Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Theory Parallel Universe



"Yang kau jadikan contoh itu termasuk teori grandfather paradox, menanyakan bagaimana jika kau pergi ke masa lalu untuk membunuh kakekmu. Kalau kakekmu saja terbunuh, pastinya ayahmu tidak akan terlahir, dan tentu saja kau juga, lalu siapa pembunuh kakekmu kalau kau sendiri tak lahir? Itu teori sangat tidak realistis bagi penganut bahwa mesin waktu memang ada dan bisa digunakan."


Julian memandang serius pada Richard yang tengah berbicara, bahkan sampai di depan pintu ruangan yang menjadi tujuan utama mereka berdua.


"Seperti yang kita tahu, waktu itu relatif, selalu mengikuti pergerakannya, sama seperti waktu untuk bumi, setiap tempat atau daerah selalu berbeda walau seper-mikrodetik. Nah, mesin waktu yang kita incar itu punya prinsip masa depan adalah masa lalu, jika kau pergi mengunjungi waktu lampau, istilahnya masa lalu tak mengubah masa depan. Banyak juga ilmuwan terkenal berspekulasi tentang teori ini, yang mereka sebut parallel universe. Lagi pula, itu adalah teori paling logis untuk pemercaya keberadaan mesin waktu, sejarah tak akan berubah walau kita berusaha mengubahnya dengan mesin waktu."


"Parallel universe? Tapi, apa hubungannya hal itu dengan mesin waktu tak mengubah peradaban. Yah aku juga percaya parallel universe, ada ribuan bumi di luar sana kan? Tapi... waktu? Bagaimana bisa teori many world dikaitkan dengan keberadaan mesin waktu. Itu tandanya, mesin waktu tak membawa kita ke masa lampau, melainkan ke semesta yang lain."


Richard menjentikkan jarinya "Yap! Kau benar. Setiap satu detik atau bahkan satu mikrodetik, akan ada semesta baru yang muncul. Seperti... setiap kejadian akan menghasilkan semesta baru."


"Well, jadi kalau aku pergi membunuh ayahku di masa lampau, maka dia akan tetap hidup di saat ini? Era ini?"


"Iya? Lagi pula bagaimana bisa kau merencanakan pembunuhan ayahmu di masa depan, lalu pergi ke masa lalu untuk benar-benar menghabisinya. Sebelumnya, siapa yang mebuatmu lahir? Tidak bisa dipercaya. Cocok logi tentang mesin waktu ini masih belum bisa dibuktkan dengan akurat, karena kita sendiri jelas belum pernah melihatnya sama sekali. Beberapa teori yang menyangkut pautkan paralel universe tadi hanya spekulasi dari beberapa peneliti. Kita bagian dari peneliti, juga punya pendapat sendiri."


"Tidak ada sesuatu yang bisa memperjelas kecuali kalau kita membuktikannya sendiri," Julian mendengus saat baru saja membuka pintu ruangan tersebut, kosong. Tak ada orang sama sekali, "Jadi? Belum datang lagi?"


Melihat remaja lelaki di sampingnya yang mulai kesal, Richard menepuk bahunya untuk menenangkan "Sudahlah, tak apa. Mereka juga punya jadwal kerja, bagaimanapun, mereka butuh uang untuk keperluan ekonomi."


"Well, terserah."


"Hei, Julian, mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang memvisualisasikan dirimu yang pergi ke masa lalu untuk membunuh ayahmu, Tn. Girasol? Kau... tidak punya rencana buruk kan?" Tanya Richard agak mengintimidasi.


Julian melengos, lalu duduk di salah satu kursi aluminium. Tapi kemudian menengok lagi ke arah sang lawan argumen sambil tersenyum "Ah, aku ini anaknya, walaupun dia buruk di mataku, dia tetap ayahku."


'Aneh, ekspresinya berubah-ubah.'


...---...


"Oh, aku hampir lupa! Waktu itu Puteri Sierra pernah bilang, kepalanya sering pusing dan penglihatannya agak buram, kalau terlalu sering mengingat-ingat sesuatu, ingatannya memang agak berantakan. Tapi seperti ini pastinya tidak ada hubungannya dengan sikap Puteri Sierra saat ini."


