
Juan terdiam kaku menatap wajah Sierra dari bawah, seperti ada sesuatu yang hilang. Entah mengapa kini ia juga tak merasakan jantungnya berdebar, seperti dulu saat ia sering memperhatikan gadis itu diam-diam.
Meragukan perasaan aneh yang kian melingkupi dirinya, sebelah tangan Juan terulur ke atas. Membelai lembut pipi hingga dagu gadisnya.
Kali ini lebih meragukan, lelaki itu sontak melepaskan tangannya dan menjauhkan diri dari sosok puteri mahkota yang masih mematung di tempat.
Di sisi lain, Luz tampak kaku bahkan seolah tak dapat bergerak sama sekali hanya karena peristiwa beberapa detik lalu. Dirinya mengakui kalau ia memang seirang perempuan, yang pastinya tertarik pada lelaki. Tapi siapapun akan meleleh jika diperlakukan seperti ini 'Dia memang tampan, tapi aku tak boleh menyukainya...' Luz membatin sedih dalam hati. Kalaupun memang ia harus menyukai Juan, tentu saja bisa, lagipula Sierra yang asli pasti sudah mati, kesempatannya untuk benar-benar menggantikan puteri mahkota itu sangat besar.
Kalau Luz menyukai Juan, begitu pula sebaliknya, tidak akan ada yang dirugikan juga. Malah akan saling menguntungkan.
Juan menggaruk lehernya, saat Luz mengangkat kepala untuk membuat kontak meta dengannya "Aku masih banyak pekerjaan, lanjutkan istirahatmu, aku akan pergi."
Lelaki yang sebentar lagi bergelar raja Aragon tersebut sudah mulai melangkahkan kakinya menjauh. Menuju pintu kamar yang ditempati puteri mahkota.
Tapi baru beberapa detik, tiba-tiba langkah kakinya terhenti secara spontan.
Sebuah tangan kecil melingkar erat di perutnya, deru napas pelan juga terasa menghangatkan punggungnya yang hanya terlapis kemeja "A-aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Juan."
Sungguh untuk saat ini, hatinya malah terasa sakit. Merasakan seseorang yang kini te gah bersamanya, bukanlah orang yang ia harapkan. Walaupun fisik mereka sama, namun hati tetap bisa membedakan. Bukan ingin berprasangka buruk tentang Sierra, apa yang Juan rasakan sekarang malah tampak menakuti perasaan gadis itu.
Juan melepas cekalan tangan gadis itu secara perlahan, lantas merubah posisinya menjadi berbalik. Untuk balas memeluk Sierra-nya.
Apapun yang terjadi, Sierra adalah Sierra, yang kali ini dirasakan hanyalah efek dari kesedihan atas perginya gadis itu selama berbulan-bulan.
...---...
Luz mendengus pelan setelah sang pangeran termuda keluar dari kamarnya. Apa yang terjadi di sini, seperti sebuah perasaan yang tak terbalas, kelihatannya Juan memang sama sekali tidak menyimpan perasaan lebih pada sosok Sierra.
Ada begitu banyak pertanyaan di otaknya, yang entah bisa ditujukan pada siapa. Tidak ada irang yang dapat ia percayai selama hidup di kerajaan ataupun dunia ini. Seperti salah satunya yaitu tentang hubungan dirinya dengan Sierra yang asli.
Mengapa mereka begitu mirip hingga membuat banyak orang tertipu, atau bahkan satupun tidak ada yang bisa membedakan. Luz bukan tipe yang suka mempercayai hal-hal berkaitan dengan sihir, seperti terlahir kembali.
Tapi ia manusia yang percaya dengan ilmu pengetahuan. Semakin tua usia bumi, semakin maju peradaban yang dikembangkan manusia, tidak ada hal yang bisa dibantah dari keberhasilan ilmu pengetahuan.
Apalagi mengingat pembicaraan Reagel dan Kakek Feuji, waktu itu. Jika dirinya kemungkinan besar sudah melewati dimensi empat untuk menuju era lain dari eray yang sebelunmya ia tempati.
Luz percaya, sangat mempercayai hal itu karena hanya itu yang paling logis dan kemungkinan bisa dibuktikan menggunakan rumus. Kalau berkaitan dengan sihir, tentu tidak mungkin karena penjabarannya pasti hanya mengenai mukjizat, yah... kalau hidup di tahun satuan atau puluhan masehi, mungkin sihir itu memang menjadi gaya hidup masyarakatnya yang memang dekat dengan kemampuan tak kasat mata.
