu, "Memangnya kenapa? Bukankah keluarga bibi baik-baik saja? Paman Jake dan putrimu masih ada kan?"
"Sebenarnya Ereluz sudah tidak ada. Dia sudah meninggal," lagi-lagi ucapannya membuat Julian menaikkan sebelah alis. Sudah kondang yang namanya Ereluz itu pindah sekolah ke luar negeri, bukan mati. Gadis itu cukup terkenal di lingkungan sekolah, hingga Julian sering mendengar namanya.
"Bukankah bibi sendiri yang bilang kalau dia bersekolah di luar negeri?"
Wanita itu tersenyum tipis, dengan kedua tangan di tumpukan di meja kasir, "Ceritanya panjang. Ereluz membuat kesalahan di sekolah dan berakhir kehilangan nyawa karena kecelakaan, tapi ada keajaiban datang tiba-tiba, dia bisa hidup lagi, sayang di abad lain. Istilahnya, dia sekarang berada di tahu lain melalu perjalanan waktu."
Perjalana waktu adalah hal yang logis bagi calon peneliti seperti Julian. Tapi yang tidak masuk akal, mengapa haruslah anaknya Bibi Cassandre, bukankah mesin waktu hanya satu dan itu milik Urgre. Atau mungkin saja mereka saling mengenal satu sama lain, segingga ada sesuatu yanh terjadi dan mengakibatkan Ereluz harus pergi ke era lain.
"Ah, kau pasti menganggapku gila. Maaf, yang jelas jangan menyebarkan hal ini pada siapapun ya," ujarnya sambil tertawa.
"Ereluz? Perjalanan waktu?" Cicitnya, membuat Cassandre panik. Beruntung tidak ada orang di sekitar mereka, 'Logisnya, Ereluz dulu berada di kelas yang ku tempati sekarang. Tandanya dia kenal Leura, pasti orang tua mereka juga saling kenal. Jadi anak Bibi Cassandre yang melakukan perjalanan waktu mengggunakan mesin Urgre, tapi bukankah hanya pemiliknya yang bisa menggunakannya?'
Casandre kambali tertawa dengan nada canggung, "Iya, astaga! Anggap saja aku sedang menghayal sekarang. Kau bisa mulai bekerja, jangan sia-siakan waktu, time is money, right?"
Julian pun mengangguk, namun sebelum boss-nya bemar-benar pergi, ia memilih bertanya, "Tunggu bibi, boleh ku tanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Ereluz itu dulu berada di kelas apa?"
Wanita itu mengernyitkan dahi tapi tetap menjawab pertanyaannya, "Unggulan A, kenapa bertanya tentang itu? Lupakan yang tadi, anggap saja aku bercanda. Ereluz memang bersekolah di luar negeri sekarang."
'Kau sudah membuka pintu, maka aku akan masuk,' Julian menyeringai lebar setelah melihat Bibi Cassandre berjalan menjauh.
"Aku mendapat datanya, seorang remaja perempuan yang sedang melakukan perjalanan waktu ke tahun 1402 M. Dia bukan pemilik mesin waktunya, tapi segera menjadi pemegangnya menggantikan yang sebelumnya, Urgre," ungkap Prof. Alenio masih tak mengalihkan atensi dari layar besarnya, "Dia sudah cukup lama menjadi penjelajah waktu, kemungkinan sudah beradaptasi dengan baik pada era itu."
Prof. Katana menyahut, "Cari tahu identitasnya secara lengkap. Kita akan sangat terbantu dengan keberadaan anak itu," harusnya dia beristirahat, namun wanuta ras asia timur itu menolak, ia lebih baik membantu rekan-rekannya di laboratorium ketimbang tidur.
"Apakah mungkin dia anak si pemegang mesin waktu ini? Siapa namanya, Urgre?" Tanya Prof. Nina memastikan.
Sementara Prof. Richard juga ikut menimbrung, walau hampir semua orang memandang ke arah komputer masing-masing, "Tapi Julian bilang anak pemegang mesin ini adalah teman sekelas sekaligus sebangkunya. Sementara data menunjukkan dia sudah lebih dari tiga bulan berada di sana."
"Berarti bukan anaknya. Dari informan kita di ruang sebelah, anggota keluarga Urgre hanya dia istri dan satu anak perempuan."
"Jadi penjelajah waktu itu memang bukan anaknya."
Prof. Alenio berucap, "Aku sudah mendapat identitasnya, ada di locked file. Namanya Ereluz Rivera, usia 17 tahun, tapi dari catatan di sini, dia tidak bisa kembali ke semesta asalnya alias tahun ini."
"Kenapa begitu?" Tanya Prof. Richard kebingungan.
"Entahlah, tidak ada yang menunjukkan mengapa dia tidak bisa kembali."
"Atau mesin waktu itu sudah rusak? Makanya anak itu terjebak," ucapan Prof. Richard terhenti saat menyadari sesuatu, "Eh tapi tunggu, Ereluz Rivera... nama belakang itu sepertinya tidak asing di telinga kita, bukan?"
"Rivera's crown, perusahaan tekstil nomor dua di negeri ini. Direktur utamanya Jake Rivera, dia punya seorang istri, dulunya ambassador produk kosmetik paling laris, tapi sekarang tidak ada kabar," jelas Prof. Katana mendetail. Ia tahu betul Rivera's crown karena produksi tekstil mereka memang sangat bagus. Makanya dia sering membelinya.
"Ah benar! Kalau tidak salah mereka memang punya satu anak perempuan."
"Aneh sekali, keluarganya orang terpandang. Kenapa anak itu bisa ada di tahun lain, masa lalu pula," ujar Prof. Nina seraya menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.
"Sepertinya ada yang terjadi di antara mereka. Urgre tidak akan sembarang membuat Ereluz pergi ke masa lalu tanpa sebab. Pasti ada yang harus dikerjakan anak itu di sana."
"Pekerjaan kali ini harus benar berhati-hati, selain harus berjaga dari Urgre selaku pemegang mesin waktu di era sekarang, ternyata ada anak keluarga Rivera yang bersangkutan. Kita harus benar-benar waspada dalam bekerja," titah Prof. Alenio selaku yang berhak mengatur.
"Betul, keluarga mereka tidak main-main kalau soal ancaman."
TBC