Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Menjemput mesin waktu



"Kau yakin akan mengendarai mobil sendiri?"


Julian mengangguk yakin seraya mendesis "Aku sudah tujuh belas tahun lebih, paman."


Richard balas tertawa "Iya, terserah kau saja. Yang penting hati-hati, jangan melebihi batas kecepatan."


"Ya ya ya, paman terlalu banyak bicara."


Lagi-lagi Richard tertawa, mendengar sebutan Julian kepada dirinya "Kemajuan moralmu lumayan pesat, sekarang kau sudah mulai nyaman memanggilku paman. Lain kali, panggil orang lain juga begitu, jangat terus menyebut 'kau', tidak sopan."


Mendapat pujian, bukannya merasa lebih baik. Julian justru mengeluh, imejnya sebagai anak bandel bisa luntur. Bukannya tak mau atau tak berniat berubah, tapi kalau sampai sang ayah tahu kepribadiannya menjadi lebih baik. Dia akan segan memperbudak anaknya lagi, meskipun sekarang juga masih berlangsung "Jangan membahas itu, sudah baik aku mau bersikap sopan padamu."


Terii matahari pagi, semakin meyakinkan kepergian Julian kali ini, menuju rumah Leura. Meyakinkan kalau kebenaran sinyal yang ditangkap detektor waktu itu memanglah benar berasal dari mesin waktu, yang kebetulan letalnya berada tak jauh dari rumah Leura, Julian mengambil kesempatan ini dengan rencana yang sudah cukup matang.


Lelaki itu mulai melajukan kendaraan beroda empat miliknya, tak butuh waktu lama, kecepatannya meninggi sampai 160 km/jam.


Dalam keadaan jalan raya yang ramai, seorang wanita sempat tak mengawasi putranya yang masih balita keluar dari trotoar menuju aspal, dari situ pula Julian sontak menginjak rem sekuat tenaga.


Decitan suara ban yang tergesek dengan aspal terdengar memekak. Beberapa pengendara dan orang yang berlalu lalang sontak mengalihkan pandangan ke mobil Julian.


Jdak. Tak sempat terhenti, mobilnya benar-benar membentur tubuh bocah itu.


Dadanya langsung sesak, detak jantung terdengar tak beraturan, seluruh tubuh berkeringat dengan wajah memerah sempurna. Julian belum bisa melangkahkan kaki keluar dari mobil, sementara banyak orang mulai mengerumuni kemdaraannya, dan suara klakson dari belakang juga saling bersahutan, kemungkinan karena arusnya terhambat mobilnya yang tadi tiba-tiba berhenti.


Seorang pria paruh baya keluar daru truk tepat di belakang mobik Julian, pria itu tampak sangat marah. Ia mengetuk kaca mobil Julian dengan sangat keras "Keluar kau! Keluar!"


Julian masih mentralkan napasnya yang kian memburu, berusaha membuka pintu.


Dirinya langsung tercengan, semua orang mengerumuninya dengan tatapan marah.


"Bodoh! Mengapa kau tiba-tiba berhenti?!"


"Kau hampir saja membuat tabrakan beruntun!" Sahut pria lain, yang juga mengendarai mobil.


Balita yang Julian tabrak, sedang duduk bersama ibunya di halte seberang. Anak itu terlihat baik-baik saja, terbukti dengan permen besar yang dipegangnya. Sang ibu juga masih menggenggam erat tangan anak itu.


"Malah melamun! Kau tidak bisa menyetir ya?" Omelan kembaliembuat kesadarannya bangkit.


Di depan mobilnya, memang tak ada apapun, apalagi bekas tabrakan. Anak yang ia kira tertabrak sedang baik-baik saja "Ada anak kecil menyebrang, tadi."


"Anak kecil dari mana? Tidak ada anak kecil di sini. Kau mabuk atau memang tidak bisa menyetir, huh?!"


"Aku berkata benar!" Bantah Julian tak terima, sungguh ia benar-benar merasakan tabrakan itu, tapi mengapa korbannya terlihat baik-baik saja dan berada cukup jauh dari lokasi tabrakannya.


"Kau mengantuk, sebaiknya kita bawa anak ini ke polisi. Dia sepertinya masih di bawah umur."


"Tidak, tidak, jangan. Aku sudah punya surat ijin mengemudi. Aku akan tanggung jawab, tapi jangan bawa masalah ini ke polisi."


