
Seorang anak laki-laki berbaju serba hitam mendekati anak perempuan yang duduk beringsut di pojok teras depan rumahnya. Di tengah-tengah para pelayat yang datang "Kenapa kau bandel sekali? Orang tuamu kan sedang ada urusan."
Anak perempuan berusia delapan tahun itu mendongak hidungnya merah, masih terisak kecil "Siapa kau?! Jangan sok tahu!"
"Orang tuamu sedang melayat di pemakaman ibuku, tapi kau malah mengganggu semua orang. Kenapa tadi menangis tidak karuan?"
"Kalian yang mengganggu! Gara-gara ibumu, aku tidak jadi beli mainan!" Bentaknya.
Anak laki-laki itu menghela napas kesal "Hanya itu? Beli mainan kan bisa ditunda nanti. Apalagi orang tuamu kenal baik dengan ayah dan ibuku, mereka jelas harus datang ke pemakaman ibuku. Harusnya kau mengerti, berapa umurmu?"
"Aku delapan tahun. Tapi... ayahku sudah berjanji, dia bilang pagi ini akan membelikan mainan, kalau ditunda pasti tidak jadi terus. Dia terlalu sibuk bekerja."
"Kalau begitu tunggu saja sampai ayahmu punya waktu luang. Tidak perlu sampai menangis berantakan di pemakaman ibuku juga, aku sedang berduka di sini, dan kau malah mengacaukan," kata anak lelaki itu tampak sangat kesal.
Membuat si lawan jenis berkeringat dingin, perilakunya yang tadi bijak kini terganti oleh wajah yang memerah dan raut menahan marah. Anak perempuan itu dengan takut mengulurkan tangannya "Kalau begitu aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengganggu acara pemakaman keluargamu lagi," ujarnya tulus.
"Sudah terlambat!" Ia berteriak lantang di depan wajah gadis itu, lantas berlalu pergi tanpa memedulikan lawan argumennya.
Julian terbangun dari alam bawah sadar saat ternyata Nathalia berteriak "Sudah terlambat kak! Aku harus segera berangkat ke sekolah."
"Tunggu, akan ku antar. Aku mandi dulu."
Nathalia menggeleng ribut "Akan lama kalau harus menunggumu, aku berangkat dulu. Dah!" Serunya seraya berlari keluar dari unit mereka.
Julian melirik sekilas jam yang tertera di dinding, sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, pantas saja Nathalia tampak khawatir. Sedangkan ia malah bersikap acuh, ia bisa datang ke sekolah sesuka hati, asal nilai harian tugas dan ujian tetap stabil di posisi atas. Guru pun juga sama sekali tak berani menegur kalau seperti itu. Aneh memang, jarang mengikuti jam pelajaran, tapi tugas dan ujian selalu mendapat nilai bagus.
Julian selalu belajar sendiri, dibanding di sekolah, ia lebih banyak menghabiskan waktu mencari ilmu di tempat tinggal. Lagi pula kalau di rumah, pengetahuan yang ingin dipelajari bisa ia pilih.
Julian menggaruk kepala sambil kembali merebahkan diri di kasur. Rasanya malas sekali pergi ke sekolah, apalagi ia tak memiliki teman. Sebenarnya banyak yang mau jadi temannya, tapi Julian yang malas dengan mereka. Karena dirinya merasa paling dewasa dan semua orang di kelas masih labil.
"Aku tadi sempat memimpikan siapa ya? Rasanya tidak asing," ia bergumam sembari teruz mengacak rambut yang sudah sangat berantakan. Julian merasa sudah memimpikan bidadari, tapi ia lupa bagaimana rupanya.
"Apa iya aku bisa lupa wajah bidadari yang cantik, dasar bodoh."
Julian berdecak dan bangun dari ranjang dengan sangat malas, bagaimanapun ia masih butuh sekolah. Makanya ia rela pergi ke tempat itu, walaupun terpaksa.
...---...
Pagi ini Luz pergi ke pasar untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan, sebenarnya sekalian jalan-jalan. Makanya ia tak menyuruh pelayan untuk membantu membelikan barang yang ia butuhkan.
Sayangnya karena posisi yang amat terpandang ini, sebagai seorang puteri mahkota, Luz terus diawasi barang satu detik pun tidak akan bisa lolos dari tatapan dua orang pengawal yang diutus.
