
Matahari belum terbit, dini hari, Luz benar-benar pergi. Einne membawakannya tas anyam berisi uang koin dan beberapa pakaian.
Luz hanya bisa mengucap terima kasih saat berpamitan, ia tak tahu tujuan setelah ini bagaimana. Yang penting pergi, dan tidak membahayakan Einne juga keluarganya.
"Terima kasih sudah mau membantuku, maaf merepotkan, bibi jadi keluar banyak uang."
"Tidak, tidak ada masalah untuk itu, lagipula anda baru tinggal di sini belum lebih dua minggu. Malah kami yang sangat beruntung bisa melihat tuan Puteri, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan."
Luz melangkahkan kakinya keluar lewat belakang rumah, kawasan yang dipenuhi ladang gandum dan jagung. Tapi rasanya agak merinding, berjalan sendirian dalam keadaan masih gelap seperti ini "Ya ampun, aku harus kemana?"
...---...
Hareen sudah sampai di rumah saat matahari tepat berada di atas kepala, siang hari.
Karena perjalanan yang jauh, ia jadi kelelahan "Luz! Kemana kau?! Ambilkan aku minum!" Serunya.
Karena tak kunjung mendapat sahutan balik, Hareen kembali mengulangi perkataanya "Luz!"
Sepi. Tidak ada balasan, biasanya ia yang selalu menyuruh gadis itu untuk diam.
Suara berisik dari luar, tak lama kemudian terdengar. Ada Hefaisen dan teman-temannya berlarian, juga sang ibu yang baru pulang.
"Hareen, sudah sampai kau? Dari tadi atau baru datang?"
"Baru saja, bahkan aku belum ganti baju, bu," Hareen melirik sekitar, tidak ada tanda-tanda Luz keluar rumah, tapi juga tidak ada suara berisik gadis itu di dalam.
Einne mengerti tatapan anaknya yang mengarah ke segala sudut, seperti mencari sesuatu "Hareen, ada yang mau ibu bicarakan, ini tentang Luz. Pergilah mandi dulu, setelah itu kita bicara."
Ibunya jarang sekali mengatakan hal serius seperti ini, kalau tidak benar-benar penting.
...---...
"Ibu dan Arabel sudah pergi ke balai kampung. Memastikan wajah Puteri mahkota Kastillia yang hilang. Karena waktu itu kita kan tidak sempat melihat pengunguman para pasukan dari kerajaan."
Hareen mengernyitkan dahi "Lalu?"
"Luz adalah Puteri Sierra, wajahnya sama persis, tidak mungkin kalau hanya mirip. Hanya saja rambutnya berbeda, Luz pendek sedangkan Puteri mahkota panjang, hanya itu."
"Tapi kenapa ibu mengusirnya..."
"Bukannya ibu mengusir, tapi bahaya kalau dia berada di sini. Lama-kelamaan semua orang akan tahu, dan menuduh kita tidak-tidak, bagaimana kalau sampai kita di pasung kerajaan? Padahal kan kita tidak salah," ujar Einne meyakinkan.
"Setidaknya kita bisa bicara baik-baik dengan Luz atau Puteri Sierra itu, kenapa dia kabur di hari yang mendekati hari pernikahannya, kenapa dia bisa sampai sini."
Einne menghela napasnya kesal "Tapi dia tidak mau diajak bicara tentang itu, setiap ibu dan Arabel bertanya kenapa pergi dari kerajaan jawabannya selalu sama, 'aku dari masa depan' begitu terus."
"Tandanya dia mungkin memang dari masa depan bu, Luz itu sering sekali bicara aneh-aneh, dan hal itu kemungkinan sesuatu di masa-nya. Hanya karena melihat lukisan, ibu bisa langsung percaya kalau mereka orang yang sama? Lukisan belum tentu membuktikan kemiripan, bagaimana kalau pelukisnya tidak membuat wajah Puteri Sierra semirip yang asli?"
"Tapi Hareen--"
Ucapan Einne terpotong ketika sang anak menyela dengan sentakan "Aku mau mencari Luz, aku percaya ucapannya. Kalau dia manusia dari masa yang lain."
Hareen terburu keluar dan menghampiri kudanya yang diikat di depan rumah. Ia tanpa bawaan apapun hampir saja melajukan kudanya untuk mencari Ereluz.
