
Luz sudah tidak tahan lagi, dari tadi yang dilewatinya hanya hutan dan hutan. Seperti dunia hanya diisi dengan hutan, entah kenapa pandangan matanya lama-lama mengabur, jarak jauh sudah tak bisa terlihat dengan jelas.
Kemungkinan besar efek dari kelelahan, sekarang memang sudah lewat tengah hari. Tandanya pula Luz berjalan kaki sudah sangat lama.
Ia tak habis pikir, bagaimana bisa tidak ada perumahan sama sekali, atau sekedar orang lewat.
Andai tadi, setelah keluar dari rumah Einne, Luz menuju balai kampung. Bisa bertemu orang-orang banyak, sekalian menarik perhatian kalau benar dirinya serupa dengan Puteri mahkota itu.
Luz hampir putus asa, namun tak lama kemudian cahaya menyilaukan tampak dari kejauhan. Kakinya sontak melompat kecil "Ini pantulan cahaya matahari di air! Di mana ada air pasti ada kehidupan!"
Gadis itu mengikuti arah pantulan cahaya tersebut, rupanya sebuah sungai yang tak begitu dalam. Luz mengikuti arus sungai mengalir, berharap akan ada suatu kediaman kumpulan manusia yang bisa ia temui.
Beberapa menit berjalan, suara riuh membuat Luz menghentikan langkah, dibalik semak rumput liar yang menjulang tinggi tersebutlah asal suaranya.
Ia hampir saja mendatangi kebisingan tersebut sebelum menyadari sesuatu "Aku harus melihat situasi dulu, orang-orang itu tampaknya tak begitu baik," gumamnya, setelah mengintip keriuhan itu datang dari para pria berpakaian serba hitam yang tampaknya tengah menikmati hewan liar hasil buruan.
"Sebaiknya abaikan mereka," Luz kembali melanjutkan perjalananya, namun lagi-lagi ia mendengar suara teriakan, hanya saja seperti suara perempuan.
"Abaikan Luz... bukan urusanmu juga!" Luz membentak dirinya sendiri.
Gadis itu memutar arah yang dituju, tanpa tahu seseorang tengah membutuhkan bantuan di sana.
...---...
Berkeliling ke setiap sudut desa sudah Hareen lakukan, bertanya ke para warga juga sudah, tentunya dengan tak menyebut nama Luz.
Tapi gadis bernama Ereluz itu sama sekali tak ditemuinya "Atau mungkin Luz benar-benar Puteri Kastillia yang hilang itu ya? Barangkali dia kembali ke kerajaannya."
Lelaki itu berteduh di bawah pohon pinus, seraya menunggu kudanya yang juga kelelahan, tengah memakan rumput.
"Hareen! Ternyata kau di sini!" Seru Xiangjun dan Elmir yang datang bersamaan, ditambah Arabel yang bergabung menunggang kuda bersama Elmir.
Raut terkejut dari lelaki itu tak bisa menyangkal pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera teman-temannya lontarkan "Kenapa kalian mengikutiku?"
"Kami sudah tahu, Arabel menceritakan semuanya..." Jawab Xiangjun yang tampak kesal "Kenapa kau tidak bilang kalau di rumahmu ada seorang Puteri mahkota! Aku bisa saja tutup mulut, asalkan Puteri itu yang menyuruhku."
Hareen menghela napasnya kesal, seraya menggulirkan bola mata menajam ke arah Arabel.
"Ma-maaf Hareen, aku terpaksa menceritakannya pada mereka. Lagi pula kita semua kan teman, tidak mungkin Elmir dan Xiangjun ikut melaporkanmu pada kerajaan hanya karena menemukan seorang Puteri yang tersesat," Arabel tertunduk menyesal.
"Kami tidak akan berbuat aneh-aneh, tenang saja," lanjut Elmir meyakinkan.
Lagi-lagi Hareen merasakan sakit kepala, mengapa senua orang mempercayai kalau Luz adalah Puteri Sierra "Dengar ya, yang sudah ku selamatkan itu namanya Ereluz, dia hanya gadis kampung biasa. Bukan Puteri kerajaan manapun."
"Tapi lukisannya--"
Hareen menyela perkataan Arabel "Itu hanyalah lukisan, seorang pelukisnya bisa saja membuatnya tidak begitu mirip dengan Puteri Sierra."
"Tapi pengawal itu bilang, lukisannya dibuat semirip mungkin," sahut Xiangjun.
"Kalau begitu bantu aku mencari Luz, kita buktikan."
Arabel mengangkat sebelah alisnya "Mengapa kau terlihat peduli sekali pada Luz? Bahkan rela sampai keliling hanya untuk mencarinya."
Mendengar kata 'hanya' yang Arabel ungkapkan, Hareen sontak mengeraskan rahang. Bagaimanapun, Luz juga manusia, kalau dia sendirian di hutan bisa mati dimakan hewan buas "Hanya kau bilang?! Dia manusia! Bukan hewan! Nyawa itu berharga."
