
"Membuang waktu memberi ancaman untuk gadis keras kepala, sepertinya dia tidak khawatir sama sekali dengan ancamanmu."
Ares menggumam sambil menendang peti kayu berisi manusia yang tak henti menutup mulut alias berteriak penuh nada kekesalan, "Bukan maksudnya membuang waktu, aku dengan baik hati membiarkan penjaga beristirahat. Perjalanan ke kastil Galicia masih jauh. Karena mereka menyalakan api unggun besar, lumayan lah untuk menakut-nakuti Sierra palsu itu."
"Sayangnya dia tidak takut," Balas Jevin sinis.
"Ck!" Sementara sang lawan argumen mulai tersulut emosi, ia mengurungkan niat untuk beristirahat, "Ya sudah, sekarang kita kembali jalan sebelum matahari terbit."
Hingga semua orang yang bersangkutan kembali berdiri bersiap kembali pergi dengan raut murung karena tidak jadi mengistirahatkan badan sejenak. Seseirang berpakaian serba tertutup namun warna putihnya yang mencolok di tengah kegelapan menjadi pusat perhatian.
Si pelaku mendongakkan kepala sambil menebarkan senyum miring, "Jangan buru-buru para tuan yang terhormat!"
"Sial!" Maki Jevin menyadari yang datang adalah dia yang bertentangan dengan mereka, sebut saja musuh.
Jevin bersiap, pasukan yang sigap langsung turun tangan mengerumuni pendatang dengan beragam senjata di tap masing-masing orang, "Bagaimana dia bisa ada di sini tiba-tiba?!"
Orang tak diundang yang ternyata raja muda Catalonia, berjalan perlahan mendekati peti kayu yang terus mendatangkan getaran. Pertanda terdapat seseorang di dalamnya.
Ares berjalan cepat seraya menodongkan pedang nata satu miliknya tepat ke leher Dariel.
Kepalanya menengok pelan sambil menjauhkan ujung pedang menggunakan telunjuk, "Tak berniat kah kalian menyambutku? Datang jauh-jauh dari Catalonia sangat melelahkan. Oh, ya, aku kemari untuk mengambil kembali yang bukan hak atas tangan kalian," ia mendekati peti, lantas menendang bagian atasnya hingga retak. Luz yang berada di dalam sontak berteriak walau mulutnya tersumpal kain lusuh berasal dari robekan pakaiannya sendiri.
Ketika penutup terbuka, tepat saat kain yang membelit mulut Luz robek, gadis itu berseru menyambutnya, "Daniel! Ha! Kau raja Catalonia itu, kau datang membantukuuu..."
Alisnya menukik seketika, "Namaku Dariel, puteri yang cantik."
Jevin mendekat sambil mendorong bahu Dariel, "Jangan ikut campur, ini urusan antar dua wilayah saja."
Ia memotong cepat, "Bagaiman tidak ikut campur kalau kalian melibatkan nyawa seseorang dari wilayah lain, Kastillia."
"Biarkan aku membeberkan rahasia ini, dia bukan Sierra yang kau kenal," Ares ikut memundurkan bahu si raja Catalonia menggunakan pedangnya.
"Ya, aku tahu. Tapi yang kalian lakukan pasti membahayakan nyawanya, aku tidak berpihak pada siapapun, ini hanya demi rasa kemanusiaan."
Ares sontak meraih kerah Dariel dan mencengkeramnya begitu kasar, sampai-sampai membuat si pemilik baju hampir tercekik, namun Dariel masih bisa mengkondisikan. Ia hanya menarik pergelangan Ares lalu dielus pelan, "Di mana Juan? Kedatanganmu kemari sudah jelas karena dia. Kemana anak itu sekarang? Biarkan dia lihat secara langsung orang tersayangnya mengenaskan."
Ia menyeringai licik, kuku panjangnya menancap di punggung tangan Ares membuat pemiliknya mengerang, "Sebenarnya apa yang pernah diperbuat Juan sampai-sampai kau semarah dan sekecewa itu, Ares? Tidak bisakah kalian membicarakan baik-baik?" Ujarnya sambil menghempas tangan yang mencekiknya. Dariel kemudian melirik Luz yang bergerak tak nyaman di dalam peti mati berukuran besar, "Dia ini pada dasarnya memang pembohong, tapi kalian tidak diperbolehkan mengambil jalur penghukuman sendiri. Dia melakukan kesalahan di Aragon, jadi raja dan rakyatnya yang berhak memutuskan."
