
"Gadis itu bersikap aneh saat aku memergokinya. Kemudian mengaku sendiri kalau dia memang bukan Sierra. Memang dari awal aku sudah menaruh kecurigaan terhadapnya, dan baru kali ini terbongkar," pada akhirnya Jevin buka suara di depan Ares. Pangeran sulung itu hanya tidak ingin kalau sampai kelakuan buruknya diumbar ke publik. Aplagi kalau melibatkan Ares, bisa hancur semuanya.
Ares memiringkan kepala, mengingat saat Jevin mengatakan hal janggal tentang Sierra palsu itu di hadaoan orang banyak, "Dan kau berniat menyebarkannya pada semua orang?"
"Tentu saja, dari dulu aku sudah berniat melenyapkan gadis itu supaya Juan tidak jadi mengambil alih takhta, dan ternyata dikabulkan. Tapi beberapa bulan kemudian Sierra muncul lagi, yang ternyata bukan Sierra yang asli. Tapi untuk saat ini aku tak punya niat buruk terhadapnya, apapun yang ku lakukan tak bisa merubah pilihan ayah untuk memberikan takhta kerajaan pada Juan," dugaan Ares benar, tidak ada kakak yang terima saat adiknya diperlakukan lebih spesial dan terhormat. Kecuali jika hubungan persaudaraan mereka memang sangat baik.
"Kenapa kau tidak membuat adik bungsumu seolah buruk di mata semua orang terutama ayahmu. Dengan begitu suara tidak akan bisa masuk untuk Juan," tanya Ares kembali, dengan jalan cerita yang berbeda, namun tujuan akhir yang sama.
Jevin tertawa renyah, "Andai bisa, aku melakukannya dari dulu tapi selalu gagal karena anak itu berhasil meloncati masalah yang menimpanya."
Melihat reaksi Jevin yang tampak penuh kekecewaan, Ares kembali ingin menghasutnya lebih jauh, "Tapi aku yakin yang jadi hidup untuk Juan memanglah Sierra, entah yang asli ataupun palsu kalau dia beniat melindungi gadis itu. Mereka sama berharganya untuk adikmu. Jadi, bagaimana kalau kita lenyapkan Sierra palsu itu, setelahnya membuat Juan terpuruk sampai sulit bersikap layaknya pemimpin. Dengan begitu, kemungkinan takhta akan dialihkan padamu karena kau yang tertua."
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Tapi apa keuntunganmu dengan melakukan hal ini?" Mendengar tawaran itu, Jevin sontak menatap raja muda Galicia tersebut dengan pandangan aneh.
Sementara Ares hanya menganggukkan kepala, "Hmm, aku masih dendam karena adikmu merebut gadis itu dariku. Jadi kalau aku tak bisa mendapatkannya, yang lain pun tak boleh mendapatkannya."
Jevin mengetuk kepalanya sendiri, "Ingat, mereka bukan orang yang sama."
"Tak peduli, di mataku mereka sama saja, kalau kau mendukung aku akan sangat bahagia. Tapi jika tidak pun tak apa-apa. Asal kita saling tutup mulut, rahasiamu aman di tanganku begitu pula sebaliknya."
"Kau berniat membunuh gadis itu?" Seketika Jevin menatapnya penuh kecurigaan, "Lalu apa kau juga ada di dalam kasus hilangnya Sierra yang asli?"
Ares tersentak, "Apa yang kau bicarakan, rencana itu baru keluar di kepalaku sekarang. Aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan kematian Sierra. Kau sendiri juga bilang ingin menyingkirkan gadis itu, atau kau pelakunya?"
Pangeran sulung itu menaikkan sebelah alis seraya menyunggingkan senyum miring, "Kau terlihat mencurigakan, Ares."
"Jangan bicara sembarangan, atau kau akan mati! Aku berniat membunuh gadis penipu itu, bukan berarti aku juga pembunuh Sierra."
"Baiklah, lain kali bersikaplah santai jika kau memang bukan pelakunya," balas Jevin seraya beranjak berdiri dan mempersilahkan Ares keluar dari ruangan pribadinya.
"Sialan, Jevin!"
...---...
