
Julian pulang ke apartemen miliknya yang dibeli menggunakan uang milik sang ayah. Di lantai delapan, tepat unit miliknya, Julian terkejut mendapati kegelapan pada ruangan utama tersebut.
"Nath," panggilnya mencari sang adik. Harusnya memang gadis itu ada di sini, tapi kediaman ini seperti tidak menunjukan adanya penghuni sama sekali.
Perlahan dan hati-hati, ia mencari sakelar untuk menghidupkan lampu.
"Nath!" Betapa terkejut, dirinya mendapati sang adik tersenyum-senyum sendirian di sudut ruangan serya memeluk beberapa boneka beruang besar. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ada beberapa bercak darah di sekitar tempat Nathalian duduk.
Sebenarnya Julian tidak terlalu kaget melihat kelakuan adiknya yang seperti anak kecil, tapi sebelum-sebelumnya, Nathalia tidak pernah tertawa atau bicara sendiri seperti ini. Hanya kelakuannya saja yang menyerupai anak kecil "Nath, kau tak apa-apa kan?" Tanya Julian seraya mengusap kecil bahu adik perempuannya.
Gadis itu menghentikan tawanya, lantas mendongak menatap sang kakak dengan tajam. Seolah memiliki dendam tersendiri, Julian dibuat keheranan melihat sikapnya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?"
"Kau siapa?"
Julian mengernyitkan dahi "Apa maksudmu? Jangan bercanda ya!"
Bentakan itu seolah menjadi sinyal bahaya untuk Nathalia. Ia memberontak berdiri, lalu hampir berlari keluar dari unitnya, beruntung Julian sigap menahan. Perilaku adiknya memang perlu diwaspadai, untuk itu dia selalu belajar cepat dan sigap.
"Lepaskan aku! Orang jahat!"
Julian beralih mengapit kepala sang adik dengan usapan lembut dari jari-jari tangannya "Apa yang terjadi padamu? Jangan membuatku khawatir. Aku Julian, kakakmu... adikku tersayang."
Sudah seperti tersihir, Nathalia menunduk. Tatapan matanya yang sebelumnya tajam dan penuh amarah, kini berubah drastis menjadi seperti anak kecil yang ketakutan. Gadis itu menubrukkan tubuhnya pada sang kakak dan menangis kencang "Mereka jahat, semua orang ingin menghancurkan kebahagiaanku. Tidak ada yang peduli padaku, tidak ada yang mau berteman denganku..."
Pelukan itu sangat erat, seolah Nathalia merasa begitu sendirian di dunia, dan Julian lah satu-satunya orang yang ia punya.
"Kak, kenapa kau pergi? Aku melihatmu pergi jauh... sangaaaat jauh," gadis itu masih merengek seperti anak kecil.
"Aku di sini, karena kita saudara. Kita itu satu, saling menyayangi dan melindungi."
"Tapi tadi, kau bilang tidak akan kembali."
Julian mendongakkan kepala adiknya untuk bertatap muka dengan dirinya "Buktinya aku di sini kan, sekarang? Mungkin tadi kau hanya bermimpi. Jangan khawatir."
Nathalia mengacungkan jari kelingkingnya "Kalau begitu berjanjilah."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak pernah meninggalkanku sampai kapanpun."
...---...
"Hei! Ada apa denganmu?! Ku pikir setelah hilang selama ini, kau mati dimakan singa! Tapi ternyata hanya otak dan ingatanmu saja yang termakan ya?!"
Luz mendengus kesal, setelah kemarin wanita paruh baya yang cerewet, hari ini giliran gadis seusianya yang tak kalah cerewet dari bibi kemarin. Dan parahnya perempuan ini memang anaknya.
Namanya Selena, sepupu Sierra yang asli. Jujur saja, Luz mengakui Selena itu cukup cantik, tapi terlalu mewah, gaya berpakaiannya tidak jauh beda dari dirinya sendiri.
Dan kalau melihat lukisan-lukisan Sierra yang asli, gadis itu tampak sederhana dengan pakaiannya yang selaku berwarna lembut, juga riasan yang tipis. Tidak seperti Luz ataupun Selena, gaun mencolok penuh aksesoris di mana-mana.
Ah, kalau dipandang. Rasanya Sierra yang asli emmang terlihat lebih natural, nyaman, dan juga masih saja cantik 'Apa aku harus berpenampilan seperti Sierra saja ya?'
Luz hampir saja mengatakan pada Selena u tuk tidak terlalu banyak bicara dan tidak mengomentari penampilan orang lain. Hanya saja gadis bergaun merah marun itu sudah kembali berceletuk dengan penuh rentetan kata.
