Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Don't come back



Luz tengah merenungkan pembicaraannya dengan Selena tadi, sejak saat itu juga ia mulai waspada. Walau Sierra dan Selena tampaknya tak begitu akrab, tapi sepertinya Selena mengetahui sesuatu sampai-sampai membicarakan perihal janji.


Ia tak bisa berubah menjadi Sierra sepenuhnya, tidak ada sesuatu yang menjelaskan bagaimana perilaku puteri mahkota itu, kecuali mendengar langsung kritikan orang lain yang diberikan padanya, hal itu seperti mengatakan beginilah sikap Sierra yang sebenarnya.


Ketukan pintu di susul sosok Raja Alendro tiba-tiba masuk kamarnya, "Sierra, apa kau meminta kereta dari Aragon untuk menjemput? Pengeran Jevin datang bersama banyak pengawal."


"Aku tak memintanya datang, lagi pula bagaimana caraku menghubungi mereka."


Mengabaikan alasan salah satu pangeran dari Aragon yang datang secara dadakan, keduanya mengambil langkah menuju ruangan di mana Jevin sudah menunggu. Lelaki itu tampak lebih segar lewat penampilannya yang mengubah tatanan rambut hitam itu menjadi lebih rapi, wajahnya sangat menyerupai Juan, tak heran karena mereka saudara kandung.


"Tampaknya Puteri Sierra harus segera kembali ke Aragon, segala sesuatu yang diperlukan sudah disiapkan di sana, termasuk pernikahannya dengan adik bungsuku. Kami berupaya sebisa mungkin, hingga ayah memutuskan membawa Sierra segera agar pernikahan sekaligus penurunan takhta bisa cepat terlaksana," Jevin menjelaskan.


"Kami memang berencana mengantar Sierra ke Aragon, sesuai waktu yang ditentukan. Kalian harusnya tak perlu datang kemari untuk menjemput putriku."


"Perintah langsung dari ayahku, raja Aragon yang masih menjabat."


Luz melirik Raja Alendro sekilas, tampak pria itu juga balas menatapnya sembari menganggukkan kepala, "Kalau kau sudah selesai berkemas, segeralah berangkat, Sierra. Ayah dan pasukan dari Kastillia baru akan berngkat besok."


Luz mengangguk, dan bergegas pergi ke kamarnya. Raut wajahnya terlihat pucat juga frustasi. Bahkan kedua telapak tangannya sudah berbanjir keringat dingin.


Meninggalkan sang puteri Kastillia juga Raja Alendro yang berpamit ke ruangannya, Jevin beralih pergi ke depan. Tampaknya menunggu Sierra di depan istana akan mempercepat gerak gadis itu, karena merasa tidak enak sudah ditunggu.


Jevin melewati lorong panjang di mana Selena juga tengah berjalan dari arah sebaliknya, lengkungan tipis terbentuk di bibirnya, matanya juga ikut menyipit, begitu pula reaksi Selena.


Satu langkah mereka saking terlewati, Jevin berbalik, "Terima kasih atas beritanya, Puteri Selena. Ngomong-ngomong kau sangat cantik," setelah itu ia kangsung pergi diikuti pengawalnya yang tampak menulikan pendengaran.


'Semoga keputusanku benar. Maaf Sierra.'


...---...


Pemandangan perjalanan di abad pertengahan ini selalu dihiasi pepohonan hijau yang rindang, terkadang dihalangi kabut. Lagi-lagi Luz membedakan dengan zamannya, di mana ketika ia melakukan perjalanan ke kota lain, jalan tol penuh lampu jalan dan rambu lalu lintas untuk mempringati para pengendara, selalu menjadi pemandangan kota kesukannya.


Apalagi kalau sedang musim salju, banyak mesin pengeruk berkeliaran membersihkan jalanan agar tidak membahayakan. Selama ia berada di era ini, memang sama sekali belum menemui musim salju.


Jevin terdiam menatap gadis di sampingnya yang tengah melamun. Pikirannya kembali melayang ke pembicaraannya dengan Puteri Selena tadi.


