Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Your Beauty Is Not Your



Suara ketukan dari pintu membangunkan Luz yang tengah merebahkan diri membayangkan keadaan ponselnya, hidup tanpa benda pintar itu sangat membosankan dan juga rumit, apa-apa serba manual. Kalau saja seandainya setelah ia mati, dihidupkan kembali di era kemajuan teknologi dan internet sangat pesat. Mungkin itu akan sangat menyenangkan. Hidupnya akan lebih mudah dan terjamin, tanpa perlu repot-repot menghabiskan energi.


Luz melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, rupanya sudah berdiri sang raja alias ayah Sierra di hadapannya saat ini, sambil membawa buku-buku tebal.


"Sierra, sebelum resmi menjadi ratu Aragon. Ada beberapa hal yang harus kau lakukan untuk memastikan kau pantas menjabat sebagai ratu. Pertama-tama, kau harus memulainya dengan pelatihan bahasa, di setiap kawasan Aragon dan Kastillia, beberapa memiliki bahasa lokal. Sebagai seorang ratu, kau harus berusaha bisa berkomunikasi dengan mereka," jelas sang raja Kastillia sembari memberikan setumpul buku tebal tersebut, yang terbuat dari kertas papyrus.


Melihat sampul benda persegi berahalaman itu saja sudah membuat sang puteri palsu merasa jenuh, membayangkan bagaimana otaknya akan menampung berbagai macam bahasa. Selama hidupnya pun, Luz hanya bisa berbahasa spanyol resmi dan inggris yang hanya sebatas kata dasar. Bagaimana mungkin ia harus merelakan waktunya habis untuk membaca buku, sedangkan harusnya ada media sosial di ponsel yang lebih berharga.


"Apa aku harus menghafalkan semua ini?" Ia bertanya seraya membuka salah satu buku, yang mana tulisannya sangat kecil merentet bagai rombongan semut hitam mencari makan.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir putrinya, sang raja menengok sekilas "Bukankah kau sudah menghafal sebagian? Apakah hilang di hutan membuat ingatanmu juga agak menghilang?"


"Mungkin,"


"Ah, kau ini. Jangan bercanda. Ya sudah, belajarlah dengan baik supaya kau dapat menguasainya. Ingat, Juan suka gadis yang pintar," goda ayah, kemudian. Hanya untuk melihat ekspresi malu yang putrinya tunjukkan sewaktu membahas pangeran termuda dari Aragon.


Tapi kali ini memang bukan Sierra, Luz memasang wajah santai ketika pembicaraan perihal Juan dimulai. Tidak ada yang spesial walau Luz juga sudah terpikat, memang ia hanya suka dengan wajahnya yang sangat rupawan mencapai kata kesempurnaan.


"Biasanya telingamu akan merah jika aku menyebut nama calon suamimu."


Luz gelagapan, kedua tangannya seketika menutup daun telinganya "Oh? Mungkin ayah tidak sadar."


"Ya sudah tidak perlu ditutupi," ujarnya seraya menurunkan tangan putrinya yang sedang melindungi telinga. Pada saat itu juga ia sadar kalau sang puteri mahkota tak memiliki tindik telinga "Sierra, bukankah kau punya tindik telinga di kedua daun telingamu?"


Panik, lagi-lagi Luz khawatir menghadapi keadaan. Ia tidak boleh ketahuan dalam waktu dekat, ia belum banyak menikmati dunia kerajaan ini. Bagaimana mungkin harus ditinggalkan begitu saja, dan nantinya malah menjadi buronan, "S-sudah hilang. Ah iya, orang Aragon membuat lubang di telinga bisa hilang. Jadi aku tidak perlu memakai anting-anting lagi."


Sang ayah masih merasa curiga "Kenapa kau menghilangkannya? Setiap perempuan pastinya harus memakai anting-anting."


'Alah sial, bagaimana kalau dia menyuruhku menindik, aku kan tidak pernah punya tindikan sama sekali. Itu pasti sangat sakit!'


"Tapi kalau itu kemauanmu ya tidak apa-apa, ayah tak masalah kalau tindiknya dihilangkan. Tapi ibumu... sangat suka kau memakai anting, apa tidak sebaiknya di beri tindik lagi?"


Luz tertawa canggung menutupi kepanikannya "Sepertinya tidak perlu, telingaku selalu sakit saat memakai anting. Jadi sebaiknya tidak usah di pakaikan."


