Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Mekanika kuantum



Mesin waktu adalah sesuatu yang tidak dapat di gambarkan secara tiga dimensi, hanya logika dan kebenaran yang bisa membuatnya dipercayai oleh orang lain.


Jika seseorang menginginkan pergi ke era atau tahun yang lain, maka terjadilah perpindahan antar materi busa kuantum menuju waktu yang di maksud.


Persyaratannya hanya satu, superkomputer kuantum lah yang dapat memenuhinya, dengan mengenakan jam analog untuk seseorang yang sudah memiliki sidik jari atau disebut kriptografer-nya super komputer kuantum.


Analognya akan menghubungkan seluruh unsur yang menjadi penyusun tubuh manusia, komputer dapat memproses, membuat tubuh terpisah antar atom hingga ujungnya, yaitu busa kuantum. Lantas, portal kecepatan cahaya bisa diadakan berkat analognya yang memiliki hitungan waktu maju-mundur di galaksi bima sakti.


Bukan hanya meloncati waktu yang analog-time machine itu dapat lakukan, teleportasi antar planet pun bisa, sebab hitungan dari jarak bumi ke planet yang dituju juga dihitung dengan jarak tahun cahaya.


Seluruh manusia yang sudah pernah menjadi pemegang resmi superkomputer kuantum dan analog tidak pernah melakukan perjalanan waktu ke planet lain, disebabkan keadaan alam yang berbeda dengan bumi.


Bumi di alam semesta hanya berjumlah satu, bila ada benda luar angkasa lain yang menyerupai bumi, tetap saja tidak akan bisa ditinggali manusia. Karena itu bukanlah habitatnya.


Sebab hal itulah, rumor keberadaan mesin waktu yang menjadi misteri di kalangan peneliti dan masyarakat pecinta teori meknika kuantum, sampai sekarang belum terungkap dan masih dicari.


Untuk masyarakat awam sendiri, kebanyakan memilih tidak percaya atau bahkan mengabaikan, di pandangan mereka, seorang peneliti atau ilmuwan hanyalah orang-orang kelebihan kepintaran, yang membuang waktu sia-sia untung mengais informasi benda non-logis.


"Hanya dengan teknologi kuantum, kita bisa menghubungkan sinyal yang lebih efisien terhadap benda peloncat peradaban itu. Yang sudah Prof. Alenio temukan, memang sudah memasukkan keunggulan fisika kuantum, hanya saja masih kurang, istilahnya tidak bisa menjangkau mesin waktu karena memang tidak sepadan," jelas Julian seraya memperhatikan benda kubus yang Prof. Alenio gunakan untuk menangkap sinyal dari keberadaan mesin waktu.


Maniknya memperhatikan detail kecil permukaan benda berlapis logam tersebut, dengan kaca mata lensa cembung. Julian tampak begitu berwibawa, padahal hanya dibaluti snelli, kaca mata, dan sapu tangan organik.


"Jadi benda ini sudah hampir berhasil?"


"Ya, kalau kita memperdalam riset tentang mesin waktu itu lebih banyak lagi, sepertinya benda ini alan bekerja lebih baik, lebih sempurna lagi."


Prof. Richard mendengus "Itulah, karena kita sangat minim informasi, jadinya sekuanya berjalan tidak terlalu sempurna."


"Sebaiknuya kalian jangan hanya mempercayai rumor dari tahun ke tahun, buktikan. Jabarkan kalau semuanya memang ada, jangan asal merencanakan sesuatu yang belum ada kebenarannya begini," kesal Julian.


"Kalau benda buatan Prof. Alenio saja sudah bisa menangkap sinyalnya, berarti mesin waktu itu memang benar ada. Kita hanya tinggal mendalami lebih jauh," sahut Prof. Katana.


"Okay... okay... ayo mulai mencari bahan untuk melakukan riset lebih dalam."


...---...


Luz terbangun dalam keadaan berantakan dan menjijikkan. Semalam, lelaki yang serupa dengan Hareen yang sebenarnya adalah Reagel itu, tidur dengan posisi memutar, menendangi tubuh Luz sampai keluar dari dedaunan yang menjadi alas mereka.


Akibatnya, tubuh gadis itu jadi berlumur tanah, di rambutnya juga terselip daun-daun kering, bahkan wajah cantiknya jadi hitam da kucel.


"Reagel! Bangun! Buka mata! Jangan mati!" Luz terus berseru, melihat lelaki itu sama sekali tak berminat untuk membuka kelopak matanya.


Kesal, Luz pergi mengumpulkan ranting kecil, lantas menjatuhkannya tepat di depan wajah Reagel yang masih setia terlelap.


