Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Kebohongan (2)



"Di-dia sudah pergi, maksudku dia sudah mati. Orang itu mati karena menyelamatkanku, dan berkat dia juga, aku bisa kembali," alibi Luz berusaha mencari kebohongan lainnya, namun entah mengapa, semakin lama ia sulit untuk berbohong. Ekspresinya mengkhawatirkan dan mudah dicurigai orang lain.


Tampaknya Selena tidak begitu menginginkan lanjutan dari pembicaraan mereka kali ini, terbukti dengan arah matanya yang fokus mengerjakan sulaman. Sama sekali tidak menatap Luz atau sekedar menganggukkan kepala untuk membalas jika ia sedang mendengarkan.


Luz merasa lega untuk beberapa saat, sudah banyak yang ia lalui di dunia kerajaan ini, tapi sudah jelas semua orang lebih mengenali Sierra yang asli. Bagaimanapun sikapnya, tetap bisa tertebak kalau dirinya hanyalah penipu yang mengakui sebagai Sierra, 'Cepat atau lambat, aku akan mati di tangan mereka.'


"Oh iya, waktumu di sini tinggal dua hari saja kan? Setelahnya kau resmi tinggal di Aragon dan punya gelar ratu di sana," celetuk Selena kemudian.


Luz semakin panik mengingat hal itu, sejatinya ia tak siap untuk dinikahi sekarang. Bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang Sierra. Bagaimana jika puteri mahkota yang asli itu ternyata masih hidup? Dia akan sangat terluka kalau mengetahui pangerannya sudah menikah dengan wujud lain dari dirinya, ah, lebih tepatnya dengan orang lain. Sebab mereka tak punya hubungan darah sama sekali.


Selama hidup tujuh belas tahun di dunianya dulu, Luz hanya pernah jatuh cinta sekali. Ia menyukai seseorang yang bahkan wajahnya sama sekali tidak diingat di kepalanya sendiri. Luz bertemu dengannya saat masih kecil, anak lelaki itu terlihat seusia dengannya. Tapi sepertinya, waktu itu adalah pertama dan terakhir kalinya pertemuan mereka terjadi.


Saking lamanya, Luz sudah lupa total wajahnya, tapi rasa sukanya tidak memudar sama sekali. Malah semakin penasaran dan terus ingin mencari tahu. Ia bersikap acuh terhadap semua lelaki, hanya karena seolah ada hati yang harus dijaga. Padahal ia tak tahu siapa anak lelaki itu, walau hanya sekedar namanya.


Rasa penasaran terhadap lelaki yang pernah ia temui saat kecil itu, mulai luntur seiring berjalannya waktu bertemu dengan Pangeran Juan.


'Pernikahan itu lagi, aku harus bagaimana? Tidak mungkin kalau mengulur waktu terus, sedangkan yang jadi musuhku adalah para keluarga bangsawan. Kalau menghilang tiba-tiba, aku harus ke mana? Hareen ataupun Reagel pasti tidak akan kembali menerimaku. Lagi pula bagaimana cara untuk kembali ke mereka, aku sama sekali tak ingat daerah-daerah Aragon.'


'Tapi kalau setuju menikah dengan Juan, maka aku menghalangi Sierra. Jujur saja aku juga menyukainya... tapi...'


'Cepat atau lambat, takdir akan terjadi. Kebohongan akan terbongkar, dan aku akan kembali mati.'


Suara Selena membuat Luz tersadar dari lamunan, "Sierra, anak-anak sepertinya sudah mulai berdatangan. Setelah pelatihan nanti, ikut aku ke suatu tempat."


...---...


Pelatihan untuk para remaja putri sudah selesai, Selena langsung mengajak sepupu perempuannya pergi ke 'suatu tempat' yang ia rahasiakan.


Luz sebenarnya ingin menolak, tapi urung ketika mengingat kalau pekerjaannya akan semakin menumpuk saat ia kembali ke kamarnya. Yah, ternyata tugas seorang puteri tak begitu berat tapi tetap melelahkan, terlebih ia juga harus belajar.


Selena menghentikan langkah saat sudah sampai di depan kebun jagung belakang gudang persenjataan Kastillia, di tengah kebun tersebut terdapat dinding batu tinggi menjulang sekitar empat meter, di dekatnya terdapat lubang kecil muat untuk satu orang.


