Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Bertemu di kafetaria



"Nanti malam jam sembilan? Baiklah-baiklah, akan kami persiapkan tempatnya. Anda jangan khawatir Tn. Girasol."


Julian yang tengah mempersiapkan seragam kerjanya, seketika mendongak saat mendengar marga sangat tidak asing di hidupnya. Marganya sendiri 'Itu ayah, atau orang lain yang kebetulan bermarga sama ya,'


Plok plok. Sang Owner menepuk tangan dua kali, seraya memanggil para karyawannya yang bertugas dengan senyum sumringah. Tentunya seusai menyelesaikan panggilan penting dari calon customer "Nanti malam ada job dari perusahaan tekstil. Mereka meminta satu ruangan khusus untuk meeting dadakan. Kebetulan dia temanku, jadi kita siapkan tempat di atas saja, tolong segera, karena jam sembilan mereka akan datang."


"Dan untuk Julian, karena malam ini job pertamamu, ku harap kau bisa bekerja dengan baik," ujar Cassandre meyakinkan karyawan barunya yang masih begitu muda "Kau sudah mendapat penjelasan tata cara kerja dari lead waiter kan?"


Julian mengangguk, penjelasan dan tata peraturan kerja yang sudah dijelaskan lead waiter terasa terlalu mudah baginya. Hanya mencatat pesanan dan memberikannya pada bagian dapur, lalu setelah masakan siap, bisa disajikan pada pelanggan yang memesan.


"Baguslah, untuk menghemat waktu, sebaiknya kita mulai bekerja dari sekarang. Uh, ini dadakan sekali. Untung saja customer kali ini temanku."


Setelah karyawan lain pergi menuju tugas masing-masing, Julian justru masih terdiam di tempat. Ia menghampiri atasannya dengan ragu "Maaf nyonya, kalau boleh tahu customer itu apakah Tn. Eren Girasol dari perusahaan tekstil pavirona?"


"Iya, dia teman lamaku. Kau mengenalinya?-- eh, margamu Girasol kan?" Cassandre terkejut atas ucapannya sendiri, mengapa sejak awal ia tak menyadari Julian memiliki marga yang sama dengan pemilik perusahaan tekstil ternama.


"Ah, kami hanya saudara jauh. Sangat jauh. Aku permisi dulu nyonya," Julian segera pergi ke ruang atas untuk membantu bersih-bersih.


Meninggalkan Cassandre termenung di depan kasir "Kalau tidak salah Tn. Eren punya anak laki-laki kan, wajah Julian juga agak mirip dengannya."


...---...


"Ashee, Jordan, Merdeli, Julian, Faren, Yves, dan Caleena. Kalian khusus melayani bagian special customer, sedangkan yang lain tetap di bawah, melayani pelanggan biasa nantinya."


Para lelaki dan perempuan yang berjejer rapi dengan seragam putih ber-apron, mengangguk serempak. Setelah dipersilahkan, semuanya segera kembali bertugas. Tepat pukul sembilan kurang lima menit, beberapa special customer pun mulai berdatangan, dan langsung diarahkan ke ruangan atas, ada pula pelanggan biasa, memilih tempat di ruang utama indoor atau pun outdoor.


"Hey, kenapa kau memakai masker dan topi?"


Julian meringis kecil, lalu berlagak batuk "Aku sepertinya agak pilek dan batuk. Takut menulari."


"Ya kalau begitu kenapa pakai topi juga, ini di dalam ruangan."


Aduh, lagi-lagi ia dipusingkan mencari alasan. Julian mendekatkan bibirnya pada orang yang bertanya "Belum keramas, takut ada ketombe."


Rekan kerjanya itu pun bergidik jijik "Dasar, ganteng kok jorok."


"Yang penting ganteng."


"Julian, Yves, segera naik ke atas. Jangan mengobrol terus."


...---...


Sebagai direktur utama, Eren Girasol memimpin meeting kali ini. Yah, sekalian merayakan ulang tahun perusahaannya yang ke dua puluh.


Dua jam lebih berlangsung, mereka mulai memesan makanan untuk mengisi perut. Diawali dengan makanan ringan untuk pembuka.


Julian sempat gemetar saat mencatat pesanan ayahnya sendiri. Entah memang tidak menyadari atau tidak peduli, pria itu tampak tak mengenali sang anak sama sekali, harusnya dari postur tubuh saja sudah bisa tertebak.


