
Juan menatap sekeliling takjub, dunianya yang senula diisi hutan, kastil besar ditenga-tengah rumah penduduk yang kecil, kini berganti menjadi ratusan gedung pencakar langit yang mewah, itu baru jumlah yang bisa dijangkau mata. Juan mengusap mata di tengah banyaknya orang yang berlalu lalang dengan pakaian formal seperti yang ia kenakan saat ini, mereka tampak sibuk, bergegas ke tujuan masing-masing membuatnya bingung. Awalnya ia melangkah menuju selatan, namun urung dan pergi ke arah utara, dalam beberapa langkah saja, Juan kembali berbalik ke timur.
Kesulitan memutuskan arah, ia pun terdiam sejenak sambil menetralkan detak jantung yang berpacu cepat, efek melalu wormhole cukup membuat tubuhnya kelelahan serasa hancur berkeping-keping. Dikarenakan fisiknya yang mungkin jauh lebih baik, Juan tak sama sekali mengalami trauma atau sekedar muntah darah akibat dari distorasi perjalanan waktu.
Ia membuka mata, memberanikan diri mnghentikan salah satu pria yang berjalan santai, 'Bersikap rendah hati, kini aku bukan lagi seorang pangeran yang dipuja banyak orang,' batinnya sebelum memulai pembicaraan kecil, "Permisi, apakah kau tahu rumah keluarga Arison? Nama putranya, Reagel Arison?"
Yang ditanya justru mengernyitkan dahi, "Apakah kau tersesat?" Ia beranggapan Juan terlalu aneh dikatakan orang gila terlebih dengan perawakannya yang gagah seperti tubuh prajurit kerajaan pada zaman dulu.
"Tidak, aku hanya mencari rumah keluarga Arison."
"Kenapa tidak meneleponnya dulu kalau begitu? Atau mengirimi surat, barangkali?" Tanyanya sekaligus sarannya.
"Mengirimi surat? Aku masih bisa melakukan itu?" Awalnya Juan berpikir bisa mengirim seseorang untuk membawakan suratnya, tapi zaman ini jelas jauh dari masanya, sehingga ia dengan cepat mengganti pertanyaan, "Maksudnya, kemana harus pergi jika ingin mengirim surat?"
"Ada kantor pos di dekat sini," pria itu menunjuk ujung jalan, terdapat banner digital bertuliskan pos surat. Walau cukup jauh dijangkau mata, Juan dapat melihatnya dengan jelas.
Pangeran muda itu pun segera mengangguk berterima kasih, sambil tak sengaja menepuk bahu pria yang membantunya, kebiasaan yang sering dilakukan pada pengawalnya yang berbuat baik, "Baiklah, terima kasih."
Juan segera berlari, namun baru beberapa meter, langkah gemerusuk menghentikan. Seorang gadis remaja menghentikannya dengan seruan,"Permisi!"
Namun bukan hal itu yang membuatnya terkejut, melainkan sosok remaja lelaki di sampingnya. Bersurai hitam legam dengan tanda lahir di bawah mata. Anatomi wajah yang serupa.
Juan spontan bertanya menggunakan nada terdngar tak suka, "Siapa kau?"
"Harusnya aku yang tanya, siapa kau?" Balasnya kembali, dengan nada bicara taj jauh berbeda, "Sekalipun kembar, tak ada yang seidentik ini kan?" Ujarnya kemudian.
Leura menatap keduanya bergantian, 'Sama, persis.'
...---...
"Beberapa hari yang lalu, mesin penjelajah waktu itu mendadak tidak terdeteksi. Semua kegiatan dihentikan, kita fokus terhadap permasalahan yang datang tiba-tiba ini. Sampai sekarang pun masih tak ada perkembangan sama sekali."
Julian sontak menutup telinga ketika mendengar cerita keluar dari bibir Richard, "Aku sedang dalam masa serius di sekolah, ujian mulai dekat, jadi jangan mengganggu dengan masalah di sini."
"Kalau begitu kenapa kau kemari, bodoh?" Maki Katana yang tengah menikmati makan siangnya.
Ia balas mendelik sinis sambil beranjak berdiri, "Aku tak ingin bicara dengan nenek sihir. Paman Richard dan Paman Alenio, bisa bicara sebentar kan? Ku tunggu di ruang pertemuan."
Yang diajak pun segera berlalu mengikuti, meninggalkan katana dengan raut sebal bersama rekan-rekan lain.
Julian menceritakan tentang keberadaan pria misterius mirip dirinya. Mulai dari detail-detail kesamaan wajah, tubuhnya yang sedikit lebih gagah ketimbang dirinya, bahkan sampai cara bicara dan tingkahnya yang terlampau formal.