Masa bodoh dengan apapun yang terjadi sekarang. Luz memegangi dadanya mengingat perlakuan Juan tadi, seperti ada sesuatu yang sedang melayang-layang dalam tubuhnya.
Pangeran itu mulai berhasil mengambil hatinya, tapi bagi Luz, cara Juan menatap dirinya sebagai Sierra, sama sekali tak ada rasa cinta. Mungkin hanya kasih sayang sebagai sesama manusia, atau lebih kepada seorang kakak laki-laki pada adik perempuannya.
Sederhana, Luz hanya mau kebahagiaan duniawi.
...---...
Hareen tercekat saat baru saja keluar dari tempat penginapan. Di sana, di hadapannya terdapat tanah lapang yang biasanya digunakan untuk acara-acara besar kerajaan.
Tapi kali ini tempat itu sepi, namun dihiasi pemandangan langka seorang puteri mahkota yang tengah duduk diam sembari menatap ke bawah, tepatnya ke arah rerumputan yang diinjaknya.
Hareen tak bisa meyakini siapa sosok itu, ia selalu beranggapan kalau dia adalah Ereluz, temannya. Tapi bagaimana, di sini orang itu adakah puteri mahkota, jika ia dengan lancang mendekatinya untuk mengajak bicara sebagai irang asing sekedar mampir, bisa-bisa kepalanya langsung dipenggal seketika. Dunia kerajaan memang kejam.
Karena tak bisa mendekatinya, Hareen memilih memandangi gadis itu dari tempatnya kini. Di kurai rotan yang memang disediakan di depan penginapan.
Bibirnya gatal sekali, untuk memanggil sosok putri mahkota dengan nama Luz.
"Mengapa mereka begitu mirip?" Hareen memilih bergumam sendiri ketimbang mendapat masalah saat nekat mendekati puteri mahkota yang ia kira Luz "Wajahnya sangat mirip dengan Luz..., dan bagaimana Puteri Sierra tiba-tiba ditemukan? Bukankah aneh, apa perempuan itu memang Luz? Ck! Ya ampun..."
Suara benda jatuh mengejutkannya, rupanya hanya Elmir yang bergabung dengan secangkir minuman cokelat, ia mendengar rancauan Hareen sebelumnya "Atau apa yang dikatakan ibumu benar? Kalau Luz yang pernah tinggal di rumahmu itu adalah Puteri Sierra, mungkin dia sedang ada masalah makanya kabur, dan akhirnya bertemu denganmu."
"Kalau dia adalah Luz yang pernah tinggal di runahku, kenapa sama sekali tidak menyapa ya... apa dia sudah melupakanku?"
Elmir berdecak keras, sampai membuat lawan bicaranya mendengus sinis "Bagaimana mungkin dia membeberkan kejadian sebenarnya. Ah, kau ini jangan terlalu terpengaruh kecantikan Luz, karena nyatanya dia memang seorang puteri mahkota. Lagi pula masih ada perempuan lain yang menunggu pernyataan darimu."
Lagi-lagi Hareen mendengus, kali ini dengan nada kesal "Harus berapa kali lagi ku bilang kalau aku tidak menyukai Luz sebagai wanita? Aku sudah menganggapnya seperti saudara perempuanku sendiri, makanya aku begitu khawatir padanya."
"Tapi kau ter--"
"Permisi."
Ucapan Elmir terhenti seketika, dua lelaki itu melongok secara bersamaan ke sumber suara. Detik ini juga Hareen merasakan jantungnya hampir melompat keluar, ketika menyaksikan betapa cantiknya sosok puteri mahkota dengan gaun merah muda dan riasan tipis di wajanhnya, juga beberapa perhiasan yang terpasang antik di tubuhnya.
Sungguh pemandangan yang sangat sempurna.
Memang serupa dengan Luz, tapi ketika memakai riasan, wajahnya terlihat lebih cerah dan sangat luar biasa. Seperti bukan manusia, melainkan seorang dewi yang turun langsung dari kahyangan.
TBC
THANK'S FOR READING💘
damage-nya cewek yg gak pernah bedakan, kalo sekalinya di dandanin emg waw bgt ges! langsung memikat. kek gw😳