
Kerap dipanggil Puteri mahkota, membuat Luz pusing. Ia seperti sedang di dunia dongeng saat ini, apalagi Feuji yang terus menceritakan tentang kerajaan, pangeran tampan, ratu, penurunan tahta, panglima yang baik, dan masih banyak lagi.
Untung saja pria yang katanya kakek moyang Reagel itu masih percaya kalau dirinya adalah manusia yang berasal dari masa depan, meski belum mengetahui bagaimana Luz bisa berada di dunia ini, atau era saat ini.
Feuji sendiri masih kebingungan dengan gadis remaja tersebut. Tapi dirinya bisa meyakini kalau Ereluz mengatakan kejujuran, dilihat dari cara bicara gadis itu yang sama sekali tidak mencerminkan masa ini.
Seusai mengelus telapak tangan Luz menggunakan ibu jari, Feuji menatap sendu gadis itu "Kau penerus mesin waktunya Luz, sidik jarimu bisa membentuk naga kalau diamati secara teliti."
"Apa maksudnya?" Gadis itu menatap jari-jarinya dengan jarak begitu dekat. Mencari bentuk naga, seperti apa yang pria tua itu ucapkan.
Feuji kembali menarik tangannya, dan mengusapkan kain basah yang dicelup ke air dingin "Kadang akan terlihat, kadang juga tidak."
"Maksudku, apa yang kau bicarakan? Penerus bagaimana?" Tanya Luz kebingungan.
"Mesin waktu, yang bisa membuat Reagel berada di tahun ini sudah ada sejak dulu. Aku adalah salah satu orang yang diwarisi untuk menjaga mesin waktunya, dan kemudian akan turun-temurun sampai entah abad ke berapa. Tujuan dibuatnya mesin ini, untuk menghindari perang dunia ke-tiga, kau tahu kan, kebanyakan orang dari masa-mu pasti berspesikulasi kalau perang dunia ke-tiga akan sangat menggemparkan, apalagi katanya senjata yang akan digunakan adalah batu dan kayu. Seluruh dunia akan hancur hanya karena dua benda alam itu, mesin waktu ini diciptakan untuk meloncati waktu di mana perang dunia ke-tiga berlangsung."
Luz menggeleng kencang karena frustasi, sampai membuat surai kumalnya bergerak ke kanan-kiri "Lalu apa hubungannya denganku..."
"Kau salah satu dari kita. Kau ditugaskan menjaga mesin waktunya, sampai tiba pada keturunan lain, yang memiliki sidik jari lain dari yang lain."
"Aduh, paman. Kenapa harus aku, tidak mau ah! Yang penting tunjukkan caranya pulang ke tahunku," pinta Luz menyentak.
Feuji menggelengkan kepala, membuat gadis itu makin kesal "Kemungkinan besar, kau sudah mati di masa-mu, karena pemilik sebelumnya tidak ingin menanggung konsekuensinya, dia mengirimmu ke tahun ini, di mana mesin waktu yang sekarang berada di bawah kendaliku, akan menjadi milikmu, kau berhak atas benda itu."
"Aduh, kakek. Dia itu sangat bodoh! Mana bisa diberi tanggung jawab sebesar itu, aku yakin mesin waktu itu sangat berbahaya. Luz tidak mungkin bisa menjaganya dengan baik," sahut Reagel yang baru keluar dari kamar mandi. Baju pasien yang sebelumnya ia kenakan, kini berganti menjadi baju adat khas abad ke-15 yang lebih rapi dan sopan.
Luz sontak menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Reagel "Apa yang dia katakan benar! Sebaiknya jangan libatkan aku di duniamu, tolong pulangkan aku saja. Ya... paman ya... bantu aku."
Feuji mengusap dagu "Terakhir kali yang kau ingat saat berada di era-mu, apa? Maksudku kejadian atau peristiwa apa?"
"Waktu itu... aku kecelakaan, lalu semua gelap. Dan yah, ku pikir sudah mati. Tapi tiba-tiba saja aku sudah di hutan, di masa ini," ia bercerita agak kaku, peristiwa itu sudah seperti terlewat atau bahkan menghilang begitu saja dari ingatannya.
"Sudah ku duga! Kau pasti sudah mati di tahunmu, makannya pemilik mesin waktu di tahun itu mengirimmu kemari, era ini. Supaya tidak kehilangan kepemilikan. Di masa-mu yang sebenarnya, mesin waktu seperti ini pasti dijadikan rebutan. Karena mereka sudah banyak yang mulai melakukan penelitian terhadap waktu juga."
"Tapi..."
"Kau tidak bisa kembali, nak. Duniamu sekarang di tahun ini. Kau akan menghabiskan usia di era ini sampai akhir yang sudah ditentukan."
Ereluz menatap Feuji dengan memelas "Tidakkah ada cara lain? Harusnya bisa kan, paman?"
