
Luz benar-benar keluar dari rumah Feuji, berlari terburu menuju jalanan manapun yang membuatnya ditemui orang. Gadis itu sudah lelah kalau harus hidup menjadi orang miskin yang selalu bekerja jeras hanya demi makanan. Maka, ia memutuskan untuk mengaku sebagai seorang Puteri yang hilang.
Reagel mencekal tangan kakeknya yang hendak pergi mengejar Luz, ia menggelengkan kepala "Dia memang seperti itu."
"Di kehidupan keduanya saat ini, harusnya sikap Luz dibenarkan. Kita tidak boleh membiarkannya seperti itu, atau dia akan kembali mendapat penyesalan."
"Tapi ini kemauannya, kita tidak berhak untuk ikut campur. Kalau Luz memang mau menggunakan sisa hidupnya menjadi orang baik, kita tunggu saja, perjuangannya untuk kembali ke rumah ini."
Sang kakek mendesah kecewa "Luz akan pergi ke kerajaan, kalau orang-orang juga mengiranya sebagai Puteri Sierra, maka... yah dia akan menempati posisi itu, tapi kebohongan tetap akan terungkap, kalau sampai ketahuan, Luz bisa saja... mati."
...---...
"Aku tidak peduli kalau harus mati setelah ini! Yang penting bisa menjaga rahasia dengan baik, maka semuanya tidak akan terbongkar kan.."
Mendengar kebisingan di dekatnya, Luz segera mendekat ke sumber suara. Dan benar saja ada pasar, sosoknya yang kini terbalut pakaian lusuh, baru saja keluar dari gang sempit, menjadi pusat perhatian semua orang.
"Puteri sudah kembali?"
"Puteri Sierra masih hidup!"
Luz menggerakkan bola mata tidak nyaman, ketika semua orang mengerumuninya. Terlebih saat dipandangi dengan tatapan takjub, intens, dan bahkan haru.
'Mereka semua berlebihan sekali!'
Berita itu dalam sekejap saja sudah mampu sampai ke telinga Raja Saloar dan putra-putranya. Juan yang belum begitu sehat, bahkan bisa kendengat teriakan seseorang di depan istana, yang menyebutkan nama calon pengantinnya.
Juan yang tak mendengar begitu helas, bergegas turun dari ranjang dan memakai pakaiannya, lantas berlari keluar menemui banyak orang yang sudah berdiri di depan istana.
"Puteri Sierra sudah ditemukan, dia ada di dekat sungai ebro!"
Seperti bunga yang tiba-tiba mekar, bibir sang pangeran bungsu tersungging ke atas, membentuk senyuman kebahagiaan. Walaupun ia tak tahu berita ini kebenaran atau bukan.
Sierra yang sudah lama menghilang tiba-tiba kembali begitu saja. Meski memang aneh, Juan tak pikir panjang untuk segera menuju kandang kuda, tak lupa membawa pedang yang diselipkan dipinggangnya, ia memacu kuda menuju lokasi yang disebutkan warga. Lokasi keberadaan Sierra sekarang.
Saat hampir sampai, Juan memilih turun dari kudanya, membiarkan para warga yang berkumpula membuka jalan untuknya menemui sang Puteri.
Dengan napas terengah dan jantung berdetak kencang, matanya bergetar melihat gadis itu duduk di atas batu.
Juan mengernyitkan dahi, Sierra yang sekarang ada di hadapannya tampak lain, surainya lebih pendek dan berwarna kebiruan. Tidak ada tanda-tanda kalau dia baru diculik ataupun hal yang masih dicurigai. Jadi, kemana hilangnya sang puteri selama ini?
Sedangkan sosok puteri palsu itu hanya bisa melanjutkan peran di dramanya dengan baik. Terlebih, seorang pangeran yang akan menjadi pendampingnya terlihat sangat tampan dan bijaksana. Luz berteriak senang dalam hati 'Akhirnya! Pangeran itu tampan sekali! Aku tidak akan pernah menyesal melakukan ini, lagipula Puteri mahkota yang asli sudah mati kan!'
Setelahnya, kedatangan raja dan ratu kembali membuat suasana makin riuh.
"Kenapa kau hanya menatapnya begitu, Sierra sudah berada di sini," ujar sang raja, mengembalikkan kesadaran putra bungsunya.
"Ayo Puteri mahkota, kita kembali ke istana. Kami akan mempertemukanmu dengan keluargamu dari Kastillia."
