Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Ereluz as Sierra



"Sekarang saatnya kita pulang, kita akan datang lagi saat penurunan tahta berlangsung."


Hareen hanya bisa mendengus melihat Xiangjun yang mulai mengemasi barang-barang bawaan. Mulai dari pakaian hingga senjata, dirapikannya untuk dibawa pulang ke Trasmoz. Hareen belum bisa menerima kepulangannya, walaupun Sierra atau gadis yang ia anggap Luz itu, sudah lebih dulu pergi dari Aragon.


Semenjak awal pertemuannya kembali dengan Luz yang menjadi Sierra, keyakinannya bahwa puteri mahkota itu adalah sosok Luz yang sebenarnya selalu muncul. Semirip apapun seseorang, tentu tak akan mungkin serupa. Hanya saja, mengapa seluruh orang mempercayai bahwa gadis yang kembali itu adalah Sierra.


Apalagi rambutnya berwarna kebiruan, sama seperti Luz. Padahal di lukisan Puteri Sierra yang pernah ia lihat di balai kampung, warna rambutnya coklat gelap dan panjang sepinggang.


"Jangan melamun terus, kau bisa kerasukan arwah penyihir ilmu hitam."


"Kau membuatku semakin tidak mood," gerutunya kesal.


Xiangjun menatapnya dengan wajah datar "Selama kita di sini, kau banyak melamun. Apa? Memikirkan perempuan simpananmu yang katanya mirip puteri mahkota itu? Nyatanya Puteri Sierra itu kembali, dan kawanmu itu hilang di antah berantah," sindirnya.


Hareen hampir saja tidak bisa menahan emosi, kalau saja ia tak ingat bahwa Xiangjun itu adalah kawan baiknya sejak kecil. Dirinya tak ingin kembali membuat keributan hanya karena seorang perempuan. Setelah beberapa waktu lalu, ia pernah berkelahi dengan Xiangjun yang masih masalah Luz.


Demi tak ingin memancing keributan, Hareen hanya membalas ucapan Xiangjun dengan senyuman.


"Apa iya? Perempuan simpananmu yang katanya mirip Puteri Sierra itu, benar-benar mirip dengan Puteri mahkota Sierra?" Tanyanya sinis, Hareen dibuat kesal mendengarnya.


Namun tentunya Hareen kembali diingatkan fakta, Xiangjun adalah kawan baiknya yang setia. Ia menghembuskan napas perlahan "Aku tidak ingin kembali bertengkar denganmu. Jadi jangan memancingku.'


Xiangjun mendelik sinis, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya berberes.


...---...


"Sierraku, ada apa dengan rambutmu?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba mendatangi kamarnya. Kamar Sierra yang kini Luz tempati.


"I-itu, aku memotongnya menjadi pendek," balas Luz seraya mengusap surainya sendiri. Karena pendek dan jenisnya lain, rambut ini selalu menjadi pertanyaan saat bertemu orang yang mengenali Puteri Sierra.


"Aduh, tapi kenapa warnanya jadi mengkilap begini? Kan jadi kurang baik, sepertinya rambutmu terlihat kurang sehat. Ya ampun, apakah aku harus memintakan obat penyubur rambut, takutnya nanti infeksi. Kau tahu, rambutmu seperti sedang berjamur."


Sungguh, Luz sangat ingin mengusir wanita itu. Bibirnya yang tebal atas bawah, sinkron sekali dengan omongannya yang begitu banyak. Yah katakanlah dia sejenis tukang mengomel.


"Tidak, tidak perlu. Nanti juga kembali seperti semula," tolak Luz halus.


"Dari mana asal warna biru itu, Sierra sayang? Sepertinya kau harus cepat menghilangkannya."


Dari cara memanggilnya, bisa dipatikan kalau wanita itu bukan kalangan bawah. Sepertinya termasuk kaum bangsawan, yang mana derajatnya tak jauh beda dari Puteri Sierra. Atau mungkin dia ibu dari Sierra yang asli.


"Ah, ini... dari buah berry. Seseorang meraciknya menjadi pewarna rambut," ujar Luz bohong. Kenapa juga dirinya harus repot-repot mencari alasan yang logis, terlalu membuat otak lelah.


"Astaga... lalu siapa yang membuatkan pewarna rambut itu?"


Sepeetinya semakin ditanggapi, wanita itu semakin menjadi-jadi. Bagai wartawan bertemu aktor atau aktris yang sedang terkena skandal serius.