Juan mendelik, tatapannya memicing "Ingatannya agak hilang? Sierra bahkan tidak pernah mengatakan hal seperti ini padaku."


"Huft, sudah ku duga. Dia bahkan tak mau saat aku memanggilkan ignatius."


Herestia menggelengkan kepala dengan raut khawatir sambil meremat jari-jari tangannya 'Aduh, apa harusnya aku tidak perlu menceritakannya pada Pangeran Juan? Kalau dia terlalu cemas lagi, bisa-bisa emosinya tidak terkontrol seperti waktu Puteri Sierra hilang.'


"Herestia, terima kasih sudah memberitahu padaku. Setelah ini aku akan mencari tahu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sierra, dia memang sangat... aneh," ujrnya, namun agak ragu saat mengatakan 'aneh' untuk kekasihnya sendiri.


Juan lantas bergegas pergi ke ruang senjata untuk mulai bekerja, mengatur keperluan pengeluaran senjata kerajaan di masa pelatihan. Mengurusi kebenaran tentang Sierra tidak akan ada ujungnya kalau gadis itu tidak mau menceritakkannya sendiri, atau Juan yang mencari tahu secara diam-diam.


"Sierra memang seperti bukan Sierra," gumamnya lirih.


Tanpa ia sadari, Jevin yang berjalan di lorong lain, di mana terhubung dengan lorong yang Juan lewati, pangeran pertama itu mendengar ucapan adik bungsunya walau samar.


Jevin mengernyitkan dahi seraya mencerna kejelasan gumaman Juan tadi, menyadarinya Jevin menyeringai kecil "Owh! Sudah ku duga, ada yang aneh dari Sierra setelah kembali. Dia terlihat lebih berani dan... jahat, tentunya aku suka gadis seperti itu."


...---...


Luz memukuli kepalanya sendiri, sepanjang siang sampai malam ia tak beranjak sama sekali dari atas kursi kayu lengkap meja kecil di depan jendela. Di hadapan matanya, bertebaran buku berisi ajaran bahasa spanyol di tiap kawasan yang punya bahasa sendiri, mulai dari yang tipis sampai yang setebal kulit buaya, sudah Luz baca dan mencoba memahaminya dengan baik. Namun sayangnya hal itu sia-sia, dirinya bodoh, tak pernah belajar, sangat sulit mebuat ilmu pengetahuan masuk ke otak.


Merasa kesal, kepalanya terus jadi sasaran akan kejenuhan. Barangkali dengan memukul kepala, otak bisa jadi jauh lebih encer "Ayolah Luz, kenapa kau tak bisa memahami pelajaran sama sekali, apalagi tentang bahasa...," ujarnya, berusaha menyemangati diri sendiri.


Tapi yang terjadi selanjutnya, Luz malah membanting buku-buku itu hingga berjatuhan ke lantai, "Tenang! Kehidupan kedua ini harus dinikmati sebaik-baiknya, aku tidak boleh membebani pikiranku dengan belajar, harusnya aku bersenang-senang terus sampai puas!"


"Tapi bagaimana kalau ayahnya Sierra menagih hafalanku?! Ck! Bagaimana ini! Kenapa Sierra sangat cerdas sedangkan aku bodoh sekali? Padahal wajah kita sudah seperti orang kembar identik, sampai bisa menipu banyak orang. Tuhan tidak adil sekali, Sierra seorang ratu sedangkan aku hanya anak yang tidak pernah dididik."


Luz menghela napasnya sembari berpindah tempat ke kasur, ia kemudian merebahkan diri dengan nyaman di ranjang bulu angsa tersebut. Meratapi kehidupannya yang berbanding terbalik dengan Sierra si calon ratu Aragon.


Sierra baik, lembut, penyayang, dan cerdas, dia juga disukai banyak orang, bahkan dijunjung tinggi untuk menjadi seorang pendamping raja baru dari Aragon.


Sedangkan Ereluz, sudah jahat, penipu, egois, sombong, tukang buli, tidak tahu diri, banyak orang terang-terangan benci padanya. Luz tahu dirinya sangat buruk, tapi ia tak mungkin merubah image-nya yanh sudah hancur, toh ini hanya untuk diri sendiri, tak penting walau membuat orang lain tidak nyaman.


TBC


THANK'S FOR READING