
Elmir spontan membungkuk sopan, memberi penghormatan terhadap sosok sang puteri mahkota yang tiba-tiba menghampiri. Momen langka seperti ini, bagai kejatuhan sekeranjang emas dan berlian di siang hari.
Berbeda dengan respon Elmir, Hareen malah terdiam kaku, bingung apa yang harus dilakukan.
"Aku dengar kalian penempa dari desa ya? Pasti keahlian pedang kalian juga baik," ujar Luz sedikit canggung, ia masih bisa berbohong lagi untuk saat ini. Padahal sebenarnya tak tega 'Uh, rasanya aku merindukanmu, Hareen.'
Elmir membalasnya dengan senyum canggung, mengingat jika perempuan yang pernah tinggal di rumah Hareen semirip puteri mahkota. Beruntung sekali Hareen bisa menampung gadis secantik ini "Ah tidak juga, kami kan hanya pembuatnya."
"Aku sebenarnya ingin berlatih pedang juga, kalau diperbolehkan, aku ingin berlatih dengan kalian. Kalau bersedia, aku akan meminta ijin pada panglima," Luz berusaha mencari kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan Hareen, dan bersikap baik pada lelaki itu untuk membalas kebaikannya juga keluarganya.
"Huh? Maaf sebelumnya, padahal masih banyak ahli pedang lainnya, kenapa meminta tolong pada kami? Tapi tentunya kami bersedia, iya kan?" Elmir mendorong pelan bahu Hareen.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin belajar langsung. Ngomong-ngomong, kita tidak bisa mulai dalam waktu dekat, aku harus segera kembali ke Kastillia."
"Hey Puteri Sierra!" Seru sesorang dari kejauhan.
"Kebetulan sekali, Panglima Amer. Aku ingin berlatih pedang bersama mereka," ujarnya ketika sang panglima sudah datang menghampiri.
Amer mengenyitkan dahi, memang sejak kembalinya Sierra, sikapnya cukup aneh. Tapi kenapa sedrastis ini perubahannya, sang puteri mahkota meminta untuk dilatih bela diri pedang, yang padahal dia sendiri tidak pernah menyentuh senjata tersebut.
Kalaupun hanya tersesat di hutan, tidak mungkin sampai kehilangan beberapa memori di otaknya. Kecuali kemungkinan kepalanya pernah terbentur, tapi saat kembali ditemukan, kondisi Sierra jelas baik-baik saja. Tidak ada barang bekas luka sedikitpun.
Tapi ini memang aneh, Sierra yang membenci peperangan dan perselisihan, malah memilih berlatih bela diri dengan pedang.
"Bagaimana, Panglima Amer. Aku... boleh melakukannya kan?"
"Nanti saja, bicarakanlah dengan Juan. Sebaiknya sekarang kau pergi ke ruangan ayahmu."
Luz yang tengah menjadi pribadi Sierra, melirik Hareen sekilas sembari tersenyum "Nanti kita bicara lagi. Aku pergi dulu."
'Dia Luz, aku tahu itu Ereluz.'
...---...
"Gawat! Gawat! Gawat! Luz nekat, dia benar-benar melakukan hal gila itu!"
Reagel tersedak nasi, saat baru saja menyuapkan. Sang kakek buyut berlarian panik ke dalam rumah.
"Hey! Temanmu itu, benar-benar di luar dugaan! Dia mengaku sebagai puteri mahkota mentang-mentang wajahnya sangat mirip."
Respon Reagel hanya menghendilkan bahu acuh, ia berusaha tak peduli lagi dengan Luz, perempuan keras kepala yang sulit diatur. Percuma bicara dengannya, sama seperti bicara dengan angin "Jangan mempedulikan dia lagi, biarlah seenaknya sendiri. Dia hidup pun sesuka hatinya, kenapa kuta repot-repot."
"Masalahnya, aku membutuhkan Luz di sini. Keberadaanya dari tahun naga, harus meneruskan pemegang mesin waktu itu, yang membawamu ke tahun ini."
"Ya ampun, kakek. Aku tidak tahu bagaimana maksudnya ini, tapi... tolong jangan bicarakan hal tentang mesin waktu padaku. Lama-lama aku bisa trauma."