Lus menghela napas pelan. Kedatangannya begini, harusnya disambut dengan baik lalu diberi waktu istirahat dan tak ada seorang pun yang bisa mengganggu "Maaf, aku ingin istirahat dulu. Apakah boleh?"


Wanita paruh baya itu mengangguk paham "Sepertinya kau sangat lelah, Sierra. Oh ya, ngomong-ngomong gaya bicaramu cukup aneh padaku, padahal kan aku sahabat sekaligus bibi terbaikmu."


"Sudah...sudah istirahatlah. Mau aku buatkan sesuatu seperti teh hijau, mungkin?"


Spontan Luz menggeleng, bisa-bisa waktu istirahatnya tidak jadi terlaksana kalau begini.


...---...


"Bagaimana perasaanmu saat ditinggal oleh orang tersayang? Aduh... kasihan sekali, pangeran muda yang rupawan ini."


Juan mendelik sebal, sejak dirinya dipergoki oleh Amer saat tengah berpelukan dengan Sierra sebelum gadis itu pergi ke kerajaan asalnya, keduanya sedia mengibarkan bendera permusuhan.


Juan yang kesal sudah diintip privasinya, dan Amer yang tidak sudi dituduh penguntit. Namun, meski tengah bermusuhan, mereka berdua masih saja makan siang bersama di ruang uji senjata. Aneh memang.


"Wortel? Menjijikan," komentar Juan ketika tak sengaja melihat Amer menggigit potongan wortel mentah yang sudah dipotong memanjang.


Yang dikomentari terdiam, dan melanjutkan mengunyah. Baru setelah itu panglima muda angkat bicara "Dasar payah! Wortel saja kau katai, tidak jantan sekali."


"Apa maksudmu?!"


"Halah, dengan wortel saja kau takut. Bagaimana kalau tiba-tiba ada perang antar kerajaan? Aduh, nyalimu terlalu kecil untuk maju paling depan."


Juan merasa tersindir "Aku tudak suka wortel bukan berarti aku lemah ya..."


"Hey hey hey, jangan bercanda terus. Pekerjaan kalian masih banyak, Juan.. lihatlah berkas di ruangamu. Bagaimana kau bisa bersantai-santai seperti itu?" Pangeran Jevin datang dengan sindiran halusnya, yang seolah tengah menjatuhkan martabat Juan di depa sang ayah yang juga datang bersamaan dengannya.


Juan tersenyum menanggapi "Tapi ini jam istirahatku, kak. Setelah selesai aku akan kembali bekerja."


"Tapi jangan terlalu lama istirahatnya, banyak bercanda seperti itu akan membuang waktu yang berharga ini."


"Sudahlan Jevin, adikmu pasti stres dengan pekerjaannya, dia juga butuh istirahat dan bercanda. Bagaimanpun sebenarnya dia masih terlalu muda untuk memikul tanggung jawabnya."


Ucapan sang ayah sukses membuat Jevin murka. Lagi-lagi Juan, mengapa anak itu selalu dibela, apapun yang dilakukan selalu benar di mata orang lain. Tidak dengan dirinya yang lebih sering diabaikan, yah bukan sering, kata 'selalu' sepertinya lebih tepat.


Kebaikan yang Jevin lakukan tidak akan nampak di mata ayah ataupun orang lain, tapi ketika Juan yang melakukannya. Hak itu akan jadi sebuah pembicaraan yang tiada habisnya oleh masyarakat ataupun keluarga kerajaan sendiri.


Mau hal seperti apapun yang dilakukan Juan, akan dipandang baik. Bahkan sepetinya ketika anak itu mencuri pun tanggapan orang-orang akan selalu mengarah ke hal positif.


Tidak adil dan menjengkelkan.


Anak itu berdiri seraya memungut wadah bekas makannya, lalu menghampiri Jevin yang masih berdiri di ambang pintu masuk "Aku sudah selesai makan, dan akan segera melanjutkan pekerjaan. Jadi, tolong kau bantu panglima untuk meneliti senjata yang baru datang ya kak, takutnya ada yang cacat."


"Iya, selamat bekerja nak. Semangat!" Tentunya bukan Jevin yang mengatakan hal sepeti itu, melainkan Raja Saloar, ayah mereka sendiri.


"Terima kasih ayah, aku permisi dulu."


'Modus penipuan melalui sikap sok polos!'


TBC