
Richard mengusap dagu, keringat dingin mulai membasahi telapak tangan, membuatnya terlihat tak cukup nyaman. Terlebih mengingat penjelasan Julian barusan, "Kemungkinan besar kau mengalami gejala halusinasi tingkat tinggi, sulit membedakan mana realita dan yang bukan. Tapi... hal seperti itu biasanya terjadi pada pengidap skizofrenia, tidak mungkin kan, kalau kau juga punya penyakit itu? Coba sebutkan gejala-gejala aneh yang kau alami akhir-akhir ini saja?"
Bukannya menjawab dengan baik, Julian justru menukikkan sebelah alisnya, "Jangan macam-macam, tidak mungkin aku gila."
"Hey, tidak ada yang mengataimu gila."
"Skizo itu penyakit kejiwaan, orang-orang awam kebanyakan menyebutnya dengan bahasa yang sedikit kasar, gila."
"Kalau begitu cobalah pergi ke psikolog, tidak ada salahnya untuk menanyakan kesalahan mental."
"Tidak mau, aku tidak gila."
"Psikolog bukan hanya untuk orang gila. Aku tahu, Dr. Alenio sering bercerita tentang keluargamu padaku, untuk itu dia berusaha membuatmu lebuh terbuka agar tidak memikirkan beban sendirian, kau dan adikmu itu masih sangat muda. Selama ini kau kemungkinan mengalami depresi berat, hal itu bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit psikis tanpa terduga. Karena posisimu adalah anak pertama sekaligus sandaran adikmu, sudah dipastikan kau lebih rentan depresi. Bukan bermaksud mengataimu tidak waras, aku dan Dr. Alenio hanya ingin membatumu, supaya tidak memikul beban perasaan sendirian. Kami peduli padamu."
Mendengar nasehat sekaligus penjelasan dari Richard, Julian hanya bisa menunduk dalam. Meratapi bagaimana alur hidupnya yang memang sesuai dengan ucapan Richard tadi. Depresi berat seringkali terjadi padanya baik disadari ataupun tanpa disadari, tapi ia selalu mengingat ada kalimat yang menjelaskan bahwa seluruh manusia punya masalah masing-masing. Kedua matanya langsung bergulir ke atas, "Bukankah semua manusia punya masalah dan problematika hidup masing-masing, apakah kau tidak punya masalah sampai-sampai rela ikut campur mengurusi hidupku?"
Lawan argumennya terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan Julian barusan, "Bukan seperti itu! Julian, bisakah kau membedakan mana orang yang murni ingin dekat denganmu dan mana yang hanya memanfaatkanmu?! Aku tahu kau ini anak pintar, tapi sangat minim tata krama juga pengetahuan tentang kasih sayang, ya?"
"Iya, ibuku pergi sejak adikku lahir, ayahku tidak pernah sekalipun bersikap sebagai kepala keluarga yang bisa menjaga aku dan Nathalia dengan baik, bahkan sekarang aku sendiri harus mulai bekerja paruh waktu demi menghindari dan semakin jauh dari ayah. Snagat menyedihkan, bukan? Sampai-sampai orang lain pun rela ikut campur mengatasi," remaja laki-laki tersebut berucap dengan tatapan miris untuk dirinya sendiri.
Richard tiba-tiba berdiri, "Pergilah, tidak akan ada yang berniat ikut campur urusan hidupmu lagi. Kau bebas berbuat apapun semaumu."
...---...
Kini, Juan tengah duduk di tengah-tengah meja persegi, posisinyan yang berada di ujung, tentu menjadi pusat utama alias pimpinan. Sedangkan di ujung satunya lagi, twrdaoat raja muda Ares dari Galicia. Juan menharahkan pandngan pada Ares seraya membaca sebuah kertas yang tergulung, "Utusan dari kami sudah mendapatkan bukti kalau memang benar ada penduduk Aragon yang mencuri logam inti asal Galicia. Saat ini pelakunya sedang berusaha dicari. Sebelumnya, aku, Juan Sán Azarcon atas nama rakyat Aragon meminta maaf sebesar-besarnya dan akan bertanggung jawab atas kerugian sejumlah barang yang hilang."
