
The real love
"Benarkah di sini kediaman Tuan Feuji?" Pria pengawal mengetuk pintu salah satu rumah sederhana di pemukiman padat. Ketukannya tak lama kemudian terjawab, disusul lelaki muda menyambut ramah. Tapi ada hal yang membuat pengawal terkejut, "Ah, tunggu! Bukankah kau... terdakwa pencuri di Galicia? Tapi aku baru mengunjunginya, atau wajah kalian memang mirip?"
Senyuman yang sebelumnya ramah, kini menghilang dan berganti menjadi tatapan mata memicing, "Anda siapa sebenarnya? Tiba-tiba datang dan menuduhku."
Mendengar keributan kecil, Juan segera turun dari kuda yang ditunggangi dan segera menuju pengawalnya. Respon awal pangeran muda itu tak jauh berbeda dari sang pengawal, "Jedd ke--Huh?! Bukankah kau Hareen?"
"Ah, ternyata bukan hanya aku yang mengiranya begitu. Bukankah mereka terlihat sama persis, pangeran? Atau dia kembaran pria pencuri itu."
Juan balas menatap tajam seolah mengintimidasi, "Siapa kau?"
Mendengar pengawal itu menyebut pria yang lebih tinggi dengan gelar pangeran, ia sontak membungkuk sopan, "Salam, pangeran," sekian lama hidup di dunia zaman ini, perilakunya pun berubah mengikuti alur yang sedang berjalan, "Saya Reagel, dan bukan kembaran orang yang anda maksud karena saya memang anak tunggal. Jadi, sebelumnya apa tujuan kalian kemari?"
Meninggalkan kesan awal yang mencurigakan, kalau lelaki di hadapannya memang bukan Hareen, beruntung ia sempat memeriksa kondisi yang terdakwa bersalah di kerajaan. Juan kembali mengalihkan pembicaraan pada tujuan kedatangan yang sebenarnya, "Di sini memang benar rumah Tuan Feuji kan?"
"Iya, saya cucunya."
"Izinkan aku bertemu dengannya."
Reagel mengernyitkan kening kebingungan, "Memangnya apa yang terjadi? Bukankah kami sudah bukan
"Memangnya apa yang terjadi? Bukankah kami sudah bukan bagian penduduk Aragon lagi? Ini Kastillia."
Permintaannya seakan ditolak, Juan mendadak merasa emosi, "Sebentar lagi Kastillia dan Aragon juga akan menjadi satu. Panggilkan Tuan Feuji, aku harus berbicara hanya dengannya. Kau tak perlu khawatir, kami tidak bermaksud buruk."
Dengan tangan gemetar, Reagel akhirnya membukakan pintu lebih lebar untuk akses masuk para orang penting pemerintahan negeri tersebut, "Baiklah, silahkan masuk dan duduk terlebih dulu."
...---...
"Entahlah! Mereka kemari beramai-ramai. Pangerannya juga mengatakan jika wajahku serupa dengan seseorang yang sedang menjadi terdakwa pencurian di Galicia!" Reagel berteriak panik menyusul sang kakek yang tengah berada di salah satu kedai kelontong di pasar, dekat rumah mereka.
"Mungkin orang yang dimaksud adalh perwujudan dirimu dari masa lampau," balas pria yang lebih tua seraya berkemas mwnutup kedainya. Pasti akibat Ereluz, ia didatangi salah satu anggota kerajaan secara tiba-tiba seperti ini, "Oh, tentang kedatangannya kemari, apakah menyangkut Luz? Sudah lama gadis itu tak ada kabar, mungkin saja salah satu pangeran sudah tahu tentang siapa anak itu sekarang, makanya mereka datang menemuiku. Pastinya Luz sudah menceritakan segalanya."
"Aku tidak tahu apapun. Sebaiknya kakek segera temui mereka dan bicarakan semuanya. Kedatangan seorang calon raja kemari pasti bukan untuk tujuan sepele, sudah jelas kalau dia tahu sesuatu tentang Luz."
Keduanya pun segera bergegas menemui pangeran muda Aragon yang tiba-tiba datang ke Kastillia tanpa ada sangkut paut dengan pekerjaan.
Ketika Feuji baru saja duduk, ia spontan terpesona dengan pangeran muda penuh wibawa yang mendatangi. Lelaki yang lebih sering ia lihat dari kejauhan kini mendatangi rumahnya dan duduk di hadapannya, "Kau pasti terkejut dengan kedatanganku tuan, maaf, tapi apakah kau mengenal Ereluz? Jujur saja."
