
Tidak ada kabar atau surat perizinan dan perestuan sebelumnya ketika pasukan kerajaan Galicia datang tiba-tiba. Bukan tidak meminta izin dari wilayah pihak kerajaan yang dituju, melainkan pemaksaan untuk akses masuk dengan alasan mereka sudah berada di tengah jalan, haruskah pasukan Galicia itu kembali ke asalnya dengan tangan kosong.
Raja dari Galicia, Ares Sandreas, kerajaan yang terkenal sangat tertutup mulai dari akses wilayah masuk, bentuk kepemimpinan, bahkan produksi bahan pokok pun terjaga ketat. Kini pasukan mereka yang hendak menuju Aragon terpaksa berhenti di wilayah perbatasan, bukan tanpa alasan. Galicia tak mengambil jalur izin sebelumnya, juga tak membuat janji.
Juan yang sedang sibuk akan tugasnya di gudang persenjataan, terpaksa turun tangan langsung. Malam-malam ia pergi ke perbatasan untuk meladeni kedatangan Galicia yang tak diundang, parahnya lagi ternyata Ares sang raja juga ikut andil dalam kerusuhan itu.
Usai memakai mantel tebalnya pangeran muda itu berlari menuju kandang kuda, siap dengan pedang dan busur juga panah. Ia melarang pasukan lain untuk ikut sebab kini musim panas segera berakhir dan udara pun menjadi cukup dingin setelah matahari tenggelam. Kebanyakan pengawal Aragon sedang beristirahat di ruangan hangat, untuk itu Juan memutuskan pergi sendiri. Masalah dengan pemimpin dari kerajaan lain, pasti bisa diselesaikan secara individual.
Tak begitu jauh dari muara sungai ebro, Juan kembali merapatkan mantelnya setelah mendapati pasukan Galicia terpojok karena kalah jumlah dengan Aragon, "Tak biasanya kalian keluar dari wilayah. Apalagi tanpa izin resmi seperti ini. Bicaralah denganku, Ares, dan tolong jangan membuat keributan di negeriku," Juan memperingati sembari menunding ke arah pasukan dari Galicia.
Ia dan Ares pergi ke ruang penjagaan, tempatnya hanya sepetak, cukup untuk istirahat pasukan perbatasan yang sedang berjaga, "Aku hanya menuntut hak-hak, orang dari Aragon sudah mencuri di Galicia. Kami tidak perlu izin atas kejadian seperti ini."
"Harusnya kau mengatakannya padaku atau lada bangsawan lain dari Aragon, kalau sidah begini kan terjadi kesalah pahaman. Aku bukan bermaksud membenarkan penipuan rakyatku di Galicia, tapi harusnya kau menghormati kami sebagai pemilik wilayah ini. Kau perlu izin untuk masuk wilayah kami, seperti kami butuh persetujuan ketika mengunjungi wilayahmu."
Apa yang diucapkan Juan panjang lebar hingga urat-urat lehernya bermunculan, hanya dianggap angin leeat oelh sang lawan argumen. Ini bukan apa-apa untuk Galicia, terlebih sang pengeran muda itu hanya datang sendirian, tidak bersama ayahnya atau saudara-saudaranya. Ares berdecak seraya menepuk bahu Juan, "Baiklah, aku meminta izin memasuki wilayah Aragon. Dan sekarang, buatlah perjanjian untukku, aku ingin kau menangkap pencuri-pencuri itu dan dihukum mati. Asal kau tahu, mereka mencuri bahan baku utama ekspor Galicia, yang nilainya tidak main-main."
"Bukannya aku menolak, lebih baik kita lakukan baik-baik. Aku akan membantu mengurusi masalah pencuri itu, tapi untuk hukuman... tidak bisa langsung dijatuhi hukuman mati. Kau tahu, Aragon melarang hukuman mati jika tindakan kriminal yang mereka lakukan tidak melibatkan nyawa juga. Tapi mereka akan dipenjara seumur hidup."
Ares menyerngai remeh, "Jelas sekali. Aragon sangat lemah dalam peraturan penduduk. Seharusnya kau menerapkan hukuman mati untuk setiap tindak kriminalisasi. Kalau pemerintahannya saja seperti ini, sudah jelas banyak orang jahat berkeliaran. Pantas saja Sierra mati!"
