Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Beauty impostor



"Sierra, bolehkah aku bicara denganmu sebentar?"


Langkah kaki puteri mahkota terhenti, dirinya berbalik anggun lantas tersenyum lebar saat mengetahui siapa sosok yang baru saja memanggilnya "Ada apa Pangeran Juan?"


Lelaki itu menariknya menuju halaman belakang, cengkeraman tangan sang pangeran yang terlalu kencang, membuat Luz menahan ringisan kekasitan 'Apa dia benar-benar membenci Sierra yang asli ya? Kasar sekali!'


Pohon cemara mengelilingi kawasan belakang istana, dengan tanah lapang dan sebagian ditumbuhi bunga hias warna-warni, menjadi latar belakang keberadaan keduanya. Luz curiga, apa Juan akan membunuhnya di tempat ini sekarang juga?


Luz sontak melepaskan cekalan tangan lelaki itu dengan kuat, membuat Juan keheranan "Kau kenapa?"


"Ti-tidak, oh ya... mau bicara apa? Kalau tidak terlalu peting besok saja, aku ingin istirahat dulu."


"Maaf, aku hanya merindukanmu," ungkap sang pengeran.


Telinga kiri Luz berubah memerah, ia tersipu. Padahal yang sebenarnya pangeran itu katakan tetap ditujukan pada Sierra bukan dirinya, walau yang saat ini menerima pernyataan tersebut memang ia.


"Kalau kau lelah, silahkan istirahat dulu. Kita bisa mengobrol lagi, nanti."


...---...


Luz tak henti memukuli pipinya, seraya tertawa kecil "Haaah, pangeran itu... tampan sekali! Tapi, ingat Luz, tujuanmu di sini hanya menikmati kebahagiaanya!"


"Hmm, aku harus bisa membuatnya sangat menyukaiku! Agar nanti, kalau terjadi sesuatu, ada yang benar-benar memihakku."


"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Sierra yang asli kembali. Ah! Tidak usah dipikirkan, jalani saja yang sekarang."


Ia menyeka dahi dengan punggung tangan, ada sedikit bulir-bulir keringat, segera saja Luz melepaskan segala perhiasan tubuhnya, mulai dari cincin emas, kalung berlian dan kalung mutiara, mahkota, juga gelang kaki berliannya.


Seusai melepas pakaian, gadis itu menuju bak mandi untuk berendam. Air hangat yang bercampur bunga lavender dapat menyegarkan indra penciuman, ditambah aroma citrus yang berasal dari sabun mandi.


"Astaga, walau tidak ada ponsel, laptop, dan ipad. Begini sudah nyaman sekali, aku tidak akan menyesal sudah datang di keluarga kerajaan ini. Atau mungkin ini efek tidak memegang ponsel sudah lama sekali."


Gemericik air yang sedang dimainkan puteri mahkota palsu itu, terdengar sampai ke ruangan pribadi pangeran Juan.


"Sierra hampir tidak pernah memakai perhiasan sebanyak itu," gumam sang pangeran.


Terlalu lama melamun, sampai tidak sadar seseorang mengetuk pintunya, bahkan sampai orang itu masuk ke ruanganyha tanpa permisi.


"Hei, calon raja! Bisa-bisanya kau melamun sampai tidak mendengar langkah kakiku."


Juan tersentak kaget, tapi ia merubah ekspresinya dengan segera, tatapan tajam, bijaksana, dan berwibawa "Sejak kapan kau datang, Dariel?"


Pangeran dari Catalonia itu tersenyum lebar seraya menunjukkan rangkaian bunga tulip yang ia bawa "Selamat ya, aku segera datang setelah mendengar Puteri Sierra ditemukan."


Matanya sontak memicing "Cepat sekali, bahkan raja Kastillia saja belum sampai."


"Hehe, sebenarnya aku sudah sampai sejak siang tadi. Tapi aku malas menemuimu, makanya aku ke rumah panglima Amer saja," ujarnya.


"Ada tujuan apa kau datang kemari, Dariel? Sierra baru ditemukan pagi tadi. Dan kau sudah sampai Aragon di siang hari?"


Dariel menghela napas kesal "Bantu aku mengurusi sengketa kawasan perairan dengan kerajaan Valencia. Mereka licik! Mentang-mentang aku raja muda dan tidak memiliki tetua, mereka jadi semena-mena."


"Mungkin kau yang terlalu terpancing emosi, bicarakan baik-baik dengan raja Valencia."


"Tapi... pokoknya aku tidak akan mau berurusan dengam Valencia lagi setelah masalah satu ini berakhir!"


"Ya sudah, jangan sangkut pautkan aku. Sebagai perwakilan Aragon yang baik, tidak berhak ikut mencampuri urusan antar kerajaan."


"Sebagai teman yang baik, bantulah aku ini. Nanti, saat pernikahan sekaligus penurunan tahta padamu berlangsung, akan ku ijinkan kereta kuda kalian mengelilingi sagrada familia sepuasnya!"


