
Sepulang dari tempat penelitian di gedung bekas pertambangan milik ayahnya, Julian pergi membeli karangan kecil bunga tulip. Ia kemudian membawanya menuju tempat pemakaman umum.
Hari semakin gelap, sinar matahari yang terik sudah meredup, lantas digantikan oleh pantulan cahaya matahari yang sampai ke bulan. Namun, hal itu tak menjadi halangan untuknya mengunjungi makam sang ibu. Sudah bertahun-tahun ia tak datang, hanya karena menuntut ilmu di negeri orang.
"Wah, bulannya indah ya," Julian bergumam tepat saat baru sampai di pusara bertuliskan Elena Girasol.
Matanya belum bisa memandang secara dekat tempat bersemayam milik ibunya, jadi ia hanya mampu mendongakkan kepala sambil memandang bulan berbentuk lingkaran penuh.
Kalimat 'bulan yang indah', bukan semata-mata merujuk pada tampilan fisik satelit alami milik bumi itu, melainkan terkait frasa lain yang mengartikannya dengan 'aku mencintaimu.' Sebagaimana ia cinta dan sangat rindu pada wanita yang sudah melahirkannya.
Tak kuat lagi, Julian akhirnya duduk seraya melihat makam tak terawat milik ibunya, sudah jelas sangat jarang dikunjungi. Ia seketika merasa berdosa sebagai anak, membiarkan ibunya sendirian di rumah terakhir hang sangat kotor seperti ini.
Julian lalu mulai membersihkan rerumputan liar, daun-daun kering dan mengganti bunga yang sudah layu dengan yang baru.
Perlahan tangannya terulur mengusap nisan marmer tersebut, sembari terus berusaha menahan hawa kesedihan yang mulai datang, "Maaf aku baru bisa datang sekarang. Aku memang anak yang buruk, ku mohon maafkan aku."
Mengingat betapa sedikitnya kenangan hidup dirinya dan sang ibu, Julian tak tahan lagi, ia pun mulai terisak lirih seraya menelungkupkan kepala ke nisan mendiang ibunya.
Menyadari posisi yang tidak mengenakkan saat berjongkok, ternyata terdapat ganjalan batu yang berada di bawah kakinya.
Julian mengernyitkan dahi melihat sesuatu di bawah kakinya tersebut. Sejenis batu giok yang cukup besar tertimbun tanah, dari pengetahuannya, batu itu punya nilai jual cukup mahal karena menjadi minat utama produk penjualan perhiasan.
Ia menggali dan menarik batu giok itu dari timbunan tanah, "Usianya pasti sudah sangat tua."
Seusai dapat tergali secara keseluruhan, dan melihat betapa uniknya batu tersebut yang memang sengaja diukir menjadi berbentuk seperti nisan. Bagian tengahnya juga terukir nama seseorang "Ju... an Sán Azar... con," eja Julian sembari membersihkan nisan tersebut agar bisa membaca ukiran tulisan yang tertera.
"King of Aragon kingdom?" Beonya kebingungan, usai membaca seluruh tulisan di nisan giok temuannya.
Di bagian sudut paling bawah juga terdapat tahun yang tertulis saat raja Aragon disemayamkan.
"Apa aku baru saja menemukan artefak?" Julian tersenyum sekilas, biasanya benda seperti ini sangat dicari-cari orang, kalau ia bisa menjualnya dengan baik, uang yang diterima bisa tidak main-main, "Aku tak perlu kerja sebulan kalau misalkan benda ini memang laku."
...---...
"Ap-apa ini?! Aku bahkan belum menghafal bahasa Spanyol di berbagai kawasan. Apa harus ditambah secepat ini?!" Murka Luz mati-matian.
Sebab, saat ini Selena yang diutus Raja Alendro ayahnya Sierra, menyuruh untuk kembali memulai kelas menyulam untuk remaja perempuan wilayah Kastillia.
Dulu, Sierra adalah guru para murid itu, sekarang pun Luz harus menggantikannya. Tapi sayang sekali, Luz bahkan tidak pernah berhasil memasukkan benang ke dalam lubang jarum yang begitu kecil. Bagaimana mungkin ia akan mengajari orang lain cara menyulam yang baik dan benar. Sungguh di luar dugaan, apapun yang dipelajari di dunia masa lalu ini adalah kesengsaraan baginya.
