Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Going Fast



Julian dan Katana sudah sampai di belakang rumah Leura, tepatnya di depan jendela yang diprediksi mengarah pada gudang. Si wanita mendengus ketika yang lebih muda berucap dengan sombong seraya memperhatikan benda persegi berkaca tersebut, "Sangat tidak level, jika orang setampan aku harus membobol jendela rumah orang. Bukankah kau lebih profesional, Prof. Katana? Kenapa bukan kau yang melakukannya dan aku akan berjaga di belakangmu."


"Kau itu laki-laki, Julian. Prof. Alenio juga sudah bilang, kalau pinggiran jendelanya hanya perlu dilumuri cairan ini, nanti bisa langsung terbuka dan tidak menghasilkan bekas bobolan," jawabnya jengkel. Katana memaksakan tangan Julian untuk menerima benda cair lengket yang terbungkus wadah mirip lem.


"Kenapa memangnya kalau aku laki-laki? Kalau hanya melumuri, mengapa bukan kau? Harus ya, laki-laki yang mengerjakannya?" Ujar Julian masih berusaha protes. Ia melakukannya agar tidak dipandang rendah, bagaimanapun dia pumya tugas lebih banyak dan berat di dalam nanti.


Melihat Katana mulai mengerjakan, Julian menunduk lesu, seraya mengingat bagaimana jika Leura jadi membencinya setelah ini, 'Leura, maaf..'


"Sudah bisa terbuka, aku akan masuk dulu."


Julian melirik ke dalam, lebih tepatnya ruangan yang gelap gulita tersebut, "Kau yakin ini benar-benar gudang?"


Prof. Katana menyahut pelan dari dalam, "Iya, sudah terlihat bagian dalamnya. Hanya ada barang-barang bekas," wanuta itu kemudian menyuruh rekannya untuk mengikuti, "Sudah, masuklah."


Seelah melihat sendiri bagian dalam, Julian bisa memastikan kalai ruangan ini tidak terpakai, ia pun langaung saja mengarah ke pintu, "Kira-kira di mana mesin waktunya disimpan? Bagaimana kalau berada di kamar pemiliknya? Kita akan kesulitan."


Prof. Katana balas menggeleng, "Tidak mungkin di kamar, mesin waktu menghasilkan radiasi cukup kuat. Pasti ditempatkan di ruang khusus yang sudah diberi pelindung."


"Pintu gudangnya tidak dikunci," ujarnya setelah beberapa kali mengotak-atik.


Sebelum benar-benar dibuka, keduanya sudah memastikan kalau bagian luar dari gudang ini kosong. Julian keluar terlebih dulu, "Oh, ini dapur," Ujarnya seraya memperhatikan seksama ruangan yang gelap tersebut, karena lampunya memang mati, jadi ia harus sangat berhati-hati, "Haruskah kita berpencar?"


"Tidak perlu, detector milik Prof. Alenio sudah menangkap gelombangnya. Sepertinya berasal dari ruangan itu," Prof. Katana mengeluarkan benda persegi yang menghitung besaran radiasi. Ditunjukkan dengan angka digital yang tertera di layarnya. Beberapa saat kemudian, detector mengarahkan ke pintu besi yang berada di sudut dapur.


"Dilihat dari pintunya, sepertinya itu bukan kamar. Akan ku lihat dari lubang kuncinya."


"Ada apa?"


"Gelap, seperti lorong. Mungkin?" Balas Julian agak ragu.


"Itu pasti tempatnya."


"Bagaimana kita akan masuk? Ini juga dikunci. Dan sepertinya kunci untuk pintu ini bukan sembarangan. Lubangnya berbeda dari pintu biasanya."


"Cairan yang kita gunakan untuk membuka jendela tadi pasti bisa digunakan untuk pintu ini. Coba oleskan di sela-selanya. Beri yang banyak di bagian penguncinya."


"Wah, ini terbuka," Untuk kali ini, Julian rela tangannya kotor karena menyentuh benda cair itu, "Sebenarnya terbuat dari apa cairan apa ini? Hebat sekali. Kalau sampai dijual di pasaran, pasti banyak pencuri yang membelinya."