Apalagi setelah kejadian di mana dirinya atau Sierra yang asli pernah hilang, maksudnya masih hilang sampai sekarang. Luz yang harus menanggung ketajaman indra penglihatan dua pria pengawal itu. Sebenarnya ia cukup merinding dikawal seperti ini.
"Apel segar baru dipanen pagi tadi, puteri mahkota?" Tawar seorang pedangang buah.
Tampaknya Luz tergiur akan warnanya yang merah mencolok, sepertinya memang masih begitu segar. Ia berniat membelinya beberapa buah saja, tapi pedagang itu malah memberinya banyak. Dengan alasan hadiah untuk kembalinya puteri Sierra.
Luz agak miris mendengarnya, mengapa sosok Sierra sangat diagungkan, hidupnya seperti dipenuhi kebahagiaan. Padahal selama Luz menjadi Sierra, pekerjaannya tak terlaku banyak dan tak juga melelahkan. Bahkan lebih sering duduk di kursi kebesarannya sambil melihat pemandangan yang indah di luar kastil. Apa yang perlu dibanggakan dari hidup gadis itu, apa karena wajahnya yang cantik? Selama Luz hidup menjadi dirinya sendiri yang mana memiliki rupa sama persis dengan Sierra, ia bahkan tak pernah mendapat perlakuan istimewa dari siapapun. Walau keluarganya kaya dan terhormat, rasanya berbeda saat dirinya menjadi Ereluz atau Sierra.
Gadis itu seperti punya segalanya, tahta, kekuasaan, kekayaan, rupa yang sempurna, keluarga yang baik, dan bahkan calon suami yang baik ditambah tampan pula. Atau mungkin karena ini efek hidup di dunia yang masih berlatar monarki konstitusional, di mana keturunan kerajaan selalu mendapat perlakuan istimewa, padahal hidupnya hanya begitu-begtu saja. Kalau seorang raja, mereka memang patut diperlakukan seperti ini, karena pekerjaan banyak dan punya tanggung jawab sangat besar. Anehya anak dari raja itu pun ikut mendapat perlakuan istimewa. Sungguh tak adil!
Hanya satu yang Luz berlum pernah lihat selama di sini, yaitu ibu Sierra atu ratu Kastillia. Apa wanita itu sudah mati, Luz pun tak pikir panjang, untuk apa mengurusi hidup orang kalau hidupnya sendiri saja malah terjebak di era lain.
Dari sudut mata, ia melihat seseorang tak asing tengah membeli barang di toko seberang, Luz berniat memanggilnya, tapi ingat posisinya sebagai Puteri mahkota Sierra, tak bisa sembarangan berkenalan, apalagi banyak pasang mata menatap segan padanya, juga sekaligus menjadikan posisi utama sudut pandang semua orang. Kalau di film, ia lah pemeran utama perempuannya.
Orang yang Luz kenali berbalik, dia Reagel yang sedang mencari barang utusan kakeknya di Kastillia. Reagel membelalakkan mata melihat Luz berdiri di depn sana menjadi pusat perhatian banyak orang. Emosinya langsung naik tapi sadar kalau gadis itu berhasil mengelabui banyak orang dengan mengaku sebagai puteri mahkota Kastillia yang kembali setelah hilang berbulan-bulan. Apalagi dia terlihat dijaga dua pria berbadan bagai bodyguard.
"Awas saja Luz, suatu saat kau akan mendapat balasan atas kelakuanmu. Dasar tidak tahu diri."
Bertepatan saat Reagel tengah memandangnya, Luz juga membalas pandangannya sambil tersenyum kecil. Niat gadis itu menyapa, tapi Reagel salah mengartikan sebagai sindiran sinis. Jujur, Luz memang sangat cantik dan sempurna dengan gaun indah warna biru tua itu. Tapi Reagl terlanjur kesal setengah mati padanya, mereka harusnya masih bersama karena mereka senasib. Luz memang hanya mementingkan diri sendiri.
Reagel membalas senyuman iut dengan tatapan tajam, tak ada keramahan. Bahkan mereka sudah seperti pengintai dan mangsa. Luz menaikkan alis melihat reaksi itu.
Tapi Reagel malah pergi menjauh, ia tak tahan lagi melihat wajah sok polos gadis itu.
TBC