Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
I am Here and You There



"Bersiaplah, Juan," ungkap pria setengah baya itu, sigap membuat yang disebut memasuki lingkup hologram berbentuk tabung memanjang hampir dua meter lebih. Titik utama untuk memindahkan 'sesuatu' dari satu detik ke detik lain. Mereka lebih lega menyebutnya dari satu semesta menuju semesta lain atau yang diinginkan.


Julian terdiam sejenak saat Urgre memanggil Juan, telinganya berdengung seolah mengingat sesuatu yang berharga, "Juan.. Seperti...! Oh, tunggu, apakah kau Juan Sán Azarcon?!"


Pria itu mengangguk, "Ya! Pangeran termuda Aragon, keturunan Raja Saloar II. Terima kasih atas bantuan kalian, semoga kita bisa bertemu lagi, aku akan membelikan makanan enak! Sampai jumpa!"


Mereka yang berada di ruangan sempat terpalu sejenak, apa yang dibicarakan memang benar? Pangeran? Dia putra seorang raja?


Julian menggigit bibirnya, "D-dia? Astaga, ternyata batu nisan itu miliknya."


"Nisan?" Beonya, alis dan dahi bahkan tertarik bersamaan.


Urgre segera menyadarkan yang lain, membuat remaja lelaki itu spontan menekan salab satu tombol, "Julian, cepatlah!"


"Sekali lagi terima kasih, sampai jump--" ucapan Juan terpotong bersamaan dengan tubuhnya yang memudar, hilang, bagai debu.


"Luz akan kembali..."


---


Beberapa jam sudah berlalu, calon raja itu pergi, dan digantikan dengan keberadaan gadis muda berbusana gaun kuno yang lusuh dan penuh luka gores. Cassandrea begitu bahagia, tak henti memandang wajah putrinya yang terlelap damai, lebih tepatnya, seakan tak ingin bangun, "Kenapa dia belum sadar juga?"


"Sepertinya tubuh Luz memang dalam kondisi tidak baik saat kita memaksanya kembali ke tahun ini. Pergelangan tangannya juga terluka," ujar Urgre menenangkan, pria itu kemudian memberi tempat lebih leluasa untuk sang istri mengobati luka-luka kecil di sekujur tubuh Luz, "Sejujurnya aku lebih penasaran, apa yang terjadi pada mereka di sana? Juan sampai rela mempertaruhkan nyawa."


"Seorang raja yang memberikan hidupnya untuk berandal," celetuk Julian. Ia duduk tak jauh dari ranjang yang ditempati Luz.


Leura yang berada di sampingnya sontak menyikut, ketika melihat raut Cassandrea tak cukup bersahabat, "Jaga bicaramu!"


Seuanya terdiam sejenak, hingga ketukan di pintu utama rumah sederhan itu terdengar. Ameta membukakan pintu, dan begitu terkejut ketika beberapa orang berpakaian rapi menghadang, mereka menyelonong masuk tanpa izin, dan setelah sampai du ruangan bernuansa gelap tersebut, barulah Julian bisa mendesah sambil menyunggingkan seulas senyuman, "Selamat siang,"


Urgre terbelalak, terlebih ketika mereka berbondong-bondong mendekati mesin penjelajah waktu, lalu membawanya, "Jangan sentuh milikku! Julian, kau..."


"Maaf," jawabnya singkat.


"Kami melindungi benda itu bertahun-tahun, kalian siapa berani-berani merebutnya?!" Bentak Leura ikut menghadang, membantu sang ayah. Sekilas ia melirik Julian, "Aku sangat kecewa padamu!"


Julian menyeringai, "Yang penting Ereluz sudah kembali."


'Ya, Ereluz sudah kembali. Dan bagaimanapun, dia adalah penerus pemegang mesin waktunya, mereka pasti akan dipertemukan.'


---


Aragon, 1402.


A week later


"Semoga mereka damai di sana," ujar Raja Saloar seraya menaruh buket bunga tulip di atas kedua makam basah di hadapannya. Sesekali matanya melirik pada pria yang tengah menangis di sampingnya, Raja Alendro dari Kastillia. Pandangannya kini beralih pada yang lebih muda, "Raja muda Dariel, terima kasih atas bantuanmu. Berkat pasukan Catalonia, kami bisa punya bukti untuk menghukum pelaku kejahatan atas kematian salah satu putra kami dan Puteri mahkota Kastillia."


Dariel tersenyum tipis, "Aku tidak tahu permasalahan sepenuhnya..." Ia kemudian mencondongkan kepala lebih dekat untuk berbisik, "Jadi, maaf membiarkan gadis itu pergi sebelum mendapat hukuman."