Mungkin memang karena hubungan mereka kurang baik sebagai ayah dan anak, dengan pakaian tertutup saja bisa tertipu.


Usai mencatat pesanan, Julian turun ke bawah untuk diberikan pada chef penanggung jawab, baru setelah masakan siap, beberapa waiter mengantar kembali ke atas untuk dihidangkan pada pelanggan.


"Ah tunggu, nak."


Panggilan itu membuatnya waspada, meski sisik yang memanggil bukanlah sang ayah. Julian bisa saja dikenali beberapa orang yang menjadi rekan ayahnya.


"Sausnya terlalu sedikit, bisa minta tolong untuk ditambahkan."


...---...


"Ah, akhirnya selesai. Lelah sekali."


Saat ini sudah pukul setengah dua belas malam, sebentar lagi kafe akan tutup. Julian dan Yves memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan duduk berselonjor di bawah meja kasir.


"Baru seperti ini saja kau sudah lelah, laki-laki atau laki-laki?" Ejek Yves mendengar keluhan rekan seprofesi barunya.


"Kau sendiri juga kelelahan ya, tidak usah mengejek begitu. Kurang ajar," refleks Julian mengepalkan tangan berlagak hendak meninju.


Yves sontak menjauh "Eh santai bro... santai.. sensitif sekali kau ini."


"Julian! Yves!" Seruan itu membuat keduanya mendengus, baru saja istirahat sebentar.


Yves berdiri tegap, dan menarik tangan kanan Julian agar ikut berdiri "Ayo, namanya juga bekerja. Kita seperti ini untuk terus bertahan hidup, jangan banyak mengeluh. Nanti kudisan."


Lawan argumennya memicing "Mana ada begitu."


"Ada, sudahlah ayo, nanti mereka mengamuk kerena menunggu kita."


Keduanya menuju sumber suara, rupanya karyawan lain yang punya shift malam sudah banyak yang pulang, hanya tersisa ibu owner, Cassandre "Yves, ini gajimu bulan ini," wanita itu mengulurkan amplop berisi uang sejumlah gaji Yves sebagai waiter selama sebulan ini.


"Dan untuk Julian, karena hari ini hari pertamamu, jadi.. kau juga akan dapat bonus. Kerjamu cukup baik. Tapi ayo kita bicara dulu di belakang."


Yves mengerti keadaan, ia pun pamit terlebih dulu untuk pulang.


"Ada apa nyonya? Ingin membicarakan apa?" Tanya Julian setelah duduk berhadapan dengan bos-nya.


"Sebelumnya ini bonusmu di hari pertama bekerja," wanita itu menyodorkan amplop yang sama seperti milik Yves tadi, hanya saja lebih tipis, isinya tentu lebih sedikit.


Julian menerimanya dengan cukup berat hati, uang dengan nominal sekecil itu tidak banyak membantu hidupnya dengan Nathalia.


"Julian, apakah kau putra Tn. Eren Girasol?"


"Bukan, tadi saya kan sudah bilang, kami saudara jauh."


"Tapi wajah kalian cukup mirip, seingatku, Tn. Eren juga punya anak laki-laki. Lahirnya hampir bersamaan dengan putriku. Kau tujuh belas tahu kan, seusia dengan putriku."


"Bukan."


"Anak Tn. Girasol namanya Julian kalau tidak salah ingat, dan adik perempuannya Nathalia?"


Mau tak mau Julian akhirnya mengangguk "Tapi nyonya, jangan katakan hal ini pada ayahku, pada siapapun. Kalau aku bekerja di sini."


"Memangnya kenapa? Kau itu anak konglomerat, orang yang termasuk sangat kaya di negeri ini, kau menyiakan hasil jerih payah orang tuamu, maksudku ayahmu," ralat Cassandre, mengingat ibu anak lelaki di depannya sudah tidak ada.


"Ayahku tak sabaik yang nyonya kira."


Cassandre mengernyitkan dahi keheranan atas perkataan Julian, selama ini ia memang tak begitu tahu kehidupan keluarga Girasol itu "Ada apa memangnya?"


"Aku tak bisa menceritakannya padamu, ini masalah keluargaku."


*TBC


THANK'S FOR READING💘*