Ares dan Jevin sudah mengira jika si raja Catalonia pasti tidak datang sendiri, sehingga penjaga yang menyerangnya hanya sebagian, pasukan Dariel segera bermunculan dari jarak jauh dengan panah saling terlontar.
"Kalian sendiri yang memperbesar masalah ini."
Ares menjatuhkan senjata, seraya melirik Dariel yang sudah mulai dikerumuni pasukan pemegang pedang, senjaata jarak dekat, "Kau yang jangan terlalu percaya diri, Dariel. Ini sudah masuk kawasan Galicia, jadi jangan macam-macam denganku," jelasnya sambil menyunggingkan senyum miring, "Kematianmu bisa saja dipalsukan."
Dia hanya membalas dengan seulas senyum lembut. Pasukan pun lekas memulai pertumpahan darah dadakan dengan serangan dari berbagai arah.
Sebelum ikut mengacungkan pedang, Dariel melirik Luz seraya melempar pisau kecil, "Jangan khawatir, setelah lepas larilah ke selatan sampai menemukan perbatasan. Sudah ada orang yang menunggu."
...---...
"Ah, kau terlalu bersemangat, malah aku yang khawatir," ujar Feuji sambil menatap sedih ke arah Juan, "Dunia masa depan sangat jauh berbeda dengan zaman ini, menyesuaikan diri di lingkungan baru tentu saja sulit."
Ia menyangkal, "Ereluz saja bisa melakukannya dan bertahan sampai sekarang, aku juga pasti bisa selagi bahasa tidak berubah."
"Hmm, sebenarnya aku sudah membuatkan buku panduan hidup di sana, tapi itu tidak akan bisa dibawa. Mesin waktu hanya bisa membawa tubuh dan pakaian yang sedang melekat."
"Tidak masalah, Reagel sudah mengatakan banyak hal sesuai masa depan, aku mengerti semua itu, yang paling jelas tidak ada barter dan pemerintahannya dipimpin presiden."
"Yaaa mungkin begitulah," angguk Feuji, meski ia sendiri agak tak mengerti tentang politik dunia masa depan, "kau sudah tahu pasti ciri-ciri pemegang mesin waktu jadi jangan sampai salah orang atau bisa dianggap gila karena mengatakan hal-hal yang mereka pikir fiktif."
"Benar, orang-orang masa depan juga masih awam terkait perjalanan waktu. Aku harap kau bisa membicarakannya dengan orang yang sudah bisa dipastikan pemegang mesin waktunya. Kau sudah dewasa, jadi tidak perlu lagi ku jelaskan secara rinci tentang masa depan. Hanya bagian-bagian inti dan yang terpenting cara hidup dan berkomunikasi yang baik," sahut Reagel yang baru datang dengan setelan pakaian di tangannya.
"Iya, terima kasih atas bantuanmu, apa ini?" Tanyanya sambil menerima kain warna hitam tersebut
Reagel menjelaskan sambil menenteng kemeja hitam, kaos putih longgar, dan celana hitam menyerupai jeans, "Pakaian yang sesuai era masa depan, aku mendapatkannya di toko kelontong, penjual bilang itu barang gagal padahal seperti itulah kiranya pakaian di masa depan, jadi penasaran siapa yang membuat desain bajunya. Oh, jangan lupa gali tanah di belakang rumah keluarga Arison, itu keluargaku."
"Memangnya ada apa di sana?"
"Begini, karena masa ini akan kau anggap masa lalu, jadi aku mengubur uang logam dan perhiasan yang kami punya, kalau kau menjualnya, maka akan dapat uang kertas yang digunakan manusia masa depan."
"Ah, kenapa aku tak terpikirkan hal itu, idemu bagus Reagel," puji sang kakek, "Aku juga akan menguburkan buku panduan hidup yang sudah ku tulis berkat pengalaman Reagel."
"Bagus, kalau begitu minta pada Jedd untuk memberikan lebih banyak benda berharga yang bisa kau kubur. Aku akan ingat, halaman belakang rumah keluarga Arison."
TBC