"Itu permintaan Juan, tak apa jika membuatnya merasa lega. Dia pasti merasa sedih dan tertekan."


"Kalau begitu aku akan pergi ke tempat itu, mengunjunginya. Sejak kepergian si palsu, dia hampir tak pernah keluar dari sana."


Dariel berdecak, "Oh, begitukah? Semalam aku melihatnya mondar mandir di dalam kamar."


---


Lelaki itu sontak menekan garpu ke salah satu potongan makanan, ketika sang raja Catalonia mendatanginya tanpa kabar atau ketukan pintu sekalipun, "Semua makanan terasa hambar, aku sungguh tak menikmatinya.."


Ia berdecak sebal, "Sudah, jangan terus bertingkah. Makan saja kalau lapar."


"Kenapa lagi? Tahu tidak? Kau sudah kemari delapan kali hari ini, kemarin 13 kali, lusa--"


"Jangan banyak bicara, makan saja, aku khawatir mendengar suara gemuruh," ia menggeser kursi lebih dekat dengan Juan, "Ngomong-ngomong, orang-orang jahat itu sudah berada di penjara. Pimpinan mereka tadinya berada di Valencia, ternyata dia bersembunyi di sana."


"Hmm, aku sudah dengar beritanya," sahut Juan, agak tak enak didengarkan. Sejenak, kedatangan Reagel membuat kesunyian menghilang, "Dari mana saja kau, Reagel? Menemui anak pedagang buah itu lagi?"


"Kalau tahu tidak perlu bertanya. Dia sangat cantik," ia ikut duduk di dekat Dariel.


Raja Catalonia itu pun menyahut, "Tampaknya kau semakin nyaman tinggal di sini. Aku do'a kan semoga kau berjodoh dengannya."


"Haha, bisa saja. Tapi terima kasih."


Belum lama ketiganya mengobrolkan hal ringan untuk menghindari pikiran buruk, seseorang tiba-tiba masuk dan lagi, tanpa mengetuk pintu. Juan menukikkan alis melihat sosok itu, "Amer?"


Lelaki berpedang dua itu tiba-tiba bersimpuh sambil memeluk perut Juan, "Aku minta maaf. Sebagai teman, aku terlalu bodoh untuk tak mengetahui perasaanmu. Maaf..."


"Hei, kau tak melakukan apapun. Jangan seperti ini, kita teman, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi."


Dariel menarik Reagel guna membawanya pergi, "Kalian perlu mengobrol bersama untuk menghilangkan kecanggungan dan rasa bersalah satu sama lain. Ayo Reagel, kita pergi. Kau pasti sudah rindu dengan Aleisa, benarkan? Nama perempuan itu Aleisa?"


"Jangan banyak bicara, ayo!" Balasnya semangat.


Smentara Juan kembali memandang Amer, kawannya baiknya. Kursi disampingnya ditarik, membuat Amer bisa menempati bangku tersebut tanpa harus bersimpuh seperti budak, "Ku dengar, kau orang yang pertama kali menemukan Sierra?"


"Aku tak menemukannya, tapi mendengarnya," balas Amer sendu, "Ares kebablasan mengaku sudah membunuh Sierra, dan jasad--maksudku, tubuhnya disembunyikan di Galicia."


Semenyara Juan malah tersenyum, senyuman miris, "Aku pria paling bodoh. Membiarkan calon istrinya sendirian dalam kesulitan sampai dia meregang nyawa. Andai saja waktu bisa diputar kembali."


"Ya! Waktu diputar kembali! Aku harus mengatakan ini pada Paman Feuji."


---


Pria paruh baya itu menolak mentah-mentah, sampai menasehati Juan dengan kata mutiara andalannya, "Waktumu adalah takdirmu. Makanya mereka mengatakan waktu adakah uang, sangat berharga. Kita tidak bisa, kembali mengulang masa lalu. Tapi... kau bisa pergi ke masa lalu, dengan syarat jauh dari kehidupan aslimu. Intinya tidak bisa! Kau tidak akan menemui mereka lagi, Juan."


"Menyedihkan.."


"Bersyukurlah karena kau diberi keselamatan. Seharusnya kepulangan menggunakan mesin lain akan merusak organ tubuhmu, tapi nyatanya... kau baik-baik saja saat kembali kan?" Pria utu menepuk bahunya, "Entah dengan Ereluz di sana. Semoga dia juga dalam keadaan yang sama denganmu."


"Ku harap, juga begitu. Aku bahkan sudah menjanjikan makanan enak untuk mereka yang sudah membantu, terutama anak remaja nakal itu, Julian, reinkarnasiku."


TBC