
"Puteri Sierra itu lembut dan penyayang, dulu saat dia berada di Aragon, setiap pagi selalu mendatangi dapur walau kadang tidak lama karena harus mengurusi tugasnya sendiri. Pangeran tahu kan, Puteri Sierra selalu membuatkan satu hidangan yang cukup untuk semua orang di kerajaan."
"Aku tahu itu Herestia, tapi bukankah akhir-akhir ini dia tidak melakukannya kan?"
Wanita pelayan yang menjadi orang terdekat Sierra tersebut mengangguki pertanyaan Juan dengan raut sedih "Setelah kembali ditemukan, Puteri memang tampak aneh. Dia tidak pernah lagi melakukan hal yang sering dilakukannya dulu."
"Kau benar, hal kecilnya saja, dulu Sierra bahkan tidak pernah menyentuh panah dan pedang. Tapi waktu itu, saat para penempa kemari untuk mengirim pesanan, Sierra malah menawari mereka untuk menjadi pengajarnya, bagaimana mungkin kepribadiannya berubah?"
Raut Herestia seketika menegang "Bagaimana kalau dia bukan Puteri Sierra?!"
"Lalu? Orang yang mirip? Kembarannya?" Juan tertawa karena tebakannya sendiri, "Sekalipun ada orang yang mirip dengan Sierra, tidak mungkin sampai semirip itu. Aku sama sekali tidak merasakan perubahan fisiknya. Yah kalau rambutnya memang lebih pendek."
"Bisa saja, bagaimana kalau yang sebenarnya terjadi, Raja Alendro punya dua putri, dan salah satunya hilang. Lalu dia kembali untuk menggantikan posisi Puteri Sierra, bagaimanapun kehidupan Puteri sangat istimewa, sudah jelas ada banyak orang yang iri padanya."
Juan mendengus mendengar pendapat Herestia yang baginya terlalu fiktif "Kau terlalu termakan dongeng anak-anak, Herestia."
Perbedaan antara sebelum dan sesudah kejadian hilangnya Sierra di hutan, sanhat mencolok di mata semua irang yanh mengenalnya. Tapi tak ada bukti untuk memastikan jika yang sudah kembali bukanlah Sierra asli. Fisiknya sangat sama, postur tubuh juga proporsinya. Tak ada yang berbeda sama sekali, tapi sikapnya sangat menonjol untuk dibedakan.
Beberapa menit dalam keheningan, Juan menyadari wajah Herestia yang khawatir "Ada apa? Kau tampak tak baik-baik saja."
Sesaat sebelumnya menunduk, wanita itu akhurnya mengangkat kepala, masih dengan rautnya yang khawaitir "Meski sikap Puteri Sierra agak aneh, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas, kalau cintanya sangat tulus padamu. Jangan termakan apapun bukti yang belum jelas, untuk saat ini tetap sayangilah dia."
...---...
Julian tersentak saat punggungnya tiba-tiba dipukul, dan pelakunya malah tertawa riang tanpa rasa bersalah "Hei, apa ku bilang, kalau ada kau tim kita pasti bisa menang!"
Tak tahu harus bereaksi bagaimana, Julian hanya bisa tersenyum tipis, sangat tidak terlihat. Bahkan di mata Herald, Julian hanya sedang meluruskan garis bibir.
Herald mendengus melihat reaksi itu, sebenarnya ia tahu kalau Julian memang orang yang kaku dan sulit mengekspresikan diri pada orang baru. Ia menganggapnya baru karena Julian memang hampir tidak pernah berinteraksi pada anak sekelas kecuali Leura. Untuk menghindari kecanggungan yang terjadi, Herald mengaitkan lengannya pada bahu lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya, berusaha mengakrabkan diri "Besok hadiahnya baru akan diserahkan. Kalau kau punya nomor rekening, nanti beri tahu aku."
Julian melepas kasar tangan yang melingkar di lehernya, membuat Herald terkejut, takut kalau sikapnya tadi kurang sopan. Tanpa mengatakan apapun, Julian lantas berjalan menuju mobil yang baru saja datang.
"Paman Richard?" Mengenal sosok yang berada di dalam mobil yang sedang dinaiki Julian, Herald langsung menghampiri dan menyapa orang yang ia kenal itu. "Paman Richard? Sejak kapan kau menjadi... supir?" Tanyanya seraya melirik Julian yang duduk di kursi seberang.
