Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Hareen atau Reagel



"Dulu, aku sakit, sudah di diagnosis kanker paru-paru sampai stadium terakhir. Karena tidak tertolong, aku rasa aku sudah mati, samar-samar mendengar bunyi elektrokardiogram yang jelas-jelas menunjukkan jantungku sudah tidak berdetak lagi."


"Aku juga begitu, tapi karena kecelakaan lalu lintas. Yang ku ingat hanya, dadaku sesak dan berhenti bernapas. Ku pikir juga sudah mati."


"Di mana kau tiba, saat baru datang ke dunia ini?"


"Di hutan, tiba-tiba saja aku sudah terjatuh entah dari mana."


Reagel, lelaki yang menyerupai Hareen itu mengajak Luz untuk membuat tempat bermalam, hanya dilandasi daun dan dipayungi daun juga. Setidaknya mereka bisa berlindung jika ada binatang liar yang tiba-tiba datang.


"Kau sendiri, Reagel? Di mana kau tiba?"


"Di rumah pria tua. Aku tak tahu dia siapa, tapi orang itu punya mesin-mesin aneh, ruangannya juga di bawah tanah," jelas Reagel "Tapi, saat aku bangun, sudah berada di tabung besar. Tidak sepertimu, datang dalam keadaan sadar."


"Lalu kenapa kau bisa sampai sini? Kita... sama-sama tersesat."


"Aku kabur, pria itu seperti orang gila. Mengurunku di dalam ruangannya tanpa cahaya, makan seadanya, aku diperlakukan seperti hewan. Untung saja, waktu itu keadaan lengah aku jadi bisa lolos. Oh ya Luz, sebaiknya sekarang kita cari buah, aku lapar," tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang berasal dari perut lelaki itu, sontak mendatangkan tawa dari keduanya.


"Ada babi tadi, kenapa tidak dimasak?" Tanya Luz seraya menunjukkan bangkai babi yang sudah dibunuhnya. Kepalanya memang hancur lebur, tapi badannya masih bagus dan berisi.


"Aku tidak mau makan hewan liar! Apalagi aku tak bisa menyalakan api. Apa iya harus dimakan mentah."


"Iya juga, kalau begitu sebaiknya kita segera cari makanan, sebentar lagi malam tiba. Aku merinding kalau lihat keadaan malam hari di hutan," ajak Luz, mulai berjalan ke arah ia inginkan. Angin yang berhembus kencang, sesekali membuatnya mengusap lengan. Di luar begitu dingin.


"Oh ya, Luz. Sudah berapa lama kau ada di sini?" Tanya Reagel membuka pembicaraan lagi.


"Sudah dua minggu lebih, mungkin. Aku tidak tahu, tidak begitu menghitung hari, kau sendiri?"


"Berarti aku lebih lama darimu, aku sudah sebulan di sini."


"Kenapa begini ya? Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kita? Aku jadi bingung."


"Sebenarnya Luz, semua jawaban sepertinya ada di rumah pria yang mengurungku. Aku tahu sekarang adalah tahun 1400-an, tapi di rumah pria itu banyak mesin-mesin aneh yang memang terlihat canggih, sedangkan saat ini teknologi belum marak. Kalaupun memang sudah ada belum secanggih yang ku lihat di rumah pria tua itu."


"Benda apa saja yang kau lihat? Kenapa sepertinya yakin sekali kalau jawaban keberadaan kita ada hubungannya dengan itu?"


"Ya selain saat pertama kali sadar, aku berada di sana. Ruangan itu terlihat seperti laboratorium fisika di fakultasku dulu, bahkan saat baru sadar, aku tidak berpikir sama sekali kalau sedang berada di masa yang lain. Malah ku pikir masih di ruang operasi."


Luz tiba-tiba memegangi sisi kanan kepalanya "Euhh Hareen, aku semakin pusing."


"Aku Reagel," ralat si pemilik nama.


"Habisnya kalian seperti anak kembar, tinggi sama, besarnya sama, semua sama, hanya model rambut yang membedakan," kata Luz seraya menelisik tubuh Reagel dari atas sampai bawah, juga mengingat-ingat fisik Hareen. Mereka sudah seperti kloningan.