Tanpa banyak bicara lagi, raja Kastillia atau ayah Sierra yang asli itu pun keluar dari kamar putrinya, menutup pintu perlahan sambil menghela napas panjang. Perasaanya selalu campur aduk saat melihat anaknya setelah sekian lama hilang di hutan. Mereka seperti sangat jauh, tidak ada ikatan kekeluargaan sama sekali. Seperti Sierra yang saat ini memanglah bukan anaknya.


'Memang banyak sekali keanehan setelah dia kembali, Sierra... seperti bukan Sierra. Tidak mungkin kalau ingatannya ikut hilang, aku harus memastikannya sendiri kalau Sierra baik-baik saja."


"Selama ini di Aragon kau yang paling dekat dengan Sierra kan?" Tanya Amer, matanya tak lepas dari Juan yang masih meneguk air madu di cangkir, usai lelaki bergelar pangeran termuda itu.selesai dengan kegiatannya. Barulah Amer melanjutkan perkataannya, "Raja Alendro mengirim salah satu utusan, ia menyampaikan surat ini. Katanya berisi tentang Sierra-mu."


Ia mengambil surat tak resmi yang dikirim dari Kastillia untuknya, lantas membuka isinya dan membaca seksama.


Juan baru membacanya, beberapa kalimat tapi sudah terhenti, dan malah menatap heran pada Panglima Amer "Kau yakin ini dari Kastillia? Raja Alendro yang mengirimkannya sendiri?"


"Iya, salah satu utusannya datang menemuiku. Untuk menyampaikan surat itu secara diam-diam. Aku mengenal orang yang diutus Raja Alendro."


Sulit memercayai surat yang datang tiba-tiba, terlebih atas nama kerajaan, kalau surat resmi yang dikirim, pasti memiliki cap khas atau simbol dari kerajaan tersebut. Pengirimannyanpun dikhususkan, dan dijaga ketat atas nama pengirim dan penerima.


"Kalau kau tidak yakin, samakan tulisannya dengan surat-surat resmi yang pernah datang dari Kastillia."


"Surat-surat yang datang secara resmi disimpan di ruang ayahku. Mana bisa mengambilnya untuk alasan sepele."


"Kau kan calon raja baru."


"Tapi ayahku tetap atasan, dia senior."


Amer mendengus "Terserah!"


Juan kembali melirik surat tersebut, yang menuliskan Raja Alendro agak kurang nyaman dengan putrinya, Sierra. Dia memang Sierra, tak ada anehnya dari fisik, namun sikap itu terlihat begitu jelas, kalau Sierra yang sekarang tak seperti Sierra biasanya. Itu terjadi semenjak ditemukannya gadis itu, setelah menghilang tanpa jejak.


Orang yang pertama kali menemui Sierra, di mana orang itu sangat mengenal Sierra adalah Juan sendiri. Perasaannya memang aneh, ada kerinduan tapi seperti ada sesuatu yang menghalanginya. Cantiknya masih sama, tubuhnya juga masih bagus, tapi entah mengapa perasaan Juan mulai memudar ketika melihatnya ditemukan. Bukannya tak bahagia atau tak bersyukur, namun, cinta yang selama ini dijalin seketika menghilang.


Juan selalu menyangkal perasaanya sendiri, ia hanya berpikir kalau hal itu adalah efek kepergian gadis itu dari hidupnya, walau tak sampai satu tahun, setiap orang pun bisa kehilangan perasaan kasih sayangnya. Juan mengiranya begitu, tak melampaui lebih. Seperti memikirkan kalau Sierranya yang sekarang bukanlah Sierranya yang dulu.


Layaknyang yang tertulis dalam surat tak resmi dari Raja Alendro pemimpin kerajaan besar Kastillia, dia mencurigai jika putrinya bukanlah putrinya, meski fisik mereka sama persis, tapi sikap tak bisa membohongi. Raja Alendro adalah ayahnya, yang berperan besar mengasuh Sierra sejak kecil, mengetahui perkembangan sikapnya dengan baik.


'Aku juga merasakan perbedaan sikap Sierra setelah dan sebelum dia hilang di hutan. Tapi, mana mungkin dia bukan Sierra, tidak mungkin ada dua orang yang sama persis.'


TBC


THANK'S FOR READINGā¤