Juan sampai tidak bisa bicara, ia hanya terus menatap Sierra yang sedikit aneh. Kenapa puteri mahkota itu tak menangis atau ketakutan setelah hilang selama ini, terlebih, kenapa tatapan Sierra seperti orang yang tidak mengenalinya.
...---...
Luz memilih warna itu karena ia memang suka, maroon terlihat mencolok dan berani, meski begitu tetap terlihat sisi kekuatannya, sebagai seorang wanita.
Surainya juga sudah dicuci dengan bersih, bahkan aroma wewangian yang menjadi tambahan membuat rambutnya tampak seperti bunga yang batu mekar. Indah dan wangi. Ditambah pernak-pernik perhiasan yang bergelantungan di beberapa bagian tubuh, bahkan yang di kaki pun terdengar gemerincingnya.
Tapi tetap saja, penampilan itu sungguh mencurigakan di mata Juan, kekasihnya lebih suka dengan warna lembut seperti merah muda, biru muda ataupun peach.
Melihat riasan wajah Sierra yang sekarang semakin membuat hatinya tidak karuan, hatinya seolah mengatakan hal lain 'Apa aku sudah tidak mencintainya lagi?'
Bukan tidak senang dengan kembalinya Sierra, Juan hanya merasakan keanehan. Sikap puteri mahkota berubah drastis.
Kini perempuan cantik itu tengah duduk di ruang makan bersama semua bangsawan. Luz hanya bisa tertawa canggung saat semua orang mulai menanyainya.
"Jadi, bagaimana cerita kau tiba-tiba menghilang begitu saja? Dua kerajaan bahkan sampai berseteru karena dirimu," ujar sang ratu.
Gadis itu tersenyum manis seperti tidak menyembunyikan kebohongan "Aku tersesat di hutan dan tidak bisa pulang."
Juan terbelalak, ia spontan meremat gelas berisi air sirop "Lalu di mana pengawalmu? Kenapa hanya kau yang kembali."
Luz meremat rok karena kegugupannya "Aku terpisah dengan mereka, jadi... entahlah aku tidak tahu di mana mereka semua."
"Lantas bagaimana kau bisa kembali lagi, sedangkan pengawal yang menemanimu jumlahnya banyak, mereka semua jelas lebih tahu arah jalanan dari Aragon ke Kastillia."
Kedua mata Luz memicing, ia tidak tahu dendam apa pangeran muda itu pada sosok asli Puteri Sierra, tapi dari cara bicaranya menunjukkan kalau dia tidak suka dengan kembalinya sang puteri.
Luz menghentak-hentakkan sebelah ujung kakinya pelan, lantas menunduk sejenak "Sebenarnya kami diserang hewan buas di jalan, para pengawal menyuruhku pergi dan bersembunyi. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka, karena aku malah lari ke hutan, yang akhirnya tersesat. Maaf, maaf sudah berbohong..."
"Hei nak..., jangan menangis. Ini bukan salahmu," ujar sang ratu seraya mendekati kursi calon menantunya, lantas memeluk tubuh gadis itu, seraya mengelus kepalanya.
"Aku takut kalian menyalahkanku atas kepergian mereka," Luz terisak lirih, jiwa dramatisnya cukup bisa diandalkan.
Juan terus merasa tidak nyaman, ia melirik kakak-kakaknya, namun mereka tampak senang dengan keberadaan gadis itu di sini.
Hanya saja Juan memang tidak menyadari kalau tatapan Jevin hanyalah bohong belaka.
Jevin membendung kemurkaannya dengan senyuman manis, seolah ia ikut bahagia dengan kehadiran puteri mahkota.
Tapi di dalam hatinya, sangat... sangat... marah. Kalau Sierra kembali, hal itu akan menambah kebahagian adik bungsunya, kehidupan Juan jelas lebih terhormat dan lebih baik sepenuhnya dari dirinya.
Jevin iri dengan semua itu, mengapa Juan selalu mendapat kebahagiaan sejak kecil, sekalipun ada kejadian buruk, semuanya akan lenyap hanya dengan ditumpuk kebahagiaan yang lain.
Karena Juan adalah si bungsu, kasih sayang ayah dan ibu tentu paling besar padanya.
Dia juga baik dan merakyat, jelas kebanyakan orang akan menyukainya bahkan sampai lelaki itu beranjak dewasa.
TBC