"Hey, keberhasilan waktu ini ada di tangan Luz sekarang, mesin waktunya harus berpindah ke tangan Luz. Keberadannya sangat penting di sini, aku tahu sekarang, kenapa anak itu bisa berada di tahun ini."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku seharusnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini!"
Reagel menjatuhkan sendoknya dengan sengaja, lalu menindas dengan sepatu kulit warna hitam yang ia pakai "Itu tidak mudah, selain karena Luz keras kepala, dia sudah berhasil menipu semua orang sebagai seorang puteri mahkota, kan? Kakek mau aku dibunuh dengan tuduhan menculik seorang bangsawan? Sia-sia kau mengambilku ke tahun ini."
"Kau ini keras kepala juga. Yang penting berusaha, bawa Luz bersama kita lagi. Dasar cucu tidak berguna."
"Tega sekali!"
"Ah sudah, turuti saja perintahku."
...---...
Luz membereskan barang-barang yang sepertinya milik Sierra di dalam kamar. Seusai pembicaraannya dengan raja Kastillia atau ayah dari Sierra yang asli, keputusannya untuk hari ini juga ia akan berpulang ke negeri itu sebelum akhirnya tinggal di Aragon sebagai ratu yang baru.
Dengan dibantu ketua pelayan, ia memasukkan beberapa potong pakaian dan barang-barang lain ke dalam tas tenunan besar.
"Pangeran Juan pasti akan sangat rindu. Terlebih anda akan lama di Kastillia," celetuk kepala pelayan bernama Herestia.
Luz mengenal baik wanita paruh baya tersebut, karena yang paling sering datang ke kamarnya adalah Herestia. Dan sepertinya di keluarga kerajaan ini, Luz hanya berteman dengan wanita berstatus kepala pelayan itu.
Memang kemungkinan dulu, Sierra juga sangat akrab dengan Harestia. Membuat Luz juga tak begitu canggung berbicara dengan wanita itu.
"Berlebihan, aku mungkin hanya tinggal selama dua minggu di sana arau lebih. Pokoknya tidak sampai sebulan."
Herestia tersenyum kecil "Asal anda tahu, Puteri Sierra? Pangeran Juan, kalau sudah menyakut dirimu akan jadi sangat kacau. Waktu hari pertama menyadari anda hilang, dia tidak makan, minum, ataupun beristirahat sama sekali, dan itu berlangsung sangat lama. Seperti orang yang tak punya harapan hidup lagi, kasihan."
'Sebenarnya seperti apa hubungan Juan dan Sierra, kenapa saat bersamaku, Juan terlihat biasa saja, malah sikapnya lebih seperti kakak padaku. Walaupun dia sepertinya sudah mencoba bersikap sebagai pasangan. Tetap saja rasanya berbeda!' Luz membatin kesal dalam hati, ia tak bisa berakting bagai Sierra yang asli karena tak ada yang dapat ia ketahui dari perempuan itu.
"Herestia, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Wanita itu balas mengangguk "Tentu saja, bertanyalah sesukamu."
"Apa perilakuku saat ini terasa berbeda bagimu?"
Herestia seketika mengerutkan dahi "Kenapa anda bicara begitu? Puteri Sierra tetaplah dirimu, tak ada yang berubah. Hanya saja suraimu memang berganti warna."
Luz menggigit bibirnya untuk mencari alasan lain, membuatnya meyakinkan sebagai puteri mahkota yang asli "Aku... sebenarnya aku stres waktu tersesat sendirian di hutan karena tak bisa pulang. Ada banyak ingatan yang tiba-tiba hilang dari kepalaku, saat mencoba-coba untuk mengingat, semuanya malah terasa kabur, mataku jadi buram dan pusing."
Raut Herestia menunjukkan kepanikan, ia lantas mendekati Luz untuk memeriksa kepalanya, barang kali ada benturan yang parah "Kenapa anda baru mengatakannya? Bisa jadi ini masalah serius."
"Aku tidak apa-apa, tidak ada yang terluka. Hanya saja, ya memang sepertinya aku tertekan sampai stres berat."
"Mau ku panggilkan Ignatius?" Tanya Herestia menawarkan bantuan untuk memeriksa keadaan sang puteri mahkota melalui tabib kerajaan.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin bertemu Juan."
TBC