"Kenapa? Bukankah kau paling suka pelatihan ini?" Tanya Selena keheranan melihat reaksi sepupunya yang tampak sangat tidak menyukai kegiatan ini.
"Kau benar juga, tapi kalau mau protes, ya sampaikan pada ayahmu sendiri."
Luz menggerlingkan bola mata, kalau ia meminta keringanan lagi. Yang ada masalah akan sampai kemana-mana, ayah Sierra itu tidak akan mngijinkannya begitu saja, dia pasti bertanya macam-macam, dan akhirnya membandingkan antara Sierra sesudah dan sebelum hilang di hutan.
Dengan berat hati, Luz akhirnya terduduk menempatkan diri di hadapan Selena.
Gadis itu sudah mulai menggambar pola berbentuk bunga pada kain yang menjadi bahan utama penempatan sulamannya.
Luz perlahan mengikutinya diam-diam, ia tak bisa bertanya banyak karena takut Selena curiga.
"Apa yang akan kau buat?" Tanyanya, ketika melihat Luz hanya menggambar pola tanpa mengetahui benda mana yang akan ia sulam.
"Sulur tanaman," balasnya.
Selena berdecak, "Iya aku tahu, tapi pakaian atau kain mana yang akan kau beri sulaman?"
"Yang mana saja asal jadi," jawaban Luz semakin membuat Selena tidak suka. Luz tak menyadarinya kalau hal kecil seperti itu juga sudah menarik kecurigaan Selena.
Selena sudah kenal dekat dengan Sierra sejak mereka kecil, wajar saja, keduanya masih bersaudara dekat.
Sierra sangat lembut dan berhati-hati saat bicara, bertindak, atau bahkan ketika memandang seseorang.
Pertama kali melihat Sierra palsu yang kembali setelah hilang di hutan, Selena belum merasakan keanehan, tapi saat sudah saling mengobrol berdua seperti ini, ia baru sadar, Sierra sangat berbeda. Tertawa keras, memukul, tatapan tajam, dan bersikap acuh, itu semua menjadi titik utama kecurigannnya.
Alisnya menukik seraya memperhatikan Sierra alias Luz yang kini kesulitan memasukkan benang ke dalam lhbang jarum, "Sierra, apakah kau merubah kepribadianmu?"
Luz menghentikan kegiatan menjengkelkan tersebut, dan beralih menatap Selena. Sebenarnya hanya tatapan biasa, tapi yang terbaca oleh Selena, seperti tatapan mengintimidasi penuh amarah, seolah ia sedang diinvestigasi saat ini, "Maksudmu apa?"
"Ka-kau terlihat berbeda," uangkapnya, menelan ludah susah payah.
Luz berusaha merubah ekspresinya. Sebenarnya ia sendiri heran, kenapa sekua orang menganggap wajahnya selalu dipenuhi emosi, walaupun ia sedang tidak berekspresi sama sekali.
"Berbeda dalam artian apanya? Pakaian? Cara bicara?" Tanya Luz hati-hati, mempersiapkan kebohongan bagaimana lagi yang akan dijelaskan oelh mulutnya yang terlamoau ahli dalam hal seperti ini, "Sebenarnya, aku bertemu seseorang saat tersesat di hutan waktu itu, cara bicaranya agak aneh dan akhirnya itu mempengaruhiku. Sampai pada gaya berpakaian juga bagaimana pemakaian perhiasan pun menular padaku. Makanya aku terlihat berbeda setelah kembali. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa tertular cara bicara, berekspresi, dan gaya berpakaian orang lain. Tapi sungguh, waktu itu seperti sudah kehabisan ide, aku sudah putus asa kalau tidak bisa kembali pulang. Makanya aku mengikuti cara hidup seseorang itu agar bisa terus beradaptasi selama di hutan. Dan sampai akhirnya, yah... aku sangat bersyukur bisa kembali."
Selena mengangguk lega atas penjelasan saudari sepupunya, "Tapi, seseirng yang kau maksud itu siapa? Dan di mana dia sekarang? Kau harus berterima kasih padanya."
TBC
THANK'S FOR READING