
Juan sudah berada di tengah auditorium, ia akan melaksanakan pelatihan pertarungan indoor kali ini, tanpa senjata dan tanpa pelindung.
Pangeran termuda itu sudah melepas atasannya, bertelanjang dada selagi melakukan pemanasan. Sang lawan kali ini adalah panglima muda di Aragon, yang usianya juga sama dengan Juan sendiri.
Panglima bernama Amer itu sudah sejak kecil menjadi teman dekat Juan, mereka selalu melakukan semua hal kekanakan bersama, bahkan sampai dewasa pun juga masih setia bersama.
"Kau yakin bisa memulainya? Sepertinya tubuhnu agak lemah akhir-akhir ini," sindir Amer, si panglima muda itu memang tak pernah menggunakan bahasa formal ketika hanya ada mereka berdua dan di luar jam kerja. Efek bersahabat sejak kecil, membuat Amer tak ada kecanggungan untuknya.
"Heh tupai jelek! Tidak ada alasan kenapa kau mengataiku lemah! Siapa yang di sini selalu menang bertarung huh?!" Sahut Juan tak terima diolok.
Amer mendesis, seraya mengusap handuk dari bulu domba ke seluruh tubuh bagian atasnya "Ayo mulai! Jangan banyak bicara kau pangsit rebus jelek!"
Juan membuat raut se-emosi mungkin "Di sini yang tadi banyak bicara itu kau!" Serunya.
"Sudah, sudah, kapan kalian akan mulai kalau seperti ini terus," mantan panglima kerajaan, tuan Edward yang juga merupakan ayah Amer, tiba-tiba datang dan memisah pertengkaran kedua orang muda berpengaruh di kerajaan ini.
Keduanya tampak terkejut dengan kedatangam sosok yang begitu tiba-tiba itu, sangat mengagetkan seperti hantu.
Edward menepuk tangan tiga kali "Ayo mulai anak-anak, aku akan jadi jurinya."
Amer sontak mendelik kesal "Euh! Ayah pasti akan berpihak pada Juan! Aku tidak mau, kami tidak butuh juri!"
"Ya, paman jadi juri saja. Lihat mana yang bertarung dengan baik," sahut Juan terlihat senang, karena Edward mungkin bersikap lebih baik padanya ketimbang anaknya sendiri, sepertinya pengaruh dengan dirinya yang seorang pangeran "Ayo mulai Amer!"
Juan mulai memasang posisi kuda-kuda segitiga, begitu pula Amer juga segera mengarahkan tubuh dengan posisi yang sama namun sebaliknya, karena letak mereka berhadapan.
Awal pertarungan, keduanya hanya berputar saling mengendap. Setelahnya Juan pertama menyerang secara tiba-tiba dengan tendangan C, tendangan dengan posisi huruf c, kaki yang berada di belakang mengayun lamban ke depan dengan posisi miring. Tendangan secepat kilat itu sontak mengenai perut kiri Amer.
Sang panglima tak ingin merasa dikalahkan, ia balas melompat rendah, memiringkan badan lantas berusaha mengarahkan tendangan yang bertumpuan utama pada telapak kaki ke kepala sang pangeran.
Juan cekatan menunduk guna menghindari tendangan T dari Amer. Menurut beberapa ahli atau petarung, tendangan posisi T memang paling ampuh digunakan saat bertarung, tapi melelahkan dan perlu tenaga semaksimal mungkin.
Pangeran muda itu tersenyum miring ketika berhasil meloloskan diri dari serangan bertubi-tubi Amer.
Sudah sepuluh menit lebih pertarungan berlangsung tanpa jeda, belum ada yang tumbang, Juan merasakan Amer semakin bertambah hebat menandinginya untuk saat ini "Cukup Amer, kita istirahat dulu."
"Kenapa? Kau sudah merasakan hawa kekalahan?" Ejek Amer, lagi.
Mata runcing Juan memicing tidak suka, temannya satu itu memang sangat suka mencari masalah dengan dirinya. Menghiraukan ejekan Amer, Juan memilih duduk di salah satu kursi auditorium bersama mantan panglima Edward "Semakin lama, aku merasakan ketangguhan Amer bertambah. Apa kau terus berlatih, selama aku pergi?" Gumam Juan.
"Tidak, bahkan kau tahu sendiri. Amer sangat pemalas, kalau aku tidak menyuruhnya berlatih, dia tidak akan mau melakukannya," sahut Edward.
"Aku malah merasa kalau kau yang semakin lesu, kan sudah ku katakan dari awal kalau kau terlihat tidak sehat," ujar Amer.
