
Gambar wanita cantik fashionable memakai hoodie crop top, namun bagian dalamnya diberi kaus press body, dan bagian bawah dilengkapi celana kulot jenis jeans, menjadi karya pertama Luz di bidang fashion tahun 1400-an.
Ia tersenyum bangga mendapati gambarnya yang tak kalah bagus dari milik Sierra, sebenarnya skill menggambarnya sudah ada sejak dulu, namun tidak pernah dikembangkan karena mudah bosan. Tapi sekalinya dilanjutkan, hasilnya bisa sangat memuaskan.
"Baju seperti ini lebih keren dari pada yang ku pakai sekarang. Harusnya rancangan seperti ini saja yang dikembangkan, ketimbang gaun-gaun panjang."
"Tapi di era sekarang, apa iya mereka akan menerima pakaian seperti ini. Kebanyakan mereka lebih mengutamakan kenyamanan ketimbang trendi."
Luz akhirnya meremat kertas sketsa buatannya, lalu melempar ke sudut ruangan.
Dan beberapa menit kemudian, tekukan kertas itu menumpuk banyak, membuat si pelaku memegangi kepalanya.
...---...
Kepulangan puteri mahkota Kastillia ke kerajaanya sendiri, membuat beberapa acara atau kegiatan menjadi tertunda, diantaranya acara besar penurunan tahta Aragon menuju raja muda.
Tidak akan lama, karena persiapan memang sudah begitu matang. Tidak layak kalau harus ditunda-tunda sampai beberapa minggu.
Tapi bagi Juan, diundurnya perayaan ini bisa membuatnya memperbanyak masa pelatihan. Sebab, untuk menjabat sebagai pemimpin utama suatu negeri, diperlukan kekuatan fisik juga kecerdasan yang mana membuat pikiran semakin berat. Juan bahkan merasa sangat jarang istirahat.
Hari ini, jadwalnya berlatih falaconry atau menjinakkan burung elang liar.
Di belakang tubuhnya terdapat beberapa anak panah, senjata jarak jauh itu nantinya tidak akan digunakan untuk melukai burung elang, namun untuk berjaga. Hutan itu tidak terduga, jadi Juan juga tak hanya membawa panah melainkan pedang dan katana turut serta menemani perburuannya kali ini.
Elang akan dipanggil menggunakan ikan laut mentah dan ular, seperti membuat jebakan hewan pada umumnya, jika burung tersebut mendekati mangsa, maka para pemburu sudah sigap di dekat, untuk menangkap.
Elang yang akhirnya tertangkap akan dijinakan tanpa ada kekerasan, bukan untuk dipelihara juga. Hanya untuk menjinakkan, sewaktu-waktu manusia butuh bantuan, maka hewan itu bisa mengerti. Istilahnya, menjadikan burung elang bersahabat dengan manusia.
Juan ditemani Panglima Amer dan Dariel dari kerajaan Catalonia, sampai di padang rumput dengan beberapa pohon oak tumbuh di sekitar. Didepannya terdapat tebing curam yang tinggi menjulang, di mana biasanya elang membangun sarang.
Baru beberapa detik, indra penglihatan mereka melihat satu burung terbang menjauh dari sarang. Jika melihat warnanya yang gelap dan ukuran tubuhnya yang lebih besar ketimbang jenis burung lain, dipastikan burung itu adalah elang yang meninggalkan sarang untuk mencari makan.
"Tempat ini memang kawasan elang, banyak burung-burung lain juga, sebenarnya," celetuk Amer, selaku panglima yang hafal seluk beluk hutan Aragon. Dia bahkan tahu letak ladang jamur yang paling subur.
"Sudah jelas, elang memang biasanya tinggal di atas tebing," sahut Dariel, raja muda dari Catalonia. Kemudian ia terpikir sesuatu titik fokusnya, yang akan sulit mereka lakukan "Bagaimana kita akan naik? Itu sangat curam, bahkan tebing itu hampir membentuk sudut sembilan puluh derajat."
Juan menggelengkan kepala, tradisi seperti ini tidak dilakukan di Catalonia, wajar saja Dariel tak mengetahuinya "Kita memancing mereka raja muda, bukan mendatangi mereka."
Dariel mendengus ketika menyadari ekspresi Juan lebih terlihat seperti sedang mengejeknya.
"Ah, aku akan mencari ular dulu. Sebaiknya kalian diam di sini, ketimbang mengganggu," Juan mantas melangkahkan kaki menuju rawa agak jauh dari lokasi di mana terdapat sarang elang.
Sekejap saja, lelaki itu kembali tidak dengan tangan kosong, ular jenis piton berhasil ditangkap, ukurannya tak begitu besar. Setelah dibunuh, ular itu ditaruh didekat pohon, tentunya tidak terhalang dedaunan di atasnya, agar elang dapat melihat ada makanan di bawah.