Ia kembali memulai topik dengan menunjukkan gambar di ponsel, "Aku sempat memotretnya, lihatkan? Dia persis sepertiku, bahkan tanda lahirnya."
"Tapi terlihat lebih dewasa, seperti sekitar lima tahun lebih tua darimu," Richard berkomentar.
"Walau begitu, tetap persis," ujarnya lebih meyakinkan oada kejanggalan, "Dia juga agak aneh, cara berjalannya sangat tegap seperti orang yang terbiasa berperang."
Giliran Alenio yang menyahut, "Mungkin dia anggota militer. Kau ini kenapa penasaran sekali? Ada banyak orang mirip di dunia ini, jangan terkejut seperti itu, seolah ketampananmu tersaingi."
"Bukannya begitu. Kalian tidak merasa aneh? Jujur ini terlalu mirip, seperti orang yang sama. Aku jadi penasaran dengannya, bisa carikan identitasnya?"
Richard dan Alenio kompak saling pandang.
"Aku tak akan berbuat apapun, hanya ingin tahu siapa dia. Barangkali saudaraku yang terpisah," timpalnya lagi, sambil menyunggingkan senyum miring.
Gadis itu masih menatap takjub keadaan sekitar, "Tempat apa ini?"
Julian menaruh telunjuk di depan bibir, "Tempat rahasia, Istilahnya untuk orang-orang dalam."
"Time machine? Apakah pemroduksi mesin waktu?" Ia memiringkan kepala saat tak sengaja membaca tulisan di salah satu jendela kaca gedung.
"Eh, bukan, ya... begitulah mungkin. Sudah ayo, ku antar pulang. Berada di sini terlalu lama akan membuat kepalamu botak," timpal Julian dengan candaan. Sampai menghiraukan suara deruman mesin mobil yang mendekat.
Orang-orang yang menaikinya perlahan keluar satu-per satu, yang terlihat paling berwibawa berjalan sambil tersenyum lebar mengetahui keberadaan Julian, "Julian, kebetulan sekali kau datang kemari. Sudah ada pertimbangan untuk datang ke kantor ayah? Sebaiknya jangan lama-lama atau akan ada saingan."
Leura membeo, "Ayahmu?"
"Bukan, hanya orang tidak waras. Ayo pergi."
Kembali, Leura merasakan sesuatu yang mengancamnya, 'Tempat ini sepertinya berbahaya, apakah mereka kumpulan pengejar keberadaan mesin waktu? Berarti Julian...'
...---...
"Pria itu tak punya identitas. Aku sudah meretas data keamanan kependudukan. Sepertinya dia orang asing yang tersesat kemari."
Julian segera membalas sambungan telepon dari Richard, dengan mengapit ponsel di leher, sebab kedua tangannya sibuk memilah bahan makanan di minimarket, "Tersesat ya? Aku berpikir, ini tersesat oleh lintas waktu. Atau mungkin aku dari masa depan, sehingga terlihat lebih tua."
"Kalau begitu harusnya dia mengenalmu saat bertemu. Tapi jelas-jelas orang itu mengacuhkanmu kan?" Tanyanya meyakinkan, "Kalau mau tahu lebih jelasnya, cari dia, dekati, dan membuatnya terbuka padamu. Mungkin saja memang 'kau' yang lain sedang menyelesaikan masalah di sini."
Senyumnya tiba-tiba merkah, "Kebetulan apa ini? Orang itu ada di depanku."
Juan ada di sana, di luar mini market. Julian sekera menyelesaikan transaksi dan menghampiri, "Permisi, kita pernah bertemu sebelumnya kan? Tepatnya tadi pagi," tanyanya memulai basa-basi, "Kau terlihat kebingungan, membutuhkan sesuatu? Bantuan kecil mungkin?"
Ia memiringkan kepala, "Apa aku bisa percaya padamu?"
"Tentu saja, aku orang baik-baik. Bukan pencuri jelasnya, karena ayahku orang kaya," balasnya tersengar kesombongan.
"Bantu aku pergi ke rumah keluarga Arison."
Julian berdecak, "Ya mana ku tahu siapa itu Arison, ada jutaan orang yang bermarga Arison. Kau tahu letaknya? Tepat di kota apa atau bagian mana lahh?"
"Barcelona."
"Barcelona? Itu sangat jauh, bro. Kau ini sedang berada di Zaragoza,"
'Jadi ini masih wilayah pemerintahanku.'
Lagi, Julian semakin memberanikan diri bertanya lebih jauh, "Kalau boleh tahu, siapa namamu? Dan kenapa kau ingin pergi ke sana? Kau tampak seperti orang yamg tersesat."
"Ereluz, apakah kau mengenalnya?"
"Ereluz... Rivera?"
"Kau tahu!"
TBC