"Tidak perlu, alhambra sudah lebih dari cukup untuk merayakan pesta."


"Huuh, dasar sombong!"


"Makanya pergi sana!"


"Hei hei hei, aku ini seorang raja muda. Bisa-bisanya kau mengusirku."


Juan memijat kepalanya pening "Tolong keluarlah, masih banyak kerjaanku. Kau benar-benar mengganggu!"


...---...


Kehidupan sekolah di abad ke-21 berjalan lancar, Julian memang pendiam dan tidak suka membuat masalah, hanya saja fisik rupawannya yang mencolok, membuatnya hampir setiap hari jadi bahan gosipan di seluruh sudut sekolah.


Terlebih untuk para guru, mereka sampai menggeleng-gelengkan kepala mengatasi murid lelaki yang masih tergolong baru itu.


Julian sangat sering tidur di kelas, malah hampir setiap hari, dan itu dilakukan saat jam pengajaran sedang berlangsung. Kalau diberi hukuman atau dinasehati selalu pura-pura tidak mendengarkan, tapi nilai-nilainya selalu bagus, stabil, tidak pernah menurun. Yang hendak menghukum pun jadi enggan.


"Julian, tolong ajari aku materi yang ini..." Pinta Jessica seraya menggeser bangku mendekati lelaki tersebut.


Sedangkan Julian hanya mendesis malas, lantas memasang earphone di kedua telinga sambil memjamkan mata.


Jessica tidak marah, tapi malah menumpukan dagu menggunakan kedua tangan. Kedua matanya tak lepas dari wajah tampan yang kini memejamkan mata "Hmm, sungguh sempurna."


Mendengar ucapan tersebut, Julian seketika membuka matanya.


Jessica tertawa "Hei, kau sudah makan?"


Semakin tidak nyaman Julian beranjak berdiri, lalu pergi keluar dari kelas. Entah kakinya melangkah kemana, yang penting tidak ada pengganggu lagi, semacam Jessica.


Hal itu terekam melalui mata Leura, gadis yang baru sembuh dari luka-luka bekas pukulan Ereluz itu merasa bersalah. Melihat sikap Julian yang berbanding terbalik, tapi berselisih sama dengan Luz, semakin membuatnya bersedih.


Karena dirinyalah, Ereluz harus pergi ke dunia lain, tahun yang lain. Sama saja di saat ini, Luz sudah mati.


Kalau Leura bisa lebih kuat, dia tidak akan sampai masuk rumah sakit, dan Luz tidak sampai nekat kabur dari rumah menaiki mobil. Padahal usianya baru 17 tahun.


"Leura! Kenapa kau melamun terus! Luz kan sudah pindah sekolah, jadi jangan murung terus."


"Iya, ayo pergi ke kantin bersama kami. Nanti ku traktir!"


Leura hanya tersenyum membalas ucapan teman-temannya "Terima kasih, tapi aku membawa bekal hari ini."


"Baiklah, kalau begitu lain kali saja aku traktir!"


Seusai beberapa murid pergi, kelas jadi sunyi. Hanya ada anak-anak yang tidur, malas ke kantin, dan yang penyendiri seperti Leura.


"Hei, siapa namamu?"


Leura terkejut, saat suara berat tiba-tiba menyapanya dari belakang. Gadis itu sontak berbalik, dan menemukan Julian yang duduk di bangku belakangnya.


"Ada apa?"


"Aku tanya, siapa namamu?"


"Tidak penting," balasnya, lantas kembali menghadap ke depan.


"Aku Julian. Sejak pertama kau masuk sekolah, kita tidak pernah saling berkenalan. Anak-anak lain bilang, kau masuk rumah sakit karena dipukul? Kau dibuli, siapa orang yang membulimu?"


"Kenapa kau ingin tahu?" Leura tidak mengerti, biasanya lelaki itu hanya akan diam dan diam, kalau ada sesuatu yang sangat penting, baru bicara, tapi sedikit. Namun saat ini, Julian sangat banyak tanya pada dirinya.


"Ya, aku hanya ingin tahu saja. Apakah Jessica orangnya? Tapi dia terlihat tidak peduli pada orang lain."


"Bukan Jessica."


Julian memindah kursinya, lebih mendekati Leura "Lalu siapa? Katakan padaku, siapa orangnya? Atau beri clue saja, kalau kau tidak mau menyebut namanya," lelaki itu tampak antusias kali ini.


"Dia sudah tidak bersekolah di sini, teman-teman bilang, dia sudah pindah ke luar negeri."


"Eh? Siapa namanya?"


"Ereluz Rivera."


*TBC


sagrada familia jelas belum dibangun saat kerajaan Aragon sedang di masa jaya-nya, tapi kalau istana alhambra kurang tau ya, kayaknya udah.. soalnya bangunan itu tua banget*