Dan tepat di bawah pohon itu juga, Juan dan kedua kawannya bersembunyi. Pakaian mereka diberi serembetan ilalang, tersampir tidak karuan. Upaya untuk menyamarkan diri.
"Special customer, lihatlah... ada dua yang mendekat. Bagaimana caramu membuat burung itu datang pada kita," bisik Dariel.
"Ini terlalu mudah."
...---...
"Uuh manisnya..., jadi kau ibu elang? Mencarikan makan untuk anak-anakmu? Tenang saja, aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya mau berteman, bagaimana?"
Amer dan Dariel menatap datar ke arah yang sama, di mana Juan mengabaikan mereka dan lebih memilih bercakap-cakap ria dengan kawan barunya yang bukan sejenis. Hal itu juga sudah berlangsung cukup lama, membuat si panglima dan si raja muda luar biasa jenuhnya.
"Kalau begitu akan aku carikan lagi ular untukmu, supaya anak-anakmu juga tidak kelaparan."
Melihat temannya tidak berhenti berbicara dengan hewan, Dariel berseru keras "Aku sungguh prihatin terhadap rakyat Aragon, bagaimana mereka bisa dipimpin oleh orang gila. Dia bahkan tidak berniat berbicara dengan manusia, dan sibuk bersama binatang."
Juan masih bersikap abai, ia menepuk pelan kepala elang yang bertengger di tangan kirinya, dan juga mengelus salah satunya lagi yang berada didekat kakinya "Dadah, sampai jumpa lagi teman-teman."
Setelah kedua elang betina itu menjauh, rautnya yang semula ceria berubah jadi acuh seperti biasanya "Sudah ku bilang, ini terlalu mudah. Hewan-hewan sudah terlalu tidak asing bagiku."
"Tapi kau belum mencoba kembali memanggilnya," sahut Amer.
"Tidak perlu, sekali aku panggil tidak hanya dua elang tadi yang datang. Bisa-bisa se-negara yang mendengar," cibir Juan seraya menyombongjan diri, membuat kedua temannya mendengus semakin jenuh.
"Lain kali aku akan menyuruh Sierra kabur lagi, suapaya bisa melihat wajah menderitamu."
...---...
Banyak sekali orang yang menjadi pekerja di pembuatan pakaian. Sudah seperti industri, mungkin hal ini yang mewadahi adanya industri berbagai bidang yang terjadi di masa depan, atau masa lampau Ereluz.
Beberapa kepala tim juga silih berganti mendatangi ruangannya hanya untuk memastikan hal-hal tertentu, dan meminta ijin atasan mereka. Luz benar-benar merasa seperti seorang direktur.
Ternyata sangat melelahkan, apalagi dulu di jaman yang sebelumnya, sang ayah bekerja sebagai direktur utama temoat produksi tekstil, ayah selalu lembur, Luz jadi membayangkan bagaimana lelahnya sang ayah sampai pulang pun jarang.
Dan dirinya hanya bisa meminta lalu menghabiskan uang hasil kerja keras tersebut, tanpa ada sedikitpun rasa peduli terhadap sang ayah yang sudah menghabiskan waktu untuk memberinya keinginan berdasar materi. Dulu Luz selalu punya prinsip, uang memanglah bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Apapun yang ia mau bisa dibeli dengan uang.
Tapi kini, prinsip itu tak akan berlaku lagi. Terutama untuk waktu, tak ada yang pernah bisa membeli waktu dengan uang, walau dirinya sekarang berada di era lain menjabat sebagai puteri mahkota atau malah ratu yang bergelimang harta, tetap saja harta itu tidak bisa membuatnya menggantikan kebahagiaan sebelumnya.
Luz memang tidak pernah hidup penuh kebahagiaan di kehidupan sebelumnya, tapi dia sadar, ia hidup penuh keberkahan. Kedua orang tua yang utuh, harta benda yang banyak, dan kasih sayang, walaupun cara orang tuanya menunjukkan rasa cinta itu berbeda. Uang memang tidak melambangkan rasa kasih sayang, tapi hanya cara itu yang sudah dilakukan ayah dan ibu Luz secara tulus. Mereka juga tidak pernah membencinya, meski berkali-kali membuat masalah, mereka memang orang tua terbaik.
Mengingat kedua orang itu, membuat Luz terdiam memandangi jendela di sudut ruangan, jendela kecil yang mengarah langsung ke ladang gandum.
Tiba-tiba saja jiwanya bergejolak ingin kembali bertemu ayah dan ibu, kali ini bukan main-main. Jika diberi kesempatan sekali saja untuk bertemu mereka, Luz berjanji akan mengucap seribu kali maaf dan sejuta kali terima kasih.
"Aku berharap kehidupan keduaku ini akan membawa berkah, dan semoga sana do'a-ku bisa terkabul. Aku hanya ingin bertemu ayah dan ibu, aku sangat merindukan kalian."
TBC
THANK'S FOR READING💘