Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
I'm from the future



"Siap-siap dengan eksekusimu, meski Aragon seringkali melarang hukuman mati bagi para pelaku kejahatan. Tapi kali ini kau mungkin tak lagi bisa dimaafkan. Sepertinya kau cukup cerdik, dimana Sierra yang asli?" Jevin tiba-tiba membalikkan tubuhnya, lalu meraih leher Luz hingga gadis itu merasa tercekik.


Luz balas mengancam, "Jangan membunuhku di sini. Kau tak punya bukti yang jelas, dukunganmu dari Selena saja tidak akan membantu membuktikan kalau aku bukan Sierra."


Jevin tiba-tiba melepas cekikannya, dan tersenyum penuh harapan besar, "Dari perkataanmu barusan sudah sangat membuktikan kalau kau bukan Sierra," ujarnya yakin, "Sepertinya kita punya tujuan yang hampir serupa, bagaimana kalau lebih baik kita bekerja sama, bukannya saling menjatuhkan."


Alis Luz tampak tertaut, namun beberapa saat kemudian ia tertawa sinis, "Sudah ku duga kau bukan kakak yang baik. Niatmu menjatuhkan Juan karena iri kan? Dasar muka dua!"


"Ya, dan kau menggantikan posisi Sierra karena takhta dan harta kan?" Luz melengos membuat Jevin sangat yakin akan kebenaran tebakannya, "Temui Juan, katakan kalau kau mau berpisah darinya. Atau aku akan memisahkan kalian secara tragis, seperti caramu memisahkan Juan dengan Sierra yang asli."


"Aku memang bukan Sierra, tapi aku tak memisahkan mereka berdua! Semua ini hanyalah kebetulan, dan aku mengaku kalau salah, aku memanfaatkan keadaan ini."


"Bagus, kau benar-benar mengaku," Sosok lelaki muda yang membawa busur dan panah muncul dari luar kereta, tatapannya sangat sendu dan prihatin tertuju pada Luz.


Luz pun tak kalah terkejut, 'Bagaimana bisa dia ada di sini', gadis itu menghela napas panjang sebelum berucap, "Pa-panglima Amer, bu-bukan seperti ini keadaannya."


"Panglima Amer, rencanaku membuatnya mengaku berhasil kan? Dia memang bukan Sierra yang asli," Jevin tersenyum miring, merasa rencananya telah berhasil, "Raja dan Ratu selalu mempercayakan apapun yang diucapkan Amer, makanya dia sudah bisa menjabat sebagai panglima padahal usianya masih muda. Dan kali ini kau tidak bisa mengelak lagi, Sierra palsu. Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya."


Panglima Amer memerintah pengawal dibelakangnya, dua orang membawa Luz keluar, kemudian mengikat kedua tangan dan kakinya. Lantas dimasukkan ke gerbong bagian belakang kereta kuda yang ditumpangi Amer, "Ikat dan masukkan dia ke gerbong kita."


Sebelum para pengawal lekas memasukkan paksa tubuhnya ke gerbong, Luz sempat melirik tajam Pangeran Jevin yang melambaikan tangan sambil mengeluarkan senyuman bahagia, "Sayang sekali, padahal aku suka Sierra yang palsu ini. Tapi syukurlah, semua lenyap satu-per satu, setelah Juan terfitnah, mereka akan saling mendekam di penjara bawah tanah," gumamnya pelan.


Berbeda dengan Luz, entah mengapa dirinya malah mulai terisak lirih saat ini, padahal dulu sangat anti tangis-menangis. Semakin lembut lingkungan yang melingkupinya, semakin rapuh pula hatinya. Luz jadi gampang tertawa dan menangis.


Keaadaan seperti ini lagi-lagi terjadi, seolah mengingatkan pada Sierra yang dibantai dan dimasukkan dalam peti kayu oleh para pasukan Galicia.


...---...


Fajar menyapu salah satu bagian di belahan dunia, termasuknya wilayah Aragon dan sekitar. Juan bersama raja muda Galicia, Ares Sailiver baru selesai berunding atas perdebatan panjang keduanya semalam. Hampir saja tidak ada ujung, tapi kemudian Juan berani membuat keputusan untuk memperbolehkan pasukan Galicia bermalam di Aragon beberapa hari sampai akhirnya menemukan orang-orang penipu yang kabarnya mencuri salah satu jenis barang impor bernilai tinggi asal Galicia.