"Herald? Wah, aku tidak tahu kalau kau bersekolah di sini. Julian, kenapa tidak bilang padaku kalau kau temannya Herald, keponakanku."
Julian mengendilkan bahu, tapi pikirannya juga terus bekerja 'Oh, jadi itu yang membuatku merasa ada seseorang yang mirip Herald. Pantas, mereka memang mirip.'
Richard lalu melirik sekilas ke arah Julian yang sedang duduk di sampingnya. Sebelum menawarkan bantuan pada Herald, keponakannya "Kau mau pulang kan? Ayo ku antar sekalian."
Spontan Julian menengok dengan tatapan tak bisa terbaca, membuat Herald enggan mengiyakan tawaran pamannya. Richard mendengus 'Sepertinya hubungan kedua anak muda ini agak kurang baik,' ia balas menatap Julian dengan senyuman lebar, seolah meminta persetujuan.
"Tapi aku yang berhak atas kendalinya, ingat? Minggu lalu kau sudah berkunjung ke kantor polisi," potong Richard.
Mendengar sekaligus melihat perdebatan di depannya, Herald semakin tidak enak hati. Sepertinya Julian memang tidak suka dengan semua orang, siapapun yang berbicara dengannya, pasti selalu tampak tidak nyaman, "Paman, terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya tidak perlu. Aku harus ke toko buku terlebih dulu, hari ini."
"Tapi Her--"
Belum sempat Richard melanjutkan ucapannya, keponakan lelakinya itu sudah terlebih dulu pergi sambil melambaikan tangan.
"Jangan sembarangan mengajak orang asing untuk masuk ke mobilku, bagaimanapun kau hanya punya kendali selama beberapa bulan, benda ini tetap atas namaku," ujar Julian.
"Tapi dia temanmu sendiri, huft... terserah, kau ini memang agak aneh."
Julian mengacuhkan ucapannya, dengan kepala ia tengokkan ke jendela. Tapi ia masoh memikirkan ucapan Richard barusan, 'Kau agak aneh.'
'Aku tidak aneh, adikku tidak aneh. Semua orang saja yang memang gila. Mereka hanya bisa melihat orang lain dari satu sisi, mereka hanya berkomentar sesuka hati, tak tahu kebenarannya. Aku tidak sakit sama sekali, harusnya mereka bisa melihat lebih jelas, lebih pasti, harusnya jangan menyebar berita hanya dari sisi buruk diriku.'
...---...
Mobil yang ia tumpangi berhenti di depan gedung tinggi, tempat itu sudah sangat tidak asing, tapi tidak juga dirasa memiliki kenangan baik.
Di sekolah tadi, saat Richard datang untuk menjemputnya, sudah pasti tempat tujuannya adalah gedung ini. Yang awalnya tempat pertambangan, merangkap menjadi gedung pendiri komunitas orang cerdas.
"Masalah mesin waktu itu belum bisa aku pastikan, akhir-akhir ini tak ada waktu sama sekali," celetuk Julian.
"Memangnya sesibuk apa kau, sampai harus menunda terus-menerus. Ingat, kita tidak boleh seperti itu, ada banyak usia yang sudah rawan di kelompok ini, memastikan mereka terjadmin dan mencapai tujuan adalah salah satu keinginan mereka, dan kau yang kami jadikan tangan kanan," balas Richard.
"Iya, akan ku usahakan besok meluangkan waktu. Tempat atau titik utama sinyalnya masih di di lokasi yang terdeteksi waktu itu kan?"
"Tak ada perubahan, sepertinya lokasi itu memang paling akurat, makanya kita berusaha secepatnya mengecek. Sebelum ada perubahan yang membingungkan dan membuatnya semakin kacau."
Julian mengusap dagunya sejenak sebelum kembali berbicara "Sebenarnya aku punya satu keinginan untuk mesin waktu, kalau memang benda itu bisa ditemukan nantinya."
"Keinginan bagaimana?"
"Sebelumnya aku ingin bertanya, konsep mesin waktu itu belum bisa ku pahami. Jadi, bagaimana kalau aku pergi ke masa lalu untuk membumuh ayahku sebelum aku lahir?"
TBC
THANK'S FOR READING