"Pokoknya, aku harus bisa cari tahu di rumah pria itu. Kejelasannya ada di sana, dan dengan itu pula, kita bisa saja kembali ke era kita, tahun 2020."


Mendengar kata 'pulang', membuat mata gadis itu berbinar. Seperti ada harapan yang datang tiba-tiba "Pulang? Kembali pulang ke rumah kita? Aku ke Aragon, dan kau ke Barcelona? Aku mau ikut... aku akan membantumu."


Reagel tiba-tiba menundukkan kepala "Tapi jangan terlalu senang, aku kan juga tidak tahu caranya. Aku hanya berspekulasi, kalau kita bisa datang tandanya kita juga bisa pulang."


"Bagaimanapun, aku ikut denganmu. Sampai kita pulang bersama."


Reagel mengangkat jari kelingkingnya "Janji? Ayo berjuang untuk pulang. Tapi sekarang aku lapar!"


...---...


Semua pertanyaan tentang Luz terus muncul di pikirannya. Sampai-sampai tak bisa tidur dengan tenang "Luz tidur di mana ya? Ck! Merepotkan! Kenapa dia tidak segera kembali kesini?!"


"Kakak jangan teriak-teriak!" Bentak Hefaisen yang terusik tidurnya. Sang kakak tak hentinya mengumpat dan bicara sendiri terlalu keras, anak kecil itu jadi terganggu.


"Diam!" Balas Hareen tak kalah kesal.


"Kak Luz akan baik-baik saja," celetuk Hefaisen yang kembali memejamkan mata.


"Dari mana kau tahu kalau dia akan baik-baik saja?"


"Tidak tahu!"


Hareen mendengus, tanpa pikir panjang langsung memukul kepala adiknya dengan kasar.


Anak kecil itu meringis seraya memegangi dahi "Kak Luz bukan orang yang berbahaya, dia tidak akan dicelakai orang lain!" Kata Hefaisen, demi meyakinkan kakaknya.


"Tapi kalau dia di hutan, bisa saja dicelakai hewan buas."


"Dia bukan orang yang lemah," Hefaisen lantas menyamankan posisi "Jangan bicara padaku, ini sudah malam. Aku mengantuk!"


Hareen terdiam, apa yang Hefaisen katakan mungkin ada benarnya. Luz sepertinya bukan orang yang lemah, bukan orang yang pasrah, hanya saja mudah putus asa.


"Astaga Luz... kau membuatku pusing. Di mana pun kau berada, semoga senantiasa sehat."


...---...


Luz dan Reagel selesai memakan apel dan alpukat hasil temuan, karena buahnya banyak, keduanya jadi tidak tega pergi jauh-jauh, kemudian akhirnya membuat sarang baru di bawah pohon alpukat tersebut.


"Reagel, kalau dipikir-pikir. Kita ini harusnya sama-sama sudah mati kan?" Celetuk Luz.


"Mungkin memang seperti itu, aku merasakan kematian."


"Dan aku selalu berpikir, apakah ini balasan atas kehidupanku sebelumnya. Jadi, sebenarnya aku adalah manusia yang buruk, sangat... buruk. Di sini, aku banyak mencoba hal-hal lebih baik yang tidak pernah ku lakukan di dunia sebelumnya."


"Aku tidak pernah merasa buruk, tapi kehidupan lamaku selalu dihabiskan untuk terapi dan berobat, semuanya itu dilakukan dengan tidak ikhlas, karena aku masih terus menyalahkan tuhan atas penyakit yang ku derita. Tapi tetap saja kan? Aku tidak pernah berbuat buruk."


Luz berdecak "Tapi kau menyalahkan tuhan atas penyakitmu, harusnya kau memperbanyak berdoa dan memohon, bukannya malah menyalahkan."


"Iya, benar juga. Apalagi ibu dan ayahku juga sangat berharap aku sembuh, hanya saja aku memang tidak berniat sembuh, ku pikir semuanya akan sia-sia. Terapi jadi asal-asalan, obat juga jarang ku konsumsi."


"Kau bilang tidak pernah berbuat buruk, tapi itu buruk, kau menyalahkan tuhan dan mengecewakan orang tuamu."


"Dan kita sama-sama diberi pelajaran di kehidupan kedua ini?"


*TBC


THANK'S FOR READING💘*