Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Keinginan bertemu ibu



Pagi yang cerah di akhir pekan, membuat sebagian besar orang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, layaknya olahraga bersama, berbelanja, atau mungkin berseru-seruan di car free day.


Namun yang terjadi pada satu bocah kelas menengah atas juga adiknya yang tiga tahun lebih muda darinya, terpaksa mengikuti kegiatan membosankan orang-orang cerdas di laboratorium penelitian.


"Julian, adikmu benar-benar menyusahkan kami!" Keluh salah seorang peneliti yang bertugas membawa Nathalia ke observatorium.


Julian hanya tertawa remeh menanggapinya "Sudah ku bilang kan, adikku nemang hiperaktif kalau mengenai ilmu perbintangan."


"Bisakah lain kali tidak usah membawanya?"


"Tidak bisa, dia harus tetap di dekatku."


Orang itu mendengus, lantas kembali ke observatorium sebelum Nathalia mengacaukan lebih banyak lagi. Ya, memang ia punya sedikit gangguan kejiwaan, tapi Julian tidak akan menganggapnya begitu. Baginya sang adik hanya terlalu hiperaktif, sedangkan ayahnya tak terlalu peduli, jadi membiarkan anak gadisnya tersebut untuk tetap bersekolah di sekolahan umum tanpa tahu apa yang sudah dialami putrinya.


Nathalia bukannya terlalu polos, tapi di usianya yang sudah 14 tahun, cara berpikirnya masih seperti anak usia 6-7 tahun, kekanakan yang berlebihan. Hanya saja kelakuan itu akan muncul di saat-saat tidak tertentu, akhirnya gadis itu malu setelah mengingat kelakuan sebelumnya.


Makanya dia selalu jadi bahan bulian teman-teman, di manapun dirinya bersekolah. Selain buta sebelah, gangguan psikis itu juga menghalangi jalan pikirnya untuk belajar, ayah selalu mengatainya anak bodoh karena Nathalia tidak pernah mengerjakan sesuatu dengan benar apalagi terkait soal-soal materi pelajaran.


"Julian, adikmu itu agak--"


Tanpa memotong perkataannya, pria itu sudah menunduk takut melihat ekspresi anak dari pemilik perusahaan yang sudah menaungi tim penelitiannya tersebut. Ia jadi tidak berani melanjutkan kalimatnya karena takut membuat kemurkaan Julian semakin menjadi "Jangan mengatakan hal-hal burut tentang adikku atau kau dan tim-mu tidak akan bisa mendapat kesempatan di sini lagi, dan ingatlah kalau kalian akan terus membutuhkan otakku."


Pria itu terdiam, lalu memilih untuk pamit pergi. Julian hanya mendengus kesal melihatnya, kenapa semua orang selalu saja ingin mengatai Nathalia sebagai orang yang tidak waras, padahal hal itu hanyalah penyakit psikis yang tentu bisa disembuhkan, bukan benar-benar gila layaknya yang dimaksud semua orang.


"Hei putra Tn. Girasol, maaf kami terlambat," sapa Prof. Alenio yang baru datang bersama Prof. Katana, si wanita negeri sakura.


"Asal kalian tahu, aku sudah menunggu sejak dua jam yang lalu," ketusnya membalas sapaan pria bernama Alenio itu.


Prof. Katana mendengus kesal seraya memakai snelli-nya yang tergantung rapi di almari bersamaan dengan milik rekannya yang lain "Bukankah kita sudah membicarakan ini, berjanjian akan datang pukul delapan lebih," ujarnya mengingat pembicaraan mereka dalam situs media pengirim pesan, semalam.


"Iya, kenapa kau datang pagi sekali?" Tanya Prof. Alenio.


"Kau pasti sudah tahu alasanku, jangan sok bertanya," balas Julian, membuat emosi Katana memuncak. Memang dasar anak tidak tahu diri, memanggil orang lain dengan awalan saja tidak mau.


"Panggil orang yang lebih tua dengan sopan, awali dengan sebutannya, jangan langsung menyebut 'kau', memang dasar anak tidak sopan!" Sindir Katana.


"Jangan melarangku, jangan mengaturku, dan jangan ikut campur urusanku. Kalau kalian seperti ini sebaiknya jangan mengajak kerja sama. Membuang waktu!"


Kedua peneliti itu terdiam, mereka yang lebih dewasa memilih tak melanjutkannya, kalau-kalau akan semakin tak karuan nantinya. Julian sendiri memang dianggap agak gila, walaupun nyatanya sangat cerdas.


