Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Mesin waktu lebih dekat



"Namanya bagus, dia perempuan kan?"


"Iya."


"Wah, aku jadi penasaran dengan wajahnya. Apa kau punya fotonya?"


Leura menggelengkan kepala, tapi sejenak kemudian mengangguk "Sepertinya ada di rumah."


"Apa aku boleh ke rumahmu?" Tanya Julian, sontak membuat Leura mematung. Keterkejutannya, membayangkan jika seorang bak pangeran mendatangi rumah kumuh seorang pelayan. Leura terus menampik pikirannya, ini bukan kisah Cinderella. Lagipula, mungkin Julian memang hanya ingin tahu tentang Ereluz.


"Ap-apa?"


Julian mengernyit keheranan, saat melihat reaksi gadis berkaca mata itu yang salah tingkah "Oh tidak boleh ya? Ku kira kita sudah menjadi teman."


"Tentu boleh, tapi... aku bukan orang sepertimu," balasnya seraya menunduk takut.


"Apa maksudmu? Bukan sepertiku, bagaimana?"


"Kita kan tidak se-level, mana mungkin lelaki sepertimu berteman denganku, bisa saja aku dapat masalah dari Jessica ataupun murid perempuan lain."


Julian menertawakan ucapan Leura, gadis itu terlalu polos dan lemah, mudah ditindas "Yang berteman itu kita, bukan mereka. Kenapa kau peduli sekali? Kalau mereka mengganggumu, tinggal dibalas, atau jika kau malas, hindari saja, jangan pedulikan sama sekali, bahkan jangan manatap matanya. Supaya mereka merasa diacuhkan."


"Kalau semakin marah, bagaimana? Anak-anak perempuan di sini, rata-rata main fisik dan keroyokan."


Julian mendengus "Ya tinggal kau balas, kalau sama-sama perempuan kan tenaganya sebanding, apa tidak bisa?"


"Bukannya tidak bisa, tapi dihina saja perasaan sudah hancur sekali, ditambah dibuli keroyokan. Aku bisa apa? Yah... mungkin aku memang terlalu lemah."


"Makanya, cobalah jadi lebih kuat. Tidak apa-apa kau sendirian, bertahan sejauh ini, kau sudah termasuk hebat!"


Tanpa sadar, keduanya berbicara terlalu jauh, membahas apa saja. Julian yang menyemangati Leura, dan Leura yang menjelaskan segala keadaan sekolah, berkat pertanyaan Julian.


Bahkan sampai bel pulang sekolah, keduanya masih sempat mengobrol sambil berjalan di koridor, menuju gerbang depan sekolah. Interaksi Julian dan Leura yang tampak akrab, membuat beberapa orang iri, menganggap ketidakpantasan seseorang yang berlatar belakang buruk, berdekatan dengan anak seorang direktur.


"Jadi, kapan aku boleh ke rumahmu?" Ranya Julian.


"Terserah, kapan saja bisa. Ibuku juga selalu ada di rumah."


"Baiklah, sambil kita belajar bersama. Banyak tugas seni budaya kan? Ku dengar kau punya tingkat kreatifitas yang tinggi. Kalau begitu aku bisa minta tolong padamu?"


"Tidak terlalu juga, tapi aku bisa. Ngomong-ngomong, kau juga sangat padai di pengetahuan, kalau begitu belajar fisika dan matematika sekalian."


"Boleh, nanti kita saling mengajari dan belajar. Sudah ya... supirku menjemput! Aku duluan!"


Leura mengangguk untuk membalasnya, seraya melihat sosok Julian yang berjalan menjauh. Hari ini, dirinya cukup banyak bicara berkat anak lelaki itu, dan uniknya lagi, Leura berani melepas ikat rambut yang biasanya selalu digunakan untuk mengikat surai cantinya yang dikepang. Hal itu selalu terjadi, kalau ia sedang senang.


...---...


Julian menyeloning masuk ke mobil, lantas menutup pintunya dengan hentakan cukup keras "Seperti yang kau katakan Prof. Richard, sinyal yang ditemukan, terdeteksi tak jauh dari sini. Dan aku menemukan beberapa rumah yang masih berpenghuni, salah satunya rumah temanku, sebentar lagi aku akan mulai mendekatinya, untuk tahu lebih dekat keberadaan mesin waktu."


"Kau memang patut diandalkan, aku suka taktik dan kinerjamu," puji Richard.


Biburnya sudah tersungging sebelah, Julian menyeringai kecil "Tentu, tapi kau juga harus bisa menepati janji. Aku lakukan ini untuk keuntungan bersama."


"Ya, terserahmu anak muda. Yang jelas, ayahmu mau menyuntikkan dana asal kali ini benar-benar berhasil, lalu bisa kembali dengan jumlah lebih besar. Bayangkan saja kalau kita berhasil, ayahmu memang akan mendapat bagian paling besar."