Juan memberhentikan kudanya tepat saat dua kereta kuda yang salah satunya mengangkut dua gerbong memasuki wilayah istana. Dahinya semakin mengerut saat tampak Panglima Amer berada di salah satu gerbongnya, kemudian Pangeran Jevin tururt serta di kereta kuda ke dua.


"Saphir, bawa pasukan Galicia ke penginapan terlebih dulu. Lalu persiapkan pasukan untuk menjaga ketat mereka. Pastikan pasukan adalah orang-orang jujur dan bisa dipercaya," perintahnya pada salah satu orang kepercayaan kerajaan.


"Baiklah, tapi bagaimana kalau Raja Ares masih bersikeras melakukan pencarian hari ini?"


Juan kemudian mengikuti dua gerbong kereta kuda yang dinaiki Panglima Amer dan Pangeran Jevin, setelah memastikan Saphir membawa pasukan Galicia ke penginapan khusus. Masih di dalah satu bagian istana Aragon.


"Ada apa ini? Dari mana kalian?" Juan bertanya usai keduanya turun dari gerbong kereta masing-masing, tak lama kemudian Sierra palsu alias Luz diturunkan dengan keadaan terikat tangan juga kakinya, "Sierra? Hei! Kalian apakan dia?!"


Untuk kedua kalinya, Juan mengeluarkan aura intimidasi pada orang lain. Srbelumnya pada saat di mana Sierra dikabarkan hilang dan tidak ditemukan setelah sekian lama. Juan menghampiri Luz, ketika dua pengawal mencegahnya, mereka malah dipukul. Tampaknya kali ini Juan benar-benar marah.


Jevin mendecih melihat perlakuan Juan pada gadis penipu itu, dia melepaskan tali yang menjerat tubuhnya hingga membekas kemerahan, "Hei adikku tersayang, jangan asal marah dulu, dan jangan asal berpihak pula. Apa kau tahu siapa perempuan ini sebenarnya. Dia... penipu, kita semua dibohongi terutama kau."


Tanpa memedulikan ocehan kakak tertuanya, Juan menggendong Luz, berniat membawanya masuk ke istana melewati pintu belakang. Tujuannya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan orang mengapa Sierra kembali lebih awal dan mendadak, tanpa persiapan.


"Pangeran Jevin benar, dia bukan Sierra, melainkan penipu," timpal Amer membuat tubuh Luz semakin lemas, bahkan ia tak berani membuka matanya, terlampau takut akan reaksi Juan setelah ini.


Lelaki itu tampaknya tak mempedulikan ucapan Amer, ia hanya mematung sejenak, kemudian kembali melangkahkan kaki.


Jevin mendecih, "Kelihatannya dia tak terpengaruh sama sekali. Ayo Amer, sebaiknya kita ke ruangan ayahku."


Sedangkan di sisi lain, Luz merasa begitu bersalah. Dia sudah menipu orang yang benar-benar mencintai Sierra. Mengapa kehidupan keduanya juga sama saja, tak ada yang membuat Luz benar-benar bahagia secara harfiah.


"Apa kau menangis semalaman? Kantung matamu kelihatannya membesar dan menghitam."


Luz baru membuka matanya setelah Juan membaringkan dirinya di atas kasur. Lelaki itu hanya terdiam memandanginya tanpa mengatakan apapun, sedangkan Luz hanya tertunduk merasa bersalah sekaligus malu, "Mereka benar, aku bukan Sierra. Aku bukan puteri mahkota dari Kastillia."


Ekspresinya masih datar, seolah tak terkejut sama sekali atas pengakuan gadisnya yang ternyata palsu, "Lalu siapa kau? Jelaskan asal-usulmu dan bagaimana kau bisa semirip ini dengan Sierra?"


Tangan Luz gemetar, bagaimana lelaki itu akan menerima ceritanya yang mana berasal dari masa depan. Dia akan menganggap Luz gila, sama seperti reaksi Hareen dulu, "Apa aku bisa mempercayaimu?"


"Tentu saja."


"Jangan menganggapku gila karena aku akan juj sekarang," Juan mengernyit, namun sedetik kemudian dia mengangguk, "Aku bukan berasal dari sini, maksudku tahun ini. Aku lahir tahun 2003 dan berasal dari tahun 2020, usiaku 17 tahun. Suatu hari terjadi kecelakaan, membuatku terdampar di era ini. Aku tidak tahu bagaimana bisa semua hal ini terjadi, yang jelas aku bukan Sierra, namaku Ereluz, Ereluz Rivera."


TBC