Lelaki dari masa depan itu gelagapan, setelah sadar akan keadaan matanya menatap tajam Ereluz yang tertawa terbahak-bahak di depannya "Sialan kau! Awas saja, jangan ikut dengaku lagi. Pergi sana!"


"Eh, ya ampun, Reagel. Aku kan hanya bercanda, jangan begitu..." Sahut Luz yang masih tertawa. Mengingat ekspresi Reagel saat ia mengejutkannya dengan ranting.


Lelaki itu sadar akan rupa Luz yang saat ini sangat mengerikan, ia pun sampai bergidik "Sebaiknya kita cari sumber air, Luz. Kau sangat jelek, jangan tertawa."


Sontak si gadis berhenti tertawa dan memasang raut terkejut "Kenapa wajahku?!" Teriaknya.


...---...


"Huhu... ini gara-gara kau! Wajahku jadi buruk rupa!" Teriak gadis cantik yang kini berubah menjadi gembel layaknya disihir oleh tongkat ajaib.


Reagel mendengus kesal melihat tingkahnya "Tinggal dicuci pakai air kan sudah bersih, kenapa harus teriak-teriak dulu."


"Air ini warnanya coklat! Aku tidak mau cuci muka di sini, nanti malah semakin jelek! Sebaiknya kita cari sungai saja," ujar Luz yang sudah hampir melangkah meninggalkan danau kecil berair keruh tersebut.


"Ish! Menyusahkan!" Gerutu Reagel.


Keduanya berjalan lagi tak tahu arah, sampai alhirnya terdengar gemericik sumber air "Reagel! Reagel! Sepertinya aku mendengar suara air," seru Luz kegirangan.


"Air tidak bisa bicara."


"Euh, dasar!" Cibirnya seraya berlari mendekati suara gemericik tersebut. Dan benar saja apa yang Luz katakan, ada air terjun setinggi dua meter, mungkin tak bisa di bilang air terjun, namun sangat lebar, barangkali selebar air terjun niagara.


Gadis itu membasuh wajahnya sampai bersih kembali, ia juga menata surainya yang sangat kusut itu, baru melakukan perubahan sedikit, wajahnya sudah kembali memancarkan kecantikan murni. Sebuah anugerah tuhan yang di dapat Luz secara cuma-cuma.


Reagel sampai terdiam di tempat karena terpesona "Kau cantik sekali, Luz," ucapnya tanpa sadar.


Luz menengokkan kepala ke arahnya, bibir gadis itu pun tersungging sebelah "Sayangnya kecantikanku hanya cocok bersanding dengan seorang pangeran."


Luz tidak ada niat untuk bercanda barang sedikitpun, ucapannya ia lontarkan secara jujur dari hati. Namun, perkataan seperti itu sudah jelas hanya dimiliki seseorang yang memiliki sikap angkuh dan sombong sepertinya.


Reagel hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya.


"Baiklah, sekarang kita harus pergi ke mana? Rumah pria yang mengurungmu itu?" Tanyanya melupakan beberapa menit yang lalu perihal perkataannya yang tidak baik.


"Seharusnya kita mulai kehidupan baru di sini, setelahnya baru mencari tahu tentang orang yang sudah mengurungku. Itu akan memudahkan."


"Tapi itu terlalu lama, aku tidak bisa hidup di tempat seperti ini lebih lama lagi, aku ingin pulang."


"Kita juga tidaktahu sedang di mana, sebaiknya cari perkampungan dekat sini, lalu kita buat rumah di sana. Setidaknya ada tempat berteduh sementara, jangan langsung mendatangi pria itu, kita belum mengetahui kejelasan semuanya."


Luz menghela napas kecewa, kepulangannya harus ditunda lebih lama lagi. Padahal ia sudah sanat rindu kehidupan glamour-nya dulu, ayah dan ibu juga "Mungkin mereka memang berniat membuangku seperti ini," gumam Luz saat teringat kembali orang tuanya.


...---...


Reagel dan Luz sama sekali tidak menyerah saat berjalan, tidak ada keluhan, keputus asaan, atau bahkan mengomel sedikitpun.


Luz sebenarnya putus asa, tapi ia diam karena mulutnya saja lelah untuk bicara, lebih tepatnya hanya malas mengatakan sesuatu.


Sedangkan Reagel fokus mencari jalan, biasanya jalanan yang sering dilalui manusia akan membentuk jalan setapak, melihat bekas injakan kaki, Reagel merasakan harapan. Matanya sedari tadi tak lepas melihat ke arah bawah, memastikan jejak itu benar-benar miliki kaki manusia.


"Luz! Ini jalur besar! Sepertinya ini jalanan utama!"


*TBC


THANK'S FOR READING💘*