Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Rencana pernikahan



Lebih terkejut lagi malah Luz. Tapi ia tak bisa meyakini siapa yang dilihatnya sekarang, Hareen atau Reagel. Mereka berdua terlalu serupa.


Tapi dari cara berpakaian dan urusannya untuk datang ke kerajaan, Luz bisa menebak lelaki itu adalah Hareen.


"Sierra, sebaiknya kau segera bersiap. Keluargamu dari Kastillia sudah berada di gerbang memasuki istana," ucapan Juan sontak membuat Luz tersadar, ia mengalihkan pandangan dari Hareen, dan tanpa mengatakan apapun lagi, ia kembali memasuki istana.


Juan tak sengaja melihat tatapan yang Hareen berikan pada Sierra-nya, untuk itu ia segera menyuruh sang gadis masuk. Karena tak menyukai sikap penempa yang menurutnya tidak sopan.


Seusai gerbong berisi senjata diterima oleh pihak kerajaan, Hareen, Xiangjun, dan Elmir segera menuju penginapan yang sudah dipersiapkan, letaknya tak jauh dari istana. Karena ketiga lelaki itu masih akan dibutuhkan lagi, saat uji coba persenjataan nantinya.


Bukan hanya Hareen yang terkejut, Elmir pun punya pemikiran yang sama. Ia mendekatkan diri pada temannya yang tengah melamun di saat langkah kakinya sedang menuju suatu tempat "Puteri mahkota, dia sudah kembali? Kenapa kita tidak mendengar kabarnya sama sekali, padahal biasanya langsung tersebar luas begitu saja."


Elmir memiringkan kepala, ketika tak ada sahutan dari Hareen. Memperhatikan apa yang membuat kawannya menjadi seperti batu berjalan saat ini.


"Ereluz? Apa dia Puteri mahkota atau Ereluz?"


Hareen menggelengkan kepala "Sepertinya aku salah lihat, Puteri mahkota Sierra sangat mirip dengan Luz."


"Jadi wajah mereka memang serupa? Seperti yang bibi Einne dan Arabel katakan?"


"Perempuan tadi memang sangat mirip Ereluz, tapi akh! Aku tidak paham! Kenapa harus mirip-mirip begini?!" Ia melangkahkan kaki kesal, menuju tempat penginapannya yang sudah di depan mata.


Tanpa menyadari Ereluz sedang menatap sedih dari balik dapur istana.


...---...


Tanggal penurunan tahta kerajaan Aragon semakin dekat, begitu pula dengan pernikahan Juan dan Sierra yang seharusnya masih memerlukan ijin dari pihak kerajaan Kastillia, sebab kedua pasangan itu akan sangat berpengaruh, berkat pemersatua dua kubu yang saking bersinggungan.


Aragon menganut kepercayaan seseorang paling bijak dari kebangsawanan adalah pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan Kastillia memilih menganut kepemimpinan dari keturunan sedarah.


Maka dari itu, keputusan berada di dua tangan yang berbeda. Juan dan Sierra hanya bisa mengikuti aturan dari kerajaan masing-masing, namun karena Juan adalah sosok pemimpin yang sudah terpilih, dan Sierra adalah seirang gadus yang ia pilih, maka pihak lelaki akan lebih berkuasa dalam penentuan.


Untuk itu kali ini Aragon akan memimpin. Di bawah kuasa calon raja Juan.


Kedua kubu kerajaan sudah disatukan dalam satu meja besar, di sisi kanan ada raja dan ratu aragon juga beberapa bangsawan, sedangkan di sisi kanan ada raja kastillia yang juga bersama para bangsawannya termasuk sang puteri mahkota.


"Aku akan menyetuji kebijakan di Aragon, tapi untuk beberapa hari, aku berhak membawa pulang putriku," ujar raja dari Kastillia, seraya melirik Luz, gadis yang ia kira anaknya.


"Kami akan terus memberi kesempatan untuk itu, tapi tidak dalam waktu dekat ini, sebentar lagi penurunan tahta, kenapa pernikahan mereka berdua tidak dilangsungkan sekalian?"


"Kami keluarga, tidak ada salahnya kan keputusan dariku?" Bantah sang raja Kastillia seraya melirik putrinya yang sudah hilang berbulan-bulan. Sebuah keajaiban dia kembali ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.


"Kalau begitu sebaiknya berikan keputusan ini pada Sierra," ujar Juan, sontak membuat Luz tersadar dari lamunannya tentang rasa bersalah pada Hareen.