Luz menunduk dalam ketika Raja Saloar menghampirinya, pria paruh baya itu terlihat sangat tidak menyukai apa yang barusan ia lakukan, "Kau tidak bisa bertindak seenaknya, walaupun di pandangan orang takhtamu masih sebagai calon permaisuri Aragon, tapi nyatanya kau bukan siapa-siapa. Apalagi dalam urusan yang tidak seharusnya menyangkut pautkan puteri dari Kastillia."
"Aku minta maaf, sebenarnya aku tak bermaksud berbuat semena-mena, tapi... mereka yang kalian curigai sebagai pencuri adalah temanku, mereka orang-orang baik."
Luz mengangguk paham, "Baiklah, aku mengerti."
Raja Saloar kembali bertanya setelah membiarkan gadis di hadapannya terdiam, "Kau bilang dirimu ini berasal dari masa depan kan? Mengapa bisa mengenal mereka, yang jelas penduduk asli Aragon?"
"Ceritanya panjang, salah satu dari mereka adalah orang yang sudah menolongku saat pertama kali tersesat di abad ini. Makannya aku sangat kenal dengannya, namanya Hareen dan dia sangat baik. Tidak mungkin melakukan hal buruk sesuai tuduhan kalian," Luz mendongak, menatapnya penuh harap supaya bisa mendapat belas kasih dari sang raja Aragon tersebut.
"Iya, Ereluz. Jangan khawatir. Semuanya akan berlalu dengan cepat, mereka juga akan selamat."
"Terima kasih."
...---...
Saat ini para peneliti baik yang tua maupun yang muda, tengah berkumpul di labiratorium khusus, hampir semua mengenakan snelli, kecuali Julian dan Katana yang memakai pakaian santai bak sedang menikmati weekend. Padahal sekarang malam senin, Julian bahkan harus kembali minta izin untuk tidak bekerja dengan alasan palsu yang kuno, yaitu sakit.
Beruntung Nyonya Cassandre selaku pemilik cafe, menginjikannya.
Prof. Alenio menatap penuh harap anak dari pemilik gedung yang mereka tampati sekarang, "Julian, tugasmu untuk saat ini memastikan jika mesin waktu memang berada di sana sesuai sinyal detektor. Dan kalau memang ada, kau harus membobolnya."
Lelaki itu berdecak kecil, menganggap remeh hal yang dibebankan untuknya, "Baiklah, mereka orang biasa, tidak begitu berbahaya."
Prof. Richard menggeleng tidak setuju, ia pun menimpali pembicaraan mereka, "Pemilik mesin waktu selalu dianggap istimewa, jangan terlalu meremehkan begitu. Oh ya, setelah pembobolan, kita akan langsung beraksi untuk mengambil mesin waktu tersebut untuk diamankan di laboratorium."
"Kemungkinan ukuran benda penjelajah waktu itu akan besar karena teknologi lama yang menciptakan, lalu bagaimana caraku membawanya? Apalagi kalian mengutusku pergi bersama perempuan. Bukannya membantu malah merepotkan."
Sentak Katana tak terima diremehkan olwh bocah tengil yang tidak punya perasaan seperti Julian, "Jangan mengejek, aku lebih dari perempuan yang kau maksudkan!"
"Sudahlah jangat ribut," lerai Prof. Aleno. Pria itu lantas menjawab pertanyaan yang sempat diucapkan Julian, "Untuk masalah pengambilan mesin itu akan kita lakukan bersama, yang penting sekarang tugas kaliam adalah memeriksa apakah memang benda itu ada di sana. Baru kalau ada yang harus dilanjutkan, hubungi tim yang bersiaga."
Katana sigap membungkuk sopan, sementara Julian tetap pada posisinya yang berdiri tegak penuh keangkuhan, "Baik Prof. Kami paham."
Prof. Alenio beralih hanya menatap Julian dengan seksama, "Satu pesan dariku, jangan membuat kesalahan sedikitpun terutama kau, Julian. Mesin waktu bukanlah benda sembarangan."
Yang ditegur hanya bisa mendengus kesal, "Hmm, kenapa seolah aku selalu membuat kesalahan di sini."
TBC