Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Nisan Raja Juan



"Perlu sekali kakak membawa benda itu pulang? Auranya agak mistis, aku takut kalau-kalau ada makhluk dari dimensi lain yang mengikuti benda itu, kak," ujar Nathalia, merasa khawatir keadaan kakak lelakinya yang tersenyum-senyum sembari mengelus batu giok hijau berbentuk seperti nisan tersebut.


"Jangan khawatir, aku sudah mengecek informasi dari batu ini. Ternyata harganya sangat mahal, kalau dijual, barang kali kita bisa beli dua lantai burj khalifa."


"Ya sudah, kenapa tidak cepat kakak jual saja. Itu dari pemakaman, kan? Bagaimana kalau ada hantunya."


"Batu ini sangat cantik, aku jadi tidak rela menjualnya. Apalagi saat dielus seperti ini, tiba-tiba bayangan kejadian-kejadian indah langsung muncul di kepalaku, ajaib sekali kan?!"


Nathalia menggeleng pelan, setelah kepulangan sang kakak dari pemakaman bersama batu hijau berbentuk nisan, sikapnya jadi sedikit aneh. Gampang tersenyum-senyum sendiri, padahal hanya memandangi batu. Benda mati yang tidak bisa bergerak sama sekali.


"Tapi, Nath, aku harus pergi ke rumah temanku sekarang, setelah itu bekerja. Kau tidak apa-apa kan, ku tinggal sendiri lagi."


Nathalia balas mengangguk, "Biasanya juga begitu kan?"


"Biasanya kan aku berangkat malam, langsung pergi ke tempat kerja."


"Iya..., kak."


Julian tertawa kecil, lalu mengusap surai panjang adiknya, "Kalau begitu aku berangkat dulu, tolong simpan batunya di tempat yang aman."


...---...


...T...


erdapat salah satu kerajaan besar di Spanyol dari sekian banyaknya kawasan yang terbagi menjadi suatu wilayah berbentuk kerajaan sendiri. Di bagian paling barat wilayah Spanyol, berdiri megah kerajaan Galicia di bawah kekuasaan Raja Ares.


Ares diakui sebagai pemimpin yang sangat tertutup perihal apapun. Sejak takhta Galicia diturunkan padanya, satu negeri memiliki pengawasan yang sangat ketat. Jalur masuj ke Galicia hanya ada dua, dari arah barat, jalur darat dari portugis, dan kawasan utara untuk jalur laut.


Untuk negeri sekitar timurnya seperti Aragon, Kastillia, Catalonia, Andalusia, bahkan hingga Valencia, harus memutari jalur ketika ingin menuju Galicia. Surat resmi juga harus selalu sedia, karena di setiap pintu masuk akan dimintai keterangan oleh pasukan Galicia.


Meski begitu, Galicia berjaya lebih makmur ketimbang negeri sekitar. Sebab mereka punya tambang logam cukuo besar untuk diekspor ke mana-mana. Ladang gandum ribuan hektar juga tersedia hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, Galicia melarang impor pangan dari negeri lain.


Tapi meski sangat makmur, desas-desus yang beredar, rakyat Galicia merasa tidak nyaman dengan pimpinan baru mereka. Rasanya hidup selalu dikekang, dan punya banyak peraturan hanya untuk satu dari segala perbuatan kecil.


Sehingga sulit untuk memastikan, jika ternyata puteri mahkota asal Kastillia yang dikabarkan hilang, ternyata disembunyikan rapat oleh petinggi Galicia di negeri mereka. Aragon dan Kastillia sangat sulit untuk menembus kekuasan Galicia karena negeri itu paling tidak bersahabat dengan keduanya. Masalah berawal dari kesalahan perhitungan wilayah yang harusnya milik Galicia, tertulis dalam surat pernyataan, diklaim oleh Aragon.


Kesalahan terdapat pada orang yang menulisnya, tapi berimbans pada persatuan baik antar Aragon-Galicia. Sedangkan Kastillia, karena negeri itu akan segera dipersatukan dengan wilayah Aragon.


Pintu bawah tanah dibuka lebar, mempersilahkan pemimpin tertinghi untuk masuk terlebih dulu, baru diikuti para bawahannya. Raja Ares segera membuka sumur tua bawah tanah yang tertutupi kayu pohon oak. Ia melongokkan kepala, namun yang tertangkap mata, hanya kegelapan, "Turunkan lampu ke bawah."