"Sudah, jangan terlalu takjub. Lebih baik kau belajar hal yang bermanfaat."


...---...


Pintu akhirnya terbuka, menampakkan isinya yang hampir keseluruhan diluar kepala manusia, terlebih untuk orang awam. Radiasi di ruangan ini begitu tinggi, tapi Julian dan Katana sudah memakai krim untuk pelapis luar kulit mereka yang sensitif. Julian takjub, tak menduga kalau selama ini Leura menyembunyikan hal hebat, "Astaga, aku tidak pernah percaya ada hal seperti ini di dunia walaupun selama ini kalian mengajakku bergabung untuk ini."


Tak beda jauh, Katana sendiri juga masih tidak bisa memercayai ruangan di depan matanya, "Kalau kau saja tidak percaya, aku lebih dari itu. Kita takjub karena tak pernah berhasil membuatnya. Sementara ini... asli dan bisa digunakan!" Ia kemudian memberikan arahan selanjutnya, "Sekarang mulailah, retas isinya dan salin pada flasdisk yang sudah dirancang oleh Prof. Richard. Dia memberikanmu itu kan?"


"Ya, dia memberiku flashdisk ukuran satu terrabyte."


Julian langsung mengarah pada komputer yang paling menarik perhatiannya. Yang mana merupakan komponen utama dalam perjalanan waktu.


Komputer kuantum adalah suatu benda rancangan yang paling hebat untuk akhir dekade ini. Kabarnya, peneliti legal zaman sekarang sudah berhasil menciptakan empat sampel, tapi belum ada yang bisa dijalankan sama sekali.


Sementara yang ada di hadapan Julian saat ini, adalah hasil teknologi kuno. Belum ada yang tahu siapa perancang sekaligus pencetus idenya.


...---...


Luz berlari menghampiri Juan, saat lelaki itu baru saja memasuki ruang kamar, "Bagaimana? Mereka tidak bersalah kan?"


"Hari ini belum bisa persidangan, semuanya akan dimulai ketika Galicia sudah menunjukkan bukti fisik," balasnya disertai gelengan kepala.


Dengusan lesu sontak keluar dari bibir Luz. Ia tak ingin melihat orang yang sudah membantunya berakhir buruk, sebelum keberadaannya di sini terbongkar. Ia ingi membuat orang lain bahagian terlebih dulu, "Andai saja ada CCTV, pasti lebih mudah. Harusnya kalian tidak bisa menunda-nundanya lagi, kasihan mereka kalau memang tidak bersalah."


"Memang begitu aturannya, ditangkap dulu, baru dicari bukti. Untuk menghindari pelaku kabur ke wilayah lain," jelas Juan, "Oh, ya. Apa itu CCTV?"


"Sesuatu yang bisa merekam kejadian. Biasanya ditaruh di langit-langit rumah, ada juga yang dijalanan."


Senyum lelaki itu melebar, "Hebat sekali teknologi masa depan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana menyenangkan dan mudahnya kalau hidup di sana."


"Kau pasti akan senang," Luz mengangguk setuju, "Kapan aku boleh menemui pemilik mesin waktu? Sebenarnya aku ingin sekalian meminta maaf, kesalahanku padanya banyak sekali."


"Untuk akhir-akhir ini mungkin aku tidak bisa ikut denganmu. Jadi kau boleh pergi sendiri, hanya di dekat sungai ebro kan? Kalau lebih jauh, maaf tak bisa ku izinkan karena berbahaya."


"Hanya di sekitar sungai ebro," Ujarnya meyakinkan, "Kalau begitu aku akan berangkat besok pagi. Aku berharap kau tidak mengirimkan siapapun untuk mengikutiku, karena ini termasuk privasi."


"Iya, aku tidak akan melakukannya, tapi berjanjilah untuk kembali ke sini sebentar sebelum benar-benar pergi."


"Kau tenang saja, kemungkinan besar aku tak bisa kembali ke masa-ku. Paman Feuji pernah bilang, kalau memang duniaku sekarang adalah di sini. Tapi aku ingin tetap mencoba, siapa tahu ada keajaiban."


'Apa boleh kalau menghalanginya pergi. Aku hanya tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.'


TBC