Juan memijat bahunya sendiri, lalu berpindah ke bawah dada "Sepertinya di dekat tulang rusukku agak sakit."
"Sepertinya?! Sepertinya?! Bagaimana kau bisa bilang sepertinya, ya ampun! Kalau memang sakit istirahatlah, jangan sok kuat!" Cibir panglima muda itu dengan raut berubah-ubah, kadang marah, khawatir dan masih banyak lagi.
"Aku tidak tahu, tapi..." Juan melirik badan bagian bawah dada yang sedang dipegangnya memang sedikit membiru. "Ini memang agak sakit, shh," lelaki itu mengerang kecil, membuat Edward dan Amer panik.
"Sebaiknya kita ke istana, panggil tabib Ignatius!" Seru ayah pada Amer, setelah melihat wajah Juan tampak memucat.
Terbangun dari ketidak sadaraan secara tiba-tiba atau sering disebut pingsan, membuat kepala Luz sangat sakit dan kedua matanya juga memburam. Akhir-akhir ini pandangannya memang sering kabur, apalagi kalau sedang begitu kelelahan.
Mendengar suara decitan pintu, kepalanya langsung beralih ke sumber bunyi tersebut. Luz bisa menebak dengan yakin, kalau yang datang bukan Reagel, orang yang terakhir kali bersamanya.
Badannya jauh lebih besar, namun sepertinya tidak lebih tinggi dari Reagel.
"Kau sudah sadar nak? Butuh sesuatu?" Tawarnya, suara itu sangat berat, pastinya bukan Reagel.
"Siapa kau? Dan di mana temanku?" Luz tidak bisa melihat dengan jelas, tentunya sedari tadi gadis itu mengedipkan mata berkali-kali, membuat pria yang datang kebingungan.
"Reagel ada di belakang, sedang makan. Kau mau makan juga?"
Luz menggeleng "Siapa kau?"
"Aku... kakeknya Reagel, jangan khawatir. Ayo, kita ke dapur, kau pasti juga lapar."
Dahinya mengernyit keheranan, sejak kapan Reagel punya kakek di sini, bukankah lelaki itu datang dari masa depan bersamanya. Luz sontak tersenyum miring, orang di depannya pasti memiliki rencana buruk, karena ia berbohong "Yakin kalau kau kakeknya Reagel?"
Giliran pria tua itu yang mengerutkan dahi, mengapa pertanyaan Luz agak aneh dan juga terkesan tidak sopan "Iya, memangnya ada apa?"
"Tolong arahkan aku ke dapur saja, aku mau bicara dengan Reagel," ujarnya.
"Baiklah," pria tua itu membawa Luz menuju dapur rumahnya. Melihat cara jalan anak gadis di depannya agak sempoyongan juga sambil meraba-raba keadaan sekitar, Feuji merasa keheranan.
Pria itu memutuskan untuk bertanya, walaupun barang kali pertanyaannya akan membuat Luz sedih, sebab ia berpikir, gadis muda itu buta "Apa kau sakit mata?" Tanyanya lirih.
"Ya, ini hanya kadang-kadang terjadi," sahut Luz.
"Sakit yang bagaimana? Apa kau perlu obat, nak? Aku akan berusaha mencarikannya," tawar Feuji, Luz hanya mendesis pelan, ia masih berpikiran kalau orang yang tengah membantunya berjalan ini adalah orang jahat yang punya niat buruk untuk balasan menolongnya kali ini.
Anehnya, mengapa Reagel bisa-bisanya mengiyakan tawaran bantuan dari orang ini. Luz jadi takut kalau pria itu benar-benar orang yang tidak baik.
"Tidak perlu, nanti juga sembuh sendiri," sahutnya acuh.
Sesampainya di dapur, terlihat Reagel tengah menikmati hidangan yang tuan Feuji sediakan. Pandangan Luz pun mulai membaik, gadis itu langsung menuju Reagel dengan tatapan penuh tanya. Sebenarnya Luz hanya ingin tahu isi otak bodoh lelaki itu, mengapa bisa-bisanya begitu saja percaya pada orang asing.
Luz berbisik "Kenapa kita di sini, bodoh?!"
Sang lawan argumen tidak menjawab, dan memilih melanjutkan makan di suapan terakhirnya. Luz juga masih menunggu jawaban lelaki itu, dengan mengulang topik pertanyaan setelah Reagel selesai menelan "Kenapa kau bisa percaya begitu saja pada orang asing? Bagaimakan kalau kita di apa-apakan?"
Reagel masih teridam, lantas meneguk air sebentar "Dia kakekku."
"Huh?!"
*TBC
THANK'S FOR READING*