Perintahnya segera disanggupi. Lampu minyak digantung dengan tali, lantas diarahkan kebawah, ujung dari sumur tua tersebut.


"Petinya masih utuh, tidak hancur, tapi dalam posisi berdiri. Haruskah kita mengambilnya untuk memastikan Sierra masih ada di sana?" Tanya seorang prajurit.


Ares menatapnya tajam, "Bukan Sierra di bawah yang harus dipastikan, melainkan Sierra yang sekrang berada di Aragon."


...---...


Dari seberang jalan, Julian yang merasa dipanggil, menolehkan kepala. Rupanya teman sekelasnya sudah berdiri anggun di trotoar. Ia tersenyum lebar, dan buru-buru menyeberangi jalan setelah lampu merah bagi pejalan kaki berganti menjadi hijau.


Setelah berada didekat teman perempuannya, Julian melihat raut kecewa yang ditujukan tentu padanya, "Kenapa?" Ia bertanya dengan hati-hati.


"Ka-kau bilang pertemuan pertama kita bisa digunakan untuk belajar. Kau mau mengajariku kan? Kenapa tidak bawa tas?--Oh, atau kau berubah pikiran ya, setelah tahu betapa bodohnya aku?"


"Tidak..., bukan begitu, Leura. Kau tidak ingat ya, kalau ini malam minggu? Di mana seluruh manusia menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan, bersantai, nonton film, istirahat dari kegiatan sehari-hari yang menjenuhkan. Bagaimana bisa kau tanyakan soal belajar di malam yang cerah ini?"


"Ow-owh begitu ya, tapi di sekolah tadi, kau bilang kita akan..." Ucapan Leura terputus mengingat apa yang Julian bicarakan di sekolah ketika hendak mengajaknya pergi. Lelaki itu mengatakannya dengan bisikan yang tidak jelas.


"Aku tidak mengatakan apapun kan?" Seringainya, "Sekarang apa sebaiknya kita pergi ke wahana bermain? Tapi itu mahal, bagaimana kalau bioskop? Lebih murah dibanding wahana bermain, atau kau mau ke te--"


"Kita ke perpustakaan kota saja!" Potong Leura cepat. Mendengarkan ocehan Julian, membuatnya tidak enak hati.


Julian mendengus, "Oh, ayolah, Leura. Ujian masih lama, tidak perlu ke perpustakaan kota, kau mau cari materi? Tidak seru sekali, apalagi di malam minggu."


"Aku ingin membaca komik."


Lagi-lagi dengusan keluar dari mulut Julian, tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Leura untuk segera pergi. Menghabiskan waktu untuk memperdebatkan kemana tujuan mereka akan sangat tidak berguna.


"Julian! Aku belum minta izin pada orang tuaku. Tadi aku hanya bilang kalau ada teman yang akan datang ke rumah."


Julian seketika menghentikan langkah, berbalik nenatap Leura yang berekspresi kahwatir, "Perlukah kau meminta izin saat akan pergi ke suatu tempat?"


"Tentu saja! Mereka bisa panik kalau aku tidak pulang-pulang. Kau tiba-tiba jadi terlalu semangat seperti ini malah membuatku takut. Kita masih orang asing, bagaimana kalau kau ternyata punya niat buruk padaku."


Julian melepas cekalan tangannya yang tertaut erat di pergelangan Leura, "O-oke, aku minta maaf. Aku hanya sangat senang, jujur saja tidak ada niatan buruk dari diriku untukmu."


Leura tersenyum kecil, melihat raut bersalah yang ditunjukkan Julian, "Aku akan menelepon ibuku, dan bilang untuk pergi sebentar. Dia tidak mencari-cari kalau sudah begini."


"Aku salut, kenapa ada anak harus meminta izin pada orang tuannya, padahal hanya untuk keluar rumah bersama teman. Selama ini, aku tidak pernah melakukannya, ayahku bahkan tidak peduli dengan apapun urusanku, kecuali tentang nilai dan peringkat di sekolah."


Ucapannya memang sedehana, tapi berhasil membuat Leura merasa iba, "Tenang saja, kau akan melewati semua ini dengan baik. Semoga suatu saat ada yang setia memberimu kasih sayang."


'Aku berharap itu, kau.'


TBC


Thank's for reading💘