"Ibu tidak ada hak melarangku, karena aku hanya ingin menyelamatkan seseorang. Luz pasti sedang kebingungan sekarang, tidak tahu arah sama sekali."
"Luz pasti pulang ke kerajaannya, jangan khawatirkan dia."
"Tapi dia bukan Puteri kerajaan. Aku akan tetap mencarinya!" Tak menghiraukan ucapan ibunya, Haree tetap memacu kuda mencari Luz kemanapun dia.
"Luz... jangan pergi..."
...---...
Di era lain, ada seorang ibu yang tak henti menangis karena merindukan putrinya.
Bersama foto masa kecil Luz yang menjadi kenangannya saat ini. Cassandre bahkan sudah tidak pergi bekerja semenjak kepergian Luz, setiap malam hanya duduk di kamar anaknya sambil memandangi foto Luz di berbagai usia.
"Kau bilang tidak akan bersedih sampai berlarut-larut, tapi kenapa masih seperti ini semenjak hari itu berlalu," ayah yang baru pulang, tidak bisa menegur istinya. Sudah sejak ia berangkat, Cassandre diam termenung membawa foto Luz kemana-mana, dan setelah malam tiba, ia akan mengurung diri di kamar mendiang putrinya yang kini hidup di jaman lain.
"Aku tidak sedih, hanya rindu Luz-ku," kata Cassandre setelah menanggapi kalau suaminya tengaj memperhatikannya dengan tatapan sendu.
Jake lantas merengkuh tubuh istrinya dalam sekali tarikan "Kalau Luz memang ditakdirkan menjadi anak kita, dia akan tetap jadi putri kita. Di manapun keberadaanya..."
Tak lama kemudian terdengar suara isakan lirih "Aku memang ibu yang buruk, andai sejak kecil aku memperlakukan Luz penuh perhatian. Dia pasti menjadi anak yang bahagia, dan akhirnya.. tidak ada yang pergi seperti ini."
"Kita itu manusia, anak kita juga manusia. Semua manusia akan mengalami kematian, jadi jangan menyakahkan kematian, Luz pergi karena memang saatnya dia dipanggil. Semua takdir sudah dirancang dengan baik."
Cassandre menghapus jejak air mata di pipinya "Ya, kau benar. Takdir sudah dirancang dengan baik, lagi pula Luz masih hidup kan? Di alam masa lalu? Di era yang berbeda dengan kita? Luz saat ini masih hidup."
"Iya. Sekarang mari keluar, aku tahu kau belum makan dari pagi kan?"
...---...
Luz tidak sungguh-sungguh menyesal dihukum takdir ketika berada di tahun ini, tahun 1402 maseh yang artinya sebuah masa laku dari kehidupannya yang asli.
Seperti apa yang diucapkan Einne, mengenai dirinya yang serupa dengan seorang Puteri kerajaan, Luz merasa senang.
Tak lagi memikirkan konsekuensi yang akan didapatnya nanti, terpenting ia akan mengakui jika seseorang mengiranya sebagai Puteri kerajaan yang hilang itu.
Luz tahu ini salah, tapi dari pengetahuannya tentang sejarah, kerajaan itu berkuasa, menjadi pimpinan sebuah negeri, dan siapaoun bagian dari bangsawan selalu diperlakukan spesial. Kalau dirinya memang akan diakui sebagai Puteri Sierra, maka keistimewaan seorang Putwri juga akan berlaku untuknya.
Memang jiwa serakah.
Luz tersenyum miring ditengah perjalanannya, meski tidak tahu arah sama sekali.
Instingnya mengatakan bahwa langkah kaki ini akan membawanya menuju kerajaan. Tentu, Luz akan pergi ke kerajaan dan mengaku sebagai Puteri Sierra yang sudah hilang berhari-hari "Semoga Sierra benar-benar sudah mati, agar aku bisa menjadi bagian dari bangsawan selama hidupku di sini."
Luz tidak tahu diri memang, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini caranya menjalani hidup sesuai levelnya. Seorang yang punya banyak harta.
Semuanya sudah ia pikirkan dengan matang selama berjalan. Ya... rencana buruk itu.
*TBC
THANK'S FOR READING💘*