Arabel tersentak mendengar bentakan itu, teman lelakinya tersebut, sebelumnya tidak pernah membentak sama sekali. Apalagi dilihat dari raut wajah, ia begitu marah. Bahkan urat-urat keningnya sampai memerah mencuat.
Hareen menyadarinya, kedua teman lelakinya tampak memasang tampang keheranan sedangkan Arabel menunduk ketakutan "Luz sudah seperti saudaraku, makanya aku peduli. Dia bukan gadis jahat, aku senang dengan keberadaanya," lanjut Hareen dengan suara lebih pelan.
"Sepertinya perempuan bernama Luz ini sudah sangat akrab denganmu. Kami tidak keberatan sama sekali untuk membantumu mencarinya."
Arabel menarik baju bagian lengan milik Elmir lantas berbisik pelan "Kita pulang saja."
"Arabel! Ini semua karena kau juga! Bagaimana bisa kau menyimpulkan Luz adalah Puteri Sierra, aku menyesal mempercayaimu!" Tatapan Hareen tampak mengeluarkan amarah.
'Ini semua karena Luz!'
...---...
"Ouhh!! Ibu... aku lelah! Lelah hidup di sini! Tolong pulangkan aku sekarang bu..., aku janji akan menjadi anak baik..." Keluh Luz mengiringi setiap langkahnya.
Hari sudah mulai gelap dan Luz tidak menemukan perkampungan sama sekali.
"Siapapun kau, tolong aku!"
Jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak saat menengar jeritan minta tolong yang entah berasal dari mana.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki berlari dengan terseok-seok "Hei kau! Tolong aku! Tolong!"
Luz terkejut penuh kebahagiaan melihat wajah lelaki itu "Hareen! Astaga... akhirnya, kita bertemu!" Serunya sembari berlari ke arah lelaki yang ia panggil Hareen tersebut.
Meski matanya agak buram, tapi Luz bisaengenali kalau orang yang berlari ke arahanya adalah Hareen.
"Lupakan! Bantu aku lari! Ada babi hutan mengejar! Ya ampun!"
Luz tiba-tiba berlari lagi, namun ke arah sebaliknya. Meninggalkan Hareen yang terseok-seok kesulitan berjalan "Sialan! Bantu aku!"
Luz berbalik lagi, merasa bimbang karena babi itu terlihat mengerikan dan mempunyai ukuran tubuh cukup besar. Pada akjirnya mau tak mau ia mengambil runtuhan dahan pohon yang cukup besar lantas balik mengejar babi hutan mengerikan tersebut.
Binatang itu tampak ketakutan dan berbalik, hanya saja Luz sudah terlebih dulu memukulkan dahan tersebut ke kepalanya, hingga tumbang.
Luz tidak berhenti bahkan sampai kepalanya berlumuran darah.
"Sudah..sudah! Hewan itu sudah mati!"
"Tidak, sebaiknya bunuh sampai benar-benar hancur, bagaimana kalau dia hidup lagi?"
Seusai kepala babi itu hancur, Luz baru menghentikan kegiatan sadisnya. Baju yang ia kenakan juga terkena darah, membuat tampilannya yang sebelumnya rapi jadi kusut, lusuh, dan kotor.
Gadis itu melempar kayu pemukul tersebut, dan menghampiri lelaki dengan balutan baju pasien. Luz sama sekali tak menyadarinya "Hareen, untunglah kita bertemu di sini."
Lawan bicarannya mengangkat salah satu alis "Hareen? Aku bukan Hareen, namaku Reagel."
Gadis itu pun mengusap mata, apa yang ia lihat saat ini tak lain tak bukan adalah Hareen, dia lelaki itu. Seburam-buramnya mata Luz, masih tetap bisa mengenali seseorang dari rupa fisiknya "Hey... tapi wajahmu, aku tidak salah lihat..."
"Siapa namamu?" Lelaki itu balik bertanya.
"Kenapa kau bertanya begitu? Hei?! Apa! A-apa, ada berapa manusia yang sama sebenarnya huh?!" Luz sontak berteriak kebingungan, seperti yang dikatakan Einne dan Arabel kalau dirinya serupa dengan Puteri Sierra, saat ini ia bertemu dengan Reagel yang serupa dengan Hareen.
Lagi-lagi Luz harus memijat pelipisnya, sebenarnya ada apa dengan dunia. Mengapa mempermainkan waktu seperti ini, dan kenapa harusnya Ereluz yang menjadi korbannya.
"Baiklah... Reagel, jadi apakah kau juga dari masa depan?"
Lelaki yang serupa dengan Hareen itu malah terlihat terkejut "Apa kita sama?! Ka-kau siapa? Aku Reagel Venus dari Barcelona yang seharusnya ada di tahun 2020."
Luz menangkup pipinya sendiri "Aku Ereluz, harusnya juga di tahun 2020... kita sama!!!"
TBC
THANK'S FOR READING💘
Makasih udah mampir ya teman2, jangan segan buat berkomentar kalau ada kesalahan pemahaman yang ku tulis.