Luz tersenyum kikuk, semua orang memandanginya dengan tatapan butuh jawaban. Dan dirinya bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang di hadapannya kini.


"Bagaimana nak? Ayah hanya menginginkanmu pulang sebentar ke Kastillia sebelum hari pernikahanmu dan Juan berlangsung."


Luz kembaki tersentak dengab pertanyaan anaeh itu "Pe-pernikahan?! Memangnya itu sudah sangat dekat ya?"


"Rencananya, kami akan melangsungkan pernikahan kalian bersamaan dengan penurunan tahta Aragon, yang tanggalnya memang sudah sangat dekat," ujar Raja Saloar sebagai ayah Juan.


"Ini tidak mendadak nak, kau hilang dari kerajaan tiga hari sebelum pernikahan berlangsung. Kalau kita semakin lama menunda, nanti penurunan tahta juga tidak akan segera terlaksana," sahut ratu Aragon.


"Tapi--"


"Kami mengijikan kalian untuk kembali ke Kastillia dalam waktu beberapa hari saja, aku tahu, raja Kastillia pasti sangat merindukan putrinya. Bagaimanapun kau lebih berhak ketimbang kami, kau ayahnya," ujar Juan yang sedari tadi hanya diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Luz tersenyum samar mendengar ucapannya. Ia tak ingin menikah dulu, terlebih dalam keadaan kebohongan seperti ini. Lagi pula Kastillia juga sebuah kerajaan yang kaya, di sana juga tak kalah makmur dari Aragon. Yang Luz inginkan hanyalah kesenangannya, bukan menjadi istri seorang pangeran yang bahkan tak dikenalinya.


Gadis itu terus memukuli kepalanya menggunakan buku di dalam kamar, seusai penjamuan untuk kerajaan Kastillia tadi, mereka harus menginap semalam lagi di Aragon.


"Pangeran itu memang tampan! Tapi aku masih ingin menikmati masa usia tujuh belas tahun ini..."


"Tapi bagaimana cara mengulur waktu untuk menghindari pernikahan ini! Uh, ya ampun. Bisa-bisanya mereka menikahkan anak remaja sedini aku..."


Kalau hanya pergi ke Kastillia dalam waktu beberapa hari saja, setelah itu kembali ke Aragon, pernikahan jelas akan terlaksana. Tapi kalau berusaha mengundur waktu, tidak ada alasan lagi, keputusan pernikahan dijalankan di tangan leluhur sesuai aturan masyarakat Aragon. Jika seorang raja harus sudah menikah, sebagaimanapun usianya.


Luz bahkan bisa mengumpat langsung di depan siapapun irang yang sudah membuat oeraturan gila seperti itu.


Sebenarnya hanya Luz yang menganggap hal imi gila, peraturan di buat tentunya jelas memiliki tujuan. Seorang raja Aragon harus sudah menikah, dikarenakan jika seorang laki-laki berhasil membina rumah tangga dengan baik diramalkan pula ia dapat membina kerukunan rakyat kerajaan dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Intinya sama-sama memikul beban untuk orang lain dengan ikhlas.


"Sierra, kau belum tidur?"


Suara dari luar pintu, sontak membuat Luz terbangun dari kursi wol-nya. Gadis itu mendengus saat sudah menghafal suara dari orang yang memanggilnya di depan sana "Aku sudah tidur!" Sahutnya kesal.


Tidak ada jawaban.


Luz menghela napas lega, orang itu sangat mengganggunya.


Baru beberapa detik ia kembali merebahkan badan ke kursi panjang wol-nya, lelaki iru dengab tidak tahu dirinya mendobrak pintunseraya membawa minuman anggur di atas nampan.


Terlebih dengan senyumnya yang begitu menyebalkan, tapi sungguh manis, Luz tak bisa menampik kenyataan untuk hal yang satu ini.


"Kenapa kemari?"


"Tentu saja mencarimu."


Luz mendengus pelan "Ada apa?"


"Anggur madu, minuman ini sungguh baik untuk kesehatan," ucapnya seraya menggoyang-goyangkan gelas berisi cairan warna ungu gelap.


"Hah, padahal aku bisa mengambilnya sendiri kalau aku sedang menginginkannya," Luz beranjak duduk seraya menerima uluran segelas anggur madu tersebut.


Saat tengah meneguknya, tiba-tiba minuman anggur itu seolah menerobos tenggorokannya, ia bahkan hampir mati karena tersedak. Sebab Juan kini menaruh kepalanya dia atas paha Luz, juga memperhatikan wajahnya dari bawah.


*TBC


THANK'S FIR READING💘*