"Hmm. Aku sudah tahu segalanya, tentang Sierra yang ternyata belum ditemukan, kebohongan Ereluz, sampai tempat asalnya yang semula dari masa depan," balas Juan dengan menatap yang lebih tua penuh keseriusan. Kali ini mereka hanya bicara berdua terkait privasi bahasan pembicaraan, "Dan jelas, aku kemari karena cerita Luz, dia bilang hanya kau satu-satunya orang yang bisa membawanya kembali pulang. Jika itu memang memungkinkan, tolong kabulkan permintaanya."
Feuji mendengus, telinganya terasa gatal mendengar nama Luz. Gadis yang seharusnya menjadi pemegang mesin waktu saat ini, karena Luz tidak berpihak padanya, Feuji berniat mengalihkan pada Reagel. Entah apa yang akan terjadi nanti, ketika mesin waktu terlepas dari pemegang aslinya, "Maaf, tapi mengapa anda mau membantunya? Bukankah sudah jelas Ereluz berbohong pada semua orang, mengaku sebagai seorang puteri mahkota yang bertakhta."
"Apapun alasanku, yang jelas Ereluz bukan orang yang sangat buruk. Aku ingin membantunya karena selama ini dia juga banyak membantuku. Kau satu-satunya petunjuk, tolong beri tahu aku sedetail mungkin tentang semua yang sudah terjadi padanya."
"Huh, jika aku bisa akan ku lakukan sejak dulu, sebelum semuanya semakim rumit. Ereluz datang kemari berkat mesin waktu dari masa depan, dan itu mutlak karena sebenarnya dia sudah mati. Intinya, dia tidak bisa kembali di masa sebelumnya dia hidup. Kalaupun bisa, yang jelas bukan aku orangnya. Mereka seharusnya 'pemegang' mesin waktu di mana Luz berasal."
Julian membalas setelah beberapa menit berusaha memahami, "Jadi, orang yang sudah mati, bisa hidup kembali, namun pada masa yang berjarak jauh dari kehidupan sebelumnya, begitu?"
Sementara pria itu mengangguk semangat atas jawaban sang pangeran. Dari awal, Juan tampak seperti orang yang mudah memahami sesuatu, "Ya, dan karena dia sudah mati. Maka kemungkinan besar tidak akan pernah bisa kembali, kecuali jika ada keajaiban di masa depan sana."
"Bagaimana kalau orang hidup dari era ini pergi ke masa depan?"
"Bisa saja dilakukan. Tapi untuk Luz, tidak akan pernah bisa karena mesin waktu yang ku pegang bukanlah pengendali keberadaanya sekarang."
"Kalau begitu kirimkan aku ke masa depan. Jika memang mesin waktu yang ada di sana adalah satu-satunya yang bisa membantu, akan ku lakukan," balasnya kemudian.
"Apa... kau yakin?" Tanya Feuji terkejut, bukan karena konsekuemsinya, melainkan mengapa sang pangeran seolah sangat beru
melainkan mengapa sang pangeran seolah sangat berusaha ingin membantu Luz, "Bukan orang sembarangan yang bisa mengoperasikan benda itu, terlebih mereka harus profesional sekaligus yang audah ditetapkan. Kalau memang ingin mencobanya, kau harus temui seseirang di masa depan sebagai pemegang mesin waktunya."
"Lakukan saja jika hal itu memang bisa terjadi."
...---...
"Jevin, aku tidak tahu kau akan berpihak pada siapa. Tapi aku ingin menawarkan suatu hal yang besar jika kau mau bergabung denganku," Ares menyelinap masuk ruangan pribadi sang pangeran tertua yang kini duduk tegap dengan kaca mata di pangkal hidungnya, sementra di tangannya terdapat buku tebal menyamai batako.
Jevin hanya menurunkan kaca mata sekilas tanpa menengok sedikitpun, "Jangan mengganggu, aku sedang bekerja."
"Oh, ayolah... aku menemukan berita yang lebih besar terkait Sierra palsu itu. Dan aku semakin berniat memburunya."
Pangeran tertua itu seketika meengok, "Apa alasan ini semua? Aku mungkin membencinya, sekalipun dia asli atau palsu. Tapi kau? Mengapa kau seolah terobsesi menghancurkan mereka? Tidak mungkin hanya karena Juan membuat hubungan baikmu dengan Sierra terputus, kan?"
"Tidak ada alasan lain," balas Ares seraya menyunggingkan senyum miring.
TBC