Selena memang tidak menemui Jevin secara langsung, ia mengirimi surat khusus pada pangeran tertua Aragon tersebut, karena suratnya khusus dan biaya pengantaran lebih mahal, jadi bisa cepat sampai, paling tidak hanya dua jam dari Kastillia menuju Aragon.


Selena tahu, selama ia pernah mengunjugi Aragon, sikap Jevin kepada Juan tampak berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Kerap kali pula ia memergoki Jevin secara terang-terangan tak menyetujui pernikahan dan penurunan takhta untuk Juan. Kemungkinan karena Jevin adalah anak pertama, ia merasa rendah saat adiknya yang di jadikan penerus Aragon. Namun sayangnya sistem negeri ini berupa elective, bukan primogeniture di mana anak pertama langsung menjadi pewaris takhta.


Selain itu, ternyata Jevin menjadi lebih percaya pada Selena, karena selama di Aragon pun, sikap Sierra tak sama dengan sebelum-sebelumnya, dari cara berpakaiannya saja sudah membedakan.


Tapi melihat saat ini, Sierra sudah tampak berpakaian dan berias sederhana seperti dulu, gaun panjangnya berwarna peach, bagian lengan tertutup panjang sampai siku. Tidak ada berbagai kalung dan gelang.


Tanpa ada sesuatu yang terjadi, kereta tiba-tiba berhenti mendadak. Salah seorang pengawal berlari ke gerbong, "Rodanya rusak, sepertinya kita harus menggantinya dulu."


Jevin segera turun untuk melihat ke depan, tapi ia menyuruh Luz tetap di tempat, "Kita perbaiki sekarang, sebelum matahari segera tenggelam. Aku tidak ingin ada kejadian yang pernah menimpa Sierra kembali terulang," pangeran itu berucap seraya melirik sinis, tepat sekali kalau dia sedang menyindir.


Luz tidak beranjak dari tempat sesuai arahan, ia pun tak melihat adanya perkembangan dari yang dilakukan para pria itu di depan sana. Sampai akhirnya matahari benar-benar tenggelam, tergantikan bulan sabit menghiasi langit. Suara burung gagak juga mulai terdengar, belum lagi kadang-kadang ditimpali burung hantu.


Walaupun sebelumnya Luz pernah bermalam di hutan, rasanya malam ini lebih mencekam ketimbang waktu ia membunuh babi hutan bersama Reagel.


Jevin masuk ke dalam gerbong, dengan lampu minyak yang ia gantung di bagian depan, "Kenapa lama sekali?" Luz tak tahan untuk tak bertanya, mungkin saja ia bisa mengejek keahlian para pengawal Jevin yang lelet hanya dalam hal memperbaiki roda kereta.


Lelaki itu mendelik, "Kau pikir kau siapa? Dengar, siapapun nama aslimu. Kami tahu kau bukan Sierra, di sini keberadaanku tidak sedang diutus kerajaan, melainkan sedang menyelamatkan adikku dari pembohong."


"Apa yang kau bicarakan?"


"Berapa tanggal lahirmu?" Jevin balik bertanya.


"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Tidak ada hubungannya," Luz memasang raut sedatar mungkin, tapi tak menutupi kalau sekarang dirinya sedang panik setengah mati.


"Berapa tanggal lahirmu dan tanggal lahir Juan?" Kali ini ia menambah pertanyaannya, "Kalau kau tidak bisa menjawab dengan benar, pastikan kau bermalam di hutan, gadis pembohong."


'Bodoh! Harusnya aku membaca buku sejarah keturunan Aragon dan Kastillia, sekarang aku pasti terlihat semakin mencurigakan,' Luz berdecak, untuk menutupi rasa gugupnya, biasanya ia selaku marah-marah, "Bukannya aku tidak bisa menjawab, tapi apa alasanmu menanyakan hal seperti itu? Aku tahu dari awal kau tampak tidak suka pada Juan juga padaku. Kalau kau memang membencinya, lawan Juan secara jantan, jangan memojokkanku di sini!"


Julian malah menyeringai, "Kau tahu, sikapmu ini semakin membuktikan kalau kau bukan Sierra. Turun dari keretaku sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kakimu ke Aragon ataupun Kastillia lagi."


TBC


Thanks for reading💘