...---...


"Yang lain sudah datang, mereka masih di bawah. Kita bisa mulai secepatnya."


"Pagi teman-teman, kita bisa langsung memulai pertemuan kali ini," sapa Prof. Katana sebagai orang yang menjadi pimpinan diantara yang lain "Karena kedatangan orang yang akan menjadi pemimpin di kegiatan kali ini, sebaiknya saya mempersilahkannya untuk memulai segalanya tampa membuang waktu. Silahkan, Tn. Girasol."


Julian dengan malas menegakkan tubuhnya "Karena kalian semua keras kepala mengenai mesin waktu-analog itu, baiklah aku setuju membantu," ujarnya singkat.


"Tolong kemukakan pendapatmu, apa yang sebaiknya kita lakukan di langkah awal setelah Prof. Alenio berhasil menangkap sinyalnya beberapa waktu lalu," intrupsi salah seorang yang duduk di hadapan Julian, menginginkan kejelasan lebih dari taktik yang akan remaja lelaki itu perbuat.


Matanya menyipit, melirik ke arah seorang pria yang duduk paling jauh dari tempatnya "Sebelumnya aku mau bicara privasi dengan Prof. Richard."


Mereka semua saling tatap, begitu pula Prof. Richard sendiri.


Julian bangkit dari duduknya, melangkah menuju ruangan lain yang ternyata tempat tersimpannya beberapa artefak mini yang belum jelas penemuannya, masih terbilang artefak yang ditemukan secara ilegal.


"Bagaimana? Kau sudah temuakan cara agar aku dan Nathalia bisa hidup lebih baik? Lebih aman?" Tanya Julian seraya menatap tajam.


Prof. Richard kebingungan, ia pun menghela napas dan berkata jujur pada remaja itu "Teknologi Artifical intelligence itu terlalu di luar batas bagi kami, selain kecerdasan yang kurang menjangkau, peralatan dan kebutuhan pun juga. Ayahmu mungkin tidak akan mau membantu perihal biaya kami lagi, karena selama setahun berjalan, belum ada kemajuan signifikan dari kami sendiri."


"Karena itu, jadikanlah alasan. Semua penunjang yang sudah ayahku berikan ini masih kurang, makanya belum bisa mencapai kemajuan. Katakan padanya kalau kalian berjanji akan menunjukkan kepantasan di mata pemerintah setelah ada anggaran lebih, juga bisa membantuku menghidupkan ibu, dan aku membantu kalian menemukan mesin waktunya."


"Julian, aku tak habis pikir dengamu. Kenapa kau tak membuat sendiri kemauan menghidupkan ibumu, padahal kami di sinilah yang membutuhkan otakmu."


"Aku butuh alat penunjang yang kau maksud, dan kalianlah satu-satunya jalan menarik anggaran dari ayahku."


"Tapi bukankah ayahmu sudah memberi lebih? Uang sakumu saja pasti cukup kan?"


"Aku tidak mau menggunakan uang-uang itu didepan matanya langsung, selama aku sudah paham tentang dunia, aku semakin membencinya dan menolak pemberiannya. Karena itu, aku membutuhkan bantuanmu."


"Baiklah, akan kami coba. Karena ini akan saling menguntungkan."


Julian mengangguki ucapan Prof. Richard "Tentu, ku harap begitu."


"Jangan putus asa, ku pikir keinginanmu ini menag menyalahi aturan. Tapi beginilah pengetahuan, semuanya bisa terjadi jika memang diberadakan. Mengingat keinginanku dan para rekan yang juga serupa denganmu."


"Aku tidak ingin menyalahi aturan, tapi aku hanya ingin membuat adikku bisa bahagia sedikit saja. Dengan adanya ibu, dia pasti bisa bahagia," ia berkata sendu, membuat Richard agak tidak percaya, sebab Julian tampak menunjukkan kesedihannya kepada orang lain.


Padahal biasanya, anak lelaki itu akan bersikap semena-mena dan angkuh pada semua orang, sama sekali tak ingin menunjukkan kalau jiwanya rapuh.


"Sebaiknya kita segera kembali, mereka bisa curiga padaku," ajak Prof. Richard merasa khawatir kalau rekan-rekan akan mencurigainya, melaksanakan rencana di luar yang sudah di rencanakan, sekaligus mengalihkan kesedihan Julian.


*TBC


THANK'A FOR READING💘*