"Memang, aku bisa mengatakan kalau ini bisnis. Tapi, juga licik."


"Iya, ayahmu cukup serakah."


...---...


Ereluz menuruni tangga pelan-pelan, suasana malam yang panas dan pengap membuatnya tak betah berada di dalam kamar. Meski semua jendela sudah dibuka untuk membiarkan angin masuk, Luz tetap tidaklah puas.


Kakinya melangkah, menuju luar istana. Namun baru berada di lantai dua, melewati salah satu ruangan, membuatnya tak bisa beranjak pergi begitu saja. Sosok pangeran pertama, Jevin Azarcon tengah menulis di lembaran kertas, lalu diremas dan kemudian dibuang begiru saja, hal itu terulang sampai beberapa kali.


Karena pintunya yang tidak tertutup dengan benar, kejadian itu dapat terlihat jelas di mata penguntit Luz. Gadis yang kini berlagak sebagai seorang puteri mahkota palsu, mengurungkan niatnya keluar dari istana, sebab Pangeran Jevin tampak meremas surai dengan kasar, lalu mematahkan tinta tulis.


"Ada apa dengannya? Sudah gila ya?" Gumam Luz, masih memperhatikan gerak-gerik Jevin.


Luz tak ingin terlalu tahu lagi, ia pun lanjut melangkahkan kaki, tanpa disadarinya, Jevin mendengar ketukan pelan yang dihasilkan dari sepatu kulit miliknya.


Masih tak merasakan kejanggalan, Luz berjalan mengendap di dapur, menuju lorong halaman belakang. Beruntunglah tak ada siapapun, selain dirinya dan seorang pangeran yang tidak disadari keberadaanya.


Gadis itu melangkahkan secara bebas di halaman yang tertanam rumput hias sampai secara keseluruhan, kakinya yang bersih tidaklah harus menginjak tanah secara langsung, ada rumput yang bisa memberi alas. Entah sengaja atau tidak, tapi kini tubuhnya sudah terbaring di rerumputan tersebut, matanya menatap ke atas, tak.lepas daei keberadaan bulan dan bintang yang menghiasi langit malam.


"Ah, segarnya udara malam."


Luz sontak beranjak dusuk, ketika mendengar langkah kaki yang sangat pelan, suara itu seolah teredam oleh rumput.


Ia melongokkan kepala ke sekitar, namun tidak ada siapapun. Lehernya tiba-tiba tergeliki ketakutan, merasa keanehan, Luz sontak berlari kembali ke dalam istana, menuju kamarnya sendiri, dan meninggalkan Sepasang sepatu di halaman belakang.


"Ukuran sepatu sepertinya agak berbeda sedikit, ini lebih besar beberapa senti."


...---...


Luz berjalan tergesa, menaiki anak tangga satu- per satu sambil sesekali menoleh ke belakang, takut sesuatu mengejarnya atau mengikutinya.


Bruk.


Kepalanya terbentur sesuatu, sampai tubuhnya terjatuh, merosot ke bawah. Untung saja tidak sampai berguling di tangga.


Seraya mengusap kepala, Luz mendongak. Sosok sang ratu berdiri tegap dengan kedua tangan di pinggang, dia menunduk sedikit, lantas membantu Luz untuk berdiri "Dari mana saja kau? Kenapa malam-malam begini keluar kamar?"


"Aku... hanya mau mengambil minum."


Sang ratu berdecak pelan "Di kamarmu sudah ada minuman Puteri Sierra, begrbagai jenis pula."


Luz mengernyitkan dahi, ia tak mengetahuinya "Oh ya? Di mana? Aku tidak pernah melihatnya?"


Kini giliran sang ratu yang terkejut, kedua alisnya berdelisih jajar "Kau ini, apa yang kau bicarakan? Sudah lama sekali menempati kamar itu, baru hilang beberapa minggu saja sudah lupa letak minuman di almari paling sudut."


Luz mengetuk kepalanya sendiri, berpura-pura mengingat sesuatu "Ya ampun aku lupa! Padahal kan ada di sana! Ya ya, aku baru ingat!"


"Ya sudah, kalau begitu kembalilah ke kamarmu," titah sang ratu, yang hadis itu balas dengan anggukan sigap.


Ratu berjalan menuruni tangga, membuat Luz lagi-lagi mengurungkan niatnya kembali ke kamar "Ratu, kau mau pergi ke mana? Bukankah kamarmu di lantai atas?"


"Aku mau mencari Juan."


"Huh? Memangnya dia tidak ada di kamarnya?"


"Tidak ada, aku baru memeriksanya tadi. Entahlah, biasanya dia tidak pernah keluar malam-malam seperti ini, makanya aku khawatir."


Luz berbalik, mendekati sang ratu "Kalau begitu aku juga mau mencarinya."


TBC