Ares menatap angkuh pada pangeran muda tepat di hadapannya, "Tidak bisa kalau hanya mengganti rugi, logam yang kami punya itu sangat bernilai tinggi. Jatuhi hukuman mati untuk para pencurinya."
Lagi-Lagi raut Ares menjelaskan bahwa dia tidak setuju atas keputusan Juan, senyum mirng tersungging seolah meremehkan, "Ini bukti bahwa Aragon sangat buruk, kalian seolah sedang melimdung rakyat. Padahal mereka berbuat kejahatan, ya walaupun tidak bersangkutan dengan nyawa orang lain, tetap saja, barang yang dicuri adalah salah satu keunggulan Galicia. Atau... apakah ini manipulasi dan permainan licik kerajaan?"
"Jika kau meremehkan politik dan keadilan Aragon, kau boleh membawa pelaku ke Galicia dan adili mereka sesuai adat kalian. Kami tidak keberatan atas hal seperti itu," balas Juan dengan mata menyipit, ia tampak sudah sangat lelah akibat perkataaan keduanya selalu berujung pertengkaran tak terhenti.
Amer terlihat mengangkat tangannya, untuk mengajukan protes pada keputusan Juan, "Tidak bisa begitu, selama ini pelaku kejahatan selalu dihukum di wilayah asal mereka, walaupun aksinya berlaku di wilayah lain."
"Sudah, tidak perlu memberlakukan ketetapan yang sudah ada. Kalau aku menyetujui jadi tidak ada masalah," ujar Juan menjawab perntanyaan Amer, "Setelah pencurinya ditemukan dalam keadaan hidup, kau bebas membawa dan mengadilinya di Galicia. Untuk saat ini tidak ada masalah lagi, kalian bisa pergi dari Aragon dan jangan lagi memasuki wilayah kami seenaknya, peraturan bukan semata pajangan, harus ditaati dan ditepati sekalipun untuk pemimpinnya," sambungnya seraya menatap tajam Ares.
Para bawahan akhirnya bergegas merapikan tempat masing-masing, kemudian segera pergi dari ruang pertemuan. Menyisakan Juan bersama Ares yang masih saling melempar tatapan kebencian. Tidak ada murni keburukan tapi tidak juga murni kebaikan.
Ares mulai membuka suara setelah menyadari keheningan menerpa keduanya terlalu lama, "Tenang saja, Juan. Kami akan kembali setelah ini. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Sierra dan pernikahan kalian? Ku dengar dia sudah lama kembali ya?"
"Tidak ada urusannya denganmu," balas Juan acuh. Selalu saja ada sesuatu yang mengganjal ketika membahas tentang Sierra bersama Ares, kemungkinan karena Ares pernah lebih dulu melamar gadis itu, hanya saja ditolak karena Sierra lebih memilih Juan.
"Bagaimana Sierra bisa hilang, waktu itu? Juga, bagaimana dia tiba-tiba kembali? Dengar-dengar dari bawahanku, Sierra menghilang secara mistis di hutan perbatasan Aragon-Kastillia, dan dia kembali secara ajaib pula, apa kau yakin dia Sierra?"
Sang pangeran termuda Aragon itu yang awalnya hanya fokus membereskan peralatan, dan awalnya tak berniat menanggali semua ucapan Ares, kini tubuhnya menegang sempurna. Terlebih ketika mendengar Ares menyatakan apakah Sierra yang sekarang benar-benar Sierra. Hal itu membuat Ares tampak seperti mengetahui sesuatu.
"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab karena apa? Sierra yang sekarang adalah penyihir ilmu hitam, dan dia mengubah rupa fisiknya seolah-olah ia adalah Sierra, begitu? Apa aku salah?" Pertanyaan dan pernyataan Ares sangat terdengar mengejek.
"Sierra tetaplah Sierra, sampai kapanpun dia hanua bisa menjadi dirinya," Juan lantas bergegas pergi begitu saja, meninggalkan Ares dengan senyum miringnya ditempat.
'Sebenarnya aku juga penasaran, kalau Ereluz bukanlah Sierra, mengapa wajah mereka sangat serupa, bahkan aku sendiri pun tak dapat membedakannya.'
TBC