"Baiklah kalau begitu, dua truk box di jajaran belakang menabrak bagian belakang empat mobil, termasuk mobilku. Kau bisa mengganti rugi semua ini?"


Julian menganggukkan kepala "Aku akan ganti rugi."


"Tidak bisa! Tetap saja kau membahayakan, kita harus laporkan anak ini ke polisi," seru salah saru pengendara lain, membuat Julian mendengus kesal.


"Ku mohon, kalau kau juga mendapat masalah fisik, aku akan ganti rugi. Yang mana kendaraanmu?" Tanya Julian.


"Aku juga kendaraanku memang baik-baik saja, tapi perilakumu di jalan raya membahayakan, kau harus ditangani polisi."


"Tidak perlu banyak bicara, polisi pasti segera datang."


Mereka melupakan CCTV lalu lintas yang selalu siap siaga memantau.


...---...


"Julian."


"Lengkap."


"Julian Girasol."


"Umur?"


"Tujuh belas."


"Alamat?"


"Ck! Banyak tanya."


"Kau tidak mabuk, kenapa ugal-ugalan di jalan. Di remakan CCTV, kau tiba-tiba mengerem mendadak padahal tidak ada apa-apa di depanmu."


Ketika polisi itu menunjukkan rekaman CCTV-nya, detak jantung Julian sontak bertambah temponya. Dalam ingatannya, anak kecil itu menyebrang lalu tertabrak, tapi di rekaman CCTV lalu lintas, tidak ada apapun yang menghalangi, seperti apa yang dikatakan polisi.


"Apakah kau mengantuk?"


Sebenarnya ia ingin sekali membantah, tapi bukti fisiknya menyebutkan hal lain. Kalau misalkan ia ngeyel membela diri dengan apa yang ada di ingatannya, bisa-bisa diduga gila.


'Apa anak itu hantu ya? Makhluk tak kasat mata?'


Julian menggelengkan kepalanya yang pening tiada kepalang, ponselnya pun mulai berdering. Ia tanpa meminta ijin, mengankatnya di depan salah seorang polisi yang tengah menangani.


"Halo, kau di mana? Tidak jadi bertemu?" Suara Leura menyapa dari seberang sana, melalui sambungan telepon seluler.


"Maaf ya, aku sedang ada masalah kecil, jadi tidak bisa datang sekarang. Lain kali kita bertemu."


'Astaga gagal, rencana untuk mesin waktunya benar-benar harus ditunda.'


Julian benar-benar tak habis pikir dengan dirinya sendiri, mana mungkin otaknya jadi agak rusak secara mendadak. Rasanya sudah seperti orang gila saat ini.


...---...


"Uang bulan ini hampir habis untuk membayar denda," Julian mendesah pelan seraya mengacak rabutnya.


Yang ia pikirkan sekarang bagaimana dengan Nathalia, kebutuhannya juga banyak, tidak mungkin meminta lebih pada ayahnya. Kalau seperti itu terus, ia akan selalu bergantung pada orang yang dibenci.


"Apa aku harus cari kerja paruh waktu? Itu akan menyulitkan tapi tidak ada pilihan lain. Mungkin ini saatnya keluar dari lingkar hidup ayah."


Tepat sekali, ia sedang berhenti di dekat sebuah kafetaria mini. Meski tidak ada slogan sedang dibutuhkan pekerja, Julian memaksakan diri untuk sekedar bertanya. Siapa tahu ini keberuntungannya.


"Permisi, apa di sini sedang membuka lowongan kerja?"


Wanita yang ditanyainya adalah karyawan di bagian kasir, dia mengerjapkan matanya yang membulat sempurna. Ada lelaki muda rupawan yang menanyai lowongan kerja di kafetaria kecil.


"Maaf, sebenarnya tidak ada. Tapi kau tunggu dulu, aku akan memanggilkan bos-ku. Silahkan duduk di ruang sebelah sana," wanita itu terburu pergi ke ruangan atasannya. Sebenarnya memang tidak ada lowongan kerja, tapi melihat wajah Julian yang terlampau sempurna, itu bisa memikat daya tarik pelanggan terlebih dari kalangan kaum hawa.


Hal itu jelas tidak akan gagal, keuntungan yang bisa diraup akan sangat menjamin. Makanya wanita yang bertugas di kasir tersebut terus menyakinkan atasannya untuk membuka lowongan kerja bagi Julian.


Memang wajah yang rupawan akan menghasilkan harta lebih mudah. Namun entah dengan kemampuannya.


*TBC


THANK'S FOR READING💘*