Dahinya mengerut tak suka, tampaknya Juan kurang menyukai arah pembicaraan Ares yang terakhir tadi, "Apa maksudmu berkata seperti itu? Jangan bawa-bawa Sierra di sini."
"Kenapa? Kau tidak pernah speak up, karena takut posisimu terancam? Selama hilangnya Sierra selama ini, tidak ada berita jelas dari Aragon, pasukannya hanya mencari dan mencari tanpa ada teori realistis bagaimana dia tiba-tiba lenyap. Gadis yang malang, harusnya dia bisa mendapat pasangan yang lebih baik darimu."
"Sudah cukup, mari pergi ke kerajaanku sekarang. Kita adili tindak kriminalisasi yang kau lakukan saat ini, ingat, kau sudah melanggar peraturan antar kerajaan. Di mana itu termasuk kejahatan," ujar Juan menyudahi, ia melangkahkan kaki hendak keluar.
"Laku bagaimana dengan Sierra sekarang? Kau masih tidak mempedulikannya?"
Kini giliran Juan yang tersenyum miring, "Dia sudah lama kembali, kau saja yang kekurangan informasi."
'Ah, sial! Tidak mungkin dia hidup lagi! Siapa gadis itu?!'
...---...
Gelap.
Lelaki itu meraba sikunya yang masih terbalut jaket hitam. Beberapa detik kemudian perutnya tiba-tiba bergejolak, cairan merah langsung menyembur keluar tak main-main banyaknya. Persis seperti efek setelah Ereluz melalui distorasi portal perjalanan waktu.
Kala menyadari kini dirinya berada di bawah pepohonan yang tingginya menjulang sekitar dua puluh lima kaki, Julian tak kuasa menahan semburan detak jantung yang menguat. Sepeetinya setelah ini ia akan mengidap penyakit serangan jantung, "Hey! Jangan main-main, siapa yang berani-beraninya membawaku kesini?!"
Sssh. Tak ada balasan, hanya suara angin berhembus semakin kencang. Membuat Julian merapatkan jaketnya.
Gelapnya lokasi tempat ia tergeltak, memang cukup mengerikan terlebih ia hanya sendiri. Tapi tak menyusutkan keinginan Julian untuk tetap menemui adiknya, ia pun mulai berjalan entah kemana, tapi cahaya bulan cukup terang hingga mampu membuatnya menhikuti jalan setapak yang sudah tercetak di tanah.
Harusnya kini ia tengah berada di mobil taksi, sedang terjepit di antara kendaraan beroda empat lain. Kalaupun ada tim medis datang, harsunya ia berada di rumah sakit atau puskesmas, tapi... mengapa malah hutan yang menjadi pemandangan pertama saat terbangun.
Tidak mungkin saat tabrakan berlangsung, tubuhnya terlempar ke hutan.
Padahal tadi keadaannya sudah sangat sekarat, Julian bahkan berpikir tidak akan selamat. Tapi buktinya, saat ini tubuhnya baik-baik saja, masih dengan baju yang sama, hanya sikunya terasa sakit, dan perutnya yang terasa diaduk.
Sembari memegangi perut, dan mengikuti jalan setapak berkat penerangan dari cahaya bulan. Julian mendapati suara keributan di depan sana. Ia pun mempercepat langkah, saat suara pedang mulai terdengar berdenting. Bahkan terdapat sahutan dan jeritan perempuan yang menangis.
Semakin dekat pemandangan tidak mengenakkan itu, semakin membuatnya lemas. Kini perutnya terasa dicabik-cabik benda tajam. Tidak jelas siapa mereka, dan dengan alasan apa mereka bertarung.
Tapi sepertinya bukan hanya sekedar pertarungan biasa. Semakin dekat, Julian melihat dengan jelas peperangan terjadi di depan mata. Mereka saling melukai dan membunuh, sekaligus memperebutkan seorang gadis.
Hanya saja, keberadaanya di sini seolah tidak dianggap, atau tidak ada yang menyadari. Ketika ia berdiri di samping dua orang yang tampaknya adalah pemimpin, mereka pun juga tak peduli. Tapi yang aneh adalah salah satu wajah dari pemimpin itu.
"Mengapa wajahnya sama sepertiku? Atau dia adalah aku?!"
TBC
Thanks for reading
Mampir ke book sebelah yuk! baru publ