"Seperti Reagel, karena kalian sudah kehilangan nyawa di era lain, atau sebut saja semesta lain. Maka masih ada harapan dengan mesin waktu, kalian masih bisa hidup lagi, hanya saja di semesta lain. Begini contohnya, ada ulat yang hidup di buah apel bagian atas, ulat itu mati keracunan, karena dia memiliki mesin waktu, ada kemungkinan baginya dihidupkan kembali, hanya saja di buah apel bagian bawah, dan tidak akan bisa kembali ke apel bagian atas lagi. Mungkin... seperti itulah, yang jelas harus ada perantara untuk mengirimnya. Perantara kedatangan Reagel adalah aku, dan perantara kedatanganmu pastinya juga ada, kemungkinan besar dia pemilik mesin waktu di masa-mu sebelumnya."
Reagel menarik lengan gadis itu dengan kasar, setelah melihat Luz hendak memukuli kepalanya sendiri "Anggap saja ini sebuah berkah, kita punya banyak kesalahan di kehidupan sebelumnya. Untuk itu, di sini kita harus membenahinya."
Luz menarik tangannya, dan menatap tajam Reagel "Bagimu itu mudah! Kau sakit-sakitan di kehidupan sebelumnya, dan di sini kau sehat! Sedangkan aku?! Seperti di hukum! Ini, bukan duniaku, aku mau kembali!"
Reagel melotot, ucapan gadis itu seolah merendahkannya, meremehkan sebab dulu dirinya memang berpenyakit. Ia cukup sakit hati karena perkataan itu.
Gadis itu tidak mempedulikan, malah melompat dengan kesal, ia berlari menuju pintu depan, tapi Feuji mencegah "Kalau kau memang Ereluz dari masa depan, turuti ucapanku. Wajahmu memang sangat mirip dengan Puteri mahkota, kalau kau keluar, orang-orang akan membawamu ke kerajaan."
Berkat faktor usia, Feuji sering kali tidak menyadari kalau wajah Luz sangat mirip dengan Puteri mahkota Kastillia, atau bahkan bisa di bilang serupa.
Luz menyeringai "Apa manfaatnya aku menuruti ucapanmu, lagi pula bukankah bagus kalau wajah ini mirip dengan seorang ratu," ujarnya seraya menunjuk wajahnya sendiri "Aku akan pergi ke kerajaan dan mengaku sebagai perempuan yang hilang itu! Kesempatan emas!"
"Kerajaan tidak semenyenangkan yang kau bayangkan. Kalau sampai dirimu ketahuan berbohong, ada ancaman untukmu."
"Lalu apa yang harus ku lakukan di sini? Kau mengurungku? Melarang keluar karena wajahku yang mirip Puteri mahkota? Itu sama saja dengan orang yang mau menampungku sebelumnya. Walau berniat baik, tetap saja kejam!"
"Luz! Turuti ucapan kakekku! Jangan terus membantah! Itu memang demi kebaikanmu, perlahan kau akan paham kehidupanmu yang sebenarnya!" Seru Reagel yang masih marah, tapi ia berusaha tetap berbaik hati melarang sikap abstrak yang dimilki Luz.
"Luz, kau penerus mesin waktunya. Kau perlu menjaga mesin waktunya..." Pinta Feuji, ia khawatir dengan kepergian gadis itu, tidak ada lagi keturunan setelahnya. Luz memanglah sudah ditakdirkan kembali ke masa lalu, untuk meneruskan lagi perjalanan waktu sesuai kepenerusannya.
"Aku tidak peduli! Apapun benda itu, sama sejali tidak ada hubungannya dengaku!" Luz sudah memegang gagang pintu.
...---...
Juan menatap bagan tubuhnya yang tiba-tiba memar dengan sendirinya, tidak terkena pukulan atau hantaman benda keras sama sekali.
Ignatius berkata, kalau dirinya hanya kelelahan dan terlalu sering menunduk seraya menaruh pedang di pinggang, tubuhnya yang menunduk itu mengakibatkan bagian gagang pedang menekan tulang rusuk susunan paling bawah, dan jadilah memar. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi Juan terus berkata kalau itu sakit. Ignatius yang kurang tahu, hanya menyuruhnya istirahat dan mengonsumsi sesuatu yang sehat setiap hari, juga mengurangi porsi daging yang dimakannya.
Pangeran itu tertunduk malu, ia memang seperti maniak daging.
"Kalau saja ada calon pengantinku, sekarang pasti tiba-tiba sembuh," gumamnya seraya tertawa masam. Tidak ada keajaiban sama sekali terkait keberadaan sang Puteri dari kerajaan tetangga, Kastillia.
"Pulanglah Sierra, aku akan terus menunggumu sampai kapanpun."
*TBC
THANK'S FOR READING💘*