"Huh! Aku lupa, otakmu kan sudah dimakan singa. Ya ya ya, dan karena itu kau beralih menggunakan pakaian-pakaian dengan warna menyegarkan mata seperti itu, ketimbang jenis warna pakaianmu dulu yang kusam dan menjenuhkan."
"Selena, bisakah kau tidak banyak bicara di sini? Kenapa sedari tadi, omonganmu itu tidak terputus? Apa kau punya masalah hidup dengan mulutmu?"
Selena berdecak keras "Sierra! Apa yang kau katakan?! Bicaramu itu... seperti bukan Sierra. Atau jangan-jangan kau memang bukan Sierra?"
"Kau yang bicara apa! Sudah-sudah, pergi dari sini. Aku mau makan dengan tenang."
"Kau mengusirku?!"
"Sialan."
"Kau mengumpatiku?! Ibu--"
"Bicara lagi ku tusuk lehermu," ancam Luz seraya mengacungkan garpu ke arah Selena. Dengan pelototan mata tak main-main, membuat gadis cerewat itu berlari terbirit-birit dengan tak henti memanggil ibunya.
Masa bodoh kalau dia melaporkan hal aneh-aneh pada orang lain. Toh di sini Sierra hanyalah dirinya, Sierra yang asli sudah mati. Siapapun pasti tetap mempercayai kalau Ereluz adalah Sierra.
Usai menyelesaikan makan siangnya yang semoat terganggu makhluk menjengkelkan, Luz diarahkan untuk pergi ke tempat pembuatan pakaian.
Seorang pelayan mengatakan kalau Sierra adalah pimpinan utama produksi pakaian di Kastillia, semua dijalankan atas suruhan Sierra, dan selama gadis itu menghilang, Kastillia tidak banyak lagi memproduksi pakaian karena tidak adanya orang yang menjabat sebagai pemimpin.
Luz menggerutu dalam hati, kenapa harus mengurusi hal seperti ini. Sangat membosankan!
Terlebih saat melihat pintu besar suatu ruangan terbuka lebar menampakkan mesin-mesin pembuat pakaian mulai dari pembuat benang, penganyam, sampai mesin tahap terakhir, tentunya masih dengan metode khas era saat ini. Bukan mesin seperti yang ada di perusahaan ayahnya Luz di masa depan, yang tentunya menggunakan teknologi modern.
"Apakah aku harus ikut menjahit?" Tanya Luz dengan bingungnya, ketika pelayan itu mengarahkan ke ruangan di mana terdapat banyak mesin menyerupai mesin jahit.
"Tidak, kau hanya perlu memantau kinerja para pekerja di sini, sebentar lagi mereka semua pasti akan datang."
"Aku hanya memantau saja kan?"
"Iya, mencatat pemasukan bahan produksi sampai hasil akhir yang didapat."
Setelahnya, ruangan tersendiri milik Sierra ditunjukkan. Konsepnya mirip dengan ruangan para direktur utama suatu perusahaan di masa depan. Ada meja persegi panjang dan kursi kayu di tengah ruangan, beberapa rak yang berjajar juga terisi lembaran kertas. Entah apa isinya, Luz pun kebingungan, karena dirinya pun masih tujuh belas tahun dan tidak pernah mengulik tentang sebuah bisnis sama sekali. Menyebalkan.
Kenapa dulu, ia tidak terlahir kembali di masa depan saja, di mana teknoligi sudah sangat marak. Apapun dan di manapun ada teknologi, dan manusia hanya perlu duduk untuk mengatur kegunaan robot-robot pintar. Yah, andai saja memang ada masanya era seperti itu terjadi di muka bumi.
Seusai pelayan yanv mengatarnya kemari, pergi. Luz nulai menelisik seluruh bagian ruangan. Ia membuka beberapa buku tebal yang berbentuk seperti sketch book. Rupanya banyak hasil desain pakaian yang ternyata dirancang langsung oleh Sierra. Lumayan bagus, tapi terlalu kuno bagi Luz, lupa kalau perbedaan zaman mempengaruhi trend termasuk pakaian.
Luz tertawa remeh melihat hasil desain Sierra "Kalau hanya begini, aku juga bisa!"
Sierra pandai menggambar, tapi Luz tak mau kalah, ia juga cukup ahli dalam dunia seni apalagi desain visual. Kalau hanya desain pakaian, malah terlalu mudah.
Ia pun mulai mengambil alat tulis dan kertas "Ini pasti akan lebih baik dari milik Sierra."
TBC