Selena masuk terlebih dulu, lantas menyuruh Luz mengikutinya.


Kepala Luz muncul dari dalam terowongan. Pemandangan air terjun dan kebun bunga matahari langsung membuatnya terbuai, tempat ini sudah seperti paradise yang sesungguhnya.


Tapi perasaanya tidak enak, Luz memicingkan mata ke arah Selena yang tersenyum senang. Ia rasa selama ini hubungannya dengan Selena biasa saja, tidak baik-baik saja tapi juga tidak terlalu buruk, mengapa sekarang mereka seolah sudah menjadi sahabat sejati sejak bertahun-tahun, Luz semakin memicing curiga, "Kau tidak berniat merencanakan sesuatu yang buruk padaku kan?"


Pertanyaan Luz membuatnya menunduk, Selena menghembuskan napas panjang, "Aku tahu hubungan kita tak baik-baik saja selama ini. Aku selalu iri padamu, berusaha mencelakaimu, tapi kau terus bersikap baik padaku. Maaf, dan... apakah kau sama sekali tidak mengingat tempat ini? Dulu aku yang mengikutimu kemari."


"Hmm, ya. Ku maafkan karena kau membawaku ke sini. Tempat ini memang sangat indah," Balas Luz yang tak henti memandang takjub akan pemandangan menyejukkan di hadapannya. Walaupun dulu ia sering berpiknik ke negara-negara lain yang punya wisata alam lebih indah, tapi di sini seolah masih sangat bersih, baik udara ataupun lingkungannya.


Selena menahan tangan Luz, saat gadis itu hendak menuju air terjun tak jauh dari tempatnya berada, "Sekarang jujur padaku, perempuan yang mirip dengan sepupuku. Kau... siapa?"


...---...


"Kami sudah mengutus orang untuk mengirim surat beberapa minggu yang lalu, setelah kabar Puteri Sierra sudah kembali ke Aragon beredar luas," ujar seorang bawahan meyakinkan tuannya.


Yang lebih tinggi pangkatnya, menajamkan pandangan, "Tapi surat itu tak datang padaku."


"Sungguh, kami tidak berbohong," bawahannya memohon ampun, ia sangat tahu raja-nya memang kejam dan tak punya belas kasih. Khawatir akan keselamatan jiwa dan raganya sendiri, ia bahkan sedia bersujud di bawah kaki sang raja hanya untuk berusaha bertahan hidup tanpa dikejar-kejar ancaman yang bisa datang kapan saja, dan tentunya berasal dari raja-nya.


Pimpinan negeri itu tampak mengangguk sekejap, tanda memaafkan kesalahan bawahannya. Tapi sedetik kemudian kakinya terangkat, sengaja menendang kepala bawahannya yang sedang bersujud di bawahnya, "Baiklah, mari pergi ke jalur bawah tanah menuju sumur tua itu, buktikan kalau mayat Sierra benar-benar membusuk di sana."


Para pengawal di sekitar, yang sebelumnya membungkuk dengan satu kaki, langsung sigap berdiri saat mendengar perintah rajanya. Mereka juga membuka jalan untuk mempersilahkan pemimpinnya berjalan terlebih dulu.


"Ah, padahal aku hanya pergi ke Cina sebentar. Kenapa sudah banyak kabar burung yang datang terkait Aragon dan Kastillia. Dan bagaimana bisa aku tak menerima berita-berita itu sampai sekian lama."


"Kami kesulitan masuk ke negeri lain karena tidak ada izin resmi. Kemungkinan salah satu orang yang diutus untuk mengirim suratbwaktu itu, masih di tahan di pintu perbatasan antar negeri," balas salah satu pengawal.


Raja muda itu tampak acuh dan tak berniat mendengarkan penjelasan dari para bawahannya, 'Kalau Sierra benar-benar lepas dan kembali ke kerajaan Juan, maka Aragon akan semakin kuat karena dibantu Kastillia. Kemungkinan mereka sesegera mungkin menyiapkan pernikahan, penurunan tahta, dan juga pemersatuan dua wilayah.'


TBC


Thank's for reading💘